PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 74: PODIN DIJAMBRET


__ADS_3

    Mobil Podin berhenti menepi di sebuah pinggir ladang. Jalanan yang sepi, jauh dari perkampungan. Mungkin karena terlalu panas mesinnya, mungkin karena terlalu lama jalannya, mungkin karena terlalu jauh perjalanannya, mungkin karena terlalu dipaksa mesin mobulnya untuk terus berjalan, akhirnya mobil itu mengalami overhead, panasnya berlebihan. Akibatnya, tentu air radiator dalam mesin mobilnya mengalami kepanasan yang sangat tinggi. Sehingga akibatnya air yang ada di dalam radiator itu, saking mendidihnya hingga muncrat menyembur keluar seperti air mancur yang sangat panas.


    Podin mematikan mesin mobilnya. Lantas ia membuka kabin mobilnya. Dan tentu, Podin geleng-geleng kepala menyaksikan air yang mendidih keluar dari tutup radiatornya. Pastinya Podin bingung dengan kejadian itu. Podin yang buta dengan masalah mesin mobil, tidak tahu apa-apa tentang kendaraan, biasanya hanya naik dan menjalankan mobilnya.


    Podin tengok kanan tengok kiri. Pastinya ingin mencari bantuan. Podin tidak tahu harus berbuat apa lagi. Yang dia tahu adalah kendaraannya siang itu sedang mengalami kerusakan. Bagaimana potensi tidak bingung karena posisinya saat ini dia berada di pinggiran ladang yang jauh dengan penduduk yang jauh dengan Perumahan bahkan kendaraan yang lewat pun tidak banyak hanya satu dua saja pastinya Bodin yang buta sama sekali tentang mesin kendaraan dia tidak bisa apa-apa lagi dan tentu kini iya hanya akan menunggu meminta tolong kepada orang yang lewat.


    "Reng ..., teng ..., teng ..., teng ...." suara sepeda motor dari jenis motor laki dua tak berhenti di dekat mobil Podin yang mogok.


    "Ada apa, Pak ...? Mobilnya mogok, ya?" tiba-tiba saja ada orang yang turun dari sebuah kendaraan yang berhenti di dekat dengan mobil Podin itu.


    Ya, sebuah sepeda motor yang dinaiki dua orang berboncengan. Lantas dua orang itu turun. Yang satu orang langsung mendekat kepada Podin. Tentu ia langsung ingin tahu dan menanya kepada Podin yang masih melihat mesin mobilnya yang sedang mengalami masalah.


    "Ada apa, Pak?" tanya orang yang sudah mendekati Podin yang berada di depan mobil itu, dan sambil memegangi kabin mobilnya.


    "Nggak tahu ini .... Tiba-tiba saja suaranya kencang dan berhenti. Ada air yang keluar dari dalam sini .... Air panas dan suaranya ..., wah tidak karuan .... Apanya ini, ya ...?" Podin yang kebingungan tentu dia tidak bisa menjawab masalahnya itu apa.


    "Oh ..., ini radiatornya, Pak .... Wah, ini kepanasan, Pak .... Jadi, mungkin Bapak perjalanannya terlalu lama, terlalu jauh, terus jalannya juga naik terus, menanjak terus, dan tentunya ini mobil sudah agak tua ini, Pak .... Sudah pantas kalau dia harus minta diperbaiki, minta di servis. Ini radiatornya kepanasan, Pak. Sebentar, Pak ..., maaf ...." kata orang itu, yang tangannya langsung menunjuk-tunjuk, seakan mau mengamati tentang mesin mobil.


    "Iya ...." Podin mengalah, tetapi juga mendekat, bahkan juga melihat ke arah radiator, di mana air panas dan uap panas masih mengepul dari tutup radiator itu.


    "Benar, Pak .... Radiatornya kepanasan." kata orang itu.


