PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 26: PENGEMIS ANEH


__ADS_3

    Siang itu, di depan ruko milik Isti, ada seorang laki-laki tua dengan pakaian compang-camping. Laki-laki itu terlihat lusuh. Terlihat tidak karuan. Bahkan juga terlihat kelaparan.


    Tiga orang anak Isti, yang masih kecil-kecil, yaitu Dewi, Asri dan Antok, yang kebetulan berada di toko itu, seperti biasa membantu ibunya, ia melihat laki-laki yang berdiri di depan tokonya. Laki-laki yang dianggapnya sebagai pengemis itu. Maka, berbekal ajaran baik dari ibunya, ajaran baik dari orang tuanya, ajaran baik dari guru-gurunya, Dewi pun bilang kepada ibunya yang berada di tempat meja kasir.


    "Bu .... Ada pengemis di depan toko ...." kata Dewi yang sudah datang kepada ibunya untuk meminta uang yang akan diberikan kepada pengemis itu.


    Tentu, apa yang dilakukan oleh Dewi itu, kemudian diikuti oleh dua adiknya yang masih kecil-kecil. Dua adiknya itu mengikuti kakaknya meminta uang kepada ibunya.


    "Ya ..., Dewi .... Sana, tolong pengemis itu dikasih sumbangan. Ini uang untuk kamu berikan kepada pengemis itu." kata ibunya kepada Dewi yang meminta uang itu.


    Demikian juga, tentu dua adiknya yang masih kecil-kecil itu, Asri dan Antok juga menyadongkan tangannya. Tentu dia juga ingin memberikan sumbangan kepada pengemis yang ada di depan rukonya itu.


    Maka, ibunya pun dengan senang hati memberikan lembaran-lembaran uang kepada dua anak kecilnya itu. Lantas ketiga anak itu berlari ke depan, akan memberikan uang yang diterimanya dari ibunya itu, untuk diberikan kepada pengemis yang berdiri di depan toko itu.


    Namun, setelah sampai di depan, setelah menemui pengemis tua itu, ternyata ketika Dewi, Asri dan Antok menyodorkan lembaran uang dari ibunya kepada pengemis itu, ternyata pengemis itu diam saja. Pengemis itu tidak mengulurkan tangannya, tidak mau menerima uang dari ketiga anak tersebut. Dewi, Asri dan Antok yang sudah menyampaikan sumbangan kepada pengemis itu jadi melenggong. Kecewa, karena uang yang diulurkan untuk diberikannya, ternyata tidak diterima oleh si pengemis tua itu.


    "Pak ..., ini sumbangannya dari kami ...." kata Dewi, anak yang paling besar dari tiga beersaudara itu.


    Demikian juga Asri, gadis yang masih lebih kecil itu juga menyampaikan kepada pengemis tua itu.


    "Pak .... Terimalah sedekah dari kami. Anggap saja ini adalah amalan kami .... Dan semoga bapak akan mendapatkan rezeki yang lebih besar dari apa yang kami berikan ini. Doakan kami agar selamat ya, Pak .... Doakan kami agar dapat rezeki lebih banyak ya, Pak ...." begitu kata Asri kecil kepada pengemis itu.


    Namun, lagi-lagi, pengemis tua itu hanya diam, memandangi tiga bocah kecil yang ada di hadapannya itu. Lagi-lagi pengemis tua itu tidak mau mengulurkan tangannya untuk menerima apa yang sudah disodorkan oleh tiga anak kecil-kecil itu.


    Tentu melihat pengemis tua itu, yang tidak mau menerima sodoran uang dari 3 anak ini, Dewi, Asri maupun Antok merasa kecewa, karena pemberiannya tidak diterima. Maka Dewi pun berteriak kepada ibunya untuk menyampaikan hal itu.


    "Bu .... Pengemisnya tidak mau menerima uang pemberian kami ...." begitu kata Dewi menyampaikan kepada ibunya. Ya, tiga anak itu kecewa karena uang yang di bawahnya, yang akan diberikan kepada laki-laki tua yang ada di depan tokonya itu, ternyata tidak diterima.


    "Lah ..., terus dia maunya minta apa ...? Tolong ditanya, kakek tua itu ..., dia mau minta apa ...?" begitu kata ibunya kepada ketiga anaknya yang masih berhadapan dengan laki-laki pengemis tua yang ada di depan tokonya itu.


