
Setelah Podin pergi meninggalkan komplek pemakaman yang sudah membuatnya sok itu, yang sudah membuat mobilnya masuk ke dalam ladang, dan tentu ia kebingungan. Bahkan di tempat itu sudah membuat dirinya menjadi tontonan warga satu kampung, karena Podin yang tertidur telanjang di kuburan itu. Pastinya Podin malu karena sudah disaksikan orang banyak, yang tentu sudah melihat ketololan Podin menjadi seperti orang gila, karena bergelimpangan di atas nisan tanpa mengenakan pakaian. Akhirnya Podin yang tentu sudah satu minggu lamanya tidak makan tidak minum, dan sudah diperas tenaganya oleh hantu perempuan cantik yang mengajak dirinya kawin dengan syarat tidak boleh keluarkamar. Tentunya Podin sangat lapar, Podin haus, dan yang pasti Podin sangat lelah. Seminggu lamanya ia harus meladeni nafsu setan lelembut perempuan cantik yang haus laki-laki itu.
Dan akhirnya, setelah Podin sampai di pinggir kota, di daerah yang agak ramai, di daerah yang lumayan banyak lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang melintas di situ, Podin membelokkan mobilnya untuk singgah ke rumah makan. Tentu rumah makan betulan. Rumah makan besar yang cukup ramai dengan halaman parkir yang sangat luas. Sekalian untuk makan siang, untuk mengisi perutnya yang melilit karena lapar, untuk menambah energi agar tubuhnya kembali menjadi bertenaga.
"Mau pesan apa, Pak?" seorang pelayan perempuan muda yang mungkin baru saja lulus SMA menawarkan menu rumah makan itu. Perempuan muda itu pun memberikan buklet yang berisi daftar menu yang disajikan oleh rumah makan itu.
"Sebentar, Mbak .... Saya pesan nasi putih sama ikan bakar pakai sambal matah, Minumnya jus jeruk." kata Podin sambil menunjuk gambar menu yang ada di dalam buklet itu.
"Ada tambahan lagi, Pak? Mungkin sayur?" tanya perempuan pelayan rumah makan yang sudah mencatat pesanan Podin tersebut.
"Oh, ya .... Tambah sayur cah kangkung sama karedok .... Sudah, itu saja, Mbak." kata Podin kepada perempuan pelayan di rumah makan itu. Yang tentunya langsung mencatat pesanan Podin.
"Terima kasih, Pak ..... Tunggu sebentar, nanti menu akan segera kami sajikan, Pak." kata perempuan muda itu yang selanjutnya ia pergi meninggalkan Podin.
Lantas pelayan yang tentu langsung memberikan daftar menu pesanan Podin kepada bagian penyedia pesanan makanan di bagian dapur yang menyiapkan masakannya. Perempuan pelayan itu juga menyampaikan rangkapan catatannya kepada bagian kasir.
Sebentar kemudian anak laki-laki yang juga masih remaja, datang ke meja tempat Podin berada. Ia menaruh jus jeruk yang dipesan oleh Podin. Satu gelas yang bagus bentuknya, dan cukup tinggi. Maklum, gelas di rimah makan bagus, tentu juga mahal harganya, bukan seperti di warung kucingan pinggir jalan.
"Ini jus jeruknya, Bapak .... Silakan diminum." kata remaja laki-laki pelayan rumah makan itu, yang sudah menyajikan minuman jus jeruk di meja Podin.
Tentu Podin langsung meminumnya. Hanya sebentar saja ditenggak, tanpa pakai sedotan, minuman satu gelas besar itu sudah habis diminum oleh Podin. Ya, pastinya karena saking kehausan. Kantas Podin kembali memanggil anak laki-laki yang tadi membawakan minuman dalam gelasnya itu.
"Mas ..., sini ini .... Minumnya sudah habis .... Tolong saya minta tambah satu gelas lagi, ya." kata Podin yang mengembalikan gelasnya yang sudah kosong itu kepada remaja yang baru saja menghampiri mejanya.
