
Pagi itu, Podin baru pertama kali masuk ke gereja. Pagi itu, Podin baru pertama kali belajar beribadah. Pagi itu, Podin baru pertama kali belajar berdoa. Pagi itu, Podin baru pertama kali mengenal Tuhan. Pagi itu, Podin baru pertama kali terbuka pintu hatinya untuk menerima ajaran-ajaran keagamaan. Pagi itu, Podin baru pertama kali mengenal iman.
Ya, Podin yang selama ini belum pernah mengenal Tuhan, Podin yang selama ini tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat ibadah, Podin yang selama ini belum pernah sama sekali melakukan beribadah, tetapi di pagi itu, Podin mengikuti saja ajakan istrinya yang baru beberapa hari menikah, untuk bisa menerima kenyataan hidup, bahwa ketika ia mendapatkan istri Cik Melan, ternyata baru kali ini Podin mendapat nasehat tentang keagamaan. Baru kali ini Podin menerima ajakan masuk ke rumah ibadah. Baru pertama kali ini Podin, mau diajak untuk masuk ke rumah Tuhan dan beribadah kepada Tuhan.
"Pah ..., kita bersalaman dengan para jemaat ...." kata Cik Melan saat sudah sampai di gereja, dan tentunya di di tempat itu sudah banyak jemaat yang datang, meski acara kebaktian belum dimulai.
Podin yang belum tahu tentang tata cara peribadatan, mengikuti saja apa yang dikatakan oleh istrinya. Dan tentunya masih agak ragu-ragu. Wajar, ia baru pertama kali menginjakkan kakinya di gereja.
"Ini pengantin baru, ya .... Pantas baunya harum kayak melati ...."
"Ternyata ada pengantin baru .... Selamat ya, Cik Melan ...."
"Ini suami Cik Melan, ya ...? Waduh ..., beruntung Cik Melan ...."
Begitu kata beberapa orang yang sudah sampai duluan di gereja, dan saling bersalaman dengan jemaat yang lain. Dan tentu saat Cik Melan datang bersama Podin, yang masuk ke area halaman gereja itu, banyak orang yang pada memberi salam kepada Cik Melan bersama Podin serta mengucapkan selamat atas pernikahannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ibu-ibu .... Terima kasih, Om, Tante, Bapak-bapak ...." jawab Cik Melan yang tentu sambil tersenyum, dan juga mengenalkan suaminya kepada jemaat gereja di tempat ia beribadah.
"Eeh ..., Cik Melan .... Kenapa menikah tidak undang-undang?" beberapa orang menanyakan kepada Cik Melan, yang tentunya kecewa tidak diundang pada acara pernikahannya. Tentunya banyak jemaat yang juga merasa tidak enak, karena merasa tidak diundang di acara pernikahannya Cik Melan tersebut.
"Maaf .... Saya tidak mengadakan pesta besar-besaran. Itu kemarin hanya acara syukuran saja, sehabis pemberkatan. Ya, memang kami tidak mengundang ..., hanya untuk teman-teman di kantor. Kebetulan itu memang kemarin di tempat usaha suami saya itu, teman-teman yang bikin acara. Ya, hanya sekedar syukuran .... Tidak ada pesta, kok ...." jawab Cik Melan yang tentu juga merasa tidak enak kepada teman-teman jemaat gereja yang memang tidak diundang semuanya, dan hanya ada beberapa orang yang datang setelah mengikuti acara pemberkatan gereja.
Menyaksikan keakraban para jemaat gereja itu, tentu Podin yang baru pertama kali datang ke gereja itu, tidak mungkin tidak ia memandangi semua orang, melihat orang yang ramah-ramah dan baik, serta murah senyum itu, Podin tidak sungkan ikut tersenyum dan kelihatan senang. Karena ternyata, semua anggota jemaaht di tempat istrinya mengajak beribadah, orang-orang yang ada di situ, semuanya sangat baik. Orang-orangnya ramah. Orang-orangnya tidak egois, tidak sombong, dan tentunya tidak seperti yang diduga oleh Podin sebelumnya, kalau sekiranya orang-orang yang ada di gereja itu, yang berdatangan dan bertemu Podin bersama istrinya, akan cuek dan acuh terhadap dirinya.
Ternyata, setelah Podin menyaksikan semua jemaat yang ada di tempat itu, yang pada menyambut baik pada Podin, bahkan juga mengajak ngobrol, mengajak cerita, dan tentunya mereka ingin mengenal Podin lebih jauh. Podin langsung terlihat akrab. Dan pasti, dengan keadaan seperti itu, Podin yang diterima secara terbuka oleh para anggota jemaat di tempat sembahyangan istrinya, maka Podin pun tidak ragu. Podin tidak berkecil hati. Dan tentunya, Podin merasa senang bisa diterima oleh para jemaahtdi gereja itu.
Ya, ini adalah kesempatan untuk bisa mengenal yang namanya beribadah dan menyembah kepada Tuhan sang pencipta manusia. Seperti yang dikatakan oleh istrinya, bahwa kita ini adalah ciptaan Tuhan, sudah seharusnya berkewajiban untuk menyembah-Nya.
Walau berada di samping istrinya, tetapi bagi Podin yang belum pernah tahu sama sekali tentang peribadatan dalam beragama, maka ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk belajar berdoa. Podin memperhatikan semua yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di dalam gereja itu. Poden duduk dengan tenang, walau matanya melirik ke semua arah. Dan pastinya ia ingin tahu, bagaimana dan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di dalam ruangan gereja tersebut. Dan pastinya, Podin hanya diam karena takut kalau salah, takut kalau keliru. Ya, diam adalah salah satu cara untuk bisa menjaga diri.
