PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 53: GEGER DI TELEPON


__ADS_3

    Benar, Podin langsung menuju tempat angkringan. Setidaknya ingin ngopi. Pikirannya mulai terusik ketekita Rina, istrinya yang baru saja dinikahi itu, tahu Maya menelepon berkali-kali. Pasti Podin juga khawatir. Kalau sampai Rina tahu bahwa Maya itu adalah istrinya juga, pasti Podin akan diamuk habis-habisan.


    "Kopi hitam satu, Bang ...." kata Podin memesan kepada laki-laki setengah baya penjual di angkringan itu.


    "Manis, gula banyak, apa pahit?" tanya si penjual.


    "Sedeng saja ...." sahut Podin yang sambil meraih mendoan goreng.


    Ya, angkringan malam, biasa dijadikan sebagai tempat nongkrong banyak laki-laki, terutama para buruh yang ingin makan dengan uang yang pas-pasan. Tidak heran kalau di angkringan itu sudah banyak orang-orang yang umumnya laki-laki, pada nongkrong di tempat itu. Termasuk yang berjualan, biasanya adalah laki-laki. Tetapi warung kucing yang ditongkrongi Podin ini, meski yang berjualan laki-laki, tetapi dibantu oleh istrinya.


    Seperti biasa, kalau para buruh kumpul, meski itu hanya sekedar pada bertemu di tongkrongan, di warung angkringan, atau kucingan, pasti mereka tidak bisa terlepas dari ngobrol. Walaupun mereka bukan politikus, tapi obrolannya justru lebih berbobot dan lebih detil dalam membahas persoalan negara. Meski mereka bukan para menteri, tetapi topik-topik yang dibicarakan melebihi kepentingan dalam negeri. Meskipun mereka bukan para pejabat, tetapi lebih kompeten dalam membahas masalah harkat dan martabat. Itulah obrolan yang sering dibincangkan di warung angkringan. Namun demikian, mereka pun juga banyak membicarakan masalah-masalah kehidupan yang terjadi sehari-hari, masalah yang ada di sekitar lingkungannya, dan tentunya masalah-masalah mereka sendiri.


    "Wanita itu, pada dasarnya mau dengan laki-laki itu karena hati ...." tiba-tiba salah seorang nyeletuk, membahas masalah wanita.


    "Ah, masak ...." yang lain menyaut.


    "Di mana-mana yang namanya wanita itu matre .... Mau menikah itu yang dicari ya mesti kekayaan .... Mana ada wanita yang memilih laki-laki miskin .... Kalau laki-laki kaya, meski wajahnya kayak munyuk, perempuan itu pasti tetap mengejar-kejar." kata yang lain.


    "Betul .... Memang benar itu ...." sahut lainnya lagi.


    "Tidak ada wanita memilih hati ...." timpal yang lain.


    "Hati itu ..., maksudnya harta dan ***** .... Jadi wanita itu mau sama laki-laki kalau dia punya harta dan anunya itu kuat .... Hehehe ...." kata orang yang pertama membuka pembicaraan tadi.


    "Ooo ..., gitu, ya ...?! Betul itu. Punya harta kalau impoten juga percuma ...." sahut temannya setelah tahu dengan apa yang dimaksud.


    "Tapi yang jelas, wanita itu hanya ingin mendapatkan harta dari laki-laki .... Kalau laki-laki itu tidak punya harta kekayaan, tidak punya uang, tidak punya penghasilan, pasti langsung dicampakkan begitu saja." yang lain menegaskan.


    "Ah, ya tidak semuanya begitu, lah, Om .... Nyatanya aku cuman jadi istrinya bakul kucingan juga gak masalah ...." tiba-tiba istrinya penjual angkringan itu ikut berkomentar.


    "Ya, tidak semua .... Tapi seribu satu .... Rata-rata seperti itu ...." sahut pelanggan di warung itu.

__ADS_1


    "Maaf, Bang .... Kalau misalnya Abang punya istri yang matre, istri yang selalu minta uang, terus Abang bagaimana?" tiba-tiba Podin ikut menyela, menanyakan hal yang tentu sebenarnya berkaitan dengan keadaan dirinya. Ya, Maya, istrinya yang selalu menuntut ini itu.


    "Waah ..., kalau saya punya istri yang matre begitu, mendingan saya tukar tambah .... Hahaha ...." jawab salah seorang.


