PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 25: USAHA YANG GAGAL


__ADS_3

    Podin yang kebingungan karena kehabisan uang, Podin yang gelisah karena harta karunnya sudah terkuras habis, maka ia pun kembali ingin datang lagi ke pulau tempat tinggal seorang kakek tua yang bermurah hati kepadanya, yang selalu memberikan harta-harta karun kepadanya. Ya, satu-satunya jalan yang paling bisa diharapkan akan ditempuh oleh Podin adalah datang kembali ke Pulau Berhala, untuk mengambil peti harta karun dari istana megah yang berlapis emas, dan dihiasi intan permata.


    Siang itu, Podin melajukan mobilnya menuju ke pantai untuk kembali mengunjungi pulau di mana ia pernah mendapatkan harta karun yang tidak ternilai harganya. Ia ke pantai tempat dimana ia akan menuju ke Pulau Berhala. Pulau yang sudah memberikan kekayaan kepadanya.


    Kali ini, Podin membawa mobil. Tentu tujuannya nanti, Podin ingin membawa harta karun sebanyak-banyaknya. Podin ingin mengambil peti-peti harta karun, dan akan memenuhi mobilnya itu dengan selutuh harta karun yang ada di pulau itu.


    Podin pun menyetir mobilnya dengan melaju kencang, terus ke arah selatan. Menuju pantai tempat dimana nanti ia akan menyeberang ke pulau harta karun. Pulau tanpa penghuni, yang oleh masyarakat di sekitar situ menyebutnya sebagai Pulau Berhala. Ya, pulau yang ditakuti oleh orang-orang di sekitarnya, karena banyak kejadian-kejadian aneh yang menakutkan. Katanya, pulau itu adalah tempat bersemayamnya para berhala yang akan memangsa siapa saja yang mendekat atau memasuki pulau itu.


    Namun bagi Podin, yang sudah merasakan nikmatnya memperoleh harta kekayaan dari pulau itu, tidak pernah percaya dengan kata-kata orang kampung. Podin tidak pernah menggubris dengan apa yang disampaikan oleh masyarakat, kalau menurut orang-orang yang ada di sekitar pulau itu katanya banyak arwah gentayangan, banyak hantu-hantu yang tidak karuan, banyak berhala yang menghuni pulau itu. Tetapi bagi Podin, cerita-cerita yang dikatakan oleh masyarakat, omongan orang yang tidak tahu isi sebenarnya yang ada di dalam pulau tersebut, hanyalah cerita untuk menakut-nakuti saja. Mungkin ada orang yang sudah banyak mengambil harta karun dari tempat itu, agar tidak ada orang lain yang masuk ke pulau itu, maka ia mengarang cerita seram. Ia membuat karangan yang menakutkan. Tujuannya agar orang-orang tidak mendekat ke pulau itu. Bahkan ia juga memberikan nama Pulau Berhala agar terdengar menyeramkan.


    Podin lebih suka masyarakat di situ ketakutan. Karena baginya harta karun itu tidak ada yang berani mengambilnya. Makanya, kali ini ia sudah bersiap ingin membawa pulang harta karun sebanyak mungkin. Dan tentu, Podin pun datang ke tempat itu dengan membawa mobil yang diharapkan nanti mobil itu akan diisi penuh dengan harta-harta karun. Bahkan Podin juga sudah menyiapkan tali tambang besar, yang nantinya akan dia gunakan untuk mengikat peti-peti harta karun itu, untuk menggeret semua peti-peti harta karun yang ada di dalam istana di Pulau Berhala itu. Ya, Podin sudah berniat ingin menyeret semaksimal mungkin peti harta karun.


