PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 114: MEMBUANG PETI


__ADS_3

    Tentunya Rina penasaran dengan peti yang ia temukan di kolong tempat tudurnya itu. Rina menduga, pasti itu peti milik Podin yang ketinggalan. Namun ia juga kurang yakin, karena Rina belum pernah melihat suaminya itu menenteng, membawa, atau bahkan bercerita tentang peti. Bisa juga peti itu milik orang yang punya rumah dahulu, saat Podin membeli rumah itu, kemungkinan peti itu sudah berada di dalam rumah itu.


    "Ada apa, Mpok ...? Kok kelihatan serius banget?" tanya seorang pelanggan yang sudah duduk dan tentunya memanggil Rina yang ada di dalam kamarnya, karena laki-laki itu akan memesan sarapan pagi.


    "Ah ..., itu loh ..., saya kemarin kan dibilangin sama orang-orang, kalau pas si bocah kecil perempuan yang sering datang ke sini, yang sering saya kasih makan itu, kalau datang kemari suruh ngikutin terus. Tadi pagi beneran si bocil itu datang kemari .... Kantas saya ngikutin anak itu. Ia masuk ke dalam rumah, kantas masuk ke kamar saya. Dan ternyata, setelah masuk ke kamar, saya cari anak itu sudah hilang. Tidak ada lagi. Bocah itu sudah hilang begitu saja." kata Rina kepada laki-laki yang menanyainya di warungnya itu.


    "Ih ..., kok menakutkan sekali itu .... Terus, Mpok Rina tidak menemukan apa-apa?" tanya laki-laki itu kepada Rina, yang seakan ia kelihatan ketakutan.


    "Itulah, Bang .... Saya tidak menemukan anak itu. Tetapi saat saya cari-cari, malah di kolong tempat tidur saya, ternyata ada dua buah peti. Saya juga heran, itu peti milik siapa? Bentuknya aneh, Bang. Bentuk peti itu mirip kayak yang di film-film bajak laut itu, Bang ...." kata Rina kepada pelanggannya, tentunya sambil melayani pesanan dari orang yang akan sarapan pagi itu.


    "Aah ..., peti harta karun ...." sahut laki-laki itu.


    "Betul, Bang ...." jawab Rina.


    Tidak lama kemudian, datang lagi beberapa orang karyawan pabrik yang sudah mengenakan pakaian rapi, tentunya dia akan berangkat ke pabrik untuk bekerjam sambil mampir ke warung Rina terlebih dahulu untuk sarapan pagi. Yah, waktu itu memang jam sarapan pagi bagi orang-orang yang akan berangkat bekerja. Memang, mereka biasanya mampir sarapan saat mau berangkat kerja.


    "Ada apa ini, kok rame-rame?" tanya salah seorang dari rombongan yang barusan datang ke warung Rina, dan tentunya ingin tahu yang dibicarakan oleh Rina dan rekannya yang sudah mulai sarapan itu.

__ADS_1


    "Ini loh, Om .... Saya itu tadi mengejar, membuntuti, mengikuti perempuan cilik yang sering saya beri makan itu, yang kemarin hilang itu, dan membuat saya pingsan." kata Rina.


    "Lah ..., Mpok Rina tidak takut ...? Kok malah membuntuti bocah yang menakutkan itu?" tanya salah seorang yang juga sudah mulai memesan sarapan sambil menunjuk lauk-pauk yang ada di tempat dagangannya Rina.


    "Yaa ..., saya terpaksa, Om .... Saya itu ingin tahu, dia itu masuk rumah saya mau ngapain .... Tahunya, bocah perempuan cilik compang-camping dan pucat pasi itu masuk ke kamar saya. Saya pikir, dia mau mencuri. Saya kira dia mau mengambil sesuatu. Ternyata, setelah saya masuk ke kamar itu juga mengejar perempuan cilik itu, tak tahunya bocah itu sudah hilang. Anak perempuan itu sudah tidak ada." kata Rina kepada para karyawan pabrik yang akan sarapan di tempatnya itu.


     "Kok, Mpok Rina tidak pingsan lagi?" tanya salah seorang yang tentu mengejek Rina, karena kemarin dia sudah pingsan membuat geger orang se kampung. Dan Rina waktu itu cerita, kalau yang menyebabkan dia pingsan adalah pengemis cilik yang selalu datang ke rumahnya itu. Tentunya kali ini, kalau Rina cerita bahwa dirinya membuntuti bocah itu lagi, kalau dirinya mengejar anak perempuan yang sudah menakutkan dirinya itu kembali, itu adalah hal yang sangat tidak wajar.


    "Eh, Bang .... Jangan dikira saya takut terus-terusan .... Itu tadi saya mencoba memberanikan diri, dan saya memang ingin tahu bocah itu .... Saya menghilangkan rasa takut dalam diri saya, walaupun saya juga merinding, bulukuduk saya mengkorok, Bang." kata Rina yang tentunya protes, tidak mau kalau dikatakan sebagai orang yang penakut.