    "Kakek ..., Kakek maunya minta apa ...? Nanti kami kasih .... Tidak usah khawatir, Kek .... Kalau Kakek mau minta jajanan, kami juga akan berikan." kata Dewi yang menanyai pengemis tua yang dari tadi hanya diam saja itu.


    Laki-laki tua itu terus memandangi ketiga anak yang masih kecil-kecil yang ada di hadapannya itu, di depan pintu toko Isti. Lalu tangan laki-laki tua itu menjulur, dan tiba-tiba memegang pundak Dewi.


    "Nak ..., kalau ada makan, berikan saja makan kepada saya. Saya lapar, Nak ...." begitu kata si pengemis tua itu kepada Dewi.


    Lantas, Dewi pun berteriak pada ibunya, "Bu ..., Kakek tua ini minta makan .... Dia lapar, dia ndak mau diberi uang, Bu .... Mintanya makan ...." begitu kata Dewi kepada ibunya yang masih berada di dalam toko itu.


    "Ya sudah .... Ayo, kakek itu diajak masuk sini .... Kita kasih makan di dalam sini ...." begitu kata ibunya kepada tiga anaknya.


    Lantas, Asri dan Antok tanpa kikuk, tanpa rasa jijik, langsung menggandeng tangan si kakek tua itu. Ya, kakek tua itu diajak masuk oleh dua anak yang masih kecil-kecil itu.


    "Kakek ..., ayo kita masuk .... Kakek makan di dalam .... Kakek akan diberi makan oleh Ibu ...." begitu kata Asri yang masih menggandeng tangan laki-laki itu dan mengajaknya masuk ke dalam dapurnya, yang ada di belakang dagangan tokonya.


    Yah, seperti itulah sikap anak-anak yang baik, anak yang dididik dengan kebaikan, anak yang dididik dengan kejujuran, anak yang dididik dengan kesopanan, Anak yang dididik dengan tata susila, anak yang dididik dengan rasa kemanusiaan, anak yang dididik dengan budi pekerti. Mereka pun dengan ikhlas dan tulus mau menolong seorang kakek tua renta, dengan pakaian compang camping, yang dianggapnya sebagai pengemis itu.


    Sementara itu, di dapur, ibunya sudah menyiapkan makanan yang akan diberikan kepada pengemis itu. Ya, Isti mengambilkan sepiring nasi dengan lauk pauk yang semuanya sama dengan apa yang ia makan. Ya, itulah Isti,  walaupun kini boleh dikatakan sudah menjadi orang kaya dengan kemewahan yang diberikan oleh Podin, namun dulu, ia pernah hidup miskin, ia pernah merasakan penderitaan sebagai orang yang tidak punya, ia pernah merasakan susahnya hidup ketika diejek oleh para tetangga. Kini, ketika ia menyaksikan ada orang yang tidak mampu makan, maka ia pun tidak tega menyaksikan hal itu. Ia akan memberikan makanan itu kepada orang yang membutuhkan.


    "Ayo, nak ..., Kakek disuruh ke dapur. Biar Kakek menikmati makan sambil duduk di dapur. Kasihan kalau dia lapar. Nanti bisa sakit di jalan ...." Isti yang sudah menyiapkan makanan itu, ia pun menyuruh anak-anaknya untuk mengajak si Kakek pengemis itu ke dapurnya.


    Lantas, kakek yang sudah diajak oleh Asri dan Antok itu, dengan digandeng tangannya, dia disuruh duduk di kursi plastik yang berada di dapurnya. Lantas Isti memberikan sepiring nasi dengan lauknya yang komplit kepada si kakek tua yang dianggapnya sebagai pengemis itu.

__ADS_1


    Kakek tua itu pun duduk di kursi plastik yang ada di dapur, kemudian menerima sepiring nasi yang sudah disiapkan oleh Isti. Kakek tua itu melepas caping keropaknya, kemudian meletakkan caping itu di pinggir tembok. Lalu si kakek tua itu memandangi tiga anak yang masih kecil-kecil, yang ikut menungguinya di dapur itu.


    "Terima kasih, nak .... Terima kasih, Ibu .... Terima kasih sudah memberi kami makan. Semoga Tuhan memberikan rezeki yang berlimpah kepada kalian semuanya." berkata demikian, si Kakek itu selanjutnya makan makanan yang sudah diberikan oleh tuan rumah yang baik hati itu.