    Siang itu, Podin sudah sampai di tepi pantai. Ya, dia akan menuju ke Pulau Berhala. Biasanya kalau ia mau ke Pulau Berhala, pastinya harus menunggu datangnya orang yang membawa perahu, yang akan mengantarkan dirinya ke pulau itu. Tidak ada masyarakat sekitar yang berani membawa perahu mendekat ke Pulau Berhala. Semuanya takut dengan kutukan para berhala yang menghuni pulau itu. Biasanya, tukang perahu yang menjemputnya akan datang saat matahari mau tenggelam. Namun siang itu, saat Podin baru saja sampai di tepi pantai, tiba-tiba saja ada tukang perahu yang datang menghampiri Podin. Podin yang baru datang, sudah disambut oleh tukang perahu yang siap mengantarkannya menuju Pulau Berhala. Tentu Podin agak kaget, kenapa begitu cepat tukang perahu itu datang? Kenapa tidak sampai menunggu saat matahari mau tenggelam? Kenyataannya, perahu itu pun sudah mendekat ke arah Podin yang berdiri di tepi pantai.


    "Mau ke pulau, Pak ...?" tanya tukang perahu yang sama seperti tukang-tukang perahu sebelumnya, ia mengenakan baju jubah panjang sampai menutup kakinya, serta mengenakan caping kropak besar yang menutupi wajahnya.


    "Iya, betul ...." jawab Podin pada tukang perahu itu.


    Selanjutnya, ketika perahu itu sudah mendekat ke tempat berdirinya,  Podin pun langsung naik ke dalam perahu itu. Podin langsung masuk ke perahu yang sudah disiapkan oleh orang yang menjemputnya tersebut. Namun seperti biasa, hal aneh yang dilihat oleh Podin adalah bahwa laki-laki tukang perahu itu, yang mengenakan jubah panjang sampai bawah hingga ke lehernya, kemudian ia menutup kepalanya dengan caping keropanya yang lebar, nah kali ini, suasana yang masih dalam posisi siang, masih dalam keadaan terang, akhirnya Podin mencoba untuk mengamati, seperti apa wajah tukang perahu itu? Apakah memang orang itu menyembunyikan kepalanya agar tidak bisa dilihat orang lain? Apakah memang orang itu sengaja menutupi wajahnya karena malu mungkin ada cacat? Kenapa wajahnya tidak mau terlihat oleh orang lain, termasuk orang-orang yang datang ke pulau itu dan menggunakan jasa dari perahu yang dinaiki itu?


    Namun, alangkah kagetnya ketika Pudin menyaksikan apa yang dilihatnya. Ternyata, tukang perahu itu ternyata benar-benar tidak mempunyai kepala. Orang itu hanya memiliki tubuh dari kaki sampai dengan leher saja.


    Podin terperangah. Podin ketakutan. Tubuh Podin gemetar saking takutnya. Benarkah ini hantu? Benarkah ini berhala? Benarkah ini seperti yang diceritakan oleh orang-orang kampung yang pernah ketemu dengannya itu? Ingin rasanya Podin berlari meninggalkan orang itu. Namun apa boleh dikata, Podin sudah terlanjur masuk ke dalam perahu itu, dan Podin sudah terlanjur diantarkan menuju ke Pulau Berhala itu. Bahkan Podin sudah berada di tengah-tengah laut. Tentu Podin bingung. Untuk kembali ke daratan, ia sudah terlanjur sampai tengah. Untuk melanjutkan ke pulau, ada rasa takut yang menghantui dirinya.


    Ibarat kata, sudah terlanjur basah maka mesti dilanjutkan sekalian. Podin pasrah dengan apa yang nanti akan terjadi. Podin diam. Ia tidak mau memandangi orang yang menjalankan perahu itu lagi. Ia tidak mau melihat orang yang mendorong galah untuk menjalankan perahu itu. Ya, Podin menundukkan mukanya, menundukkan wajahnya karena takut melihat orang yang tidak mempunyai kepala tersebut.


    Akhirnya, Podin pun kembali tenang, saat perahu yang ditumpanginya itu sudah merapat ke tepi pulau. Lantas Podin berdiri dan melangkahkan kakinya di tanah, untuk memasuki pulau itu.


    Namun, baru beberapa saat kakinya melangkah, tiba-tiba Podin dikagetkan oleh benda bulat yang menggelinding ke depannya. Tentu Podin ketakutan, karena benda bulat sebesar buah kelapa itu adalah kepala manusia yang matanya terbelalak dan mulutnya meringis menakutkan.


