PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 72: MENJUAL ASET MAYA


__ADS_3

    Setelah bingung meladeni para tetangganya yang terus menerus bertanya tentang Maya dan bayinya, Podin akhirnya memutuskan untuk menjual rumah serta mobil mewah milik Maya. Semua surat-surat sudah diketemukan di dalam laci lemari pakaian Maya, bersama dengan beberapa perhiasan milik Maya, yang memang tidak semuanya dipakai oleh Maya. Dan ternyata di dalam dompet kecil yang ada di lemari milik Maya itu, terdapat beberapa perhiasan, seperti kalung, gelang, cincin, anting-anting. Tentunya perhiasan-perhiasan itu adalah barang-barang yang dulu pernah diberikan oleh Podin kepada Maya, saat Podin membuka peti harta karun di hadapan Maya, yang waktu itu beberapa perhiasan yang ada di dalam peti harta karun itu langsung diambil semuanya oleh Maya. Tentunya perhiasan-perhiasan itu beberapa dipakai oleh Maya, dan sebagian lagi sudah dijual kepada teman-temannya. Dan sebagian lagi masih ada beberapa perhiasan yang tersimpan di dalam dompet perhiasan di lemari pakaian Maya bersama dengan surat-surat berharga lainnya.


    Akhirnya, Podin memutuskan untuk menjual mobil serta rumah yang selama ini ditempati oleh Maya. Kalau urusan jual beli, tentu di Jakarta menjual rumah ataupun menjual mobil bukanlah hal yang sulit. Tidak seperti halnya di pedesaan, di kampung tempat Podin pernah tinggal, untuk membeli mobil sangat susah, untuk menjual mobil juga susah, untuk membeli rumah susah, untuk menjual rumah juga susah. Berbeda dengan Jakarta, di mana kota besar, kota metropolitan yang penuh sesak dengan penduduk dengan berbagai macam kebutuhan, banyak broker ataupun calo, biro jasa yang selalu membantu menawarkan diri, siap untuk menjualkan barang-barang properties maupun kendaraan-kendaraan bermotor. Dan itu, proses jual belinya, tidak sampai dalam hitungan bulanan atau hari, bahkan hanya dalam hitungan jam atau menit saja, semuanya sudah akan ditawarkan ke berbagai peminatnya. Seperti iklan yang muncul dalam berbagai media sosial.


    Seperti halnya yang dilakukan oleh Podin, malam itu ia pergi ke tempat usahanya, di gedung karaoke. Podin yang tidak mau repot, ia langsung bilang kepada karyawannya tentang rencananya untuk menjual mobil dan rumah Maya.


    "Jon ..., sini sebentar ...." begitu kata Podin pada salah satu karyawannya di tempat karaoke.


    "Iya, Pak Podin .... Ada apa, Bapak ...?" tanya karyawannya yang dipanggil itu, yang sudah mendekat di hadapan Podin.


    "Saya mau jual mobilnya Ibu Maya. Kamu bisa bantu, kan?" kata Podin lagi pada karyawan itu.


    "Iya, Pak Podin .... Maksudnya mobil merah yang dipakai Ibu Maya itu?" tanya karyawan itu.


    "Betul .... Mobil itu silahkan kamu tawarkan, bisa langsung saja panggil siapa yang mau beli, atau mungkin juga taruh di halaman sini sambil dikasih tulisan di jual, gitu. Dan tolong ..., nanti kamu ambil mobil Ibu Maya di rumah, untuk dibawa ke tempat ini. Biar bisa kamu tawarkan. Siapa tahu nanti ada yang berminat membeli mobil mewah milik Maya itu." kata Podin pada karyawan yang dipanggilnya itu.


    "Kok dijual, Pak? Apa gak sayang? Harganya anjlok loh, Pak ...." kata karyawan itu. Walaupun ia hanya bertugas sebagai keamanan di tempat karaoke tersebut, namun pasti tahu masalah harga-harga mobil bekas di Jakarta. Maklum, di Jakarta kalau kurang gaul pasti ketinggalan informasi.


    "Tidak masalah .... Yang penting laku terjual." sahut Podin.


    "Ini loh, Pak .... Harga Honda Civic kalau baru memang hampir setengah milyar, tapi bekasnya hanya ditawarkan tiga ratus, Pak ...." kata karyawan itu sambil menunjukkan HP-nya yang ada aplikasinya jual beli mobil bekas.


    "Tidak apa-apa .... Kamu bantu saja tawarkan. Harga maksimalnya berapa, saya ngikut saja. Yang penting cepat laku. Nanti kalau sudah ada yang mau beli, kabari saya." kata Podin pada karyawannya.