    "Iya .... Tadi di indikator, suhunya mentok." jawab Podin, yang tentunya tadi saat mengendarainya dan mobilnya rusak itu, yang terjadi dan sempat dilihat adalah indikator temperatur mesin yang ada di dalam mobilnya sudah mentok, alias overhead.


    "Bapak, lain kali kalau mengendarai begini Itu harus dilihat indikatornya, Pak .... Kalau indikator sudah mencapai setengah lewat, Bapak harus berhenti, harus istirahat. Itu memberi tanda kalau mobilnya itu sudah terlalu panas, bisa jadi karena perjalanannya yang terlalu jauh, atau jalannya menanjak terus ...." begitu kata orang yang ada di samping Podin.


    "Iya .... Saya itu tidak tahu tentang mesin mobil .... Bisanya hanya naik mobil, bisanya hanya nyetir .... Pokoknya asal jalan begitu saja ...." kata Podin pada orang itu.

__ADS_1


    "Ya ..., kalau terjadi seperti ini kan, Bapak jadi tahu." kata orang itu yang tentunya masih berada di sisi Podin, dan melihat radiator yang masih mengepulkan uap panas tersebut.


    "Betul juga ...." sahut Podin yang tentunya juga penasaran dengan radiator yang sampai menyemburkan air panas.


    "Jangan dipegang, Pak .... Itu panas .... Nanti kalau tangan Bapak melocot, malah jadi sakit tidak karuan." kata orang itu yang melarang Podin saat akan memegang tutup radiator itu.


    "Iya ..., terus ini saya baiknya bagaimana, ya? Apakah saya bisa melanjutkan perjalanan untuk mencari bengkel?" tanya Podin kepada laki-laki yang berdiri di sampingnya itu.


    "Tunggu sebentar, Pak .... Ini biar agak dingin dulu .... Nanti kalau sudah dingin, radiatornya sudah tidak panas lagi, tutrupnya dibuka, terus ditambah dengan air, diisi dengan air biasa saja, nanti ditambahi air sampai penuh. Setelah itu, jalan lagi tidak apa-apa. Nah nanti bapak cari bengkel radiator, tempatnya ada di sana itu, Pak .... Bapak maju saja terus, lurus saja .... Nanti kalau sudah sampai di perkampungan, tanya-tanya. Di sana, Pak ..., itu daerah sana kemungkinan ada bengkel radiator. Nah itu mestinya radiator Bapak ini harus dikorok istilahnya. Karena ini sudah terlalu panas. Itu mesin radiatornya biasanya ada yang sudah tersumbat dengan kerak-kerak. Itu harus dikorok namanya, Pak .... Dan nanti kalau ada yang bocor-bocor, itu akan di las oleh bengkel di sana." kata orang itu kepada Podin yang seolah-olah memang dia paham dan tahu tentang mesin mobil.


    "Oh, seperti itu ya ...." jawab Podin yang tentu juga bingung bagaimana nanti kendaraannya bisa jalan atau tidak. Karena Podin memang awam dalam hal mesin mobil.


    "Iya, Pak .... Jadi, Bapak ini tunggu saja dulu sampai mesinnya dingin, Pak .... Jangan terburu-buru. Ini Bapak tadi tergesa, ya? Atau mungkin memaksa mobilnya untuk berjalan secara kencang?" kata orang itu yang seakan-akan memang dia paham tentang mesin kendaraan.


    "Sebenarnya tidak juga .... Orang saya biasanya lewat sini juga nggak apa-apa .... Pulang pergi lewat sini juga nggak apa-apa .... Tetapi entah ini tadi kenapa, kok tiba-tiba mesinnya jadi panas, malah keluar air mancur yang panas. Untung saya tidak kena air panas itu. Coba kalau kena, pasti melepuh itu saya." kata Podin yang tentunya juga khawatir dengan kendaraannya itu.


    "Betul juga, Bang ...." sahut Podin.


