
Pagi itu, saat berada di pasar pagi, Rina jadi membeli pakaian kecil yang dimungkinkan pas dipakai oleh pengemis cilik yang selalu datang di halaman rumahnya. Rina sengaja mendatangi penjual pakaian di pasar pagi itu, dan tentunya ia langsung memilih pakaian kecil untuk anak seusia gadis kecil pengemis yang sering datang ke rumahnya itu. Ya, meskipun Rina belum pernah punya anak, tetapi ia bisa mengira-ira besarnya anak yang sudah beberapa kali ia beri nasi bungkus itu. Rina bisa memperkirakan besar dan tingginya anak itu. Sehingga ia bisa memperkirakan besarnya pakaian yang akan ia beli, dan tentunya Rina juga memilih warna yang pantas untuk anak yang akan dibelikan baju itu. Ya, Rina membelikan satu pakaian untuk anak yang selalu datang ke rumahnya. Dalam hati Rina, pasti anak itu akan senang dengan pakaian yang nanti akan diberikan oleh Rina. Dan besok pagi-pagi, kalau anak itu datang kembali di depan rumah Rina, tidak hanya nasi bungkus yang akan diberikan kepada anak itu, tetapi Rina juga akan memberikan pakaian yang baru. Rina sudah membayangkan, pasti anak itu akan senang.
"Bagimana, Rin ...? Sudah selesai belanjanya?" tanya Podin yang ada di dalam mobil untuk menunggu istrinya berbelanja.
"Iya, Mas .... Sebentar lagi .... Ini tinggal beberapa sayuran yang harus saya beli. Dan ini tadi, saya membelikan baju untuk anak yang selalu datang ke depan rumah kita itu, Mas. Besok pagi akan saya berikan kepadanya." kata Rina kepada suaminya, yang tentu juga tersenyum saat melihat istrinya sudah membelikan baju untuk anak yang selalu diceritakan kepadanya itu.
Sebentar kemudian, dan setelah selesai berbelanja, Rina pun pulang bersama dengan suaminya, tentu dengan membawa banyak belanjaan dan juga barang-barang untuk keperluan warung makannya. Mobil Podin penuh dengan belanjaan.
Hari sudah menjelang pagi, saat mereka sampai di rumahnya. Podin langsung mengangkati barang-barang belanjaan dari dalam mobilnya ke dapur, tempat istrinya meracik dan olah-olah. Rina tidak tidur. Ia langsung menyiapkan berbagai bahan masakannya. Tidak bingung. Karena Rina memang sudah terbiasa untuk menyiapkan bahan-bahan masakan kebutuhan warung makan. Hampir dua tahun ia bersama Bu Hendro bekerja seperti itu. Itulah resiko dari seorang pedagang warung makan. Pagi dini hari sebelum orang pada bangun, ia harus ke pasar untuk berbelanja. Mereka harus menyiapkan bahan-bahan untuk masak, mereka harus menyiapkan kebutuhan-kebutuhan dagangan yang akan ia jual di warung makannya. Hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Dari malam hingga petang datang lagi.
Di dapur, Rina pun langsung meracik masakan. Tidak hanya menyiapkan bahan-bahan, tetapi juga memotong, membersihkan, meracik dan mengolah. Podin yang dulu pemalas, kini setelah melihat istrinya, Rina, yang berjualan, membuka usaha warung makan, yang tentu sibuk dengan berbagai persiapan untuk masak-memasak, persiapan untuk membuat hidangan makanan, persiapan untuk menyajikan menu-menu di warung. Mau tidak mau, Podin kini harus ikut membantu istrinya. Podin juga ikut bersibuk ria, ikut menata, ikut olah-olah, ikut memantu masak di dapur, membantu istrinya yang sibuk menyiapkan masakan dagangannya.
"Mas Podin ..., tolong ambilkan bumbu racik itu ..., ada di situ." kata Rina yang meminta Podin untuk mengambilkan sesuatu.
"Yang ini ...?" sahut Podin sambil menunjukkan barang tang diambilnya.
"Betul ..., Mas .... Ini bumbu racik untuk menyiapkan gorengan. Dengan bumbu racik ini, memudahkan kita memasak. Tidak usah menguleg atau menumbuk bumbu lagi, Mas .... Jadi kerja kita bisa lebih cepat, karena hanya mengaduk bumbu ini di dalam adonan, bersama dengan barang-barang yang akan kita goreng ayau kita masak, sudah siap. Nanti kita tinggal memasukkan ke dalam penggorengan. Jadi lebih praktis, lebih cepat dan lebih nikmat, Mas." kata Rina menjelaskan kepada suaminya.
