PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 111: MAAF BANG KOHAR


__ADS_3

    Sudah berkali-kali Podin mencoba melakukan ritual untuk mengeluarkan tuyul dari dalam peti yang ia curi dari tempatnya Bang Kohar tersebut, namun kenyataannya Podin selalu gagal dan tidak pernah berhasil mengeluarkan tuyul, tidak pernah berhasil memanggil tuyul, dan tidak pernah berhasil untuk mendapatkan uang yang ada di dalam peti keramatnya tersebut. Tentunya, Podin mulai menyerah. Podin mulai pasrah dengan kenyataan, bahwa ia tidak seperti Bang Kohar. Bahwa ia bukanlah Bang Kohar yang akrab dengan benda-benda gaib, yang senang dengan barang-barang keramat. Bahkan Bang Kohar yang sudah sanggup mengeluarkan tuyul dan menyuruhnya untuk mencari uang dan mengisi dua buah peti itu dengan lembaran-lembaran uang yang sangat banyak, Podin berfikir, pastinya ada mantra yang disembunyikan oleh Bang Kohar. Ada mantra yang tidak didengar oleh Podin saat diucapkan oleh Bang Kohar. Makanya, Podin kepikiran, ia ingin kembali menemui Bang Kohar. Setidaknya Podin akan mengakui kalau dirinya sudah mencuri dua buah peti yang dulu memang miliknya, tetapi sudah dibeli oleh Bang Kohar tersebut, dan setidaknya Podin akan meminta maaf kepada Bang Kohar. Podin pun berpikiran untuk membayar peti itu, mengganti harga peti itu kepada Bang Kohar.


    Namun di pikiran potin yang licik, ia pun ingin meminta tahu kepada Bang Kohar, bagaimana cara mengeluarkan makhluk kecil ajaib yang ada di dalam peti itu. Sehingga Podin bisa menyuruh makhluk tuyul itu untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Ya, itulah satu-satunya jalan agar Podin bisa memanfaatkan peti yang sudah ia sembunyikan itu, untuk menghasilkan kekayaan bagi dirinya sendiri. Ibarat kata, kalaupun nanti Bang Kohar minta uang tebusan yang sangat banyak, Podin akan membayarnya. Asalkan Bang Kohar mau memberitahu bagaimana caranya untuk mendatangkan si kecil tuyul itu dari dalam petinya, dan tentu menyuruh tuyul itu untuk mencari uang.


    Hari sudah mulai sore, ketika Podin sampai di rumah Bang Kohar, yang tentunya Bang Kohar juga baru saja pulang dari kerja. Lantas Podin mengetuk pintu sambil mengucap salam kepada Bang Kohar.


    "Punten ...." kata Podin mengucap salam.


    Bang Kohar membuka pintu dan keluar. Ternyata dia mendapati Podin yang datang ke rumahnya.


    "Mangga, Pak Podin." kata Bang Kohar, yang tersenyum pada Podin, sehingga brewoknya itu semakin kelihatan besar.


    Bang Kohar tidak marah kepada Podin. Bahkan ia juga tidak menuduh kalau Podin itu sudah mencuri peti harta karun yang sudah dibelinya dari istrinya. Bang Kohar justru mempersilakan Podin untuk masuk ke rumahnya. Lantas Mereka pun duduk di kursi yang berada di sela-sela diantara tumpukan benda-benda antik, barang-barang yang dikeramatkan oleh Bang Kohar.


    "Ada kabar apa ini, Pak Podin, kokdatang kemari lagi mencari saya?" kata Bang Kohar menanyakan kepada Podin, yang sebenarnya sudah memperkirakan, pasti masalah peti harta karun yang tidak bisa keluar tuyulnya.


    "Iya, Bang Kohar .... Betul, saya memang mau ketemu sama Bang Kohar." kata Podin.


    "Ada apa ini, Pak Podin ...? Tersanjung sekali saya dikunjungi oleh seorang pengusaha kaya raya dari Jakarta. Pasti Pak Podin mau menyumbang uang kepada saya ini." kata Bang Kohar yang berkelakar menggoda Podin.

__ADS_1


    "Saya mau mohon maaf, Bang Kohar .... Tempo hari, peti yang sudah dibeli Bang Kohar, malam hari itu saya ambil lagi ..., saya bawa ke Jakarta .... Saya pengen kembali memiliki peti itu .... Namun kalau misalnya Bang Kohar keberatan, saya akan membayarnya .... Saya akan ganti dengan uang yang banyak, seberapa Bang Kohar." kata Podin kepada Bang Kohar.


