
Setelah tahu kalau rukonya sudah dijual oleh Podin, suaminya yang marah karena menyaksikan istrinya selingkuh dengan laki-laki lain, dan setelah diberitahu oleh pegawai pemasaran serta orang yang akan beli ruko tersebut, jika seminggu lagi ruko itu akan digunakan. Ruko itu akan dipakai oleh orang yang membelinya untuk usahanya. Ya, usaha travel dan rental mobil. Tentu Lesti menjadi kebingungan. Karena dirinya harus pergi meninggalkan ruko itu. Tidak hanya pergi begitu saja, tetapi juga harus mengangkut barang-barang dagangannya dari ruko itum serta seluruh perabot miliknya.
Lesti tidak tahu lagi akan tinggal di mana. Yang jelas saat ini, setelah ruko itu terjual dan dibayar oleh pembelinya, dia tidak bisa menempatinya lagi. Dan Lesti bersama kedua orang tuanya tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Inilah yang membuat Lesti bingung. Bahkan tidak hanya Lesti, tetapi juga bapak dan ibunya.
"Lesti .... Bagaimana kalau kita mendatangi Joni, adikmu itu, untuk meminta tolong pinjam rumah yang dulu, kita menempayi rumah itu lagi?" kata bapaknya yang tentu memberi saran kepada Lesti.
"Pasti tidak boleh, Pak .... Joni itu orangnya tamak ..., serakah dan menangan .... Tidak bakal mau kita pindah ke sana lagi, orang rumah sudah diakui jadi miliknya semua ...." jawab Lesti.
"Coba kamu cari Podin .... Sekarang dia ada di mana?" kata ibunya.
"Bu .... Akang Podin itu marah sama Lesti gara-gara tahu kalau Lesti mijat orang ...." kata Lesti yang langsung mulutnya moncong ke depan, pertanda tidak suka dengan kata-kata ibunya.
"Lah .... Orang mijat biar dapat tambahan penghasilan, kok dimarahi .... Bagaimana Podin itu?" kembali ibunya mengicap.
"Ibu tidak tahu, Kang Podin itu cemburuan ...." sahut Lesti yang masih manyun.
"Cemburuan bagaimana ...? Ya di jelaskan, kalau kamu mijat orang dibayar mahal ...." sahut ibunya ganti, yang tentunya apa yang dilakukan oleh Lesti, perempuan tua itu tidak tahu.
Tentu Lesti diam. Karena ia harus menyimpan rahasia itu, agar orang tuanya tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Yah ..., kalau memang dia marah, ya mestinya kamu cari, terus diajak pulang .... Masak pergi begitu saja tanpa pamitan .... Kok tidak seperti waktu mau berangkat ke Jakarta dulu itu .... Berpamitan, pakai salaman tangan segala." kata bapaknya, yang tentuny berharap Podin mau diajak pulang oleh Lesti.
"Perginya ke mana saja saya tidak tahu ...." kata Lesti yang tentu tanpa memperhatikan bapaknya.
"Lah, mungkin pergi ke Jakarta .... Ke tempat usahanya yang besar itu ...." sahut ibunya yang juga teringat dengan Jakarta.
"Tidak ..., Bu .... Kang Podin sudah pergi jauh tidak ada yang tahu ...." sahut Lesti yang tentu tidak ingin ibu dan bapaknya mencari-cari Podin lagi.
Tentunya Lesti juga sadar dengan hal itu, kalau Podin tidak bakal mau lagi dengan Lesti, kalau Podin tidak bakal kembali ke rumahnya. Yah, itu semua karena Lesti menyadari bahwa kesalahan Lesti sangat fatal. Lesti yakin, tidak ada seorang lelaki pun yang akan rela dan sanggup menerima kenyataan yang menyaksikan istrinya sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Masih beruntung kala itu Podin tidak memukul atau menghajar dirinya. Masih baik Podin hanya pergi begitu saja. Yang banyak terjadi, pasti laki-laki yang menyaksikan istrinya sedang bercinta dengan orang lain, ia akan menghajar habis-habisan pasangan selingkuh itu.
Berkali-kali Lesti telpon kepada Om Toro. Bahkan setiap hari, dan mungkin juga setiap jam. Lesti mencoba menghubungi laki-laki yang sudah berjanji akan membantunya itu, laki-laki yang sudah menjelek-jelekkan Podin, laki-laki yang mengaku lebih baik dari suaminya, laki-laki yang bersedia menikahi Lesti jika mau bersecerai dengan Podin. Namun kenyataannya, HP Om Toro tidak pernah aktif. HP Om Yoro tidak pernah dihidupkan. HP Om Toro tidak pernah diangkat untuk menjawab panggilan dari Lesti. Sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali Lesti mengirim chat WA kepada Om Toro. Namun hasilnya juga nihil. WA itu tak pernah dibaca, tak pernah dibuka, bahkan tak pernah diapa-apakan. Apalagi membalasnya. Lesti benar-benar jengkel. Padahal saat ini. Lesti sedang benar-benar butuh bantuan, Lesti benar-benar janji-janji laki-laki itu ditepati. Namun kenyataannya, ternyata laki-laki itu yang sudah merusak keluarganya itu, laki-laki yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Podin, laki-laki yang sudah memporak-porandakan bahtera kehidupannya itu, kini tidak bisa lagi dihubungi.