"Wah ..., sekarang itu memang zaman yang serba dipermudah ya, Rin .... Segala sesuatu kok sudah ada bumbunya." kata Podin yang sambil mengamati bumbu-bumbu racik yang dibeli oleh istrinya.
"Iya, Mas Podin .... Persoalannya, sekarang kan zaman modern. Butuh yang praktis." sahut Rina.
"Semuanya serba canggih. Kalau zaman dulu, hal-hal yang kayak begini ini pasti sangat lambat. Dalam menyiapkan masakan saja pasti lama ya, Rin .... Karena harus ngulek bumbu, harus di tumbuk halus, dan lain sebagainya. Sekarang semua bumbu sudah tersedia, tinggal memasukkan begitu saja, tinggal diaduk-aduk, tinggal di oles-oles, langsung digoreng, langsung dimasak, dan rasanya juga enak ya, Rin ...." kata podin yang tentu dia mulai senang dengan usaha masak-memasak yang dilakukan oleh istrinya.
"Iyalah, Mas .... Emang setiap zaman itu kan ada perkembangannya. Jadi kalau kita sekarang seperti ini, itu sudah merupakan kemajuan yang sangat pesat, Mas Podin." sahut Rina.
Mereka pun kembali sibuk dengan menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak oleh Rina. Hingga akhirnya, menjelang pagi pun Rina sudah selesai menyiapkan semuanya, sudah merampungkan masakan-masakan.
"Sudah beres semuanya, Mas .... Masakan sudah tinggal menunggu matang. Tinggal besok pagi, begitu buka warung sudah siap. Begitu orang yang mau beli pada datang, sudah langsung bisa kita ladeni." begitu kata Rina kepada suaminya.
"Iya, Rina .... Tapi mumpung belum mulai buka, saya agak ngantuk, saya mau memejamkan mata sebentar ya, Rin .... Biar tidak begitu ngantuk. Besok pagi kalau pembeli sudah pada datang, saya sudah siap membantu kamu." kata Podin minta izin istrinya untuk memejamkan mata.
"Iya, Mas Podin .... Silakan, tapi nanti kalau para pembeli ramai, saya dibantu, ya ...." begitu kata Rina yang tentu mengijinkan suaminya untuk memejamkan mata lebih dulu.
__ADS_1
Maklum, tadi pagi mulai petang ia sudah mengajak suaminya untuk berbelanja di pasar pagi. Pastinya Podin juga lelah dan mengantuk. kalau Rina sih tadi saat suaminya menyetir mobil, ia bisa memejamkan mata di dalam mobil. Tetapi Podin yang menyetir, tentunya matanya harus selalu waspada dan tidak mungkin untuk memejamkan mata. Maka ketika ia membantu istrinya, dan sudah beres masakan yang akan dijual oleh istrinya itu, ia langsung minta izin untuk memejamkan mata sebentar. Akhirnya, Podin merebahkan badan dan tidur di kamarnya.
Matahari pagi baru saja terbit. Dan tentu, Rina sudah kecapean. Sejak sebelum subuh ia sudah menyiapkan masakan. Rina sudah sibuk di dapur. Rina sudah bekerja untuk menyiapkan menu-menu yang akan ia jual. Kini ia sudah bisa tersenyum, karena semua apa yang dimasak sudah selesai, apa yang disiapkan sudah beres, dan apa yang akan dijual sudah tersaji di rak warungnya serta di meja-meja hidangan. Tentu kini Rina tinggal menunggu para pembeli, para pelanggan yang akan datang menikmati masakan Rina.
Dan di saat Rina mulai menata dagangannya itu, mulai mengisi rak dagangan dengan panci-panci masakan, dan saat ia menoleh ke halaman depan rumah, kembali Rina menyaksikan perempuan cilik yang ada dan berdiri di pinggir jalan depan halamannya. Rina tidak pangling. Rina tahu persis siapa gadis cilik yang berdiri di jalan persis di depan rumahnya itu. Dia adalah pengemis cilik dengan pakaian lusuh yang setiap hari sudah datang ke rumah Rina, dan Rina pun sudah beberapa kali memberikan nasi bungkus untuk anak itu.
Kini, Rina juga akan memberikan nasi untuk anak itu. Rina langsung mengambil nasi dibungkus kertas minyak, kemudian diberi sayuran komplit, seperti halnya nasi rames, serta diberi lauk ikan goreng. Lantas dibungkus rapi oleh Rina, kemudian seperti biasa, bungkusan makanan itu pun dimasukkan dalam kantong plastik kresek. Namun Rina juga teringat bahwa tadi pagi ia membelikan pakaian untuk anak itu di pasar. Maka ia pun mencari bungkusan plastik kresek yang berisi pakaian yang ia beli dari pasar.
"Nah ..., ini dia ...." gumam Rina sambil mengangkat bungkusan pakaian itu.
