
Maya sudah melahirkan bayi laki-laki, yang tentunya ganteng. Dan setelah tiga hari melahirkan, dimana Maya dan bayinya dirawat di Puskesmas, setelah Maya dinyatakan kesehatannya sudah baik, demikian juga bayinya yang juga sehat, mereka pun diizinkan boleh pulang. Maka, Podin yang sudah ingin untuk mengajak bayi itu pulang, ia pun mengajak Maya untuk pulang kembali ke rumahnya, membawa anaknya pulang. Tentu Podin harus melunasi administrasi di Puskesmas terlebih dahulu, baik itu biaya persalinan, perawatan maupun obat-obatan.
Memang biaya melahirkan di Puskesmas Tidak mahal, dan tentu biaya itu sebagai hitungan kempampuan bagi masyarakat sederhana hingga miskin, bukan untuk orang kaya. Makanya ketika Podin membawa uang sepuluh juta, itu sudah sangat berlebihan. Sisanya sangat banyak. Ya, biaya kelahiran Maya itu hanya habis sedikit saja. Podin hanya membayar satu setengah juta saja. Itu biaya yang sangat fantastis murahnya. Biaya melahirkan di Jakarta yang sangat murah sekali, bila dibandingkan dengan kemauan Maya yang ingin melahirkan di rumah sakit yang sangat mahal. Memang, rumah sakit- rumah sakit swasta di Jakarta, khususnya rumah sakit untuk melahirkan atau klinik bersalin, itu biayanya memang sangat mahal. Sangat jauh bila dibandingkan dengan biaya melahirkan di Puskesmas.
Ya, namanya saja pusat kesehatan masyarakat, yang tentunya digunakan untuk menolong masyarakat, untuk menolong orang-orang yang tidak mampu. Apalagi yang menggunakan kartu Jamkeskin, mereka malah berobat secara gratis. Namun tentu jika masyarakat seperti Maya, tidak termakan oleh gengsi, maka uang yang berlebihan bisa dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan yang lain. Nyatanya Podin hanya mengeluarkan uang cuma sedikit dalam melahirkan anaknya di Puskesmas tersebut.
"Maya .... Kita sudah boleh pulang. Ayo ..., sekarang bawa bayi kamu. Coba latihan menggendong bayi. Kita akan mengajak bayi kita ini pulang ke rumah." kata Podin sambil mengajak istrinya, agar segera bangkit berdiri dari duduknya di tempat tidur rumah sakit itu. Podin ingin Maya yang membawa anaknya.
Maya pun mulai latihan menggendong bayi. Namun memang terlihat sangat lucu, tidak luwes. Mungkin karena tidak biasa, atau mungkin juga karena Maya merasa kikuk untuk mempunyai seorang bayi.
"Bagaimana ini, Bang ...? Saya bingung .... Caranya menggendong bagaimana?" kata Maya yang tentu kebingungan untuk menggendong bayinya.
"Ya .... Pelan-pelan .... Nanti lama kelamaan kan bisa." kata Podin pada istrinya uang masih kebingungan menggendong bayinya itu.
Kemudian seorang suster perawat, datang membantu menggendongkan, mengajari bagaimana caranya menggendong bayi.
"Begini, Ibu .... Ini selendangnya dibalurkan dari pundak, memutar ke tubuh bayi, lantas membalik ke pundak lagi, dan dimasukkan ke bagian bawahnya." kata perawat itu sambil mengajari Maya untuk menggendong bayinya.
Dan akhirnya, Maya bisa menggendongnya. Selanjutnya, Maya pulang bersama Podin, dengan naik mobil bututnya. Ia pulang ke rumahnya.
Dan saat sampai di rumah, pastinya Maya masih kebingungan, bagaimana caranya merawat bayi, bagaimana caranya membersihkan ompol bayi, bagaimana caranya meneteki bayi, dan bagaimana caranya memberikan kasih sayang kepada seorang bayi yang baru saja dia lahirkan.
"Bang Podin ...! Ini bagaimana, Bang ...?!" teriak Maya yang tentu akan selalu meminta bantuan kepada suaminya, saat akan mengurus anaknya.
"Ada apa, Maya ...?!" Podin balas berteriak dari luar rumah. Ia masih sibuk menurunkan barang-barang kotor milik Maya yang barusan di pakai di Puskesmas.
"Ini ..., Bang ..... Bayinya ngompol .... Ini ..., si kecil pipis terus ...." kata Maya yang tentu kebingungan karena bayi itu sudah ngompol beberapa kali, dan tentunya Maya belum bisa apa-apa untuk merawat anaknya. Maya belum tahu bagaimana caranya mengganti popok untuk anaknya.
