PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 119: JADI MANGSA


__ADS_3

    Berkali-kali tubuh Maya dihempas oleh gelombang air laut. Pakaiannya yang bau amis, karena terkena darah dan nanah, kini menjadi basah oleh air laut. Maya yang jatuh terjerambab ke pasir pantai, sudah tidak bisa apa-apa lagi. Maya sudah tidak sanggup untuk mengangkat tubuhnya. Maya sudah tidak sanggup lagi untuk bangkit dari jatuhnya. Maya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. Dan tentunya, Maya juga sudah tidak sanggup untuk berjalan pergi dari pantai itu. Ia hanya bisa pasrah dalam keadaan tubuh dan pakaian yang basah, dalam posisi yang tidak mengenakkan dirinya. Maya yang tergeletak di tepi pantai yang menggolek di atas pasir yang selalu dihempas oleh gelombang air laut, dan kini, ia tidak sanggup untuk berbuat apa-apa lagi, kecuali hanya pasrah kepada takdirnya saja.


    Sementara itu, dari tengah Pulau, tempat di mana tadi Maya dan para tahanan yang lain bekerja menata batu-batu makadam yang terbuat dari kepala-kepala tanpa tubuh itu, untuk untuk dibuat jalan, tentunya sudah ada beberapa orang penjaga yang berlari mengejar Maya. Demikian juga para algojo yang siap untuk memukul Maya. Mereka pada berlari menuju ke pantai, di mana tubuh Maya sudah tergeletak lemas tanpa bisa apa-apa. Ya, ibarat kata, Maya sedang tiduran sambil dimandikan di dalam air laut. Pastinya, para algojo itu akan membawa kembali tahanannya yang berusaha kabur, dan pasti akan menyiksa Maya.


    Namun saat melihat Maya yang sudah tidak bisa apa-apa, yang terkapar di pantai tanpa daya, bahkan seakan-akan Maya itu pingsan, maka para algojo itu pun tidak jadi memukul Maya. Mereka tidak jadi mencambuk Maya. mereka tidak jadi untuk menendang Maya. Dan bahkan, mereka hanya saling pandang menyaksikan tubuh Maya yang menggelimpang di pantai, dan berkali-kali dihempas oleh air ombak yang menyapu pantai. Akhirnya mereka hanya bisa memandang tubuh yang tergolek itu. Bahkan entah apa sebabnya, para algojo dan penjaga Pulau Berhala ini tidak ada yang mendekat dan tidak ada yang mau mengangkat tubuh Maya. Mereka tidak berani masuk ke pantai. Mereka tidak berani untuk turun ke pantai. Mereka takut dengan ombak laut yang berkali-kali menyapu pantai. Mereka tidak ingin kaki dan tubuhnya terbasahi oleh air laut yang datang menghempas ke pantai. Mereka takut dengan lautan.


    Ya, memang para penjaga dan para algojo yang sudah datang ke pantai itu, yang pada awalnya berniat akan menyiksa Maya, tetapi mereka tidak jadi menyiksa. Mereka tidak jadi untuk melakukan apa-apa terhadap tahanannya itu. Dan mereka bahkan mulai berbalik, menghindari tidak lagi melihat tubuh Maya yang tergolek di tepi lautan itu. Mereka memberikan tubuh Maya, dan selanjutnya justru kembali pulang ke tengah pulau. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa sebenarnya yang menyebabkan para ponggawa kerajaan ini, para penjaga orang-orang tahanan yang bekerja dan disiksa, para algojo yang selalu siap memukul dan mencambuk para tahanan itu, mereka yang memang ditugaskan untuk menyiksa para tahanan yang melanggar aturan-aturan, tetapi kali ini, mereka benar-benar tidak mau untuk turun ke pantai.


    Rupa-rupanya, memang ada aturan bahwa Pulau Berhala hanya tempat yang ada di daratannya saja. Kekuasaan dari penguasa Pulau Berhala, berupa daratan yang berbatas sampai di pantai saja, tidak meliputi pada bagian lautannya hingga pantai yang terkena air laut. Wilayah kekuasaan dari penguasa istana Pulau Berhala hanyalah pada bagian daratannya saja. Sedangkan untuk wilayah yang terkena air adalah milik Ratu penguasa Samudra Selatan. Mereka, para penguasa Pulau Berhala dan Samudera Selatan itu, adalah para siluman makhluk gaib yang memang dahulu kala menjadi penguasa di daerah itu. Mereka adalah jelmaan dari para jin yang berkuasa di laut selatan dan sekitarnya. Dan tentunya, mereka mempunyai pengikut yang sangat banyak jumlahnya, yaitu orang-orang yang sudah menerima pesugihan dari para penguasa itu.

__ADS_1


    Penguasa Samudera Selatan itu sudah melakukan kesepakatan dengan penguasa Pulau Berhala. Siapapun yang akan melintas lautan itu, yang tubuhnya terkena air samudera, maka ia akan menjadi milik sepenuhnya dari penguasa Samudra Selatan. Sedangkan yang masuk ke pulau itu, adalah milik penguasa Pulau Berhala. Namun diantara mereka tentunya saling membantu, saling melengkapi dan saling memenuhi semua yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing dari para penguasa tersebut. Terutama para tamu yang akan datang ke kedua penguasa itu, yang sebenarnya adalah melamar menjadi ponggawa. Tetapi sebelumnya, mereka akan diberikan semua permintaannya. Dan saat ajal menjemput, tubuh-tubuh orang yang mencari pesugihan dengan cara tidak benar itu, akan diangkat dari kuburannya dan dijadikan pengikut setia sang penguasa.


