PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 22: MULAI BERTINGKAH


__ADS_3

    Sudah beberapa bulan Isti berjualan di ruko dekat perumahan. Dan tentu setelah perumahan itu banyak penghuninya, dan ruko itu juga sudah mulai ramai, bahkan di ruko sudah ada beberapa orang lagi yang sudah berjualan, ada juga yang membuka perkantoran di ruko itu, tentu suasana di ruko yang ditempati oleh Isti sudah menjadi sangat ramai. Apalagi ruko itu berada di pinggir jalan yang dilewati oleh angkutan kota serta masyarakat umum, banyak orang dari warga sekitar, tidak hanya warga perumahan saja yang berdatangan untuk berbelanja toko-toko yang ada di perumahan tersebut. Tentunya hal ini jadi keuntungan besar bagi Isti yang sudah membuka tokonya pertama kali di ruko itu. Toko milik Isti jadi lebih dikenal dan mempunyai banyak pelanggan. Bahkan pelanggan-pelanggan tokonya Isti itu tidak hanya dari penghuni perumahan, tetapi juga orang-orang kampung atau warga sekitar perumahan yang sengaja menuju ke pertokoan yang ada di ruko itu. Ya, namanya pertokoan yang ada di daerah perumahan pasti sudah tertata secara rapi, bahkan juga mempunyai lahan parkir atau halaman yang cukup luas, sehingga memudahkan para pembeli untuk berbelanja. Tentunya ramainya para pembeli yang berdatangan ke ruko tersebut memberikan dampak positif kepada usaha yang dibuka oleh Isti. Toko milik Isti menjadi lari, dan tentu memberikan keuntungan yang besar.


    Namun yang namanya manusia, biasanya tidak pernah puas. Meski sudah diberi rezeki yang cukup, ia selalu masih saja merasa kurang. Selalu saja ingin menambah dan menambah. Seperti halnya yang dialami oleh Podin.


    "Bu, saya Rencananya akan membuka usaha lagi. Pengin saya, setidaknya tempat usaha kita tidak hanya satu di sini saja. Tetapi saya akan mencoba berusaha dengan usaha yang lain. Tidak hanya berdagang jualan di ruko saja, tetapi saya juga ingin mencoba untuk bisnis lain." kata Podin pada istrinya, saat mereka sedang makan malam di rumah mewahnya.


    "Mau bisnis apa lagi, Pak ...?" tanya istrinya yang ingin tahu bisnis apa yang akan dilakukan oleh suami itu.


    "Saya kemarin ketemu dengan orang-orang yang juga pengusaha-pengusaha, Bu .... Mereka bercerita banyak tentang dunia usaha, diantaranya kalau kita berusaha, kalau kita punya bisnis, itu jangan hanya satu jenis usaha saja, jangan hanya yang ada di tempat ini saja. Tetapi kalau kita masih punya modal, dan modal kita cukup besar, maka sebaiknya kita mulai bisnis dengan aneka jenis usaha. Begitu kata orang-orang yang saya temui. Dan mereka itusemua rata-rata punya banyak usaha .... Makanya mereka kaya raya ...." kata Podin.


    "Lah iya .... Maksud saya, saya itu ingin tahu, kira-kira usaha yang ingin dikembangkan oleh Bapak itu usaha apa?" tanya istrinya kepada Podin.


    "Begini, Bu .... Kemarin itu, saya ditawari oleh seorang pengusaha. Dia punya bisnis bidang karaoke. Kebetulan, katanya dia itu mau pergi ke Taiwan, membuka bisnis di luar negeri sana .... Tentu bisnisnya yang ada di sini tidak ada yang ngurusi. Orang itu bilang, sayang kalau mau ditutup. Saya disuruh melanjutkan usahanya. Hanya disuruh membayar ganti gedungnya saja. Itu pun dari hasil pemasukan pendapatan. Ibarat kata, gedung bisnis itu disuruh mengelola saya, biar bisnisnya itu tetap jalan terus." kata Podin pada istrinya.


    "Bisnis apa itu, Pak?" tanya Isti pada suaminya, yang memang masih bingung dengan rencana bisnis suaminya itu.


