
Di rumah Podin kini banyak berdatangan perempuan-perempuan dari para tetangganya, warga kampung tempat tinggalnya. Alasannya bermacam-macam. Ada yang mengirim masakan untuk, katanya buat sarapan atau makan siang. Ada yang memberi makanan kecil, seperti pisang goreng, bakwan, serta camilan lainnya. Ada yang beralasan ingin membantu membersihkan rumah Podin. Bahkan ada juga yang hanya beralasan ingin main di rumah Podin.
Rata-rata mereka yang pada datang ke rumah Podin adalah gadis yang belum menikah, dan juga para janda muda yang belum punya anak maupun yang sudah beranak, sambil menggendong anaknya datang ke situ. Semua itu dilakukan oleh para perempuan tersebut dalam rangka mencari hati, mencari perhatian, agar Podin bisa tertarik kepadanya. Jika itu nanti bisa terjadi, maka Podin akan jatuh cinta, akan meminang perempuan yang sekiranya cocok untuk menjadi istrinya.
Biasanya gadis-gadis yang disuruh mengantarkan makanan oleh orang tuanya itu, tentunya juga orang tua mereka berkeinginan agar anaknya bisa menjadi istri Podin. Setidaknya nanti kalau anaknya bisa menjadi istri Podin, tentunya mereka akan senang anaknya bisa mendapatkan jodoh orang yang sudah mapan, orang yang kaya raya, orang yang sudah punya rumah gedung dan mobil. Ya, tentu tidak semuanya seperti itu, ada juga yang menjaga jarak, jaga nama, jaga image. Bahkan ada juga yang katanya anaknya disuruh untuk mengantarkan makanan ke tempat Podin, oleh orang tuanya si gadis itu justru marah-marah dan tidak mau mengantarkannya. Ada yang bilang malu, ada yang mengatakan tidak mau nikah dengan orang yang sudah tua.
Ya, banyak orang tentu banyak pula watak dan sifatnya. Dan semuanya tidak pasti mau untuk datang ke tempat Podin. Tetapi rata-rata mereka pada berdatangan ke rumah Podin dengan harapan agar mereka bisa menjadi pilihan untuk dipersunting Podin.
Siang itu, sebuah taksi biru masuk ke halaman rumah Podin. Tentu hal itu membuat kaget orang-orang kampung yang berada di rumah Podin. Dan pastinya, perempuan-perempuan yang menyaksikan taksi biru yang masuk ke halaman rumah Podin itu pada tanda tanya, siapa gerangan yang naik taksi mewah tersebut. Bagi perempuan-perempuan yang kala itu berada di rumah Podin, merasa heran dan tidak umum ada sebuah taksi sedan bagus yang masuk ke kampungnya. Kampung yang jauh dari keramaian kota itu, kok ada sebuah taksi yang bagus yang datang ke situ. Pasti orang-orang langsung pada melongok menyaksikan taksi itu, dan ingin tahu siapa yang datang dengan mengendarai taksi tersebut.
Setelah taksi itu berhenti di halaman rumah Podin yang sangat luas itu, dan pintu taksi itu terbuka, seorang perempuan muda yang sangat cantik, dengan kulit putih dan mata sipit, serta rambut lurus dipotong sebahu, serta mengenakan blezer sebatas lutut, sehingga nampak betisnya yang putih mulus, turun dari dalam taksi itu. Layaknya pegawai kantoran. Ya, itu adalah Cik Melan, bendahara di perusahaan Podin. Tentunya, kecantikan Melan itu menjadikan iri dari para gadis maupun semua perempuan yang ada di rumah Podin. Ya, jika dibandingkan dengan orang-orang kampung yang saat itu pada berada di rumah Podin, meskipun mereka sudah pada berdandan, tetpi sangat jauh dari nilai kecantikan yang dicapai Cik Melan.
Siang itu Cik Melan datang ke rumah Podin yang baru, tentunya akan menengok bosnya. Dia akan melihat kondisi dan keadaan rumah Podin, dan tentunya juga ingin tahu bagaimana keadaan yang bosnya. Selain itu, Melan pasti akan menanyakan apakah bosnya betah, apakah Podin kerasan, atau sebaliknya, bosnya tidak betah dan tidak kerasan. Memang Cik Melan bertanggung jawab penuh pada pembangunan rumah yang sekarang ditempati oleh Podin tersebut. Dan tentunya rumah itu pun masih dalam pantauan Cik Melan semuanya, karena dalam pertanggungan dengan pemborong. Tentunya Cik Melan yang mengurusi semua perjanjian dengan pemborong bangunan itu.
