
Sejenak kita tinggalkan Podin. Kini kita lihat sejenak, bagaimana kehidupan Isti, istri pertama Podin yang tinggal di desa bersama dengan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil. Perempuan yang harus kerja sendiri untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, dan juga memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, Isti juga harus menyekolahkan anak-anaknya. Dan tentu, dua juga butuh biaya yang tidak sedikit. Setidaknya Isti sebagai seorang perempuan, yang juga harus menjadi kepala keluarga, serta harus memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Bahkan juga untuk kegiatan sosial di kampungnya.
Ya, memang yang namanya hidup di kampung, semuanya harus mengikuti tatanan dan adat istiadat yang ada di kampung itu. Seperti halnya yang dialami oleh Isti, yang harus ikut arisan ibu-ibu, arisan PKK, arusan Dasa Wisma, bahkan juga harus membayar uang sosial untuk kehidupan bersama di kampungnya. Belum lagi kalau ada iuran kegiatan-kegiatan kampung, seperti bersih desa, kerja bakti, serta pembangunan-pembangunan sarana kampung yang tentunya juga harus ditopang dengan iuran warga. Dan biasanya warga akan ditarik iuran uang untuk kebutuhan pembangunan tersebut. Dan pastinya, Isti yang seorang perempuan dan harus menanggung semua beban keluarganya, pastinya merasa berat dengan tanggungan-tanggungan kebutuhan kehidupannya tersebut.
Beruntung Isti tidak seperti Podin. Isti tidak seperti zaman dia kaya, hidup tinggal di rumah mewah bersama Podin. Beruntung Isti diusir oleh suaminya, sehingga dia harus mau kembali hidup bersusah payah. Namun tentunya bukan kali itu saja kehidupan Isti susah. Bahkan sebelum Podin kaya dan punya uang banyak, mereka masih hidup miskin, hampir setiap hari Isti mesti utang di warung. Hutang belanjaan, terutama untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari bagi keluarganya. Ya, kala itu, kalau Isti pergi ke warung, selalu diserang ocehan oleh para tetangganya, selalu di olok oleh ibu-ibu, terutama oleh para pemilik warung yang selalu dihutang oleh Isti.
Apalagi jika melihat rumahnya yang dulu, rumah yang tidak layak dihuni oleh manusia, rumah yang layaknya sebagai kandang binatang piaraan. Tetapi karena memang saking miskinnya, sehingga Isti bersama keluarganya rela menempati gubug yang jelek itu. Dan pastinya, gubug itu pun hasil dari kerja bakti warga di kampungnya. Dan tentunya, bangunan ala kadarnya itu juga karena belas kasihan dari Pak Lurah dan para warga yang melihat keluarga Podin waktu itu memang benar-benar sangat miskin dan sangat tidak berada. Bahkan untuk makan saja selalu kurang. Walau Isti masih sanggup untuk mengambil tanaman singkong dan ubi-ubian di ladang sekitar rumahnya, namun itu pun tidak bisa ia gunakan setiap hari.
Memang waktu itu keluarga Podin bersama istri dengan empat orang anaknya, benar-benar sangat menderita karena kemiskinan. Namun setelah Podin mendapatkan uang yang banyak, dan ia menjadi kaya raya, kemudian langsung berubah sifat dan wataknya serta tabiatnya. Bagi Podin, uang seberapa banyak apapun bukan masalah. Karena Ia memang benar-benar menjadi orang kaya yang mendapatkan harta kekayaan tanpa harus bekerja, tanpa harus bersusah payah. Ya, Podin mendapatkan kekayaannya dengan jalan mencari pesugihan.
Namun kenyataannya, Isti bersama anak-anaknya justru diusir oleh Podin, karena suaminya itu tergiur oleh perempuan dari Jakarta, perempuan pemandu karaoke, yang akhirnya ia nikahi secara siri. Maya, perempuan yang kental dengan make up dan parfum itu, yang mengakibatkan Podin tergila-gila dengan perempuan itu. Dan akhirnya, Podin tega meninggalkan istri bersama anak-anaknya, bahkan diusir tanpa diberi apapun.
Memang, bagi Isti, perlakuan suaminya itu sangat kejam. Podin sangat tega begitu saja menelantarkan istri dan anak-anaknya, tanpa diberi apa-apa. Jangankan tempat tinggal, bahkan uang untuk berpindah rumah atau untuk kontrak saja tidak diberi sepeserpun.