    Podin ingin kembali ke perahu, ingin pulang, tidak mau melanjutkan perjalanannya ke tengah pulau. Namun saat ia menoleh ke arah perahu tadi berhenti, tukang perahu yang tadi mengantarkannya ternyata sudah menghilang. Tukang perahu tadi beserta dengan perahunya sudah tidak ada di tempat itu. Pupus sudah niatan Podin untuk kembali. Mau tidak mau, Podin tetap harus berada di Pulau Berhala, sampai datangnya tukang perahu. Maka Podin kembali akan melanjutkan perjalanannya menuju ke istana. Apalagi, wajah Maya kembali membayang di depannya, wanita cantik yang sudah menjadi istri keduanya, meminta dibelikan mobil. Podin harus bisa membawa harta karun untuk membelikan mobil buat Maya. Maka Podin pun terus melangkah melanjutkan tujuannya.


     Apa boleh dikata, Podin sudah kembali melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja terdengar suara memanggilnya, suara orang meminta tolong, yang seakan ia sangat mengenal suara itu.

__ADS_1


    "Pak .... Bapak .... Tolong, Pak .... Pak ..., tolong, Pak ...." suara itu menusuk telinga Podin. Ya, Podin sangat hafal dengan suara itu. Makanya, dia langsung menoleh ke kanan, ke kiri, bahkan menengok ke belakang mencari asal suara itu.


    "Pak .... Tolong, Pak ...." suara itu kembali terdengar.


    Dan setelah Podin melihat ke bawah, dekat dengan kakinya, ia sadar, ia tahu di bawah kakinya, ia hampir menginjak kepala manusia. Iya, kali ini Podin benar-benar melihat bahwa yang ada di dekat kakinya itu, yang hampir diinjaknya, adalah kepala manusia ya dia tidak pangling. Podin tidak lupa dengan wajah kepala itu. Yah, bahwa kepala yang ada di bawah kakinya itu adalah kepala Eko. Ya, itu kepalanya Eko, betul, itu benar-benar kepala yang wajahnya adalah wajah anaknya pertamanya. Wajah Eko, yang saat bersekolah ditabrak truk dan kepalanya hilang. Ternyata kini, Podin melihat kepala anaknya itu ada di Pulau Berhala.


    Podin langsung berjongkok. Podin langsung bersimpuh. Kedua tangan Podin langsung memegangi kepala itu.


    "Ya ampun, Eko .... Benarkah kamu ini Eko ...? Benarkah kamu ini anak saya ...? Benarkah kamu ini Eko anak saya yang kecelakaan tertabrak truk di depan sekolahan ...?" kata Podin sambil meratapi anaknya, memandangi kepala yang tanpa tubuh itu. Podin mengucurkan air mata, karena saking sedihnya menyaksikan nasib anaknya yang tragis tersebut.


    Kepala yang dipegang oleh Podin itu, benar-benar ia cermati, ia amati secara seksama. Memang apa yang dilihatnya itu benar-benar kepala anaknya yang tertabrak truk.


    "Iya, Pak .... Aku anakmu, Pak .... Tolong aku, Pak .... Eko tidak betah di sini, Pak .... Eko disiksa, ditendang-tendang orang, Pak .... Saya sering diinjak-injak, Pak .... Sakit, Pak .... Tolong Eko, Pak ...." kata-kata yang mengenaskan dari anaknya. Podin pun menangis meratapi kisah pilunya anaknya, meratapi saat Eko terlindas truk dan meninggal tanpa kepala, meratapi saat kepala anaknya tidak diketemukan, dan juga meratapi saat kubur anaknya dibongkar dan ternyata tubuh anaknya juga tidak ada dalam peti kuburnya itu. Bahkan kini ternyata kepala Eko memang benar-benar dibawa oleh truk setan itu, ke Pulau Berhala.


     Podin pun lemas seluruh tubuhnya. Ternyata bahwa kepala anaknya yang hilang saat kecelakaan itu sudah dijadikan tumbal untuk mengambil harta karun yang ada di Pulau Berhala. Ya, Eko, anak laki-laki pertamanya sudah diminta oleh penguasa Pulau Berhala, dijadikan tumbal untuk mendapatkan harta kekayaan.


