PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 73: MENINGGALKAN JAKARTA


__ADS_3

    Setelah Podin menjual mobil serta rumah yang semua atas nama Maya, setelah Podin mendapatkan uang hasil penjualannya itu, maka kini ada satu masalah lagi yang dihadapi oleh Podin, yaitu para karyawan yang berada di tempat hiburan itu, yang masih saja selalu bilang ingin melihat Ibu Maya, ingin menjenguk Ibu Maya, ingin menengok Ibu Maya, ingin menyaksikan bayi yang barusan dilahirkan oleh Ibu Maya. Ya, Podin kembali pusing. Podin kembali bingung. Podin kembali berpikir keras untuk mencari alasan agar bisa menghindar dari kemauan para karyawannya sendiri yang selalu memaksa untuk bertemu dengan Maya.


    "Pak Podin ..., sekarang Ibu Maya tinggal di mana? Kami ini, teman-teman semua, ingin menengok Bu Maya, ingin melihat bayinya. Yah, setidaknya kami ingin mengabarkan kelahiran Bu Maya, dan tentu juga ingin tahu keadaan Bu Maya. Karena setelah melahirkan tentu Bu Maya butuh orang-orang yang bisa menghibur. Setidaknya juga sharing bagaimana cara merawat bayi." kata para karyawan itu kepada Podin.


    "Wah .... Bu Maya itu mintanya tinggal di kampung .... Ya ..., maklum, Bu Maya belum pandai merawat anaknya sendiri. Makanya, dia minta tolong kepada orang tuanya, kepada saudara-saudaranya yang ada di kampung untuk membantu merawatnya." jawab Podin kepada para karyawan itu.


    "Maksud kami, kampungnya itu ada di mana, Pak Podin? Kami itu ingin ke sana, ingin ketemu Bu Maya." kata para karyawan itu lagi, yang tentu ingin tahu kampungnya.


    "Waduh ...?! Saya mau bilang bagaimana ini? Tempatnya itu sangat jauh. Di pelosok desa yang sangat jauh sekali. Bisa satu hari perjalanan dari Jakarta, menuju ke arah Pantai Selatan. Dari daerah Tasik masih terus ke arah pelosoknya." jawab Podin yang tentu akan tetap menyembunyikan rahasianya, agar anak buahnya itu tidak jadi untuk menjenguknya ke kampung.


    "Tapi HP-nya kok juga mati, Pak Podin. Kami menghubungi berkali-kali tidak bisa." begitu para karyawan yang juga penasaran dengan HP Maya yang tidak bisa dihubungi lagi itu.


    "Itu kesalahan Maya .... Waktu dia sampai di kampung, pergi ke sendang, pengennya mandi. Di sendang kampung itu HP Maya kecebur, masuk ke dalam air sendang. Ya sudah. Rusak lah .... Dan lagi, di sana itu sinyalnya susah. Sulit untuk dihubungi dengan HP. Maklum masih pelosok,  masih sangat primitif sekali .... Jauh dari kemajuan, jauh dari modernisasi. Bahkan masih banyak para tetangga yang belum punya listrik, belum ada penerangan, belum ada lampu neon. Jadi kalau malam, ya gelap-gelapan." begitu kata Podin menyampaikan kepada para karyawannya.


    "Masak sih, Pak .... Kok sangat jauh berbeda dengan penampilan Ibu Maya yang cantik, menor, dandanannya saja seperti artis. Pasti kami tidak boleh datang ke sana untuk menjenguk Ibu Maya. Pak Podin malu, ya ..., kampungnya masih ketinggalan kemajuannya ...." kata para karyawan itu yang tentunya justru mengejek.


    "Sudahlah .... Kalau kamu tidak percaya, besok kalau saya pulang kampung menjenguk Maya, kalian ikut .... Pasti nanti kalian akan ngomel di sepanjang jalan. Ada yang bilang tempatnya jauh, ada yang bilang tempatnya lika-liku, ada yang bilang tempatnya naik turun, bahkan ada juga yang mengatakan jalannya belum diaspal, belum ada listrik ..... Ah, pokoknya pasti kata-kata kalian macam-macam. Akhirnya nanti juga akan mengolok-olok saya. Begitu, kan?" kata Podin yang tentu dia tetap ingin merahasiakan Maya dan bayinya yang sudah hilang di Pulau Berhala.