    "Itu bisnis hiburan .... Tempat karaoke. Tempat orang yang nyanyi-nyanyi itu loh .... Orang yang bersenang-senang, menyanyi pakai nonton TV yang ada lagunya, kemudian dia nyanyi-nyanyi. Enak kan .... Semuanya sudah siap, semuanya sudah ada. Tidak hanya gedung saja, tetapi juga peralatan karaokenya, pekerja-pekerjanya. Pokoknya semuanya siap. Nanti Bapak hanya tinggal melanjutkan saja." begitu jelas Podin pada istrinya.


    "Oh, begitu .... Terus tempatnya di mana?" tanya istrinya lagi.


    "Di Jakarta, Bu .... Kan cari tempat yang ramai pengunjung. Kalau di Tasik ya tidak ada pengunjungnya." jawab Podin.


    "Harganya berapa? Bapak disuruh membayar berapa ...?" tanya istrinya lagi.


    "Katanya itu kalau dijual, bisa mencapai tiga miliar, Bu ...." jawab Podin


    "Hah ...?! Uang dari mana, Pak ....?" tentu istrinya kaget.


    "Justru ini yang saya tertarik, Bu .... Karena saya hanya disuruh ngurusi, dan mengirim sebagian hasil untuk pengganti harga gedung itu ...." kata Podin pada istrinya.


    "Maksudnya bagaimana, Pak ...?" tentu Isti yang sudah mulai berbisnis jualan, sudah berfikir ke untung rugi.


    "Pokoknya, yang punya bisnis karaoke ini pasrah ke saya, kalau gedung itu saya disuruh mengangsur dari bagian hasil usaha. Kalau sudah bisa mengangsur sampai 1 miliar, maka gedung karaoke itu jadi milik saya. Itu katanya, tempat karaokenya itu gedung tiga lantai dan besar. Di daerah Jakarta lho, Bu .... Pasti mahal ...." kata Podin yang tentu sangat tergiur buka usaha di Jakarta.


    "Ya ..., terserah Bapak saja .... Kalau memang Bapak menghendaki mau berbisnis karaoke itu, ya silakan. Daripada di sini juga agak kebingungan. Tapi harus bolak-balik ke Jakarta ya, Pak ...." begitu kata istrinya yang tentu juga tergoda dengan bisnis yang oleh orang asing itu diserahkan kepada suaminya.


    "Kalau Ibu memang mengijinkan, besok saya akan pergi ke Jakarta bersama dengan orang-orang yang mau ikut di dalam bisnis itu. Tentu nanti di sana saya akan melihat bisnisnya itu seperti apa, dan kira-kira hasil keuntungannya nanti seperti apa .... Kalau orang-orang sih mengatakan itu untung besar .... Karena hasil setiap harinya itu lumayan besar ...." kata Podin pada istrinya.


    "Kelihatannya enak sekali, Pak .... Ya sudah, besok berangkat ke Jakarta lihat tempat karaokenya seperti apa. Dan jangan lupa, kalau pulang bawa oleh-oleh ...." kata istrinya yang memesan kepada Podin.


    Akhirnya, Podin berangkat ke Jakartam untuk melakukan bisnisnya. Ya, bisnis karaoke. Dan rupanya Podin begitu menyaksikan tempat bisnisnya yang baru, ia langsung tertarik. Ya, tentu karena di bisnis karaoke itu semuanya terlihat menyenangkan, menggembirakan, dan menggairahkan. Tentunya hal itu menyebabkan Podin betah berada di Jakarta. Dan tentunya Podin jadi jarang pulang ke rumah. Podin lebih sering berada di Jakarta karena bisnisnya itu. Ya, ternyata bisnis karaoke memang sangat cocok bagi seorang seperti Podin. Setidaknya cocok untuk seorang pemalas yang maunya hidup enak tanpa bersusah payah.