    "Ya sudah, Pak .... Nanti ditunggu dingin ya, Pak ..... Kalau sudah dingin, itu tutup radiatornya dibuka, terus ditambahin air sampai penuh, Pak .... Biar nanti tidak kehabisan air radiator lagi. Saya melanjutkan perjalanan ya, Pak ...." kata orang itu yang langsung meninggalkan Podin yang masih terpaku menyaksikan radiator mobilnya.


    Orang itu pun langsung menuju ke kendaraannya, dan tentu satu orang lagi yang tadi tidak ikut membonceng, tetapi tidak ikut menemui Podin, yang tidak ikut melihat Podin, yang tidak ikut datang di depan mobil itu, dia sudah siap untuk membonceng di kendaraannya.


    Sebenarnya, ada hal lain yang terjadi saat laki-laki yang mengendarai motor dan berboncengan tadi datang menghampiri Podin yang ada di depan kabin mobil. Sebenarnya, laki-laki yang menghampiri Podin dan mengajak ngobrol Podin terkait masalah kendaraannya itu, ia hanya mengelabui saja, agar Podin bisa diajak bicara, bisa terlena dan tetap terpaku di depan mobilnya, untuk mengamati radiatornya. Sementara itu, satu orang lagi yang tadi membonceng di kendaraan itu, ia memang tidak datang menghampiri Podin, tidak ikut bersama temannya yang seakan-akan menjelaskan kerusakan mobil Podin, tetapi sebenarnya laki-laki yang membonceng tadi, begitu dia turun dari boncengan kendaraan, dia langsung mengamati keadaan yang ada di dalam mobil Podin itu. Tentunya melihat bagian dalam mobil. Dan ternyata, di dalam mobil Podin tidak ada orang sama sekali. Ya, Podin hanya menyetir seorang diri, dan sekarang sopirnya itu berada di depan mobilnya.


    Selanjutnya, laki-laki yang turun dari kendaraan tadi, yang membonceng kendaraan tadi, dan saat menengok ke dalam mobil, ia melihat ada tas yang tergeletak di jok bagian samping sopir. Tas yang lumayan bagus. Di sana tas itu tergeletak amat rapi. Pasti tas itu isinya uang atau barang yang berharga. Setidaknya kemungkinan besar di dalam tas itu ada laptop. Kalau tidak laptop mungkin juga ada uang ataupun barang berharga lainnya. Ya, laki-laki yang mengamati ke dalam mobil itu, dengan cepat dia sudah membuka pintu bagian setiran, yang memang masih belum rapat saat Podin menutupnya tadi, tentu karena saking bingungnya.


    Setelah secara perlahan laki-laki itu membuka mobil, lantas laki-laki yang memang berniat mengambil tas Podin, ia pun langsung memasukkan tangannya untuk mengambil tas yang tergeletak di jok mobil itu. Perlahan tas itu yang sudah diambil pun langsung dimasukkan di balik jaketnya. Dan tentu tas itu sudah tidak terlihat orang, karena tertutup jaket. Hanya badan orang itu yang kini terlihat gemuk karena di dalam jaketnya ada tas Podin yang dicuri.

__ADS_1


    Setelah bisa mengambil tas itu, laki-laki pembonceng itu pun memberi tanda dengan jari tangannya, sebagai tanda "Oke". Artinya pengambilan barang sudah beres. Maka ia memberi tanda kepada temannya yang menyetir motor itu, agar segera meninggalkan tempat itu.


    Laki-laki yang tadi menyetir kendaraan, yang sedang ngobrol dengan Podin yang berada di depan mobil yang mogok itu, dan kabinnya dibuka ke atas, yang sebenarnya justru menutupi pandangan Podin untuk melihat ke dalam mobilnya. Tentunya orang yang mengambil tas tadi sangat leluasa untuk mencurinya. Dan setelah temannya memberi tanda kalau aksinya sudah selesai, maka laki-laki yang ngobrol dengan Podin pun segera menyelesaikan pembicaraannya. Ia yang berpura-pura memberi nasehat kepada Podin, yang berpura-pura ngobrol memberi masukan-masukan kepada Podin, berpura-pura memberikan saran-saran, bahkan juga seakan-akan dia mau membantu meringankan beban Podin yang sedang mengalami kerusakan mobilnya itu, rusak radiatornya itu, sebenarnya laki-laki itu hanyalah bertugas untuk mengelabui Podin agar tidak tahu kalau tas yang ada di dalam mobilnya sudah diambil oleh orang yang membonceng kendaraan tersebut. Makanya begitu orang yang membonceng itu sudah memasukkan tas ke dalam balik jaketnya, dan langsung memberi tanda kepada laki-laki yang sedang ngobrol dengan Podin itu, mereka pun segera akan melarikan diri dari tempat itu.