    "Waduh, Pak Podin .... Saya malah tidak menyangka kalau peti itu dibawa oleh Pak Podin .... Saya kira peti itu hilang begitu saja ...." kata Bang Kohar yang berpura-pura tidak tahu kalau peti itu sebenarnya memang dicuri oleh Podin.


    Memang, sebenarnya saat Bang Kohar pura-pura tidur, ia sudah menduga kalau peti itu akan dicuri oleh Podin. Dan waktu itu, memang Podin benar mencuri peti tersebut. Bang Kohar pun membiarkannya begitu saja. Dan setelah mencuri peti itu, Podin pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Bang Kohar.


    "Saya mohon maaf, Bang Kohar .... Memang saya sangat tertarik dengan peti itu. Terus terang, saya yang mengambilnya dan saya bawa ke tempat tinggal saya yang ada di Jakarta. Jangan khawatir, Bang Kohar .... Peti Itu saya simpan baik-baik." kata Podin kepada Bang Kohar, yang tentunya dia juga tersipu malu, bahkan juga menundukkan kepalanya, pertanda dia merasa bersalah sudah mengambil peti itu tanpa seijin yang punya.


    "Tidak apa-apa, Pak Podin .... Saya maklum, dan saya memaafkan .... Itu sebenarnya kan memang peti Pak Podin .... Kebetulan saja saya pas lewat melihat kok seperti sudah tidak dimanfaatkan .... Makanya, karena saya tertarik, dan saya senang dengan barang-barang antik seperti itu, maka peti itu saya beli. Kok diberikan dengan harga murah. Tentu saya senang, Pak Podin .... Tetapi kalau Pak Podin memang tidak rela, Pak Podin tidak ikhlas, Pak Podin ingin memiliki kembali peti itu, silakan saja, Pak Podin. Saya tidak masalah, ambil saja, Pak Podin." kata Bang Kohar sambil tersenyum dan tentu tangannya sambil mengelus-elus brewoknya itu.


    "Terima kasih, Bang Kohar .... Tapi saya tetap berniat akan memberikan uang kepada Bang Kohar, setidaknya mengembalikan uang yang dulu sudah digunakan untuk membayar peti itu. Dan pastinya saya akan menambahi dengan harga yang pantas untuk saya berikan kepada Bang Kohar. Jangan khawatir, Bang Kohar .... Saya akan bayar peti itu dengan harga yang jauh lebih tinggi dari saat Bang Kohar membelinya dulu." kata Podin pada Bang Kohar sambil menyerahkan amplop berisi uang yang jumlahnya ada sekitar lima puluh juta. Ya, peti itu kembali dibayar oleh Podin dengan harga yang fantastis. Tetapi bagi Podin, tentunya ia masih berharap, nanti peti itu bisa menghasilkan uang yang lebih banyak, mendatangkan uang yang lebih besar. Sehingga dirinya pun akan menjadi cepat kaya.


    "Tapi, Bang Kohar .... Saya mau tanya ..., caranya mengeluarkan makhluk kecil dari peti itu bagaimana?" tanya Podin kepada Bang Kohar.


    Yang pasti, karena memang Podin sudah berkali-kali mencoba untuk meminta tuyul itu keluar dari peti yang yang dibawanya, tetapi tidak bisa. Podin selalu gagal. Ia tidak bisa memanggil tuyul itu. Ia tidak bisa menyuruh tuyul yang ada di dalam peti itu untuk keluar dan pergi mencari uang. Dan berkali-kali Podin mencoba bermeditasi di depan peti yang ia bawa itu, selalu gagal. Dan peti itu memang kosong, tidak ada isinya sama sekali.


    "Begitu Pak Podin? Ada yang ketinggalan Pak Podin .... Ada yang lupa .... Ada yang tidak dilakukan .... Ada yang tidak diketahui oleh Bang Podin. Mestinya ini, Pak Podin .... Peti ini harus diusapi dengan minyak wangi setiap hari. Dan bila perlu dicuci dengan air kembang tujuh rupa .... Itu syarat merawat benda-benda keramat, Pak Podin. Ini adalah minyak wangi yang biasa saya pakai .... Ini adalah minyak kermisi .... Minyak wangi yang khusus untuk mengusap benda-benda pusaka. Minyak yang digunakan untuk barang-barang keramat. Kalau jimat-jimat itu selalu diusapi minyak kermisi ini, nanti pasti makhluk yang menghuni di benda keramat itu akan senang. Makhluk yang menghuni di jimat-jimat itu akan menurut dengan pemiliknya." kata Bang Kohar yang menyerahkan botol kecil berisi minyak wangi si nyong-nyong gambar putri duyung, yang baunya sanget wangi luar biasa. Baunya sangat menyengat. Dan minyak seperti itu pasti tidak disukai oleh orang-orang muda, karena memang minyak wangi itu khusus digunakan untuk sesaji di dalam merawat benda-benda keramat.