    Lantas Podin mengambil kepala anaknya itu, yang berada di hadapannya. Podin melihat wajah Eko yang memelas, ia melihat di mata Eko yang mengeluarkan air mata darah, dan ia pun melihat wajah Eko yang benar-benar menyedihkan. Anaknya sudah disiksa, seakan selalu dicambuk, dilempar kian kemarin, bahkan mungkin ditentangi oleh setiap orang yang menginjaknya. Eko kini wajahnya sudah penuh dengan bilur, sudah penuh dengan luka, sudah penuh dengan lebam. Pasti terasa sangat sakit.


    Podin mulai ragu-ragu, akan melanjutkan perjalanannya ke tengah pulau itu untuk masuk kembali ke istana, ataukah berhenti dan kembali ke daratan untuk membawa kepala anaknya pulang. Namun lagi-lagi, keraguan Podin kembali tergoyahkan oleh wajah Maya, istri mudanya yang minta dibelikan mobil. Tentu Podin harus melanjutkan perjalanannya, untuk mencari harta karun yang ada di istana.


    Podin kembali melangkah untuk masuk ke dalam pulau itu. Podin akan kembali masuk ke dalam istana. Niat yang sudah menjadi tekad bulat, Podin akan mengambil harta karun yang tersimpan di istana, yang berada di tengah pulau itu. Podin ingin membawa pulang harta karun yang jumlahnya sangat banyak itu.


    Lantas, Podin pun melangkah tanpa menghiraukan sekitarnya, tanpa menghiraukan sekelilingnya, tanpa menghiraukan kanan dan kirinya. Matanya tertuju ke tengah pulau, melintas di jalan setapak yang memang kelihatan halus tersebut. Padahal kalau ia mau melirik, kalau ia menyaksikan, bahkan kalau telinganya mau mendengarkan, dari kanan kirinya banyak kata-kata yang terlontar dari kepala-kepala yang tertancap pada bambu-bambu, yang kemudian didirikan sebagai pagar penghias jalan itu. Mereka mengatakan pada berteriak mengingatkan Podin yang melangkah masuk ke tengah pulau itu.


    "Jangan .... Jangan .... Jangan ke tempat itu .... Jangan pergi ke istana itu .... Jangan masuk ke istana itu .... Kasihani keluargamu .... Kasihani anak-anakmu .... Kasiani istrimu .... Dia nanti yang akan menjadi korban .... Mereka nanti yang akan disiksa oleh algojo-algojo di Pulau Berhala ini .... Nanti keluargamu akan dijadikan tumbal kepada berhala yang ada di pulau ini. Pulanglah segera .... Larilah dari tempat ini .... Jangan masuk ke dalam pulau ini lagi ...." begitu suara-suara Itu yang terdengar dari segala penjuru. Tentunya itu sebagai peringatan bagi Podin maupun setiap orang yang akan masuk ke Pulau Berhala untuk mengambil harta karun yang ada di Istana Berhala itu.


    Ya, mestinya, kepala-kepala tanpa tubuh yang tertancap pada bambu-bambu, yang dijadikan pagar hiasan di sepanjang jalan menuju istana itu, adalah korban dari orang-orang biadab, korban dari orang-orang yang serakah, korban dari orang-orang yang selalu meminta harta karun dari berhala. Mereka itulah tumbal yang dikorbankan oleh orang-orang yang meminta kekayaan tanpa mau bekerja.


    Podin yang sudah nekat ingin mendapatkan harta karun itu, dia tidak menghiraukan lagi kata-kata yang diucapkan oleh kepala-kepala tanpa tubuh yang berjejer berbaris di kanan kiri jalan itu. Podin tidak ragu lagi melangkahkan kakinya menuju ke tengah pulau, menuju ke istana itu, untuk mengambil harta karunnya. Yang dipikirkan oleh Podin adalah bagaimana mendapatkan harta karun yang banyak. Ya pikiran Putin sudah tidak bisa lagi untuk menilai yang baik dan yang benar, yang buruk dan yang jahat. Yang ia tahu hanya satu, yaitu mendapatkan harta karun.