    "Ya sudah, Pak Podin .... Kalau memang tidak boleh nengok ke kampungnya, kami tunggu saja nanti kalau Bu Maya sudah pulang ke Jakarta." kata para karyawan yang akhirnya menyerah dengan alasan-alasan Podin.


    "Iya .... Begitu saja .... Makanya, ini mobil dan rumah saya jual, itu tujuannya saya akan beli rumah yang baru yang lebih besar. Karena nanti kalau keluarganya Maya ikut datang ke sini, kalau keluarga saya juga ingin menengok Maya, ingin menengok bayinya, itu rumahnya tidak terlalu sempit, tidak umpel-umpelan, tidak sesak."  begitu kata Podin yang menjelaskan kepada para karyawannya.


    Para karyawan itu pun akhirnya bisa menerima alasan Podin yang memang ya tidak bisa untuk menjenguk Maya. Dan pastinya, nanti akan menunggu kalau Maya sudah datang ke Jakarta lagi.


    "Ya sudah, Pak Podin .... Kami balik kerja, Pak .... Besok kalau Bu Maya udah nyampe Jakarta, kami akan menunggui bayinya, bahkan mungkin saya akan tidur di sana untuk menyaksikan Bu Maya ngasih ASI pada bayinya." kata para karyawan itu yang sambil menggoda Podin.

__ADS_1


    Akhirnya para karyawan itu balik bekerja. Ada yang kembali ke ruang karaoke untuk menjadi pemandu karaoke, ada juga yang mengatur sound system, ada juga yang berada di dalam kantor. Tentunya mereka akan bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing.


    Podin lantas menuju ke ruangan administrasi. Ya, Podin akan menemui pegawai bagian administrasi dan keuangan. Perempuan muda yang pernah melaporkan kalau keuangannya itu habis dibobol oleh Maya. Sehingga ia bingung karena tidak bisa membayar para karyawannya. Podin berada di ruang berdua bersama pegawai keuangan itu.


    "Cik ..., bagaimana keadaan keuangan perusahaan kita sekarang?" tanya Podin pada gadis muda yang mengurusi bagian keuangan usahanya itu.


    "Ya, sebenarnya lumayan, Pak Podin .... Setelah Bu Maya tidak meminta lagi, tidak memaksa untuk mengambil kas perusahaan, pemasukan sudah mulai balance dengan pengeluaran, Pak Podin. Setidaknya kami sudah bisa membayar para karyawan, dan paling tidak di kantor masih ada dana untuk jaga-jaga. Masih ada kasbon Pak." jawab perempuan itu, yang tentunya sambil membuka buku keuangan di atas mejanya, dan menunjukkan data keuangannya kepada Podin. Mulai dari pemasukan setiap hari, pengeluaran rutin, bahkan juga untuk pembayaran para karyawan.


    "Ini lumayan, Cik ....  Kalau misalnya pemasukannya seperti ini terus, artinya saya tidak perlu menambah dana talangan untuk menggaji para karyawan, kan?" begitu tanya Podin pada perempuan bagian keuangan tersebut.


    "Semoga saja tidak apa-apa, Pak Podin .... Ini masih ada dana yang cukup. Di bank pun kita masih punya saldo rekening yang masih terisi lumayan, Pak Podin. Jadi sebenarnya kalau keuangan ini diawasi dan ditata betul, tidak masalah, Pak Podin .... Dan semoga saja keadaannya akan terus berlanjut seperti ini. Setidaknya perusahaan ini tidak lagi diambang kekhawatiran, Pak Podin. Dan saya tidak khawatir lagi kalau tanggal muda ada karyawan yang datang kemari sambil marah-marah kepada saya, karena dia belum bisa menerima bayaran." begitu kata perempuan muda itu, yang tentunya dari pertama memang sudah dipercaya oleh Bos yang lama untuk menangani keuangan. Pasti perempuan muda ini memang punya keahlian di bidang keuangan. Setidaknya dia bisa mengatur keluar masuknya keuangan yang ada di perusahaan.