    "Lah, terus bagaimana hasilnya? Mana anaknya?" tanya yang lainnya.


    "Lah, terus anak itu ada di dalam peti?" tanya para laki-laki yang beli sarapan pagi di tempatnya Rina tersebut.


    "Tidak ada .... Peti itu langsung aku buka, dan kosong, Bang. Tidak ada isinya Om." jawab Rina yang kecewa karena menduga kalau bocah itu dikira sembunyi dalam peti, namun ternyata tidak ada.


    "Loh, peti itu milik siapa?" tanya yang lainnya.

__ADS_1


    "Saya juga tidak tahu, Bang .... Saya tidak tahu, Om .... Saya nggak ngerti, Pak, peti itu punya siapa. Karena saya baru melihat ya kali ini." kata Rina kepada orang-orang yang ada di situ.


    "Wah ..., jangan-jangan anak itu adalah siluman yang bisa masuk dan menghilang di dalam peti itu." kata salah seorang yang ada di warung itu.


    Langsung saja merinding sekujur tubuh Rina, karena kembali takut dengan kata-kata orang yang sedang sarapan itu, yang bilang kalau anak itu siluman yang berada di dalam peti itu.


    "Kok nakut-nakutin, Om .... Rina jadi takut, nih ...." kata Rina yang memang sudah kembali ketakutan.


    "Ya udah .... Kalau Mpok Rina takut, ya udah nggak usah cerita, nggak usah dicari-cari lagi si bocah perempuan kecil itu, biar saja anak itu hilang. Ya sudah anggap saja itu hanya bayangan, itu hanya ilusi, itu hanya fatamorgana." kata orang yang tadi menyebut kalau bocah itu adalah siluman.


    "Iya, Om .... Tapi terus terang, saya itu penasaran .... Jangan-jangan benar anak itu siluman yang bisa masuk dan menghilang di dalam peti ini. Rina takut, Bang .... Rina takut, Om, Pak, Mas .... Bagaimana ini ...?!" tanya Rina yang semakin ketakutan, minta solusi kepada orang-orang yang pada sarapan di warungnya.


    "Begini saja, Mpok Rina .... Kalau memang Pok Rina takut dengan peti itu, mendingan peti itu kamu buang saja ke tempat sampah .... Beres .... Atau kalau ada pemulung yang mau, berikan saja kepada pemulung, biar Rina tidak usah membuang, peti itu langsung diterima oleh pemulung." kata salah seorang yang tentu juga masih sarapan.


    "Betul juga ya, Pak .... Kalau begitu, biar nanti saya tawarkan ke pemulung .... Kalau ada yang mau, syukurlah, tidak harus membawa ke tempat pembuangan sampah. Tapi kalau tidak ada pemulung yang mau, yah ..., nanti akan saya buang ke tempat sampah." kata Rina yang tentunya dia mulai plong, dia mulai lega, dia sudah mulai bisa nyaman kembali ketika diberi solusi untuk membuang peti yang ia temukan di bawah kolong tempat tidurnya Itu. Peti yang diduga merupakan tempat dari persembunyi anak kecil yang bisa menghilang begitu saja saat dicari.


    Akhirnya, siang itu, hingga sore hari, berkali-kali Rina menawarkan peti kepada para pemulung yang sering lewat di depan warungnya, peti yang sudah disiapkan di dekat dengan tempat ia memasak, yang ditawarkan kepada para pemulung uang melintas. Namun hingga sore, ternyata tidak ada satupun pemulung yang mau menerima peti itu. Karena dianggap itu tidak ada harganya, tidak punya nilai jual. Lebih baik membawa botol mineral kosong atau kardus bekas yang kecil, tetapi punya harga jual. Daripada peti seperti itu, yang besar dan memenuhi tempat, tetapi tidak laku untuk dijual. Paling-paling hanya dibakar begitu saja. Percima pemulung membawa barang yang tak berguna. Walaupun oleh para kolektor barang antik, seperti Bang Kohar, peti itu punya harga yang fantastis. Beda dengan pemulung. Mesti yang ditawari mencoba untuk melihat, namun tetap saja tidak ada yang mau.

__ADS_1


    Dan akhirnya, sore hari menjelang malam, setelah Rina selesai berjualan, setelah Rina selesai meladeni para pelanggannya, ia pergi ke dekat pasar, ke tempat pembuangan sampah. Dua buah peti yang unik itu, yang tentu bentuknya sangat bagus dan indah, dibuang oleh Rina ke dalam bak penampungan sampah. Ya, Rina sudah membuang peti-peti yang diduga merupakan tempat persembunyian dari bocah siluman yang selalu menakut-nakuti Rina. Harapannya, bocah itu akan hilang dari rumah Rina, dan tidak akan datang lagi ke warungnya, setelah peti yang dianggap sebagai rumah persembunyian siluman itu ia buang.


    Benarkah bocah perempuan memelas dan pucat pasi itu ikut pergi bersama dibuangnya peti itu?


__ADS_2