Namun tentu Cik Melan sedikit kaget dan bingung saat tiba di rumah Podin. Karena di rumah Podin banyak perempuan yang rata-rata adalah perempuan muda, bahkan perempuan-perempuan itu, walaupun orang kampung biasa, tapi sangat kelihatan kalau mereka pada berdandan, kalau mereka bersolek. Yang pasti mereka ingin terlihat cantik. Ya, itu yang dirasa oleh Cik Melan dan tentu dibingungi, mengapa di rumah bosnya banyak perempuan berdatangan.
Namun bagi perempuan-perempuan yang sudah ada di rumah Podin tersebut, justru memandang sebaliknya. Mereka justru tidak menunjukkan sikap senang kepada Cik Melan yang barus saja datang, tetapi justru memandang sinis, tidak senang dengan kedatangan Cik Melan tersebut.
Setelah membayar taksi, Cik Melan lantas berjalan menuju ke pintu utama rumah Podin. Tentu banyak banyak pasang mata yang memandang dengan tidak nyaman pada Cik Melan yang melangkahkan kaki akan masuk ke dalam rumah Podin tersebut. Dan tentunya, Podin yang tahu kalau ada Cik Melan datang, ia juga kaget, karena memang Cik Melan tidak memberitahu lebih dulu rencana kedatangannya di rumah Podin.
"Selamat siang, Pak Podin." kata Cik Melan mengucap salam pada bosnya.
"Hai ..., Cik Melan .... Kok datang kemari tidak bilang-bilang?" kata Podin yang langsung berdiri dari kursi tamunya, dan menyalami Cik Melan yang baru saja masuk ke ruang tamunya.
"Bagaimana saya bisa kabar-kabar, Pak? Orang Pak Podin tidak punya telepon, tidak punya HP. Bagaimana saya bisa menghubunginya?" kata Cik Melan yang tentu menanggapi kata-kata Podin.
__ADS_1
"Iya ..., ya. Saya juga yang salah." sahut Podin yang duduk lagi membersamai gadis-gadis desa itu.
Cik Melan tidak duduk di kursi tamu itu, di mana di kursi itu banyak perempuan-perempuan yang pada duduk, dan tentunya masih pada bercerita ataupun berbincang-bincang kepada Podin.
Entah apa yang dibicarakan, Cik Melan tidak menggubris. Ia bablas saja masuk ke ruang dakam, dan tentunya Cik Melan langsung masuk ke ruang makan, di mana ia membawa makanan dari Jakarta dan langsung ditaruh di meja makannya. Tetapi saat Cik Melan masuk ke ruang makan itu, ternyata di meja makan itu sudah penuh panci rantang yang berisi makanan. Bermacam-macam jenis makanan. Ada nasi, ada sayur, ada lauk-pauk. Semuanya ada di meja makan itu. Dalam pemikiran Cik Melan, makanan sebanyak ini siapa yang akan memakannya? Siapa yang akan menghabiskannya? Siapa yang membawanya? Dari mana lagi kalau tidak dari perempuan-perempuan kampung itu. Ya, pasti mereka pada mengirimi makanan untuk Podin. Dan tentunya mereka berusaha mencari perhatian kepada Podin. Ya, pasti karena Podin laki-laki duda yang hidup seorang diri. Pantas kalau para perempuan itu berlomba-lomba memberi makanan kepada Podin untuk mencari perhatian. Begitu pikirin yang ada dalam benak Cik Melan.