    "Terima kasih, Cik .... Setidaknya saya tidak begitu khawatir dengan perusahaan ini. Cuman ada satu hal yang perlu saya sampaikan kepada Cie-cik, mohon apa yang ingin saya katakan ini dirahasiakan." kata Podin yang mulai memperpelan volume bicaranya, karena seakan kata-katanya ini agak dirahasiakan.


    "Memang ada apa, Pak Podin?" perempuan muda bagian Keuangan itu mendekatkan telinganya kepada Podin, ia ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Bosnya itu.


    "Memangnya ada apa, Pak Podin?" tanya perempuan bagian keuangan itu yang tentu semakin penasaran, dan tentunya lebih mendekatkan kepalanya lagi kepada Podin yang semakin memperpelan suaranya.


    "Saya akan pulang kampung .... Mungkin saya akan lama tinggal di kampung. Dan tentunya saya akan lama meninggalkan tempat ini. Jadi saya akan mempercayakan semua masalah keuangan, semua masalah administrasi perusahaan kepada kamu, Cik .... Dan tentunya kamu harus bisa mengelola dengan baik. Tidak usah menghubungi saya, tidak usah menghubungi Bu Maya. Karena pastinya saya tidak bisa memastikan kapan akan balik ke tempat ini. Dan satu hal lagi yang ingin saya sampaikan kepada kamu, agar kamu bisa menjaga suasana di perusahaan ini, menjaga iklim di perusahaan ini yang aman, nyaman dan menyenangkan. Pokoknya kondusip .... Setidaknya teman-teman kalian, para karyawan semuanya merasa terlindungi, bisa mendapatkan penghasilan dari tempat ini, dan setidaknya kamu tidak rugi dalam mengelola usaha ini." kata Podin dengan nada yang perlahan, yang hanya bisa didengar oleh perempuan yang duduk di depannya itu, yang sudah mendekatkan wajah hampir menempel dengan wajah Podin.


    "Tapi, Pak ...." tiba-tiba perempuan muda itu akan berkata.


    "Tidak usah pakai tapi-tapian .... Yang penting lakukan sesuai dengan kemampuanmu. Bila perlu kalau kamu minta tolong, minta tolonglah kepada orang yang kamu percaya, orang yang kamu pandang dia sanggup, orang yang kamu pandang bisa untuk membantu kamu." kata Podin kepada perempuan muda itu.


    "Maksud saya begini, Pak .... Maksud saya, seandainya ada sesuatu yang sangat penting sekali, ada sesuatu yang sangat mendesak, bagaimana kami akan menghubungi pak Podin?" tanya perempuan itu kepada Podin.

__ADS_1


    "Begini, Cik .... Saya pokoknya pasrah semuanya sama Cicik. Yang penting tolong urusi teman-teman kamu yang bekerja di sini. Jangan pikirkan saya. Jangan pikirkan Bu Maya. Anggaplah perusahaan ini adalah milik kamu, maka kamu pasti akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk mengelolanya." kata Podin yang pasrah total pada karyawan keuangannya itu.


    "Iya, Pak ...." jawab perempuan muda bagian keuangan itu, yang tentu justru menjadi bingung dengan beban mengelola perusahaan secara total.


    "Terima kasih semuanya, Cik .... Saya mohon pamit. Tidak usah sampaikan ke teman-teman. Hanya Cicik-e yang tahu masalah ini. Dan tentunya kalau teman-teman nanti ributm berarti Cicik tidak bisa menjaga rahasia ini.


    "Masalahnya, kalau ada yang tanya, saya jawabnya bagaimana, Pak Podin?" tanya perempuan bagian keuangan itu kepada Podin, yang tentu nanti pasti akan ada karyawan yang menanyakan.