    Setelah beberapa hari lamanya Podin menggeluti bisnis karaoke, bagi laki-laki seperti Podin, ini adalah bisnis yang sangat menyenangkan. Podin semakin hanyut dalam indahnya bisnis karaoke. Ya, tentu, karena ternyata, di dalam usahanya itu, gedung karaoke ini memperkerjakan para pemandu karaoke, yang rata-rata adalah perempuan-perempuan yang cantik-cantik. Menyaksikan pemandangan seperti itu, tentunya Podin semakin betah tinggal di tempat itu.


    Boleh tahu saja, bahwa di dalam ruang karaoke itu memang terdapat wanita-wanita cantik yang bekerja sebagai pemandu karaoke. Mereka bekerja untuk membantu melayani para pelanggan yang akan berkaraoke, mulai dari menyiapkan perangkat karaoke, CD, dan juga sound system. Selanjutnya membantu kepada para pelanggan yang akan menyanyikan lagu-lagu berkaraoke. Bahkan kalau misalnya pelanggan itu agak kurang bisa, para pemandu karaoke inilah yang bertugas untuk memandunya bernyanyi.


    Sebagai seorang perempuan yang bekerja sebagai pemandu karaoke, sudah semestinya untuk memberikan pelayanan secara ramah, memberikan pelayanan secara baik, memberikan pelayanan secara menarik, bahkan juga membantu segala hal yang dibutuhkan oleh pelanggan. Namun kenyataan di masyarakat, menganggap pekerjaan seorang pemandu karaoke adalah pekerjaan nista.

__ADS_1


    Namun bagi Podin, usaha karaoke itu ternyata memberikan perubahan kehidupannya yang tentu sangat drastis. Ya, Podin yang kini sering bertemu dengan para karyawannya, yang rata-rata adalah para wanita, terutama para pemandu karaoke, yang pasti secara cepat langsung mempengaruhi dirinya. Tentu para pemandu karaoke itu sering merayu, bahkan juga sering mengajak Podin untuk duduk-duduk di ruang karaoke.


    Podin, walaupun sebagai pemilik resmi karaoke itu, tetapi karena dia sering sendiri saat di Jakarta. Tetapi karena dia laki-laki yang merasakan keindahan kota Metropolitan dengan gebyar kebebasannya. Maka lama-kelamaan kalau selalu melihat kemolekan dan kecantikan para pemandu karaoke itu, ia pun mulai tergoda. Ya, tentu sangat jauh berbeda dengan istrinya yang ada di rumah yang tidak pernah berdandan. Sudah tua, nglemprot, kusut dan tentu baunya brambang dan trasi. Sangat jauh berbeda dengan perempuan-perempuan yang ada di tempatnya berbisnis karaoke, yang cantik, seksi, dan bau wangi.


    Akhirnya, tentu Podin lebih betah tinggal di tempat bisnisnya yang baru, yaitu di Jakarta. Ya, tinggal bersama dengan perempuan-perempuan yang cantik dan seksi-seksi itu. Tinggal di tempat dengan hiburan dan pemandangan yang lebih mengasyikkan.


    Maya, salah seorang pemandu karaoke di tempatnya Podin, yang memang masih muda dan cantik. Apalagi ditambah dengan dandanannya yang selalu seksi, dengan bedak yang sangat glowing, serta gincu yang merah menantang, serta parfum yang baunya merangsang laki-laki. Tentu sangat menggoda setiap laki-laki yang didekatinya. Tentunya, Maya yang tergiur dengan harta kekayaan Podin, ingin mendekati bosnya itu. Ya, Maya ingin menajkukkan bosnya.


    Maya yang pandai merayu dan memuji kepada para pengunjungnya, terutama laki-laki, harapannya Maya bisa mendapatkan uang yang lebih dari bosnya. Maya bisa mendapatkan harta benda yang cukup dari Podin. Maka tak heran, kalau Maya mulai mendekati Podin, merayu Podin, bahkan mulai berpura-pura selalu baik kepada Podin. Ingin membantu menata tempat tidurnya, ingin menyediakan makan untuk bosnya itu, bahkan juga ingin mendengarkan keluh kesah dari bosnya. Yang pada akhirnya, ia pasti akan masuk mengusik hatinya.


    "Pak Bos Podin .... Pak Bos ini kalau di Jakarta sendirian ya?" tanya Maya kepada Podin saat bertemu di ruang manajer. Secara sengaja Maya masuk ke tempat ruangnya Podin.