Pastinya dugaan Cik Melan itu tidak akan keliru. Namun Cik Melan juga tidak menggubris semuanya. Dan dia yakin, walaupun banyak perempuan yang pada berdatangan ke rumahnya, pasti Podin bisa memilih wanita yang baik. Karena Cik Melan tahu sendiri bahwa Podin ini sudah sering keliru, sudah sering salah, bahkan sudah disakiti oleh perempuan. Podin pernah mengalami, istrinya yang katanya pergi bersama laki-laki lain. Itu sudah sangat menyakitinya. Bahkan Cik Melan juga ragu-ragu dengan keberadaan Maya, istri bosnya yang sekarang menghilang. Maya yang selalu dirahasiakan oleh Podin. Paling-paling Maya diantarkan pulang ke kampung dan dicerai oleh Podin. Tentunya karena bosnya itu jengkel kepada Maya yang selalu menghabiskan uang perusahaan. Tidak hanya itu, tapi Maya juga selalu berfoya-foya, minta uang terus-terusan, bahkan memeras Podin sebanyak mungkin. Termasuk mengambil uang perusahaan hingga hampir saja bangkrut. Cik Melan pun berpikir kalau bosnya itu pasti jengkel dengan istrinya yang selalu menghambur-hamburkan uang. Makanya sampai hari ini para karyawan yang berkeinginan menjenguk Maya, mantan istri bosnya itu, tidak ada yang diperbolehkan. Bahkan tidak diberitahukan dimana kampungnya, di mana alamatnya. Dan oleh Podin dikatakan kalau Maya beserta bayinya sudah meninggal dunia.
Bertolak dari pengalaman itu, pastinya Podin akan bijak untuk memilih istri. Dan Podin pasti akan memilih perempuan yang baik, perempuan yang pintar, perempuan yang tidak matre.
Lantas, Cik Melan membuka kulkas yang ada di dekat dengan meja makan itu. Ternyata kulkas itu juga penuh dengan makanan. Siapa lagi yang mengisi kulkas itu kalau bukan kiriman dari perempuan-perempuan kampung yang pada berdatangan ke rumah Podin tersebut. Tidak mungkin Podin belanja sendiri. Karena Podin yang ia diketahui adalah laki-laki yang tidak bisa belanja, laki-laki yang tidak tahu bagaimana cara memilih barang, tidak tahu bagaimana cara membeli, dan bahkan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam hati Cik Melan, ia bertanya, mungkinkah Podin tertarik dengan salah satu perempuan dari kampungnya itu? Podin tergiut dengan gadis-gadis yang pada berdatangan ke rumahnya itu? Kalau hanya mau cari wanita cantik, di Jakarta banyak. Di tempat usahanya ada segudang. Para pemandu karaoke itu cantik semua. Tapi kenapa Podin membiarkan perempuan-perempuan kampung itu pada berdatangan ke rumahnya?
"Pak Podin ...." Cik Melan memanggil bosnya, yang tentu meminta agar bosnya masuk ke ruang dalam menemui dirinya. Dan pastinya Cik Melan jengkel dengan bosnya yang malah lebih memperhatikan orang-orang kampung, tanpa menghiraukan kedatangannya.
"Iya ..., Cik ...." sahut Podin yang langsung berdiri dari tempat duduknya, lantas menghampiri Cik Melan.
Wajar Cik Melan terpaksa memanggil Podin, karena sejak kedatangan dirinya, Podin masih sibuk dengan perempuan-perempuan yang pada duduk di ruang tamunya itu, tanpa menghiraukan kedatangan dirinya.
"Ada yang ingin saya bicarakan, Pak Podin." kata Cik Melan kepada bosnya, tentu agar Podin segera masuk.
Akhirnya Podin langsung menuju tempat di mana Cik Melan berada. Podin berjalan menuju ruang makan dan langsung duduk di kursi yang ada di situ, mengikuti Cik Melan dan duduk berhadapan dengan bendaharanya itu.
"Ada apa, Cik?" tanya Podin yang tentu ingin tahu, apa yang ingin disampaikan oleh Cik Melan.
__ADS_1
"Begini, Pak Podin .... Saya ingin tanya terkait dengan rumah ini, apakah ada masalah? Karena ini kaitannya dengan hubungan kita sama pengembang. Jika masih ada masalah, maka saya harus menyampaikan ke pengembang itu untuk perbaikan." kata Cik Melan mengawali pembicaraannya, tentu untuk mengalihkan Podin yang mengurusi wanita-wanita kampung itu.