    "Tinggalkan saja, Om .... Cari ganti yang lebih baik ...." timpal yang lain lagi.


    "Perempuan matre itu watak. Watak beda dengan watuk .... kalau watuk (sakit batuk) diminumi obat langsung sembuh .... Tapi kalau watak, kalau belum dipatok batu nisan, tidak akan hilang ...." kata yang lain.


    "Iya .... Betul itu ...." sahut lainnya.


    "Itu ada, dekat tempat saya kost itu, yang perempuan sukanya jeng-jeng .... Keluar masuk salon .... Makan-makan di restoran .... Naiknya mobil mewah .... Eee ..., suaminya, makan saja di warung jucingan ...." kata salah seorang yang ada di tongkrongan itu.


    Seketika itu, Podin langsung tertusuk perasaannya. Apa yang diomongkan oleh laki-laki itu langsung mengena pada dirinya. Ya, Maya yang selalu minta uang, hanya untuk foya-foya. Keluar masuk salon untuk perawatan tubuhnya, bahkan tidak mau salon yang murahan, tetapi salon mewah yang harganya mahal. Katanya salonnya para artis. Kemudian kumpul-kumpul dengan kelompok sosialitanya, katanya para selebritis. Ngumpulnya di restoran mewah, yang tentu sekali kumpul akan menghabiskan dana puluhan juta. Maya juga meminta dibelikan mobil mewah. Katanya untuk prestise, agar tidak dianggap orang miskin.


    Mungkin kata-kata orang itu benar. Dan yang lainnya pun juga ada benarnya. Kalau punya istri yang seperti ini, mestinya ditinggalkan saja, terus cari ganti. Podin sangat setuju. Bahkan Podin sudah mendapatkan gantinya. Dan tentunya, kini tinggal mencari cara, bagaimana Podin harus melepaskan Maya dari hidupnya.


    "Terereng .... Tuling ..., tuling ..., tuling ...." HP Podin berbunyi.


    Podin langsung melihat HP, ingin tahu siapa yang memanggil. Dan ternyata Maya yang meneleponnya. Pastinya, kini setelah tidak ada Rina, Podin akan menjawabnya. Tetapi Podin tidak ingin menjawab di tempat angkringan itu. Khawatir orang-orang yang ada di warung itu mendengar pembicaraannya. Pasti mereka akan menertawakan karena apa yang dibicarakan tadi, terjadi pada Podin.


    Bakul angkringan itu pun menghitung. Lantas Podin membayarnya. Dan bergegas pamitan, tentunya ingin segera mengangkat panggilan dari Maya.


    Setelah keluar dari warung itu, Podin pun mencari tempat yang agak sepi, tempat yang agak lengang, tempat yang tidak begitu banyak dilalui oleh kendaraan, tempat yang tidak banyak dilintasi oleh manusia. Podin memarkirkan mobilnya. Ya, hari sudah menjelang tengah malam. Podin akhirnya menelepon balik ke Maya. Ingin tahu apa yang akan dipinta oleh Maya, dan tentu Podin ingin menyampaikan kalau dirinya tidak mau dipaksa-paksa disuruh menyediakan uang, dihubungi, ditelepon, ataupun yang lainnya. Yang tentunya Podin tidak menghendaki Maya untuk terus-terusan menuntut memberikan uang kepadanya.


    "Halo ..., Bang Podin .... Kok ditelepon berkali-kali tidak pernah diangkat .... Suami macam apa kamu, Bang ...?!" kata Maya saat ditelepon balik oleh Podin.


    "Ya ampun ..., Maya .... Ini saya sudah telepon balik, ya ...." jawab Podin dalam teleponnya itu.


    "Sudah berapa kali Maya telepon Abang ...?! Maya sudah menelepon berkali-kali .... Sejak kemarin telepon terus .... Maya juga sudah kirim WA berkali-kali .... Abang cuman baca doang, dan pernah balas WA Maya .... Memang Abang ini ngapain saja ...?!" kata Maya yang tentu marah-marah di telepon.


    "Ya ..., maafkan Abang .... Habis HP selalu saya tinggal di mobil." kata Podin yang berpura-pura tidak pegang HP.

__ADS_1


    "Memang Abang ini ada di mana?" tanya Maya.