    Podin menerima botol kecil minyak wangi gambar putri duyung itu dengan senang hati. Dan tentunya angannya sudah melayang, nanti pasti akan mendapatkan uang setiap malam dari dua buah peti miliknya itu.

__ADS_1


    "Terima kasih, Bang Kohar. Saya senang dengan Bang Kohar yang sudah memberikan banyak pengetahuan tentang benda-benda keramat itu kepada saya. Kalau begitu, saya mohon pamit untuk pulang." kata Podin kepada Bang Kohar, yang tentunya setelah tahu ada minyak wangi yang harus di usapkan ke dalam benda-benda keramat itu, dan Podin sudah diberi sebotol minyak wangi yang baunya sangat menyengat itu, ia pun ingin segera pulang. Karena tentunya, Podin ingin segera melakukan ritual untuk mendatangkan uang secara gaib.


    "Sabar, Pak Podin .... Saya hanya mau sedikit berpesan ...." tiba-tiba Podin yang sudah akan keluar itu, dipegang lengannya oleh Bang Kohar.


    "Pesan apa, Bang Kohar?" tanya Podin pada Bang Kohar yang sudah menghentikan langkahnya untuk pulang itu.


    "Saya hanya mau pesan sedikit saja .... Begini, Pak Podin .... Peti keramat itu bukan peti sembarangan .... Setelah saya tahu sepintas dari makhluk yang pernah saya lihat, peti itu milik makhluk yang sangat jahat. Itu bukan peti buatan manusia. Tetapi peti itu milik Berhala. Peti itu yang membuat makhluk raksasa semacam berhala yang jahat." kata Bang Kohar membi siki Podin yang sudah bersiap melangkah keluar dari pintu rumah Bang Kohar.


    Podin langsung berbelalak. Tentu ketika Podin mendengar kata-kata berhala, ia langsung teringat dengan penguasa Pulau Berhala. Memang peti itu berasal dari Pulau Berhala. Dan bisa benar kalau yang membuat peti itu adalah berhala jahat yang menghuni Pulau Berhala. Podin teringat, memang peti itu dia bawa dari istana Pulau Berhala, yang kala itu peti tersebut digunakan untuk menaruh harta kekayaan yang diberikan oleh penguasa Pulau Berhala, yang berasal dari kucuran darah bayinya yang dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala. Tentunya nyali Podin menjadi ciut, setelah mendengar dan tahu dari kata-kata Bang Kohar tentang sebutan Berhala.


    "Maksudnya bagaimana, ya ...? Saya kok belum paham dengan apa yang dikatakan Bang Kohar?" tanya Podin kepada Bang Kohar, yang pastinya Podin ingin tahu dari penjelasan Bang Kohar tentang peti yang berasal dari Pulau Berhala tersebut.


    "Begini, Pak Podin .... Saya bukannya menakut-nakutin Pak Podin .... Tetapi berhati-hatilah memanfaatkan peti itu. Walaupun saya tahu dengan peti itu, karena di situ bisa menghasilkan uang yang sangat banyak, tetapi saya menyampaikan bahwa segala sesuatu yang didapatkan dengan mudah, itu pasti akan meminta tumbal." kata Bang Kohar kepada Podin, yang mengingatkan tentang perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, yaitu mencari harta kekayaan dengan cara yang tidak halal.


    Podin terdiam, memandangi Bang Kohar dengan penuh tanda tanya. Dan pastinya, dia juga tahu persis tentang peti itu, tentang cara mencari kekayaan melalui makhluk gaib, karena Podin memang sudah berkali-kali menyerahkan tumbal untuk mendapatkan harta kekayaan dari istana Pulau Berhala. Namun sekali lagi, bahwa Podin adalah manusia serakah, manusia tamak yang tidak peduli dengan tumbal dalam bentuk apapun. Baginya, yang penting dirinya bisa menjadi kaya raya, yang penting dirinya bisa mempunyai uang banyak.


    "Terima kasih nasehatnya, Bang Kohar .... Saya akan berhati-hati dalam menyimpan peti yang dikeramatkan itu." kata Podin yang kemudian melangkah keluar dari pintu rumah kontrakan Bang Kohar.


    Bang Kohar melepas kepergian Podin sambil tersenyum. Memandangi kepergian tamunya, dan tentunya juga berharap Podin bisa sadar dan tidak akan sembarangan di dalam mencari harta kekayaan tanpa mau bersusah payah, hanya dengan memanfaatkan benda-benda keramat yang sebenarnya isinya adalah perjanjian dengan setan.

__ADS_1


__ADS_2