    Kaki Podin pun akhirnya melangkah hingga mencapai ke tengah pulau, tempat di mana Podin pernah menyaksikan adanya istana yang megah. Ya, istana tempat terdapatnya harta karun. Podin pun sampai di istana itu. Podin sampai di depan istana yang kalau malam hari istana itu bercahaya gemerlap. Cahayanya terang benderang.


    Namun, Podin kembali terkejut. Ternyata istana yang ia saksikan terlihat megah dan gemerlap di malam hari itu, istana yang terbangun dari emas permata itu, kini, di siang hari, ternyata istana itu hanyalah bangunan yang terbuat dari tumpukan tubuh manusia. Ya, itu tumpukan tubuh-tubuh tanpa kepala yang ditata seakan-akan tubuh-tubuh tanpa kepala itu dijadikan batu bata untuk membangun sebuah istana. Padahal itu semua hanyalah tumpukan mayat-mayat tanpa kepala.

__ADS_1


    Podin sangat kaget. Podin ketakutan. Tubuhnya gemetar. Namun lagi-lagi, niatnya untuk membelikan mobil buat Maya, istri mudanya yang sudah dianggapnya memberikan kasih sayang yang sangat berlebihan itu, Podin tetap melangkahkan kakinya. Podin mencoba menerobos masuk ke dalam lubang yang dianggapnya sebagai pintu, yang di kanan kirinya adalah tumpukan dari tubuh-tubuh manusia tanpa kepala. Dan saat Podin akan masuk, tangan-tangan yang ada di tubuh itu mulai melambai, mulai bergerak, mulai menghalang-halangi jalan. Seakan pintu itu dihadang oleh tangan-tangan yang bergerak-gerak, tangan-tangan yang seakan tidak membolehkan pintu itu dilewati orang. Tangan-tangan dari tubuh manusia tanpa kepala itu, seperti layaknya mayat hidup yang tidak berkepala.


    Sebenarnya saat melihat tubuh tanpa kepala itu, Podin ingat dengan anaknya yang tubuhnya saat dikubur hilang kepalanya. Dan saat kuburnya dibongkar, tubuh anaknya tidak ada dalam kuburan. Hilang dari peti mayat. Dan saat di depan tumpukan tubuh tanpa kepala itu, Podin melihat ada sesosok tubuh anak kecil yang mengenakan pakaian merah putih.


    "Si kecil yang memakai pakaian merah putih itu, pasti Eko." begitu kata Podin dalam hati kecilnya.


    Memang benar, bahwa tubuh kecil yang mengenakan pakaian merah putih itu adalah Eko, yang saat dikubur langsung diangkut oleh ponggawa-ponggawa istana untuk dibawa ke Pulau Berhala. Pantas ketika dibongkar,  peti mati yang digunakan untuk mengubur itu sudah kosong. Tubuh Eko menghilang dari peti mati. Rupanya tubuh anaknya itu sudah berpindah ke Pulau Berhala.


    Namun Podin mungkin beranggapan bahwa ini adalah perbuatan-perbuatan iblis yang mengganggu dirinya untuk menghalang-halanginya, agar tidak bisa mengambil harta karun yang ada di dalam istana itu. Podin memaksakan diri kembali untuk masuk ke dalam lubang yang sudah dihalang-halangi oleh tangan-tangan dari tubuh tanpa kepala yang tertumpuk di situ. Podin pun menerobos masuk, hingga dirinya terkena darah yang menetes dari tubuh yang terpotong kepalanya itu. Podin akhirnya masuk ke dalam ruangan itu.


    Podin sudah hafal dengan ruangan itu. Ia langsung melangkah ke tengah. Tentu akan mengambil peti-peti harta karun. Namun tiba-tiba, suara yang sudah biasa ditelinganya, kembali terdengar.


    "Huahahahaha ....!!! Hai manusia serakah ...! Sebelum mengambil peti itu, basuh tanganmu di tempat pencucian itu ...!" suara itu menyuruh Podin untuk mencuci tangannya terlebih dahulu.