Namun nasib baik berpihak pada Isti. beruntung ia bertemu dengan kakek tua yang dulu pernah dianggap sebagai pengemis di tokonya. Dan ternyata laki-laki tua itu sangat baik hati. Laki-laki tua itu merasa sangat kasihan melihat nasib Isti bersama dengan anak-anaknya yang terlantar begitu saja. Bahkan oleh warga kampungnya yang dulu, Isti dan anak-anaknya itu juga ditolak begitu saja. Tetangga-tetangganya yang dulu tidak mau menerima kedatangan Isti kembali ke kampungnya.
Memang kenyataan, setelah Podin dan keluarganya menjadi kaya raya, mereka seakan tidal lagi mau mengenal tetangganya, tidak mau lagi bergaul dengan tetangganya, bahkan meninggalkan kampung itu begitu saja tanpa berpamitan. Wajar kalau mereka tidak mau menerima kedatangan Isti. Tetangga-tetangganya yang dulu, mencibir semua. Tentu karena Isti dianggap sudah sombong dan sudah lupa dengan tetangga-tetangganya.
Tentu kala itu hati Isti sangat-sangat remuk. Isti sangat menderita. Dan tentunya dia bingung harus tinggal di mana, karena sudah ditolak oleh para tetangganya. Bahkan rumahnya yang dulu seperti kandang kambing itu saja, sudah dirobohkan dan sudah dibakar oleh warga.
Tetapi, kala itu tiba-tiba saja si kakek tua, laki-laki yang dia anggap pengemis itu muncul begitu saja tanpa diketahui oleh Isti maupun anak-anaknya. Di saat Isti butuh bantuan dari seseorang, dan ternyata memang kakek tua itu yang kemudian menolong Isti bersama anak-anaknya, membantu memberikan tempat tinggal, memberikan rumah untuk mereka menumpang, memberikan penginapan untuk mereka tempati. Bahkan juga untuk membuka usahanya Isti.
Memang sangat aneh, seorang kakek tua yang dianggap sebagai pengemis, ternyata ia memang sangat baik hati. Menolong orang yang sedang kesusahan, orang yang sedang kehilangan tempat tinggal. Dan tentunya Isti bersama anak-anaknya mau tinggal di rumah si kakek itu, dan bahkan menganggap rumah itu seperti halnya rumahnya sendiri. Rumah yang lumayan bagus untuk sebuah bangunan di perkampungan desa. Dan tentunya Isti dan anak-anaknya senang bisa tinggal di rumah kakek tua itu.
Namun Hidup itu tidak semudah dalam mimpi-mimpi yang indah. Hidup itu banyak lika-likunya. Hidup itu bagaikan roda, kadang di atas dan terkadang pula harus di bawah. Hidup itu penuh dengan perjuangan, seperti halnya yang dialami oleh Isti bersama dengan anak-anaknya, yang kala itu memang tinggal di rumah si Kakek pengemis secara gratis.
Tetapi kehidupan sosial bukan kehidupan yang gratis. Kehidupan sosial bukan kehidupan yang serba enak. Kehidupan sosial bersama dengan para tetangga sekitar rumah, bersama dengan masyarakat kampung yang lain, pastinya penuh dengan tuntutan-tuntutan kebutuhan dalam membangun kebersamaan. Karena hidup di kampung itu, kampung di mana Isti tinggal, saat itu akan membangun jalan. Kebetulan jalan yang dibangun itu melintas di pekarangan rumah si Kakek, rumah yang ditempati oleh Isti dan anak-anaknya.
__ADS_1
Waktu itu, dari pihak pemerintah desa, meminta kepada Isti agar merelakan sebagian tanah pekarangannya untuk pelebaran pembangunan jalan. Tentunya itu sudah dirapatkan. Seluruh warga kampung yang dilintasi jalan itu, memang sudah sepakat, sudah setuju, ikhlas dan rela mengorbankan sedikit pekarangannya untuk pelebaran jalan. Namun bagi Isti, tentu dia tidak bisa menjawab, karena rumah yang ia tempati, pekarangan yang ia tinggali itu bukanlah miliknya. Itu milik si kakek yang baik hati, si pengemis yang sudah menolongnya. Isti tidak bisa menjawab, harus mengatakan apa, karena memang itu bukan milik dan bukan haknya.
"Maaf, Ibu Isti .... Kami dari perangkat desa mendapatkan mandat dari Pak Lurah untuk menyampaikan kepada Ibu Isti, bahwa sebagian dari pembangunan proyek pelebaran jalan akan mengenai pekarangan dari Ibu Isti. Oleh sebab itu kami mohon kerelaan dan keikhlasan Ibu Isti untuk menyumbangkan sebagian pekarangan yang ada di pinggir jalan itu, untuk pembangunan pelebaran jalan kampung. Biar nanti jalan yang ada di depan itu menjadi jalan utama di kampung kita, yang tentunya akan lebih bagus dan akan lebih lebar." kata salah seorang petugas dari Kelurahan yang menyampaikan rencana proyek pembangunan jalan tersebut.