"Siap, Pak .... Silakan ditunggu sebentar." begitu kata laki-laki muda itu kepada Podin, yang langsung pergi meninggalkan Podin. Dan tentunya akan segera mengambilkan lagi minuman yang dipesan oleh Podin sebagai tambahan. Dan tentu remaja laki-laki itu juga menyampaikan kepada kasir untuk menambahkan dalam catatan notanya.
Hanya sebentar saja, kemudian laki-laki yang tadi mengantarkan jus jeruk itu sudah kembali ke meja Podin, dan tentu juga sama seperti tadi, ia membawa jus jeruk satu gelas besar yang dipesan oleh Podin sebagai tambahan minumannya. Namun tentunya Podin tidak seperti tadi, yang tidak langsung mengambil gelas itu dan meminumnya. Dahaga sudah berlalu. Tetapi kini, Podin hanya memandanginya saja gelas jus jeruk yang sudah ada di mejanya. Tentunya segelas jeruk yang tadi sudah langsung dihabiskan, Podin yang haus seperti saat datang, kini sudah terobati dengan segelas jeruk yang tadi sudah diminum secara langsung dan habis total.
Sesaat kemudian, seorang laki-laki yang masih remaja juga, datang membawa baki nampan yang di atas baki itu terdapat menu pesanan Podin. Ada nasi putih, ikan bakar serta sayur kangkung dan karedok. Laki-laki itu langsung menurunkan pesanan Podin dan menyajikannya di atas meja di tempat Podin berada.
"ini pesanannya, Pak .... Silakan dinikmati, semoga Bapak terkesan dengan menu kami, dan akan kembali lagi di lain waktu." kata remaja laki-laki itu, yang mempersilahkan kepada Podin untuk makan hidangan yang sudah disajikan di depannya.
Tidak butuh waktu lama, Podin langsung mencuci tangannya, kemudian mengambil sendok dan garpu. Dan selanjutnya, ia langsung makan dengan lahapnya. Yah, ternyata nasi yang ada di depannya itu, yang sudah dimakannya itu, menunya terlalu sedikit untuk Podin. Maka dalam waktu sekejap, hanya beberapa kali telan, nasi itu sudah habis. Langsung tangan Podin diangkat ke atas, dan memanggil pelayan yang ada di situ, yang tentunya juga ada beberapa pelayan yang sedang meladeni para tamunya.
"Mbak ...!" begitu panggil Podin pada salah seorang pelayan yang ada di depan kasir, yang masih memandangi para pelanggan-pelanggannya yang sedang makan.
Lantas perempuan itu datang menghampiri Podin, dan katanya, "Iya, Pak .... Ada yang bisa kami bantu?"
"Aah ..., ini nasinya terlalu sedikit, Mbak .... Minta tambah satu piring lagi." begitu kata Podin kepada pelayan itu.
__ADS_1
"Siap ..., Pak .... Tunggu sebentar." kata pelayan itu yang selanjutnya langsung meninggalkan Podin, yenyi akan mengambil tambahan nasi pesanan pembelinya.
Dan hanya dalam waktu sekejap, pelayan itu pun sudah datang kembali dan membawakan sepiring nasi putih untuk Podin yang porsinya masih kurang. Ya, nasi putih yang dicetak dari sebuah mangkok, sehingga membentuk setengah bola kecil yang ada di atas piring tersebut.
Podin lantas kembali menikmati hidangannya. Nasi dengan karedok dan sayur kangkung, dengan lauknya ikan bakar. Ya, pasti sambalnya pun langsung habis. Setelah itu, Podin langsung bersendawa, gelegekan. Pertanda makannya sangat nikmat.
Memang, Podin awalnya sangat kelaparan. Perutnya sangat kosong, sehingga membutuhkan banyak makanan yang harus dimasukkan ke dalam perut itu. Dan tentu makanan sebanyak itu langsung habis dilahap oleh Podin semuanya.