    Seperti yang yang sudah pernah dilakukan, Podin akan mencuci tangan pada baskom yang berisi air dengan kembang. Ia pun bergegas untuk menuju tempat itu. Lantas tangan Podin dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air kembang tersebut. Dan alangkah kagetnya Podin, saat tangannya masuk ke dalam baskom berisi air dengan bunga-bunga itu. Tiba-tiba saja, dari baskom itu muncul kepala-kepala anak kecil. Kepala-kepala yang mencongol keluar dari air kembang itu adalah kepala anak-anaknya.


    "Bapak ..., ini saya, Pak .... Dewi, anak Bapak ...." kata anak perempuannya yang paling besar, yang muncul kepalanya di baskom itu.


    "Bapak ..., ini saya Asri, Pak .... Saya masih kecil, Pak ...." kata anak perempuannya yang ke dua, yang kepalanya berada di tengah.


    "Bapak ..... Antok mau diapakan, Pak ...?" kata anak laki-lakinya yang paling kecil, yang kepalanya juga nongol di baskom itu.


    Podin yang kaget saat menyaksikan kepala anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu, ia menjadi ragu-ragu. Podin melepas kembali tangannya dari baskom itu. Podin berpikir, jangan-jangan anak-anaknya yang berada dalam baskom itu, nanti akan bernasib sama seperti kakaknya. Mereka akan dijadikan tumbal di Pulau Berhala ini.


    Namun, mata hati Podin sudah dibutakan oleh kebutuhannya untuk membelikan mobil buat istri mudanya, Maya. Lantas Podin mengatakan kepada tiga kepala anak-anaknya yang ada di dalam baskom itu, "Saya tidak urusan dengan kamu ...! Saya ingin membelikan mobil untuk istri baru Bapak ...! Saya akan membelikan mobil Maya, yang sekarang menjadi istri yang menyayangi Bapak. Ibu kalian tidak sayang pada Bapak." kata Podin kepada tiga anaknya itu.


    Namun tiba-tiba, kepala itu pun menghilang. Plong rasa hati Podin. Lantas Podin yang sudah mencelupkan tangannya ke dalam baskom berisi air kembang itu, langsung bergegas menuju ke tempat peti-peti harta karun  itu. Lantas Ia pun mengeluarkan tali tambang, untuk mengikat beberapa peti harta karun itu. Dan secara cepat, Podin pun bisa mengikat tiga buah peti harta karun. Lantas Podin menyeretnya keluar dari istana berhala tersebut. Podin berhasil menyeret tiga buah peti harta karun keluar dari ruangan itu.


    Namun sayang. Peti yang dipilih oleh Podin adalah peti-peti harta karun yang sangat besar. Pasti sangat berat. Podin pun seakan keberatan menyeret tiga peti itu. Bahkan, saat ia melintas di pintu keluar, ternyata dari tumpukan tubuh-tubuh tanpa kepala itu, ada beberapa tubuh yang sengaja jatuh, untuk menghalang-halangi Podin membawa peti itu keluar. Bahkan beberapa tubuh justru berada di atas peti-peti harta karun itu. Tentu itu juga menambah beratnya barang yang diseretnya.


    Akhirnya, Podin harus mengurangi peti yang dia seret. Ia melepaskan satu peti. Kini tinggal dua peti yang ia seret. Agak terasa ringan. Podin bisa menyeret dengan cepat. Hingga ia pun mampu mencapai pantai Pulau Berhala.


    Dan di tempat ia turun tadi, sudah ada tukang perahu yang menunggunya.

__ADS_1


    "Maaf, Pak .... Peti itu tidak bisa masuk perahu ini .... Terlalu besar dan berat. Perahunya tidak muat." kata si tukang perahu itu.


    Podin melenggong. Ia kecewa. Sia-sia sudah berusaha membawa peti itu. Ternyata tukang perahu itu tidak bisa membawanya. Tentu Podin jengkel. Ia harus pulang dengan tangan hampa. Tanpa membawa harta karun.


__ADS_2