Kemudian Rina membawa dua bungkusan itu, dan menghampiri anak yang sudah berdiri di depan rumahnya itu.
"Neng .... Ini makanan buat kamu .... Dimakan ya, biar kenyang, biar ndak laper, biar sehat." begitu kata Rina yang memberikan sebungkus nasi beserta lauk pauknya kepada anak perempuan kecil yang ada di depan rumahnya itu.
Seperti biasa, anak itu pun diam. Hanya tangannya yang menjulur menerima pemberian dari Rina. Namun seakan anak itu tahu, di satu tangan Rina yang lain masih ada plastik kresek yang di cangking oleh Rina. Yang pastinya juga akan diberikan kepada anak itu. Maka anak itu memandangi plastik kresek yang masih ada di tangan Rina.
"Oh ..., iya .... Sampai lupa, Neng .... Ini, ada baju buat Neng ya. Pakaian Neng yang ini sudah lusuh, sudah nggak pantas dipakai. Ini saya belikan baju. Dipakai ya, Neng .... Yah, untuk ganti, biar Neng pakaiannya Tidak kotor, tidak terlihat lusuh seperti itu. Biar Neng terlihat cantik, biar kelihatan manis ...." begitu kata Rina yang memberikan bungkusan berisi pakaian itu kepada anak kecil yang datang ke halaman rumahnya.
Mungkin saja, anak itu tidak tahu arti senyum. Mungkin juga tidak bisa tersenyum. Bahkan tidak hanya tidak bisa berkata-kata, tidak hanya ia tidak sanggup bicara, tetapi anak ini juga mahal senyum. Anak tidak mau tersenyum, walaupun sudah berkali-kali menerima pemberian dari Rina. Tetapi belum juga Rina melihat anak itu tersenyum ataupun berterima kasih, ataupun sekadar menganggukkan kepala.
"Ya, sudah ..., sana dibawa pulang. Saya akan menyiapkan dagangan saya. Saya akan ke dapur untuk bersiap-siap berjualan. Dan nanti sebentar lagi kalau para pembeli, para pelanggan itu pada datang kemari, warungnya sudah siap. Doakan warung saya laris, ya ...." begitu kata Rina kepada anak perempuan kecil itu, yang sudah mencangking dua kantong plastik kresek.
Rina langsung membalikkan tubuh, dan kembali melangkah menuju ke dapurnya, untuk menata dagangannya. Tentunya Rina berharap, kalau anak itu nanti mendoakan dirinya agar warungnya laris, agar warungnya banyak pembeli, agar warungnya nanti dagangannya cepat habis.
Hari pun mulai terang. Matahari sudah naik dengan menyorotkan sinarnya, menerangi jagad raya. Satu orang datang ke warung Rina. Pasti akan membeli makan.
"Pok, sarapan, Mpok." kata laki-laki setengah baya yang baru saja masuk ke warungnya Rina.
"Oh, iya .... Pakai apa ya, Mang?" tanya Rina.
"Nasi rames saja, minumnya teh hangat tawar ...." kata si pembeli yang memesan nasi rames dan teh tawar kepada Rina.
"Siap ...." begitu saut Rina yang langsung meladeni pembeli pertamanya. Dan tentunya, langsung memberikan pesanan itu kepada pembelinya.
__ADS_1
Laki-laki yang sudah mengenakan pakaian seragam pabrik, pembeli pertama Rina itu pun langsung menikmati sarapan pagi. Tidak lupa, laki-laki itu mengambil mendoan goreng yang sudah tersaji di meja. Makan yang hemat. Biasa, karyawan pabrik harus bisa menghemat pengeluaran, agar uang bayarannya bisa ngumpul. Makan murah, yang penting kenyang.
Setelah membeli pertama tadi selesai, kemudian membayar dan pulang, pembeli kedua pun datang. Tidak hanya satu orang, tetapi pembeli kedua ini bersamaan beberapa orang. Ada tiga orang. Tentu mereka akan menikmati sarapan pagi sambil ngobrol bersama. Biasanya makan bersama teman-teman, itu rasanya lebih nikmat.
Pembeli berikutnya, dan seterusnya dan selanjutnya. Pagi itu, warung Rina sudah semakin ramai.
"Mas Podin ...! Mas Podin ...! Mas Podin ...!" teriak Rina memanggil suaminya, tentu meminta agar dibantu karena pembeli sudah ramai.
Podin terbangun dari tidurnya. Kemudian setelah cuci muka, ia keluar menuju dapur. Dan tentunya Podin akan membantu istrinya. Karena pagi itu, di warungnya sudah penuh sesak oleh para pembeli yang akan sarapan pagi.