Setelah selesai makan, Podin pun langsung menuju ke kasir, untuk membayar semua pesanan yang sudah dimakannya, yang sudah habis, sudah ludes, sudah masuk semuanya ke dalam perutnya. Tentu semua itu karena Podin saking laparnya. Dan setelah membayar di kasir, Podin keluar dari rumah makan itu. Lega rasanya, karena tubuhnya sudah kembali berenergi, tubuhnya sudah kembali kuat, tubuhnya sudah kembali mempunyai tenaga, dan tentu sudah lebih segar dan lebih enak rasanya.
Podin menggeliatkan tubuhnya. Pertanda ia ingin tubuhnya itu kembali bugar. Di tempat parkir, seorang tukang parkir datang menghampiri, menuju ke mobil Podin, yang tentunya sebentar lagi akan keluar.
"Kurang enak badan, Pak ...?" tanya tukang parkir itu pada Podin.
"Iya .... Capek semua ...." jawab Podin.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Podin sempat bertanya kepada tukang parkir itu.
"Di sini yang ada tempat pijat, di mana, Mang?" tanya Podin kepada tukang parkir itu.
"Wah, banyak ..., Pak .... Bapak mau pijat sama hiburan, apa mau yang ada joget-jogetnya. Ada juga yang ada diskonya, yang pakai karaoke, atau mau yang kayak gitu-gitu ...?" kata si tukang parkir itu yang balik menanyai kepada Podin.
"Wah, pas .... Bapak tidak keliru kalau datang ke sini, Pak. Itu yempatnya, Pak ..., di depan ada panti pijat jari lentik. Bapak bisa pijat di situ, ada plus-plusnya, Pak." kata tukang parkir itu, yang sambil memelankan volume pada kata-kata terakhirnya. Tentu karena agar tidak didengar oleh orang lain.
"Maksudnya ..., apa ya?" tanya Podin yang mungkin bingung tentang arti kata yang disampaikan oleh tukang parkir itu.
"Bapak ini belum tahu, atau pura-pura tidak tahu? Itu loh, Pak ..., yang pakai plus-plus .... Biasa ..., masuk kamar, Pak ...." kata tukang parkir itu kembali pelan, yang tentu agar tidak didengar oleh orang lain, dan hanya didengar oleh Podin saja.
"Ooh ..., seperti itu ...." sahut Podin yang sudah paham maksud dari tukang parkir itu.
"Betul, Pak .... Molek-molek, Pak ...." tambah si tukang parkir itu.
"Ya ..., okelah kalau begitu .... Saya akan ke situ. Tolong ya, dikasih aba-aba, saya akan membelokkan mobil ke tempat panti pijat itu. Ya ..., pijat sekalian refleksi .... Tapi refleksi yang lain .... Hahaha ...." begitu kata Podin sambil memberikan uang selembar sepuluh ribuan kepada tukang parkir itu.
"Wah .... Terima kasih, Pak ...." temtu tukang parkir itu senang menerima ongkos parkir yang cukup besar. Pastinya ia langsung menyetop kendaraan dari arah lain, langsung mencarikan jalan untuk Podin, sesuai dengan motonya, maju tak gentar membela yang bayar.
Dan akhirnya, Podin pun langsung menjalankan mobilnya dan membelokkan mobil itu ke tempat panti pijat jari lentik plus-plus. Selanjutnya setelah sampai di depan rumah pijat itu, Podin memarkirkan mobilnya. Lantas turun dan masuk ke rumah pijat yang pintu kacanya tertutup rapat. Namun saat Podin akan masuk, belum sempat mendorong pintu itu, ternyata dari dalam sudah ada wanita cantik yang membukakan pintu dan mempersilahkan Podin masuk ke dalam ruang itu. Berarti kedatangan Podin sudah diperhatikan oleh perempuan itu dari dalam.
"Selamat datang di Panti Pijat Asoy ...." ya, gadis cantik itu menyambut kedatangan Podin dan mempersilakan masuk dengan penuh perhatian. Ini servis pelanggan yang luar biasa.
__ADS_1
Lantas Podin masuk. Di situ ada semacam tempat resepsionis. Podin disambut oleh petugas resepsionis yang ada di meja depan itu. Ya, semacam front office. Lantas gadis cantik yang ada di situ juga menanyai Podin.