Selanjutnya, awal peribadatan pun sudah dimulai. Ada seorang perempuan, masih agak muda, tetapi juga tidak terlalu muda. Setidaknya dia sudah punya anak yang masih kecil-kecil. Perempuan itu maju di depan mimbar. Rupanya ia akan memimpin peribadatan. Podin memperhatikan semuanya, dan tentunya dia ingin tahu bagaimana caranya beribadah menurut kepercayaan yang dianut oleh istrinya itu, yang tentu baru pertama kali ini diikuti oleh Podin.
__ADS_1
Sebentar kemudian, ternyata perempuan itu memimpin menyanyi puji-pujian. Ya, ternyata perempuan itu mengajak para jemaat yang ada di dalam ruang gereja itu untuk bernyanyi. Nyanyian puji-pujian, nyanyian yang didendangkan untuk membesarkan nama Tuhan, nyanyian yang didendangkan untuk memuji Tuhan. Cara mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhannya. Tentunya Podin menyaksikan itu semua. Memang seperti yang dikatakan oleh istrinya, kalau beribadat menyembah Tuhan itu sangat gampang.
Perempuan yang pemimpin puji-pujian itu mengajak semua jemaatnya bergembira riang dan bersenang memuji Tuhan. Tidak hanya menyanyi saja, tetapi juga ada anggota gereja yang memainkan musik. Beberapa remaja berada di tempat alat musik, di depan ke tempat beribadah, mengalunkan musik mengiringi puji-pujian yang dipimpin oleh perempuan tadi. Dan bahkan tidak hanya remaja-remaja yang memainkan musik saja, tetapi juga ada perempuan-perempuan masih remaja yang membawa alat-alat kesenian semacam tamborin atau rebana kecil, dengan mengenakan pakaian yang seragam seperti layaknya pakaian penari, memainkan alat-alat musik yang dipegangnya itu, seakan seperti menari dengan tamborin yang diberi pita warna-warni. Gerakannya bagus, menarik dan menyenangkan. Yah, semacam hiburan dalam perayaan pentas seni. Itu semuanya untuk mengiringi pujian.
Dan tidak hanya itu, Podin juga menyaksikan orang-orang yang hadir di dalam gereja itu, orang-orang yang ada di situ, orang-orang yang beribadah di situ, para jamaah, semuanya ikut menyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan. Ya, semuanya tampak riang dan gembira. Demikian juga Cik Melan yang juga ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan.
"Ayo, Pah .... Kita tepuk tangan .... Kita nyanyi .... Kita memuji Tuhan. Kalau Papah belum tahu lagunya, tidak apa-apa .... Dengarkan saja sambil tepuk tangan. Kita mengikuti irama dari para pemusik, dan dari para remaja yang mengiringi nyanyian ini." begitu kata Cik Melan yang mengajak suaminya untuk ikut berdiri dan bertepuk tangan sambil bernyanyi.
Podin pun mengikutinya. Podin yang merasa belum pernah tahu bagaimana caranya berdoa, kini dia tahu bahwa kebaktian di dalam gereja itu ternyata memang mudahm gampang untuk melakukan kegiatan sembahyang. Hanya bernyanyi sambil bertepuk tangan, bernyanyi yang diiringi dengan irama musik, dan bernyanyi bersenang-senang memuji dan membesarkan nama Tuhan. Podin merasa senang. Ini adalah kegiatan sembahyang yang gampang. Aktivitas yang mudah dilakukan. Podin pun tersenyum saat melihat istrinya yang riang gembira menatap dirinya dengan senang dan juga senyum yang menawan.
Setelah acara puji-pujian selesai, acara khotbah dalam aktivitas peribadatan itu dimulai. Seorang pendeta maju ke altar di atas mimbar. Pendeta itu akan memberikan khotbah dalam peribadatan Minggu pagi itu. Tentunya Podin memperhatikan semuanya itu. Podin memperhatikan orang yang berada di atas podium itu.
Pendeta itu pun mulai berbicara dalam khotbahnya, "Hanya oleh iman percaya kepada Tuhan saja, maka kita akan diselamatkan oleh Bapak yang di surga. Hanya karena iman yang hanya sebesar biji sawi itu pun, kita akan mendapatkan keselamatan dari Bapak yang di surga. Hanya oleh kasih karunia Kristus, maka kita akan diselamatkan. Karena kasih karunia Kristus yang sudah mengorbankan dirinya di atas kayu salib, dan rela mati untuk bangkit, Dia yang akan membangkitkan kita semua, Dia yang akan menyelamatkan kita semua. Dan kekuasaan mutlak dari Tuhan Yesus Kristus, akan membangkitkan setiap orang uang percaya."
Setelah peribadatan selesai, tentunya para jemaat kembali bersalam-salaman. Mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Dan pastinya, Cik Melan bersama Podin juga ikut bersalam-salaman dengan para jemaat yang lain.
__ADS_1
"Bagaimana, Pah ...? Tidak sulit, kan?" tanya Cik Melan pada suaminya.
Podin tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Pastinya, senyum itu sudah memberikan jawaban, bahwa Podin merasa senang dan bisa mengikuti peribadatan itu.