"Mas Podin, tolong dibantu untuk membuatkan minuman .... Pesanan minuman pembeli lumayan banyak .... Itu, Mas ..., tolong di bagikan ke para pembeli, dibantu meladeni para pembeli yang ramai." begitu kata Rina kepada suaminya.
Hari itu, warung Rina benar-benar kelarisan. Pembeli datang silih berganti tiada henti. Bahkan meja kursi penuh, pembeli sampai antri. Ya, hari itu, Rina benar-benar disibukkan dengan para pembeli. Begitu juga Podin yang membantu istrinya. Ia pun kelelahan untuk memungut piring dan gelas-gelas kotor serta meladeni membuatkan minuman, baik itu teh hangat, kopi, maupun es teh. Ya, Podin ikut sibuk.
Hingga akhirnya, semua masakan pun habis ludes sebelum siang hari. Dan siang itu, mereka, Podin dan Rina, sudah mencapai kelelahan. Karena saking ramainya pembeli yang berdatangan, saking ramainya pelanggan yang memesan makanan. Tentunya, Rina serta Podin seperti di pacu, seperti diburu, seperti dikejar-kejar oleh para pembeli maupun oleh orang-orang yang meminta ini dan itu, meminta untuk disediakan pesanan-pesanannya. Dan tentunya, Rina dan Podin harus bersiap untuk meladeninya. Ya, itulah resiko dari seorang pedagang warung makan. Ia harus siap meladeni para pelanggannya.
"Capek betul ya, Rin ...." begitu kata Podin pada istrinya, yang tentu memang dia sangat kelelahan karena dari pagi hingga siang melayani para pembeli.
"Iya, Mas .... Lumayan capek. Oh, iya, Mas ..., ini untuk makan sore nanti, perlu kita siapkan apa tidak, Mas?" tanya Rina kepada suaminya.
"Lah, enaknya bagaimana?" Podin balik tanya pada istrinya.
"Saya kasihan kalau nanti para pembeli, para pelanggan sore hari berdatangan, kalau dia nanti akan beli makan di sini dan tidak ada makanan, pasti mereka akan kecewa .... Mereka akan kelaparan .... Kasihan, Mas." sahut Rina, karena memang saat bekerja di tempat Bu Hendro, itu masaknya pagi dan siang.
"Ya kalau kamu memang masih sanggup, silakan saja .... Tetapi, saya mau istirahat sebentar. Saya betul-betul kecapean, Rina .... Dan saya betul-betul tidak kuat. Saya harus istirahat dulu." begitu kata Podin pada istrinya, yang setelah membantu meladeni para pembeli, dan tentunya dia sudah membantu mengangkut serta mencuci piring dan gelas kotor. Tentu tetap saja lumayan terasa capeknya. Baru kali ini Podin kerja berat membantu di warung makan milik istrinya sendiri.
"Iya, Mas .... Silakan istirahat dulu. Saya akan selonjor di warung, sambil racik-racik lagi dan memasak. Siapa tahu nanti para tetangga, orang-orang yang pulang dari pabrik, pada datang kemari pengen makan atau beli lauk. Kasihan kalau tidak ada masakan. Saya akan siapkan seadanya saja. Paling tidak, kalau mereka sampai warung tidak kecewa." kata Rina pada suaminya.
Podin pun langsung masuk ke kamar. Pasti ia sudah mengantuk dan akan segera tidur. Sedangkan Rina, langsung rajang-rajang, meracik masakan yang akan disiapkan untuk menu sore. Sebenarnya, bukannya Rina mata duitan. Bukannya Rina ingin mendapatkan untung yang banyak. Mumpung laris terus jualan tanpa henti. Tetapi rasa hatinya sebagai seorang pedagang, ia tidak ingin mengecewakan para pelanggannya. Seperti halnya yang diajarkan oleh Bu Hendro, ia tidak ingin mengecewakan para pelanggan yang sudah berniat datang ke warungnya. Setidaknya para pelanggan itu nanti akan makan di situ secara enak dan nikmat serta tidak kecewa karena di warungnya kosong tidak ada makanan.
Rina pun mulai kembali menata warungnya. Ia juga membersihkan lantai serta meja tempat makan. Dan saat Rina berada di meja makan yang paling ujung, yang dekat dengan jalan, ia berhenti sejenak. Rina tolah-toleh, tengak-tengok ke kanan dan ke kiri. Pasti Rina mencari anak perempuan kecil yang biasa datang di depan warungnya. Namun anak itu tidak nampak di situ.
"Ah .... Dia kok tidak datang .... Aneh..., apa dia belum lapar? Warung saya tadi laris sekali, pasti anak itu ikut mendoakan ...." gumam Rina sendirian, yang tentunya teringat dengan perempuan kecil pelanggan setianya.
__ADS_1