Memang, Maya bukanlah perempuan yang pandai merawat anak. Maya memang bukan perempuan yang pandai mengurus rumah tangga. Maya hanyalah wanita yang pandai merawat dirinya agar terlihat glowing, nampak cantik, dan laki-laki yang melihatnya bisa tertarik. Maya hanya pandai jeng jeng. Maya hanya bisa hura-hura bersama dengan teman-teman sosialitanya. Jadi kalau ada urusan seperti halnya merawat bayi yang ngompol, pasyi Maya merasa jijik. Ia merasa risih. Dan Maya merasa takut kena kotor. Itulah perempuan-perempuan yang tidak bisa diajak berumah tangga. Perempuan model Maya ini hanya bisa disuruh menghabiskan uang,
"Ya ..., sebentar .... Ini saya baru menurunkan pakaian kamu yang kotor." sahut Podin dari luar rumah, yang masih mengambil barang-barang yang ada di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Cepetan, Bang ...! Aku jijik banget ...!" begitu kata Maya yang justru membiarkan bayinya yang tergeletak di tempat tidur.
Semestinya, untuk menaruh bayi di tempat tidur, bagian bawah bayi itu harus dikasih perlak atau karpet bayi terlebih dahulu. Sehingga kalau bayinya pipis, ompolnya tidak membasahi kasur. Namun Maya, yang memang tidak pernah paham dengan bagaimana cara meletakkan bayi, bahkan juga tidak tahu caranya mengatur letak maupun posisi bayi saat ditaruh di kasur, maka bayinya itu pun hanya diletakkan begitu saja di atas kasur tempat tidurnya. Ya, layaknya seperti anak besar yang bisa bergerak sendiri.
Podin bergegas masuk ke kamarnya, untuk menengok bagaimana keadaan bayinya. Namun tentunya, tidak jauh berbeda dengan Maya, demikian juga Podin, yang tidak pernah mau tahu, tidak pernah urusan dengan anak-anaknya. Meski Podin sudah punya anak empat, yaitu dengan istrinya yang pertama, tetapi Podin tidak pernah mengusrusi bayi-bayinya. Semuanya diurusi oleh Isti. Maka, Podin pun tidak paham dengan masalah bagaimana merawat dan mengurus bayi.
"Yah .... Kasurnya sudah basah semua .... Kasurnya sudah terkena ompolan dari bayi ...." kata Podin yang baru saja mendekat ke bayinya yang tergeletak di kasurnya, melihat bayi yang baru saja diajak pulang dari Puskesmas tersebut.
"Iya ..., Bang .... Bagaimana ini, Bang Podin ...?" Maya hanya bisa memandangi tempat bayi yang basah oleh ompol itu.
"Ya ampun, Maya .... Ini bagaimana? Waduh ..., basah semua kasurnya .... Wah, kasurnya kena ompol ini ...." begitu kata Podin yang tentunya bingung menyaksikan kasur yang ditempati oleh Maya, yang digunakan untuk menempatkan anak menggeletak di atasnya itu, sudah basah oleh ompol si bayi.
"Habis ..., bagaimana, Bang ...? Maya tidak bisa merawat bayi, Bang ...." kata Maya yang juga hanya bisa memandanginya saja.
"Apa kita perlu pembantu, untuk merawat bayi ini?" tanya Podin pada istrinya.
"Pembantu gimana sih, Bang ...? Katanya kalau bayinya sudah lahir akan dibawa ke tempat sang raja? Kata Abang Podin dulu, nanti kalau bayinya sudah lahir, kita nggak ngurusi bayi itu. Katanya Abang dulu udah pernah bilang, begitu bayi ini lahir, akan diserahkan ke istana, dipersembahkan kepada sang raja, terus kita nanti dikasih uang sama sang raja? Gimana, Bang ...?" Maya yang masih teringat kata-kata Podin yang dulu pernah menjanjikan kalau anaknya yang lahir nanti akan dibawa ke istana kerajaan, dan akan diberikan kepada sang raja, yang katanya anak itu akan ditukar dengan uang serta harta kekayaan. Makanya, Maya langsung menanyakan hal itu kepada Podin.
"Kapan, Bang ...? Maya udah nggak tahan, Bang .... Maya jijik kena pipis sama kena kotoran bayi ini, Bang .... Maya nggak bisa ngerawat bayi ini, Bang." begitu rengek Maya yang terus nerocos. Maya terus meminta agar Podin segera membawa anaknya itu ke tempat sang raja seperti yang dikatakan Podin.
"Besok pagi saya akan berangkat menuju ke tempatnya sang raja. Hari ini kalau saya harus berangkat sekarang ke sana, pasti sudah terlalu larut, sudah kemalaman. Dan kalaupun kita ke sana hari ini, belum tentu istana itu dibuka pada tengah malam. Makanya besok saya akan berangkat. Saya akan membawa bayi ini ke istana kerajaan." kata Podin yang sambil mengganti popok bayinya. Tentu jadinya tidak karuan, karena memang Podin tidak bisamemakaikan popok bayi.
"Oeee .... Oe ..., oe ..., oe ...." bayi itu mulai menangis lagi. Tentu Maya kebingungan.
"Bang ..., bayinya menangis ....!" teriak Maya lagi, yang tentu bingung menyaksikan bayi yang sedang menangis itu. Maya tidak berani mengangkatnya. Bayi itu terlalu kecil. Maya khawatir untuk membopong. Memang ia tidak bisa.