    "Ya, Pak .... Siap. Memang Bu Maya minta ganti yang lebih bagus ya, Pak?" tanya karyawannya itu pada Podin, berusaha untuk menebak.


    "Biasa .... Ibu Maya itu orangnya minta ini minta itum semuanya harus segera dilayani. Kalau minta tidak bisa ditunda, tidak bisa dijanji. Pokoknya kalau minta hari ini, ya harus diberikan hari ini. Dan sekarang mobilnya minta dijual, katanya mau minta ganti yang lebih bagus." begitu kata Podin kepada karyawannya itu.


    "Lah, terus ..., kami untuk mengambil mobilnya bagaimana, Pak? Rencana akan saya foto dan upload, biar langsung ditawar orang." tanya karyawan itu.


    "Lah, kok pakai difoto segala?" Podin bingung.


    "Ya, iya lah, Pak .... Kan untuk menawarkan mobil bekas harus disertai gambarnya. Bapak tidak usah khawatir .... Nomor mobil nanti ditutup. Cek barang langsung ke sini." kata karyawan yang akan menawarkannya.


    "Oo, begitu .... Ya, sekarang Kamu sama saya, ikut saya ke rumah, kamu bawa mobil itu kemari. Mobilnya nanti ditaruh di parkiran saja. Bila perlu tempelin saja tulisan dijual." begitu ajak Podin pada karyawannya.

__ADS_1


    "Siap, Pak ...." jawab karyawan itu yang langsung ikut bersama Podin.


    "Tenang saja .... Nanti kamu akan saya kasih upah, saya akan memberikan persen buat kamu, saya kasih komisi. Nggak usah khawatir." kata Podin pada karyawannya itu, yang tentu saat diajak ke rumahnya untuk mengambil mobil Maya dan akan dibawa ke tempat hiburan, Podin menyampaikan kalau akan memberi komisi. Tentunya biar karyawan yang disuruhnya itu senang.


    Memang, rencananya oleh karyawan Podin itu, mobil sedan mewah milik Maya itu akan diparkirkan di di halaman depan tempat hiburan itu, agar orang yang datang ke tempat hiburan itu bisa melihat kalau ada mobil yang akan dijual berada di tempat itu. Maka bagi mereka yang senang dan tertarik, bisa jadi akan membelinya.


    "Nah ..., mobilnya di dalam garasi. Ini kontaknya, tolong kamu keluarkan dan bawa ke tempat kerja." kata Podin sambil memberikan kontak kepada karyawannya untuk mengeluarkan mobil Maya.


    "Baik, Pak ..., siap. Sekarang, Pak?" kata karyawan itu.


    "Ya, iyalah .... Masa besok? Ayo sana ...." kata Podin kepada karyawannya, yang kemudian turun dari mobil dan masuk ke garasi untuk membawa mobil Maya. Karyawan itu membuka pintu garasi dan langsung menghidupkan mobil yang sudah lama tidak pernah keluar rumah, dan membawanya ke tempat karaoke untuk dipasarkan di sana.


    "Oke ..., siap, Pak ...." jawab karyawan bagian keamanan itu yang tentunya senang karena akan mendapatkan komisi.


    "Ya .... Tidak hanya mobil itu yang dijual .... Tapi ini rumahnya juga akan saya jual. Tolong kamu juga bantu untuk pasarkan di media apa itu tadi ...." kata Podin kepada karyawannya yang siap mengeluarkan mobil bagus itu.


    "Rumah ini juga akan dijual, Pak?" tanya karyawannya.


    "Iya .... Mau pindah, cari yang lebih besar." begitu kata Podin kepada karyawannya yang diajak ke rumahnya itu, untuk mengambil mobil Maya.


    "Iya, Pak Podin .... Nanti akan kami bantu untuk menawarkan di properties marketing. Yang pendting, saya dapat komisi ya, Pak ...." kata karyawan itu sambil tersenyum.


    "Izin saya foto, Pak .... Nanti akan saya masukkan ke marketplace." kata karyawannya itu yang lantas memotret rumah Podin.


    "Ya, difoto yang bagus, biar harganya bisa tinggi." kata Podin.


    "Mau dijual berapa, Pak ...? Ini langsung saya masukkan ke medsos, Pak ...." kata karyawan itu.


    "Silahkan kamu tawarkan berapa, yang penting saya bisa dapat uang kembalian waktu beli. Dulu saya beli harganya lima ratus juta .... Kira-kira laku berapa sekarang?" kata Podin yang tentunya ingin rumah itu cepat laku.