"Saya kira baik semua, Cik .... Dan ini bangunannya bagus, tempatnya juga enak, nyaman. Dan saya senang tinggal di sini. Paling hanya perawatan tanaman-tanaman agar lebih bagus lagi. Dan saya akan merawat tanaman itu sendiri setiap harinya." kata Podin pada Cik Melan, yang tentunya Podin memang tidak pernah mengamati bangunannya. Ya, tentu karena sibuk meladeni perempuan-perempuan yang berdatangan ke rumahnya.
"Tapi, Pak Podin ..., bagaimana mungkin Bapak bisa merawat tanaman, kalau setiap hari di rumah Bapak ada perempuan sebanyak itu? Apa itu istri Bapak semua?" tanya Cik Melan dengan nada ketus, yang pasti mengejek Podin, karena tentunya Cik Melan tidak suka dengan perlakuan Podin terhadap perempuan-perempuan kampung yang pada berdatangan ke rumahnya, yang seakan-akan ditampung semuanya di rumahnya Podin.
"Maksudnya, mereka itu ...?! Cik Melan tidak setuju dengan kehadiran mereka?" tanya Podin kepada Cik Melan.
"Bukannya saya tidak setuju, Pak .... Tetapi Pak Podin itu laki-laki tanpa istri, di rumah sendirian. Masa dikerubungi perempuan sebanyak itu ...?! Saya sebagai perempuan saja risih melihatnya, Pak." kata Cik Melan kepada Podin.
"Tapi saya tidak bisa menolak mereka .... Mereka datang sendiri-sendiri, dan mereka malah membawa berbagai macam makanan ini .... Saya tidak bisa menolak, khawatir mereka kecewa kalau saya tolak." jawab Podin yang tentunya juga bingung untuk menolaknya, ketika banyak perempuan berdatangan ke rumahnya itu.
"Masalahnya, Pak .... Itu semua karena Pak Podin mau menerima semua orang begitu saja .... Artinya Pak Podin sudah memberi harapan kepada perempuan-perempuan itu. Kalau saya sampaikan apa yang mereka harapkan dari Pak Podin, mereka itu semua minta perhatian dari Pak Podin .... Mereka itu semua ingin menjadi istrinya Pak Podin .... Kalau Pal Podin tidak segera menghentikan mereka, cara-cara mereka seperti itu nanti justru akan menyebabkan mereka lebih kecewa, manakala mereka sudah terlanjur banyak memberi makanan kepada Pak Podin, pasti mereka menganggap bahwa Pak Podin sudah berutang budi kepadanya, yang tentu meminta balas kasihan ...." Cik Melan memberi pengertian kepada bosnua.
"Lah, terus ...?! Enaknya saya bagaimana? Saya sudah terlanjur menerima pemberian makanan dari mereka .... Terus terang mereka pada berdatangan sendiri. Saya tidak memintanya." kata Podin yang kini menjadi bingung.
"Katakan kepada mereka, kalau saya adalah calon istri Pak Podin .... Biar mereka tahu bahwa Pak Podin sudah punya calon istri, dan biar mereka tidak berharap lagi pada Pak Podin. Karena mereka itu tahunya Pak Podin adalah duda .... Mereka berharap untuk menjadi istri Pak Podin." kata Cik Melan, yang tentu membuat syok jantung Podin.
"Seperti itukah, Cik Melan ...? Benarkah saya harus mengatakan kalau Cik Melan ini adalah calon istri saya?" tanya Podin ingin meyakinkan pendengarannya.
"Iya, Pak .... Betul .... Bilang pada mereka, saya ini adalah calon istri Pak Podin ...." kata Cik Melan menegaskan.
Dengan mulut yang gemetar, akhirnya Podin mengatakan hal itu. Podin menyampaikan kalau Cik Melan adalah calon istrinya. Bahkan Podin memperkenalkan Cik Melan itu kepada perempuan-perempuan yang ada di situ. Tidak hanya memperkenalkan saja, tetapi bahkan Podin sambil memeluk pundak Cik Melan.
Bagi para gadis, dan juga janda muda, yang pada berdatangan di rumah Podin itu, hanya bisa diam. Tentu mereka semua kalah bersaing dengan wanita cantik yang baru saja datang naik taksi bagus itu tadi. Sati persatu mereka mengambil langkah, mundur sebelum sempat menyampaikan niatnya. Tentunya mereka pada kecewa.
__ADS_1