    "Iya, betul ....." jawab Podin.


    "Aduh kasihan, Pak Bos .... Terus yang ngurus kebutuhan Pak Bos, siapa ...?" tanya Maya yang memanggil Podin dengan sebutan Bos. Memang Podin sekarang adalah bosnya.


    "Ya ngurus sendiri .... Lhah, mau bagaimana lagi?" jawab Podin.


    "Uuh ..., kasihan .... Bagaimana kalau kebutuhan Pak Bos, biar Maya yang ngurusi ...?" kata Maya yang tentu sambil senyum memikat.


    "Wah, apa tidak merepotkan ...?" tanya Podin.


    "Tidak, Pak .... Kalau cuman sekadar menyiapkan makan siang, makan malam atau mencuci, nanti sekalian dengan Maya memenuhi kebutuhan sendiri. Kan bisa bareng, Pak Bos ...." kata Maya yang lagi-lagi tersenyum menggoda.


    Tentu, menyaksikan kecantikan Maya itu, Podin langsung tertarik. Apalagi kalau Maya sendiri yang menawarkan ingin membantu, itu artinya bukan Podin yang meminta. Sungguh senangnya Podin, ada wanita cantik yang dengan suka rela menawarkan akan mengurus kebutuhannya.


    "Hahaha .... Ya jelas belum lah, Pak Bos .... Siapa sih Pak, yang mau dengan saya seperti ini ...?" begitu jawab Maya yang berpura-pura mengatakan hal yang tidak disuka orang bagi dirinya. Padahal sebenarnya itu adalah perangkap bagi Podin agar bosnya itu mau berdekat dengan Maya.


    "Ah, masak orang secantik Maya ini belum ada yang mau mempersunting?" tanya Podin yang tentu tidak percaya dengan ucapan karyawannya itu.


    "Betul, Pak Bos .... Saya ini belum punya suami, belum ada laki-laki yang mau mendekat dengan diriku." kata Maya yang tentu dia mulai berlenggak-lenggok kepalanya, menggeleng ke kanan ke kiri, yang tentu sambil tersenyum karena sebenarnya ia sedang memasang jerat bagi si Podin.


    "Halah ..., kok kasihan sekali." kata Podin yang bersimpati pada Maya.


    "Iya, Pak Bos .... Lhah, kalau Pak Podin, di sini yang ngurus rumah tangganya, siapa? Yang ngurusi makan,  minum, terus yang mencuci pakaian, siapa Pak ...? tanya Maya pada Podin yang tentu sudah merasa akan mulai memasukkan perangkapnya.


    "Ya, ngurusi semuanya sendiri, Maya .... Saya kan di Jakarta sendiri, dan tidak setiap hari saya ada di Jakarta. Kkarena saya harus pulang ke Tasik juga." jawab Podin yang tentunya membuka peluang bagi Maya untuk masuk ke dalamnya.


    "Ya ampun, Pak Bos .... Kasihan, harus pulang pergi ke Jakarta - Tasik. Maaf, Pak Podin .... Kalau misalnya Pak Podin butuh makan atau minum,  bilang saja sama saya .... Nanti akan saya carikan, akan saya belikan." begitu kata Maya yang tentu langsung menawarkan diri kepada Podin untuk membantu mengurusi kehidupannya.


    "Memang Maya tidak repot?" tanya Podin yang tentu juga mulai merasa senang karena akan dibantu oleh Maya, karyawannya yang cantik itu.


    "Tidak Pak Bos .... Apa sih yang direpotkan oleh seorang pegawai pemandu karaoke, saya kan paling-paling di sini juga kalau ada orang yang ingin karaoke dan minta bantuan, kalau misalnya keadaannya sepi, ya tentu saya juga bisa membantu Pak Bos. Misalnya Pak Bos butuh-butuh apa, saya siap untuk membantu." begitu kata Maya yang tentu sudah menjanjikan ingin membantu kebutuhan daripada Podin.