"Terima kasih, Pak .... Kami juga sudah mendengar rencana itu dari warga kampung. Tetapi maaf .... Pekarangan ini bukan tanah saya, ini bukan rumah saya .... Saya di sini hanya menempati saja. Saya di sini tidak punya kuasa, tidak punya wewenang. Saya tidak tahu apa-apa, dan tentu saya tidak bisa memberi putusan itu, Pak." kata Isti kepada petugas perangkat desa yang datang ke rumahnya tersebut.
"Tetapi apakah Bu Isti bisa menyampaikan masalah ini kepada pemilik rumah ini? Karena terus terang, saya itu tidak pernah bertemu dengan pemilik rumah ini. Makanya kami berpikir, ini adalah rumah milik Bu Isti, rumah ini sudah diberikan kepada Bu Isti, atau sudah dibeli oleh Bu Isti." kata perangkat desa yang bicara dengan Isti.
"Walah, Pak .... Dari mana saya punya untuk beli rumah ini .... Saya ini orang miskin, Pak. Di sini saya hanya numpang, di sini ini saya hanya dipinjami tempat. Di sini saya hanya sebagai orang yang sewaktu-waktu bisa disuruh pergi oleh yang punya rumah ini." jawab Isti yang tentu bingung dengan apa yang dikatakan oleh para petugas perangkat desa itu.
"Maaf, Bu Isti .... Jika boleh tahu, apakah orang yang punya rumah ini tidak pernah pulang? Dan kalau boleh tahu pula, siapa sebenarnya orang yang punya rumah ini?" tanya perangkat desa itu, yang justru belum tahu siapa pemilik rumah itu sebenarnya.
"Maaf, Pak .... Saya juga tidak tahu namanya .... Yang saya tahu, dia itu seorang kakek yang sudah tua, dengan pakaian sangat sederhana, bahkan terlihat seperti pengemis. Dulu waktu saya masih punya rumah, pernah ke rumah saya, dan dia baik kepada anak-anak saya. Malah anak-anak juga pernah dibelikan mainan. Tapi begitu kakek itu mengajak saya dan menyuruh menempati rumah ini, dia langsung pergi. Pernah sekali kemari, waktu ngantar anak saya." kata Isti yang tentu juga bingung saat ditanyai tentang pemilik rumah itu.
"Oh ..., begitu .... Saya kira yang punya rumah ini masih kerabat dengan Bu Isti." sahut perangkat desa itu yang menduga kalau rumah itu milik saudaranya Isti.
"Ya, sudah, Bu Isti .... Kalau begitu, tolong nanti kalau misalnya yang punya rumah ini datang kemari, mohon dpsampaikan kepada si kakek pemilik pekarangan ini, kalau kami dari kelurahan, meminta sedikit tanah bagian depan yang akan digunakan untuk pelebaran jalan." kata perangkat desa itu kepada Isti.
"Iya, Pak .... Nanti kalau si kakek itu datang ke rumah ini, kami akan menyampaikannya." jawab Isti yang bersedia untuk menyampaikan kepada si kakek pemilik rumah yang ditempati itu.
"Terima kasih, Ibu Isti .... Semoga saja nanti pemilik rumah ini akan datang kemari, dan tentunya saya minta tolong kepada Ibu, agar bisa menyampaikan permasalahan pelebaran jalan di kampung kita ini. Karena semua warga sudah setuju, dan tinggal nanti pekarangan di rumah yang ditempati Bu Isti ini yang tentunya, mau tidak mau juga akan kena sedikit untuk pelebaran jalan. Kalau begitu, saya mohon pamit. Semoga Ibu Isti bisa menyampaikan kepada pemilik rumah ini dan langsung disetujui." kata perangkat desa itu yang kemudian dia pun berpamitan dan pulang meninggalkan rumah Isti.
Tentu Isti bingung. Seorang perempuan yang tinggal di tempat orang, yang tanpa ia ketahui identitasnya, tanpa ia ketahui namanya, dan tanpa ia ketahui di mana sekarang ia berada. Pastinya pikirannya menjadi pusing dengan permintaan dari pihak perangkat desa tersebut. Hal itu sangat tidak mungkin ia lakukan untuk melepaskan tanah milik orang begitu saja. Tentunya Isti tidak bisa memberikan keputusan begitu saja, tanpa sepengetahuan dari yang punya tanah, tanpa diketahui oleh pemiliknya. Tentunya Isti tidak bisa lagi berkata apa-apa. Dan dia hanya mampu berharap, kakek baik hati yang selalu menolongnya itu, membolehkan tanahnya yang akan dijadikan jalan, untuk pelebaran pembangunan jalan, setidaknya tanah itu diikhlaskan oleh pemiliknya. Walau begitu, Isti tetap saja tidak bakal bisa memberikan jawaban.