    Oleh sebab itulah, ketika Maya tubuhnya terjatuh ke pantai dan masuk sebagian ke dalam air, dan berkali-kali terkena hempasan gelombang itu, yang tentu membasahi tubuh Maya, dan berkali-kali pula Maya yang sudah dimandikan dengan air laut itu, maka para penjaga Pulau Berhala tidak berani menyentuh tubuh Maya. Tidak berani menyeret tubuh Maya. Karena Maya yang sudah basah oleh air laut, berarti sudah menjadi milik penguasa Samudera Selatan. Tentunya, penjaga dan para algojo itu semua tidak ada yang berani ke pantai. Takut terkena terkena marah oleh kedua penguasa. Takut akan melanggar peraturan yang dibuat oleh penguasa Pulau Berhala dan penguasa Samudra Selatan.


    Beruntung bagi Maya, karena rupanya para penjaga Pulau Berhala, dan juga para algojo yang sudah mendatangi Maya, tidak jadi menyiksanya. Tidak jadi mengangkatnya. Tidak jadi menyeretnya. Tidak jadi membawanya kembali ke Pulau Berhala. Bahkan para penjaga dan algojo-algojo itu pun pergi meninggalkan Maya, tanpa ada yang berani menyentuhnya. Ya, tentu Maya menjadi lega, karena tidak bakal disiksa lagi. Maya merasa senang tidak bakal menderita lagi, dan tidak bakal menjadi tahanan di Pulau Berhala lagi. Dan Maya yang dalam keadaan setengah sadar itu, atau mungkin setengah pingsan tersebut, dalam benaknya ia sangat bersyukur. Maya senang, karena sebentar lagi dia akan selamat. Dia mampu melarikan diri, menghindari siksaan orang-orang yang kejam, para penjaga dan algojo di istana Pulau Berhala.


    Sementara itu, di tengah Pulau Berhala, perempuan yang pernah berbincang dengan Maya, perempuan yang pernah merencanakan akan melarikan diri bersama Maya, ia memandangi terus apa yang dilakukan oleh Maya. Ia terus mengikuti bagaimana cara Maya untuk melarikan diri. Bahkan perempuan itu juga mengamati bagaimana nantinya Maya kalau bisa berhasil keluar dari tempat penyiksaan orang-orang di Pulau Berhala itu. Dan perempuan itu sempat merasa khawatir, sempat merasa takut, manakala Maya yang terjatuh di pantai itu, Maya yang terjerembab ke dalam air pantai itu, sudah didatangi oleh para algojo, sudah dikerubungi oleh para penjaga tahanan. Perempuan itu khawatir. Perempuan itu was-was. Perempuan itu merasa takut kalau sampai Maya yang sudah terjatuh di pantai itu akan diseret dan disiksa kembali. Pasti rasanya akan lebih sakit, dan pasti Maya akan lebih menderita daripada saat ini. Ya, bilur dan borok serta memar yang ada di tubuhnya, pasti akan semakin banyak dan semakin menyakitkan Maya.


    Namun, perempuan itu kaget,  saat para algojo dan para penjaga yang sudah mengerubut Maya yang terjatuh di pantai itu, ternyata mereka tidak jadi menangkap Maya. Mereka tidak jadi menyeret Maya. Mereka tidak jadi menyiksa Maya. Bahkan mereka justru langsung memutar badannya dan membalik kembali ke tengah Pulau Berhala. Dan pastinya, para penjaga dan algojo itu kembali mengawasi orang-orang yang harus terus bekerja.

__ADS_1


    Tentunya, hal itu menjadi bahan pengalaman dan pembelajaran bagi perempuan yang sempat merencanakan melarikan diri bersama dengan Maya tersebut. Ya, perempuan itu mestinya nanti di suatu saat, ia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Maya. Dia akan melarikan diri dengan cara yang sama yang dilakukan oleh Maya.


    Namun bagi Maya, ini bukanlah akhir dari penderitaan di Pulau Berhala. Bagi Maya, ini bukanlah awal keselamatan ketika dirinya bisa melarikan diri.


    Setelah beberapa waktu lamanya Maya menunggu perahu yang akan datang ke tempat itu, menunggu tukang perahu yang biasa mengantar dan menjemput orang-orang untuk berkunjung ke Pulau Berhala tersebut, ternyata perahu itu tidak juga kunjung datang. Tukang perahu itu tidak juga tiba dan muncul di pantai tempat Maya berada. Maya menjadi khawatir, jangan-jangan memang tidak ada tukang perahu yang akan datang ke tempat itu. Lantas, kapan datangnya tukang perahu ke situ?


    Disaat Maya mulai khawatir tentang kedatangan tukang perahu Itu, tiba-tiba saja gelombang besar datang dari tengah lautan. Gelombang besar itu langsung menerpa tubuh Maya. Lantas, gelombang itu menyeret tubuh Maya dan membawanya ke tengah lautan. Maya terbawa oleh gelombang itu ke tengah laut. Dan tiba-tiba saja, dari dalam air laut, muncul tangan-tangan yang banyak jumlahnya. Tangan-tangan yang keluar dari dalam air. Tangan-tangan yang langsung menyeret tubuh Maya dan membawa ke tengah lautan. Selanjutnya, Maya langsung diseret masuk ke dalam air laut. Maya dibawa masuk ke dalam lautan yang sangat dalam. Terus dan terus masik ke dalam lautan, yang lama-lama menjadi gelap, karena tidak tertembus lagi oleh cahaya matahari.


    Maya kini menjadi mangsa dari penguasa Samudra Selatan.

__ADS_1


__ADS_2