    Dan akhirnya mereka pun saling dekat. Ya, Podin sudah mulai tertarik dengan apa yang ditawarkan oleh si Maya. Pastinya, Podin juga merasa senang dengan karyawannya yang cantik itu. Apalagi Maya, ia sangat senang karena bosnya sudah masuk dalam perangkapnya.


    "Nah, kalau memang seperti itu, bolehlah .... Maya boleh bantu saya. Maya boleh memberikan bantuan kepada saya. Ya, sekedar membelikan makan, sekedar untuk membelikan minum." begitu kata Podin kepada Maya.

__ADS_1


    "Benar ya, Pak Bos .... Nanti kalau Pak Bos butuh apa-apa, Pak Bos butuh makan, saya akan siap membantu, saya akan siap membelikan makanan maupun minuman." begitu kata Maya yang tentu senyumnya semakin lebar, bibirnya mulai bergerak-gerak memasang perangkap untuk memikat Podin.


    "Terima kasih, Maya kamu sangat baik kepada saya. Ya, tolong nanti siang kita makan bersama di sini. Tolong kamu belikan dua porsi makan untuk kita makan bersama." kata Podin yang sudah terperangkap.


    "Siap, Pak Bos, kami akan membelikan makan siang untuk Pak Bos." kata Maya yang tentu mulai senang bahwa niatnya untuk mendekati Podin pasti sudah akan tercapai.


    Podin pun langsung mengeluarkan dompetnya, memberikan lembaran uang kepada Maya. Tentu Maya menerimanya dengan senang hati. Ia akan mendapatkan bagian dari uang yang dimiliki oleh Podin.


    Siang itu, di ruang manajer, di ruang Podin yang ada di lantai tiga, bagian teratas dari tempat karaoke itu, Maya masuk menemui Podin yang duduk sendirian di ruangnya. Tentu Maya membawa duz yang berisi makanan yang akan digunakan untuk makan bersama dengan Podin.


    "Selamat siang Pak Bos ...." kata Maya pada saat memasuki ruangnya Podin.


    "Aha ....Maya. Ayo, Maya .... Sini masuk .... Silakan masuk saja. Ayo segeralah ke sini, saya sudah menunggumu." kata Podin yang tentu dia sudah bersiap ingin makan siang bersama dengan Maya.


    "Iya, Pak Podin .... Ini saya mau mengantar makan siang untuk Pak Podin ...." kata Maya yang selanjutnya menyerahkan bungkusan dalam tas kresek itu, yang berisi duz makanan untuk makan siang.


    Maya yang membawa duz makanan itu, langsung mulai menata. Maya pun mengambilkan piring yang ada di sudut ruang itu, dekat dengan wastafel, kemudian membawanya dua piring itu ke meja kerja Podin yang memang rapi dan kosong tidak ada barangnya. Lantas Maya menata makanan itu, tentu sambil melirik-lirik kepada bisnya.


    Podin merasa senang diladeni oleh perempuan cantik, yang tentunya sudah menggugah selera laki-lakinya.Selanjutnya mereka berdua pun makan bersama. Maya tentu sudah sangat senang karena perangkapnya untuk mendekati Podin, selangkah sudah berjalan dan selangkah sudah bisa menggaet. Demikian juga Podin,  laki-laki setengah baya yang tentu sudah sangat tertarik dengan kecantikan Maya, yang sudah sangat tertarik dengan kemolekan perempuan itu, maka Podin juga mulai melirik Maya. mulai memperhatikan Maya, sebagai perempuan yang kemungkinan besar bisa didekatinya.


    Ya, seperti yang sudah direncanakan oleh Maya. Ia pun memasang dirinya untuk menjerat Podin agar lebih cepat menangkap dirinya. Maya mulai membuka kancing bajunya yang atas, sehingga bagian dari dadanya kelihatan. Dan lagi, Maya yang mengenakan rok pendek itu, dinaikkan pahanya, sehingga paha Maya itu pun terlihat oleh mata laki-laki yang tentunya juga haus perempuan.