    Sebenarnya, saat Isti memberikan piring berisi nasi kepada si kakek tua pengemis itu, ia melihat kakek itu dengan seksama. Apalagi saat Isti menyaksikan si kakek yang melepas caping keropaknya, ada sesuatu yang seolah mengusik hatinya. Dalam hatinya, ia merasa pernah tahu si kakek itu. Ya, Isti pernah ketemu. Setidaknya, Isti pernah melihatnya. Ya, Isti teringat, kakek itu adalah laki-laki tua yang pernah ia lihat berdiri di depan rumahnya. Pengemis itu adalah laki-laki tua yang pernah menakutkan dirinya, saat ia berada di rumah bersama dua anaknya yang kecil, laki-laki tua berdiri tepat di depan pintu rumahnya, dan laki-laki tua itu terus memandangi rumahnya, terus memandangi ruangan tamunya, dan terus berdiri di depan rumah itu. Waktu itu, Isti ketakutan. Hingga akhirnya, Isti harus menelepon satpam yang berjaga di perumahan. Dan saat satpam itu datang di rumah Isti, laki-laki tua itu langsung pergi dan menghilang entah ke mana. Karena setelah dicari oleh si satpam, kakkek tua itu tidak pernah ketemu. Ya, benar, Isti ingat betul. Orang ini adalah kakek tua yang pernah ia lihat di depan rumahnya itu.


    Dalam hati Isti, ia bertanya-tanya, siapa sebenarnya kakek tua ini? Siapa sebenarnya orang tua yang sering memperlihatkan diri kepadanya? Dulu ketika di rumahnya, Isti hanya berani mengamatinya dari dalam rumah, tanpa berani keluar ataupun membuka pintu. Dan kini, ia datang di rukonya, hanya sekadar untuk meminta makan. Adakah hubungannya kakek tua ini dengan kakek tua yang pernah diceritakan oleh suaminya dulu? Kakek tua yang pernah memberikan uang kepada suaminya itu?


    Namun tentu, Isti tidak berani bertanya siapa sebenarnya kakek tua itu. Isti tidak berani berkomentar. Isti tidak berani menegur laki-laki tua yang sedang makan di dapurnya itu. Ya, Isti hanya diam. Namun ia tetap memendam rasa ingin tahu.


    Tiga orang anak Isti itu masih berada di dapur, dan terus menemani si kakek tua yang sedang makan. Sedangkan Isti, ia meninggalkan kakek tua itu. Ia kembali ke tokonya. Tetapi, ia masih menyimpan seribu pertanyaan, siapa sebenarnya kakek tua yang datang ke tokonya itu dengan berpura-pura menjadi seorang pengemis?


    Sesaat kemudian, si kakek tua itu sudah menyelesaikan makannya. Nasi satu piring dengan lauk pauk yang ada di atasnya, sudah dihabiskan hingga hingga bersih. Tinggal piringnya saja dengan sendoknya. Dewi yang tahu kalau si kakek itu sudah selesai makan, ia pun memberikan segelas minum kepada si kakek itu. Segelas air dingin yang ia ambilkan dari kulkas, diberikan kepada kakek itu. Ya, biar segar, biar nikmat setelah makan diminumi air dingin yang segar.


    Si kakek itu menerima dengan senyum. Lantas kakek itu pun meminum air yang ada di gelas itu hingga habis.


    "Terima kasih Nak ..., kamu sangat baik, kamu pintar, kamu berbudi luhur ...." begitu kata si kakek kepada Dewi.


    Lantas, si kakek itu juga memegangi pundak si Asri bahkan juga memeluk tubuh si Antok. Ya, kakek tua itu sudah selesai makan, sudah selesai minum. Ia pun bangkit berdiri dari dapur itu, lantas melangkah keluar.


    Tentu tiga anak yang masih kecil-kecil itu pun mengikuti langkah kaki dari si kakek tua yang keluar meninggalkan dapur, melintasi tokonya, dan keluar meninggalkan toko itu.


    Namun, saat 3 anak ini akan melepas kepergian si kakek di depan tokonya, kakek tua itu merogoh kantong. Ya, kakek tua itu memberikan sesuatu kepada tiga anak yang sudah sudi untuk menerima kehadirannya di rukonya.


    "Ini .... Besok dibuat saku sekolah ...." kata si kakek itu, saat memberikan sesuatu kepada Dewi.


    "Terima kasih, Kek ...." ucap Dewi yang merasa di beri uang.


    "Terima kasih, Kakek ...." kata Asri yang tentu sambil mencium tangan kakek itu.