    "Nanti saya lihat bandingan harga di medsos, Pak ...." kata karyawannya Podin itu, yang tentunya ia akan melihat-lihat harga rumah di kawasan tempatnya Podin.


    "Pokoknya ..., yang penting cepet laku, cepet jadi uang ...." sahut Podin yang tentunya memang ingin segera meninggalkan Jakarta.


    "Ya, Pak ...." kata karyawan itu yang tentu juga tersenyum karena akan mendapatkan keuntungan dan komisi. Lumayan bisa buat tambah penghasilan. Jarang punya bos seperti Podin, yang kalau sudah bosan dengan barang-barang miliknya, langsung dijual begitu saja, bahkan dengan harga yang murah. Rugi tidak masalah.

__ADS_1


    Akhirnya, mobil sedan mewah milik Maya, sedan Civic merah yang biasa dipakai bergaya oleh Maya, kini sudah terparkir di halaman gedung karaoke. Kali ini tidak untuk mejeng atau bergaya, tetapi di kaca mobil itu sudah ada tulisan "dijual". Ya, si Jon, karyawan bagian keamanan yang memberi tulisan itu.


    Tentu hal itu membuat kaget para karyawan di tempat hiburan tersebut. Tentu para karyawan pada bertanya, kenapa? Ada apa?


    "Kok mobil Bu Maya dijual, Jon?" tanya salah seorang pemandu karaoke kepada Joni, si karyawan keamanan yang diserahi menjual mobil itu.


    "Mau ganti yang baru ..., yang lebih keren ...." jawab laki-laki yang dipanggil Jon itu, karyawan bagian keamanan yang dipasrahi untuk menjualkan mobil Maya.


    "Wao .... Pasti nanti gantinya lebih keren ...." sahut karyawan-karyawan yang lain.


    "Memang Bu Maya kan sudah melahirkan, terus sekarang gimana kabarnya?" tanya salah seorang perempuan yang juga pegawai di tempat itu.


    "Tanya sendiri sama Pak Podin itu .... Gua nggak tauk ...." jawab si Jon, yang masih mengelap mobil sedan warna merah itu.


    "Loh ..., kan barusan dari rumahnya?" kata perempuan-perempuan yang juga mengamati mobil cantik itu.


    "Lupa nggak nanya ...." sahut si Jon, pegawai keamanan itu.


    "Pak Podin ...! Bu Maya bagaimana kabarnya ...?!" teriak salah seorang pegawai perempuan yang bertanya dari jauh kepada Podin.


    "Bu Maya pulang kampung ...! Mudik ...!" sahut Podin juga dari kejauhan.


    "Bayinya bagaimana ...?!" tanya karyawannya lagi.


    "Diajak ke kampung .... Minta dirawat orang tuanya. Sama keluarganya di kampung." jawab Podin lagi, yang tentu beralasan.


    "Kami mau tengok Ibu Maya, Pak Podin ...." kata beberapa perempuan yang masih berada dekat dengan mobil Maya yang sudah ada tulisan akan dijual itu.


    "Besok saja ..., kalau sudah ke Jakarta lagi." jawab Podin.


    "Kok mobilnya Bu Maya di jual, Pak ...?" tanya yang lainnya.


    "Iya .... Untuk sementara waktu Bu Maya tinggal di kampung .... Daripada mobilnya gak kepakai, saya jual dulu .... Besok kalau sudah sehat, akan beli yang baru. Rumahnya juga akan saya jual .... Daripada rumahnya kosong, mobilnya juga tidak dipakai, maka mending dijual saja dahulu. Besok cari yang baru yang lebih baik dan nyaman." jawab Podin beralasan.


    "Kok dijual semua ...?! Apa nggak sayang, Pak .... Harga jualnya anjlok, Pak ...." kata karyawannya yang tentu juga merasa sayang kalau mobil mewah dan rumah yang bagus itu dijual.

__ADS_1


    "Tidak usah dipikirin .... Besok kalau butuh, beli lagi yang lebih bagus .... Besok kalau pengen beli yang baru, yang lebih bagus, yang lebih modern, tinggal beli saja .... Soal uang ..., gampang ...." begitu kata Podin dengan nada agak sok kaya, sok banyak uang, yang tentunya sebenarnya dia tetap merahasiakan bagaimana keadaan Maya.


    Podin memang orangnya sombong. Sok tahu dan sok merasa kaya. Walau memang sebenarnya uangnya banyak. Apalagi ia baru saja mendapat harta kekayaan dua peti lagi. Namun tentunya, sebenarnya Podin juga takut kalau sampai rahasianya ketahuan orang lain.


__ADS_2