    Tidak bisa dipungkiri oleh Podin, saat matanya menyaksikan kecantikan Maya, saat matanya menyaksikan ke mulusan paha Maya, saat ,atanya menyaksikan bagian dada Maya yang terbuka, Podin betul-betul mulai menelan ludah. Yang ia pandang saat ini, Maya adalah wanita yang cantik yang sangat berbeda dengan istrinya, perempuan desa yang jarang berdandan. Walaupun istriny mengenakan gelang yang sangat banyak, gelang-gelang yang indah serta perhiasan aneka rupa, tetapi bagi Podin, istrinya hanyalah perempuan yang hanya bisa mengurus rumah dan mengurus anak. Tidak bisa mengurus laki-laki yang butuh kehangatan. Istrinya tidak bisa mempercantik dirinya, sangat jauh berbeda dengan Maya yang sekarang ada di hadapannya itu. Ya, Podin pun mulai tertarik dengan tubuh Maya.


    "Malam ini, Maya ada acara apa tidak? begitu tanya Podin pada Maya, yang tentu Podin mulai mencari celah.


    "Ya jaga di karaoke, kan Pak. Namanya saja saya ini kan hanya pekerja di ruang karaoke. Kalau ada tamu yang akan karaoke, ya itu kerjaan saya .... Memandu para tamu. Tapi ..., kalau memang tidak ada tamu, tempat karaoke sepi, ya mau apa lagi .... Paling ya nyanyi-nyanyi sendiri, Pak ...." kata Maya yang tentu sudah tahu niatan bosnya akan mengajak dirinya.


    "Kalau misalnya Maya, saya ajak jalan-jalan, bagaimana? Mau tidak ...?" tanya Podin pada Maya, yang tentu niatan Podin pasti menjurus ke masalah pribadi.


    "Ya, mau, lah ..., Pak .... Orang saya kan karyawannya Bapak, saya kan pegawainya Bapak .... Kalau Pak Bos ngajak saya untuk pergi, ya saya tidak bisa menolak .... Masa anak buah kok menolak bosnya. Kualat nanti, Pak. Tidak baik, tidak berani saya, Pak ...." kata Maya yang tentu mulai senang kalau Podin pasti akan mengajak dirinya untuk bersenang-senang. Nah, kesempatan itulah nantinya Maya akan mendapatkan banyak uang, bahkan mungkin akan meminta perhiasan kepada Podin.


    "Kalau memang Maya mau, saya mau ajak Maya untuk ..., ya sekedar bersenang-senang. Kira-kira bagaimana?" tanya Podin pada Maya.


    "Bersenang-senang bagaimana ya, Pak Podin?" tanya Maya yang pura-pura membodohi.


    "Yah, kita nikmati indahnya malam berdua saja." kata Podin yang ingin mengajak Maya untuk bersenang-senang berdua.


    "Yang bener, Pak ...?" kata Maya yang tentu sudah tersenyum bahagia mendengar ajakan bosnya itu.


    "Itu kalau Maya mau ...." kata Podin.


    "Mau ..., mau ...,  mau ..., Pak ..... Saya mau ....." begitu kata Maya yang tentu akan mau kalau diajak Podin bersenang-senang.


    Tentu karena niat utama dari Maya memang ingin menggaet, ingin menaklukkan Pak Podin, agar bosnya bisa dekat dengannya, dan nantinya, setidaknya Maya akan mendapatkan uang yang lumayan banyak dari bosnya.


    Dan benar, Podin pun bersenang-senang dengan Maya. Mereka berdua menyewa kamar hotel di daerah Puncak. Tentu mereka menikmati indahnya hubungan antara karyawan dan bosnya. Tetapi kali ini, Maya akan memberikan servis khusus kepada Podin.

__ADS_1


    Hari terus berlalu. Hingga minggu berganti minggu, Maya dan Podin sudah semakin mesra. Mereka berdua sudah menikmati keindahan hidup bersama-sama. Podin sudah merayap, merasakan bagaimana enaknya tidur bersama dengan Maya. Hingga akhirnya, Podin pun jarang pulang ke Tasik. Podin jarang menemui istrinya, jarang menemui anak-anaknya. Podin lebih senang berada di Jakarta bersama dengan Maya. Podin sudah tergila-gila dengan Maya.


__ADS_2