    "Nah ..., yang ini ..., untuk kamu .... Ini besok dibuat beli mainan, ya ...." begitu kakek tua itu memberikan uang koin kepada Antok, bocah yang paling kecil.


    "Terima ksih, Kek ...." Antok juga menjabat dan mencium tangan si kakek itu yang sudah memberikan uang kepadanya.


    Dewi, Asri dan Antok, masing-masing anak diberi satu koin uang logam dari kakek itu. Lantas, mereka pun secara bersamaan mengucapkan terima kasih kepada kakek itu.


    "Terima ksih, Kek .... Semoga Tuhan memberkati kakek .... Semoga Tuhan melindungi kakek .... Semoga Tuhan menjaga kakek ...." begitu kata ke tiga anak kecil itu, yang tentu memberikan kata-kata doa kepada si kakek tua itu.


    Lantas, kakek tua itu pun pergi meninggalkan mereka. Ya kakek itu sudah membalikkan badan untuk melanjutkan perjalanannya.


    Kemudian, tiga anak itu pun berlari ke ibunya, tentu akan menyampaikan apa yang sudah diberikan oleh kakek tua tadi.


    "Bu .... Ibu .... Saya diberi uang oleh kakek tadi, disuruh buat jajan ...." begitu kata anak-anaknya yang tentu langsung menemui ibunya sambil menunjukkan uang yang diberikan oleh kakek itu.


    "Ini, Bu ..., uangnya ...." tiga anak itu pun secara bersamaan menunjukkan uang pemberian si kakek yang ada di telapak tangannya.


    Betapa kagetnya Isti saat ia melihat apa yang dipegang oleh anak-anaknya. Matanya terbelalak, meliahat uang koin yang dipegang anaknya itu.


    "Ya ampun .... Ini bukan uang sembarangan .... Ini uang emas .... Ini kepingan uang emas .... Berarti kakek tua itu adalah pengemis sakti ..., pengemis yang punya harta kekayaan yang sangat banyak. Dia itu bukan pengemis, tetapi kakek baik hati yang kaya raya .... Hayo, kalian tadi sudah berterima kasih sama si kakek, belum ...?" tanya ibunya pada anak-anaknya.


    "Sudah, Bu .... Saya sudah berterima kasih." jawab Dewi.

__ADS_1


    "Saya juga sudah, Bu .... Saya sudah mendoakan semoga kakek itu sehat dan selamat. Begitu, Bu ...." kata Asri.


    "Syukurlah kalau kalian mau berbaik kepada siapa saja .... Ini bukti kebaikanmu. Orang yang baik pasti akan mendapatkan pahala yang berlimpah-limpah. Kalian harus bersyukur .... Besok, kamu harus berbuat baik kepada siapa saja, harus baik kepada temanmu, harus baik kepada orang lain ...." kata ibunya yang mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya.


    "Iya, Bu ...." jawab anak-anaknya.


    "Ya sudah .... Sana sekarang kalian naik ke lantai dua. Adiknya diawasi nonton TV atau diajak tiduran. Kalau ada PR, dikerjakan." kata Isti Dewi dan tentunya pada anak-anaknya agar mereka istirahat di atas.


    "Iya, Bu ...." jawab anak-anaknya, yang langsung naik ke lantai dua ruko itu.


    Setelah anak-anaknya naik ke lantai atas, Isti keluar dari tokonya. Ia menengok ke jalan, ke arah si kakek tua itu pergi. Namun Isti sudah tidak melihat siapa-siapa. Isti juga tidak melihat kakek tua itu. Si kakek tua itu sudah menghilang. Lagi, benar-benar si kakek tua itu sudah tidak terlihat, meskipun Isti menoleh ke berbagai arah, tetap saja tidak melihat kakek aneh tersebut.


    Isti kembali masuk ke tokonya. Dalam benak pikirannya, pastilah laki-laki tua yang seakan jadi seorang pengemis itu adalah laki-laki tua yang dulu pernah diceritakan oleh suaminya, sebagai orang tua yang baik hati. Namun Isti juga bertanya-tanya, siapa sebenarnya kakek tua itu, siapa sebenarnya orang yang berpura-pura jadi nulis itu? Di mana sebenarnya rumah kakek tua itu? Dan ada apa selalu menemuinya?


    "Bu ..., beli jajanan ...." Isti kaget, terjingkat dari lamunannya. Tiba-tiba ada seorang pembeli yang membuyarkan lamunannya.


    "Oh ..., iya .... Silakan ambil sendiri, pilih sendiri, ya ...." kata Isti menjawab pembeli yang datang itu.