    "Di jalan .... Ini berhenti sebentar untuk telepon kamu, Maya ...." jawab Podin.


    "Di jalan mana ...? Segera pulang lah, Bang .... Aku butuh uang, nih ...." kata Maya, yang tentu ingin suaminya segera pulang dan membawa uang.


    "Jauh, Maya .... Ini di luar kota .... Tidak mungkin untuk pulang, Maya ...." jawab Podin beralasan.


    "Tapi saya butuh uang, Bang .... Sudah satu bulan Abang gak pulang, gak menafkahi Maya ...." kata istrinya yang tentu menuntut nafkah.


   "Tapi dulu, aku kasih uang ke kamu, Maya gak mau .... Maya menolak .... Bahkan Abang kasih kalung saja di buang .... Itu kan artinya Maya gak mau, Maya gak butuh ...." kata Podin yang langsung mengungkit masalah masa lalu, saat istrinya dikasih uang sepuluh juta dan perhiasan kalung, tetapi malah ditolak.


    "Ya iya, lah ..., Bang .... Masak Abang tega lihat istrinya dibuli sama temen-temennya .... Uang segitu buat apa, Bang ...? Mana cukup untuk kebutuhan Maya ...?!" kata Maya yang tentu merasa kurang kalau hanya dikasih uang sepuluh juta.


    "Ya ampun ..., Maya .... Uang sepuluh juta itu banyak .... Toh perhiasan Maya dari saya juga masih banyak .... Kenapa kurang ..., saja ...." kata Podin yang tentu juga merasa jengkel lagi. Apalagi saat tadi mendemngar obrolan orang-orang di warung angkringan, tentu Podin langsung bisa mengambil kesimpulan, kalau Maya itu wanita matre. Perempuan yang hanya butuh harta benda Podin saja. Perempuan yang selalu menuntut dipenuhi semua kebutuhannya. Perempuan yang foya-foya, sementara suaminya hanya makan di warung angkringan.


    "Pokoknya sekarang juga Abang pulang dan bawa uang ...!" paksa Maya dalam telepon itu.


    "Ya ampun, Maya .... Saya tidak punya uang .... Saya belum dapat uang .... Mau jual apa lagi ...? Rumah sudah habis .... Ruko juga sudah dijual .... Perhiasan-perhiasan juga sudah kamu ambil semua .... Saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Kalau saya disuruh pulang bawa uang, saya tidak punya, Maya ...." jawab Podin yang sudah mulai berani melawan Maya.


    "Pokoknya Abang harus pulang sekarang dan bawakan saya uang ...!" kata Maya yang mengultimatum Podin.


    "Kalau saya tidak bawa uang ...?!" kata Podin yang memancing emosi Maya.


    "Kalau Abang gak bawa uang, gak usah pulang dan jangan pernah lagi minta kelonan sama saya ...!" kaya Maya yang tegas. Namun sebenarnya itu hanyalah gertakan dari Maya, dimana kalau Podin tidak boleh tidur dengan dirinya, maka pastinya Podin akan kelabakan.


    Tetapi Maya keliru. Kalau Maya mengancam seperti itu, pastinya Podin justru senang. Karena saat ini, Podin justru ingin lepas dari Maya. Dan Podin sudah punya istri yang baru lagi, yang tidak pernah menuntut ini itu.


    "Baik ...! Kalau memang seperti itu katamu, saya gak akan pulang! Karena cari uang itu susah, Maya!!" jawab Podin yang tentu lebih tegas dan lebih berani.


    "Abang ........!!!" Maya berteriak, tentunya jengkel dengan jawaban Podin.

__ADS_1


    Podin langsung mematikan HP. Ia tersenyum, karena langkah awalnya untuk meninggalkan Maya sudah mulai ada tanda-tandanya. Paling tidak, kata-kata Maya di telepon itu sudah menjebak dirinya sendiri. Maya yang tidak membolehkan Podin pulang jika tidak membawa uang, itu bisa menjadi alasan bagi Podin. Ya, tentunya Podin akan selalu beralasan belum dapat uang.


    Lega hati Podin, setelah bisa melampiaskan emosinya pada Maya. Kini, ia memutar balik mobilnya. Akan pulang ke rumah kontrakannya. Dan tentu, selanjutnya akan melampiaskan asmaranya kepada Rina. Menghabiskan malam dengan aneka permainannya.


__ADS_2