"Bapak mau menghendaki pijat massage, pijat capek, pijat refleksi, atau pijat yang lain?" tanya perempuan cantik yang ada di front office itu.
"Saya mau pijat yang paling enak, yang paling lengkap ...." kata Podin menjawab pertanyaan dari gadis yang ada di depan itu.
"Wah ..., ini tempat yang pas buat Bapak .... Baik, Bapak .... Silahkan masuk .... Bapak nanti di kamar sana .... Mari saya antar. Bapak akan dilayani oleh juru pijat kami yang pasti tidak akan mengecewakan buat Bapak." kata wanita cantik itu yang tentu sudah paham dengan apa yang dikehendaki oleh pelanggannya.
Podin pun diantar masuk ke dalam kamar yang agak ke belakang. Dan ternyata, di dalam kamar itu, Podin sudah disambut oleh seorang gadis yang lebih cantik dan lebih seksi. Tentunya gadis inilah yang akan memberikan pelayanan pijat segala macam kepada dirinya. Ya, sebagai layanan pijat komplit.
Benar apa yang dikatakan oleh tukang parkir di rumah makan tadi. Ternyata memang pelayanan pijat di panti pijat ini benar-benar mengesankan. Podin benar-benar menikmati pijatan-pijatan dari gadis molek yang menyervis tubuhnya itu. Ini benar-benar luar biasa. Maya yang menurut Podin sudah ahli dalam melayani dirinya saja, masih kalah jauh bila dibandingkan dengan juru pijat jari lentik ini. Terus terang, ini bukan sekadar pijat. Tetapi pelayanan.
"Teteh sudah berkeluarga?" tiba-tiba Podin menanyai perempuan yang sedang memgurut seluruh otot Podin.
"Belum, Om ...." jawab perempuan itu sambil tersenyum menggoda.
"Kenapa belum?" tanya Podin lagi.
"Mungkin belum ada jodoh, Om ...." jawab perempuan itu yang pasti malu-malu kucing.
"Ah .... Tidak mungkin .... Gadis secantik Teteh kok sampai nggak dapet jodoh .... Mustahil ...." kata Podin mulai lega, ada lowongan tentunya.
"Nyatanya begitu, Om .... Banyak yang mencoba, tetapi ya, hanya sekedar mencoba saja .... Bahkan ada yang sampai mencoba empat lima kali, nyatanya tidak mau menikah dengan saya, Om ...." kata perempuan yang memijit Podin tersebut sambil tersenyum, tentu senyuman menggoda.
"Iya .... Memang Om nggak ingin nyoba ...?" goda perempuan itu.
"Apa boleh ...?" tanya Podin penasaran, masak mau menikah kok pakai dicoba dulu.
"Boleh, Om .... Tapi ada tarifnya .... Om, mau?" kata perempuan itu pada Podin, yang tentunya menyebut tarif.
"Saya mau .... Ya, saya mau mencoba .... Sekarang .... Caranya bagaimana?" tanya Podin yang memang belum paham bahasa kiasan dari juru pijat jari lentik itu. Makanya Podin masih bingung.
"Kalau mau mencoba jangan di sini, Om .... Kita ke hotel .... Om sewa kamar hotel. Kita coba di sana .... Kalau di sini nanti bau balsem semua, Om ...." kata perempuan juru pijat itu.
Podin baru sadar, baru paham, dan baru tahu. Ternyata mencoba juru pijat jari lentik itu bukan untuk latihan hidup berumah tangga. Melainkan mencoba salah satu bagian dalam fungsi perkawinan. Dan tentu mendengar penawaran seperti itu, Podin langsung bersemangat. Dasar maniak.
"Ayo .... Kita berangkat sekarang." kata Podin yang langsung mengajak berangkat.
"Pijatnya kita lanjutkan di kamar hotel ya, Om .... Nanti Om pasti akan ketagihan pijat terus sama saya ...." kata perempuan si tukang pijat jari lentik itu.
__ADS_1