    "Ini ..., Bu .... Sudah cukup, ini saja untuk cemilan saya di rumah." kata pembeli itu yang menyerahkan keranjang berisi jajanan yang dipilihnya, di atas meja kasir yang dihadapi Isti.


    Isti langsung menghitung harga jajanan-jajanan yang diambil oleh pembelinya itu. Lantas Isti menyerahkan kantong plastik kresek berisi jajanan yang diambil oleh pembeli itu, serta menyerahkan struk jumlah uang yang harus dibayar orang itu. Pembeli itu pun langsung membayarnya. Kemudian berpamitan pulang.


    Namun, belum sempat pembeli itu keluar dari toko, tiba-tiba sudah muncul lagi, ada pembeli-pembeli yang lain yang terus berdatangan. Dan toko Isti, menjadi sangat ramai oleh para pembeli yang berdatangan.


    "Dewi ...!! Tolong bantu Ibu, Nak ...!!" Isti memanggil anaknya yang besar itu.


    "Iya, Bu ...." Dewi langsung cepat-cepat turun ke toko, dan membantu ibunya meladeni para pembeli yang ramai.


    Para pembeli itu melarisi dagangan Isti, dan semuanya pada beli. Semuanya memberikan keuntungan yang cukup besar bagi Isti.


    Hingga sore hari, para pembeli terus berdatangan. Para pembeli terus membeli dagangan di toko Isti. Hari itu toko Isti memang benar-benar laris. Tidak seperti biasanya, sampai Isti harus kelelahan meladeni para pembeli yang melarisi dagangannya.


    Akhirnya, malam itu sekitar jam delapan, Isti menutup tokonya. Ya, karena waktu memang sudah terlalu malam. Dan Isti pasti sudah sangat kelelahan, karena saking larisnya, para pembeli yang berdatangan ke tokonya.


    Anak-anaknya yang juga diajari untuk membantu berjualan, membantu ibunya seharian. Bahkan Dewi sendiri tidak sempat untuk membuat PR, karena harus membantu ibunya untuk meladeni para pembeli yang lumayan banyak.


    "Toko kita hari ini ramai sekali ya, Bu ...." kata Dewi kepada ibunya. Walaupun gadis kecil ini masih kelas dua SD, tetapi sudah tahu tentang perdagangan. Karena ia selalu rajin membantu ibunya dalam berjualan.


    "Alhamdulillah .... Syukurlah Dewi .... Kita dapat rezeki yang lumayan .... Ini bisa kita gunakan untuk makan sehari-hari. Semoga saja besok-besok juga ramai seperti ini, biar kita senantiasa dapat rezeki, agar keluarga kita tidak kekurangan untuk berbagi ...." begitu kata ibunya yang tentu mendidik anak-anaknya untuk senantiasa bersyukur dan selalu ingat akan berbagi dengan orang lain.


    "Bu ..., Apakah ini karena kita tadi sudah memberi makan kepada kakek pengemis itu ya, Bu ...?" tanya Dewi yang tentu juga penasaran dengan laki-laki tua yang datang ke tokonya itu.


    "Ya .... Semoga saja kita didoakan oleh kakek tua yang datang ke sini, agar rezeki kita selalu lancar ...." begitu kata ibunya yang tentu juga mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya untuk selalu berbaik sangka.


    "Iya, Bu ...." sahut Dewi.


    "Ayo ..., sekarang kita tidur .... Hari sudah malam. Ibu capek. Kalian pasti juga capek, sudah membantu ibu seharian. Ayo kita sudah menutup toko. Sekarang saatnya kita istirahat, agar besok kita bisa bangun pagi, agar kamu tidak terlambat sekolah. Dan ibu bisa berjualan lagi." kata Isti mengajak anak-anaknya untuk bersiap tidur.


    "Semoga besok pagi toko kita laris lagi ya, Bu ...." kata dua anaknya yang kecil, yang tentu tadi juga ikut sibuk membantu ibunya.


    "Semoga saja kita selalu diberkahi oleh Yang Maha Kuasa .... Semoga saja toko kita laris, nanti rejekinya juga untuk kalian semua ...." begitu kata ibunya sambil mengelus kepala kedua anaknya yang masih kecil itu, yaitu Asri dan Antok, yang langsung memejamkan matanya di atas kasur.

__ADS_1


"Semoga kakek tua itu mau datang kembali ke toko kita ya, Buk.... "


__ADS_2