    "Reng ..., teng ..., teng ..., teng ..., teng ..., teng ..., teng ..., teng ..., teng ..., teng ...." kendaraan pun sudah dihidupkan, sudah di starter, sudah siap untuk jalan.


    Orang yang mengambil tas dari dalam mobil Podin, dan tentu ia memegangi jaketnya karena di dalam jaket itu ada tas yang tadi diambil dari dalam mobil, dia pun langsung naik dan membonceng motor yang sudah siap untuk melanjutkan perjalanan itu.


    "Hati-hati ya, Pak .... Nanti kalau radiatornya sudah dingin baru dibuka, dikasih air ..., dan segera saja nanti dinyalakan untuk dibawa ke bengkel, biar diperbaiki radiatornya. Itu radiator Bapak rusak .... Saya tinggal ya, Pak ...." begitu kata orang yang menyetir kendaraan yang dari tadi sudah mengajak ngobrol kepada Podin tentang kerusakan kendaraannya.


    Ya, motor itu pun langsung memutar membalik arah dan melaju kencang, kembali turun menuju ke arah kota. Tentunya Podin tidak tahu kalau sebenarnya dua orang yang naik motor tadi, yang datang ke situ, yang seakan memberi nasehat, seakan memberitahu tentang kerusakan mobilnya, seakan memberi saran kepada Podin, sebenarnya mereka sudah mengambil tas yang ada di dalam jok mobil Podin. Mereka sudah menjambret Podin.


    Podin masih terpaku di depan radiator mobilnya. Seperti saran orang tadi, ia akan menunggu radiatornya dingin. Namun, setelah radiator itu dingin, dan Podin sudah berusaha untuk membuka tutup radiator, memang benar bahwa radiator tersebut airnya sudah habis. Kini, ia tengak-tengok, bingung untuk mencari air yang akan digunakan untuk mengisi radiator.


    "Ah ..., pakai air mineral ...." begitu gumam Podin.


    Ia pun bergegas mengambil air mineral, bekal minuman yang ia taruh di pintu samping sopiran. Namun saat Podin akan mengambil air mineral itu, saat ia membuka pintu mobilnya, alangkah kagetnya Podin, jok kursi yang ada di sampingnya sudah kosong. Tas berisi uang hasil penjualan mobil dan rumah Maya, yang tadi ia taruh di sampingnya, kini sudah tidak ada. Tas itu sudah tidak terlihat.


    "Deg ...!" jantung Podin seakan berhenti berdetak.


    Podin pun langsung mengamati dalam mobilnya. Ia mencari tas berisi uang itu. Ada sekitar delapa ratus juta. Tetapi tidak ada. Benar-benar tas itu sudah raib. Hilang.


    "Jambreeeeettt .........!!!!" Podin berteriak keras. Ia baru sadar kalau dirinya telah dijambret oleh dua orang yang datang dengan mengendarai motor tadi.


    Lemas sekujur tubuh Podin. Uang hasil menjual aset-asetnya Maya, istri sirinya yang nasibnya sekarang berada di tangan para algojo Pulau Berhala, semuanya sudah hilang.


    Tiba-tiba Podin terjingkat. Ia langsung berdiri, menengok jok ke bagian belakang. Tentu di sana masih ada dua peti harta karun. Podin masih bisa tersenyum, karena peti itu masih ada di dalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2