    "Lah ..., kok bingung ...?! Kemarin saja saya pergi empat bulan lebih, tidak pernah datang kemari, juga tidak ada yang tanya. Dan tiba-tiba saya datang, kalian bikin saya sedih. Katanya banyak kekurangan ini itu. Sekarang saya mau pergi sebentar saja kalian bingung. Ngapain ...?! Apa bedanya ...?!" begitu kata Podin kepada bagian keuangan tersebut. Padahal, Podin sudah merencanakan akan menghilang dari Jakarta.


    "Ya, Pak .... Terima kasih nasehatnya, Pak. Semoga nanti teman-teman bisa memahami keadaan ini. Mohon doanya, Pak ..., agar saya bisa menjalankan usaha di tempat ini, dan semoga tidak ada halangan ataupun kendala." kata perempuan itu yang tentu menunjukkan wajah kurang bahagia.


    "Nah .... Begitu .... Jadi orang itu harus optimis, harus selalu siap siaga, tidak usah cengeng, jangan selalu meminta bimbingan, jangan selalu berharap. Harus mandiri, harus bisa mengatasi masalah, harus bisa menjadi orang kuat, harus bisa menjadi orang hebat. Dan pastinya, kamu juga harus bisa membuktikan bahwa kamu bisa menjalankan usaha ini." begitu kata Podin yang selanjutnya dia berdiri dari kursinya dan melangkah, akan keluar sambil menyalami perempuan yang menangani bidang keuangan di tempat usahanya tersebut, dan yang kini oleh Podin dipasrahi untuk mengelola perusahaannya.


    "Hati-hati di jalan, Pak Podin ...." begitu kata perempuan itu memberi kata-kata untuk Podin, yang tentunya akan melakukan perjalanan jauh, sembari menyalami bosnya.


    Setelah beres, dan setelah keluar dari gedung pusat hiburan itu, tempat usaha karaokenya itu, akhirnya Podin masuk ke dalam mobilnya. Lantas menyalakan mesin mobil itu, kemudian ia meninggalkan tempat usahanya, tempat hiburan karaoke tersebut. Semari memberi amplop kepada si Jon, yang saat itu meberi aba-aba Podin dalam keluar parkiran.


    "Bang Jon ..., ini ada sedikit rezeki untuk Bang Jon .... Makasih sudah dibantu." kata Podin sambil tangannya memberikan amplop berisi uang komisi kepada karyawan keamanan di perusahaannya tersebut.


    "Terima kasih, Pak Podin ...." jawab si Jon tersebut sambil membungkukkan badannya.


    Selanjutnya, Podin langsung keluar, Podin pasti akan pergi meninggalkan tempat itu dalam jangka waktu yang sangat lama. Bahkan mungkin tidak akan kembali ke tempat itu lagi. Tentunya karena Podin khawatir kalau karyawan-karyawan yang ada di tempat itu selalu menanyakan keberadaan Maya dan bayinya. Yang pasti, Podin khawatir kalau sampai ada yang tahu rahasia dirinya terkait dengan hilangnya Maya bersama dengan bayinya. Jika hal itu ketahuan, maka bisa akan menjadi masalah bagi Podin.


    Oleh sebab itulah, maka Podin mau tidak mau harus pergi meninggalkan Jakarta. Mau tidak mau, Podin harus menjauh untuk menghindari semua permasalahan yang dihadapi di Jakarta, dengan orang-orang yang mengenal Maya, dengan orang-orang yang dekat dengan Maya, bahkan juga dengan orang-orang yang selalu ingin ketemu Maya.

__ADS_1


    Mobil minibus disel setengah baya itu terus melaju ke arah selatan, meninggalkan Kota Jakarta, meninggalkan keramaian Metropolitan, meninggalkan semua cerita yang pernah dilakukan oleh Podin, meninggalkan semua kenangan tentang Podin bersama Maya dan bersama orang-orang yang pernah dekat dengannya. Mobil itu terus melaju, mengikuti panasnya aspal jalan yang belum dipastikan arah tujuannya oleh Podin. Tetapi yang jelas, Podin harus pergi meninggalkan Ibu Kota tersebut, agar hidupnya bisa tenang, tidak dikejar-kejar dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Maya maupun bayinya.


__ADS_2