"Iya ..., MaYa .... Sebentar .... Ini baru mencuci popoknya." sahut Podin dari dalam kamar mandi, ia mencuci popok bayi yang basah oleh ompol tadi.
"Oeee .... Oe ..., oe ..., oe ...." suara tangis bayi itu.
"Tapi bayinya menangis terus ...!" kata Maya yang semakin kebingungan.
__ADS_1
"Ya ampun, Maya .... Itu pertanda bayinya minta mimik. Ayo kamu kasih ASI, biar bayinya kenyang, biar bayinya tidak menangis, biar dia diam." kata Podin menyuruh Maya untuk memberikan ASI kepada bayinya.
"Caranya bagaimana, Bang ...?" tanya Maya yang masih kebingungan.
"Bagaimana cara memberikan ASI ...? Ya ampun Maya .... Mulut bayi itu kamu tempelkan saja di ASI kamu." kata Podin kepada Maya, yang memberi tahu caranya memberi mimik pada sang bayi.
"Gak bisa, Bang ...." Maya masih kebingungan.
"Ya ampun, Maya .... Ya udah, buka saja baju kamu .... Terus bayi itu kamu kasih ASI. Mulutnya ditempelkan ke tempat ASI-nya. Nanti dia akan mimik sendiri, akan minum sendiri, dia akan otomatis akan menyedot minum ASI dari kamu." kata Podin menjelaskan lagi.
"Aku nggak bisa, Bang ...." kata Maya lagi.
Akhirnya, setelah selesai menjemur popok yang dicucinya, Podin pun kembali masuk ke kamarnya, membantu Maya untuk memberikan ASI kepada sang bayi.
"Ya ampun ..., Maya .... Kamu itu bagaimana sih ...? Masak ngasih ASI untuk bayi sendiri saja kamu tidak bisa? Padahal dulu saja aku sering kamu kasih ASI .... Katanya bayi tua .... Kamu kalau nyuruh 'Bang ..., ayo, Bang .... disedot yang kencang ..., biar enak, Bang ....' begitu kamu bilang .... Sekarang, bayinya lahir malah nggak bisa ngasih ASI. Padahal dulu aja, kalau ngasih ke aku, meski ASI-nya nggak keluar air susunya, saya dipaksa untuk minum ...." begitu kata Podin yang tentu menggoda istrinya, karena dulu sebelum punya bayi, waktu pertama menjadi istri Podin, dia pun sering memberikannya kepada Podin. Itulah permintaan Maya yang selalu memaksa Podin untuk minum ASI-nya.
"Iih ..., Abang .... Malu, Bang ...." begitu kata Maya yang teringat dengan perbuatan suaminya kala itu. Pasti ia geli dengan apa yang sudah pernah dilakukan dengan Podin. Dan kini, ketika ASI itu akan diberikan kepada sang bayi dan dibantu oleh Podin, pasti tangan Podin yang nggratil itu pun juga turit mempermainkan apa yang dimiliki oleh Maya. Bahkan mulut Podin pun ikut seperti bayinya. Podin sudah mulai ketagihan minta ASI yang dimiliki oleh Maya. Tentu Maya jadi geli.
"Bang ..., aku nggak bisa ngerawat bayi, Bang .... Maya bingung nggak tahu caranya. Kapan Abang mau bawa bayi ini ke tempat sang raja? Saya sudah tidak sanggup kalau dirumah ada bayi, Bang ...." tanya Maya yang tentu sudah kebingungan, karena ia memang tidak bisa merawat bayinya.
"Sabarlah, Maya .... Besok pagi. Tunggu sebentar lagi. Masak merawat bayi semalam saja tidak sanggup." kata Podin yang sudah siap mengajak piknik bayinya.
"Iya, Bang .... Tapi aku tidak bisa merawatnya. Aku jijik banget, Bang .... Cepetan ya, Bang ...." kata Maya yang terus menggeresah.
Memang, perempuan seperti Maya itu bukan potongan ibu yang baik. Tidak bisa merawat bayi. Bahkan mungkin kena ompol sedikit saja, langsung jijik. Ia tidak bisa membersihkan ompol maupun kotoran bayinya. Bahkan sampai neteki bayi saja Maya juga tidak bisa. Maya juga tidak bisa menyalini kain bayinya sendiri, bahkan membopong pun Maya tidak bisa. Termasuk memangku bayi juga tidak bisa, apalagi menggendong. Maya benar-benar perempuan yang tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang ibu.
"Ini. lho ..., sudah saya siapkan .... Besok pagi Abang berangkat ...." jawab Podin.
"Iya, Bang .... Cepetan ...." kata Maya.
Menyaksikan Maya yang tidak mau mengurusi bayinya itu, bilang kalau repot, mengatakan jijik, bahkan tidak mau memberikan ASI, sebenarnya justru menyenangkan hati Podin. Karena besok, di malam bulan purnama, ia akan leluasa dan bebas, tanpa ada halangan untuk membawa bayinya menuju ke Pulau Berhala. Podin akan mempersembahkan bayinya sendiri kepada sang penguasa istana Pulau Berhala.
__ADS_1