Sore itu, matahari belum tenggelam. Saat Isti yang masih bingung dengan permintaan perangkat desa, duduk di bangku kayu panjang, di teras rumah, sambil menjaga warung dagangannya. Tiba-tiba saja, di pelatarannya sudah ada laki-laki tua masuk, dan langsung menuju ke tempat duduk Isti. Isti terkejut. Ya, itu si kakek tua, kakek yang punya rumah. Entah dari mana asalnya, kakek itu datang menemuinya.
"Kenapa kamu melamun saja, Isti ...?" tanya si kakek tua itu, yang menyapa Isti yang duduk melamun.
__ADS_1
"Eh ..., Kakek .... Maaf, Kek, sedang bingung .... Kebetulan sekali Kakek datang. Saya sedang memikirkan Kakek, kira-kira ada di mana?" kata Isti yang tentu berbinar senang melihat si Kakek pemilik rumah itu datang. Isti tentunya tidak menyangka sama sekali. Ini suatu keajaiban, suatu keanehan. Di saat Isti memikirkan si kakek itu, saat Isti menghendaki kakek itu datang, ternyata tiba-tiba si kakek tua itu pun datang menemui Isti.
"Ada apa ...? Ada masalah apa lagi?" tanya si kakek itu yang sudah duduk di kursi dari kayu panjang yang ada di teras rumah yang diduduki oleh Isti.
"Hehehe, Kakek datang ...."
"Kakek ..., Kakek ..., Kakek datang ...."
Anak-anaknya Isti pun pada menemui si Kakek itu, dan tentu langsung menyalami sambil mencium tangan si kakek.
"Anak-anak yang baik ...." begitu kata si kakek sambil mengelus kepala anak-anak Isti.
"Kek, tadi ada petugas dari Kelurahan datang. Dia bilang, kalau jalan yang ada di depan itu akan dibangun, akan dilebarkan. Tetapi perangkat desa itu bilang kalau pelebaran jalan itu akan meminta sedikit tanah milik Kakek. Bagaimana, Kek ...? Saya bingung. Saya tidak bisa menjawab, karena itu bukan milik saya." kata Isti yang tentu langsung menyampaikan apa yang dikatakan oleh petugas perangkat desa tersebut.
"Kamu itu jangan resah .... Jangan gundah .... Jangan gelisah .... Harta benda kekayaan itu hanya titipan dari Yang Maha Kuasa .... Bahkan nyawa kita ini saja, juga pemberian dari Yang Kuasa. Jadi kalau sewaktu-waktu harta benda kekayaan maupun hidup kita sekalipun diambil kembali oleh Yang Kuasa, itu adalah weewenang dari Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah. Kita sebagai makhluk ciptaanNya hanya bisa menerima dengan ikhlas, dengan rela, dan dengan rasa syukur." begitu kata si kakek yang langsung memberikan petuah kepada Isti. Tentunya kakek ini mengajarkan keikhlasan, mengajarkan bisa menerima kenyataan hidup, mengajarkan apapun yang kita miliki sebenarnya bukanlah milik kita. Tetapi itu semua hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.
"Jadi ..., Kakek mengizinkan?" tanya Isti yang ingin mendengar kata-kata si kakek untuk membolehkan tanahnya digunakan untuk pelebaran jalan.
"Jangankan tanah yang akan digunakan untuk pelebaran jalan .... Nyawa yang diminta untuk kepentingan orang banyak saja, pasti akan saya berikan." kata si kakek itu yang jelas membolehkan.
"Terima kasih, Kek .... Kalau begini, saya tidak bingung lagi." kata Isti yang langsung tersenyum lega.
"Jadi orang jangan serakah .... Tapi harus bijak. Demi kepentingan orang banyak, demi kepentingan masyarakat, jangan sampai kita mengelak. Berikanlah. Nanti rezekimu akan selalu mengalir dan semakin deras. Jadi orang jangan hanya berpikir milik. Tetapi cobalah untuk memberi. Apalah artinya harta segudang, kalau itu tidak ada manfaatnya bagi kemaslahatan." kata si kakek menambahkan.
"Sebentar, Kek .... Saya buatkan minym dulu ...." kata Isti yang bangkit dan menuju dapur.
Namun saat ia kembali keluar sambil membawa baki berisi segelas teh hangat, ternyata si kakek yang tadi duduk di kursi bersamanya, sudah tidak ada. Sudah menghilang.
__ADS_1
"Kakek ...!! Kek ...!! Kakek ...!!" Isti berteriak memanggil si kakek, namun laki-laki tua itu sudah tidak kelihatan lagi.