Hari pun terus berganti. Waktu yang diberikan oleh pembeli ruko itu sudah habis bagi Lesti untuk menempati rukonya. Ruko yang dulu dibelikan oleh Podin untuk tempat tinggal keluarganya, tempat tinggal bersama bapak dan ibunya. Ya, dulu kedua orang tuanya itu sudah mengatakan kalau Podin itu adalah laki-laki yang baik, laki-laki yang mau bertanggung jawab, laki-laki yang mau membelikan ruko, bahkan membelikan perabot-perabot untuk keluarganya.
Namun sayang, Lesti sudah melenceng dari norma kesusilaan yang mestinya ditanamkan di dalam keluarganya. Lesti yang awalnya mencoba ingin insaf, yang mau menikah dengan Podin dengan harapan bisa menata kehidupan yang lebih baik, ternyata, hanya ditinggal pergi oleh Podin seminggu lamanya, ia kambuh lagi setelah menerima godaan, hanya gara-gara iming-iming kenikmatan sesaat, hanya sekedar menerima uang yang jumlah tidak seberapa, hanya sekedar daya tarik dari penglihatannya. Tetapi itu tentunya tidak sepadan dengan yang diberikan oleh Podin yang sudah sangat baik kepada keluarganya, yang sudah rela memberikan segalanya untuk keluarganya.
Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Lesti sudah melakukan kesalahan, dan itu mungkin tidak akan termaafkan oleh Podin. Dan tentunya Podin pun tidak bakal mau lagi untuk datang kepada Lesti. Tentu bagi Podin, masih banyak wanita lain yang pasti mau menikah dengannya. Masih banyak wanita lain yang lebih baik dari Lesti.
Lesti memang perempuan yang kurang beruntung. Namun tentunya itu semua terjadi karena ulah dan perbuatan Lesti sendiri. Baik buruknya seseorang, dirinya sendiri yang menentukan. Podin yang mestinya bisa dijadikan tumpangan hidup dalam berkeluarga, tetapi justru dikhianati oleh Lesti.
__ADS_1
Dan kini, hari yang sudah ditentukan bagi Lesti untuk segera mengangkut barang-barangnya pun sudah sampai kepada waktunya. Mau tidak mau, Lesti harus pindah dan mengkosongkan ruko itu. Dan pastinya, tidak mungkin Lesti membeli ruko baru. Tidak mungkin juga bagi Lesti untuk membeli rumah. Ia tidak punya uang untuk membeli ruko maupun rumah.
Terpaksa Lesti harus mengontrak rumah. Beruntung Lesti masih menyimpan amplop coklat pemberian dari laki-laki yang sudah mengkoyak-koyak rumah tangganya. Lumayan, uang dari Om Toro yang jumlahnya dua puluh lima juta itu bisa digunakan untuk mengontrak rumah. Namun tentunya bukan rumah besar atau rumah yang ada di tengah kota. Tentunya harga sewanya cukup mahal. Tidak mungkin uang segitu untuk kontrak rumah yang besar atau di kota.
Terpaksa, Lesti harus mencari kontrakan di pinggiran kota, agak masuk ke kampung. Setidaknya cukup untuk tinggal bersama dengan bapak dan ibunya. Ya, dapatnya kontrakan hanya rumah setengah bata dan bagian atasnya papan katu, dan letaknya tentu jauh dari kota. Bagi Lesti, tidak mengapa. Yang penting bisa dipakai sebagai tempat tinggal.
Kemudian rumah kontrakan itu ditempati oleh Lesti bersama ibu dan bapaknya. Dan ternyata oleh pemiliknya juga dibolehkan untuk digunakan sebagai tempat usaha jualan sembako. Namun kenyataannya, bahwa usaha dagang sembako seperti Lesti, yang berjualan di kampung pedesaan, tentu tidak segampang di perkotaan. Dengan jumlah barang yang sangat banyak dan juga modal yang cukup besar, dan Lesti hanya mampu mengontrak rumah yang tidak begitu besar, tentu kesulitan dalam menata barangnya. Apalagi Lesti adalah pendatang yang hanya kontrak, bukan penduduk asli kampung itu, pastinya belum begitu dikenal oleh warga. Apalagi jumlah penduduk kampung itu tidak begitu banyak. Tentu barang dagangan Lesti, toko Lesti tidak laris seperti saat di kota. Akibatnya, pemasukan hasil penjualan pun sangat kecil. Untuk biaya hidup, pasti kurang.
Beruntung dagangannya adalah sembako, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dapur masih bisa mengambil barang-barang dagangannya. Namun pastinya, lama-kelamaan barang dagangannya akan habis tanpa ada pemasukan keuangan. Dan akibatnya, tidak bisa belanja lagi.
"Bu .... Usaha jualan kita sepi ...." kata Lesti pada ibunya.
"Iya ...." sahut ibunya yang juga terlihat sedih.
"Lesti ingin kerja lagi, untuk cari uang ...." kata lesti pada ibunya.
"Kerja apa ...?" tanya ibunya.
"Lesti mau menjadi tukang pijat lagi ...." kata Lesti sambil tertunduk. Pastinya ia malu pada ibunya.
__ADS_1
Namun apa boleh dikata, kebutuhan hidup memang menjadi alasan bagi seseorang untuk mencari pekerjaan. Dan akhirnya, Lesti kembali menjadi juru pijat di panti pijat jari lentik. Lesti akan kembali pada profesinya yang paling sesuai dengan kompetensinya. Asalnya juru pijat plus-plus, kini ia kembali plus-plus-plus.