PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 30: RENCANA GILA


__ADS_3

    Usaha Podin memang tidak begitu lancar. Pemasukannya terlalu sedikit, sehingga sangat kurang untuk mwmbayar karyawan dan seluruh biaya operasional di tempat hiburannya. Ibarat pepatah seperti besar pasak daripada tiang. Ya, antara pendapatan dan pengeluaran tidak seimbang. Jika hal ini terus-terusan terjadi, pasti usahanya akan mengalami kebangkrutan.


    Apalagi Maya, istri mudanya yang selalu meminta uang uantuk berbagai macam urusan, yang katanya ingin membesarkan usaha itu, namun kenyataannya, sampai hari ini masih saja belum menunjukkan hasil. Katanya harus mendatangkan artis untuk acara promosi, tetapi ujung-ujungnya malah tombok, tanpa ada hasil yang signifikan.


    Podin yang sudah kehabisan akal dan pikirannya, akhirnya ia hanya bisa pasrah, mencari cara dengan jalan pintas. Ia tetap memaksakan diri untuk kembali datang ke Pulau Berhala, meski saat itu ia sudah melihat sendiri di Pulau Berhala itu, Podin menemukan kepala anaknya. Ia menemukan tubuh anaknya. Podin yang yakin jika kemungkinan anaknya yang paling besar itu, anaknya yang mati terlindas saat mau masuk sekolah, pasti sudah dijadikan untuk tumbal pengambilan harta kekayaan di Pulau Berhala.


    Ya, waktu itu memang Podin sudah mengambil banyak harta karun di dalam istana Pulau Berhala itu. Bahkan ia juga masih ingat saat mencelupkan tangannya di baskom yang berisi air kembang, tiba-tiba saja airnya berubah menjadi darah. Dan waktu itu, tangan Podin langsung belepotan darah. Dan saat ia pulang dari Pulau Berhala dengan membawa peti yang berisi harta karun, tiba-tiba saja, pagi itu, sesampai ia di rumah, langsung mendapatkan kabar kalau anaknya yang paling besar mengalami kecelakaan, tertabrak truk di depan sekolahannya. Dan kepala anaknya itu hilang tidak diketemukan. Podin sebenarnya sudah memperkirakan itu, kalau anaknya menjadi tumbal untuk mengambil harta benda itu.


    Demikian juga saat pembongkaran makam anaknya, yang ternyata peti mayatnya kosong. Tubuh anaknya tidak ada di dalam kuburan itu. Tubuh anaknya hilang begitu saja. Itu sebenarnya sudah menjadi pertanda bagi Podin.


    Apalagi saat kedatangannya yang ke tiga kalinya di Pulau Berhala itu. Podin menyaksikan sendiri, ia ditemui kepala anaknya yang merintih kesakitan dan meminta tolong kepadanya. Bahkan ia juga kejatuhan mayat tanpa kepala, yang mengenakan pakaian merah putih layaknya seragam anak SD. Podin tentunya memahami, bahwa itu adalah tubuh Eko, kepala Eko, anaknya yang sudah meninggal itu.


    Dan yang terakhir, saat ia akan kembali mengambil peti harta karun, saat Podin mencuci tangannya di baskom yang berisi air kembang, tiba-tiba saja muncul tiga kepala anak-anaknya yang masih kecil. Bagi Podin, sebenarnya ia juga sadar, pasti Istana Pulau Berhala akan kembali meminta tumbal anak-anaknya.


    Namun, laki-laki yang serakah ingin mendapatkan harta kekayaan tanpa mau bersusah payah itu, tidak mau sadar, bahwa di Istana Pulau Berhala itu adalah tempat perjanjiannya dengan para berhala, persekutuannya dengan iblis dan setan.


    Pagi itu, Podin terus melajukan mobilnya ke arah selatan. Tentunya menuju ke arah Laut Selatan, di mana tempat ia selalu berhenti untuk menunggu perahu kecil yang akan membawanya ke Pulau Berhala.


    Namun kali ini, Podin tidak menepi ke tempat yang biasanya ia berhenti. Podin membelokkan arah mobilnya. Ia menuju ke Pelabuhan tradisional Pantai Pamayangsari di daerah Cipatujah, yang merupakan tempat pelabuhan para nelayan dan objek wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Di mana di daerah tersebut banyak terdapat kapal-kapal nelayan yang lumayan besar. Tentunya, Podin ingin meminta bantuan untuk menyewa kapal nelayan yang besar, yang akan diajak mengantarkan dirinya menuju Pulau Berhala. Podin ingin mengangkut harta karun dengan menggunakan kapal nelayan yang besar itu. Sehingga kapal itu bisa mengangkut banyak peti-peti harta karun. Dan pasti, nanti kapal itu akan dibayar dengan sewa yang sangat besar.


    "Pak ..., saya bisa menyewa kapalnya ...?" tanya Podin kepada salah seorang nelayan yang ada di perairan Cipatujah tersebut.


    "Untuk apa, Pak ...?" tanya salah seorang nelayan yang ditemui oleh Podin.


    "Saya akan sewa untuk mengantar saya ke sebuah pulau." kata Podin yang tentu berharap agar nelayan itu mau mengantarkannya ke tempat Pulau Berhala.


    "Waduh ..., kalau saya nggak bisa, Pak .... Karena ini saya baru saja sampai dari melaut, mencari ikan. Saya mau istirahat dulu .... Coba saja pakai kapal-kapal wisata itu. Kapal-kapal itu disewakan untuk para turis. Biasanya mereka mau mengantarkan para turis untuk berkeliling mengarungi lautan ...." begitu kata nelayan itu yang tentu saja dia sudah kecapean karena semalaman dia mengarungi samudra mencari ikan bersama dengan teman-temannya.


    "Baik, Pak .... Kalau begitu saya akan coba bertanya kepada para pemilik kapal wisata itu ...." kata Podin yang tentu sudah senang karena ada persewaan kapal.


    Kemudian Podin melangkah menuju ke tempat bersandarnya kapal-kapal wisata yang banyak digunakan oleh para wisatawan untuk bersenang-senang mengelilingi lautan. Ya, tentu dengan kapal wisata itu, dia pun sudah jelas untuk membayar ongkosnya, karena memang kapal itu digunakan untuk berwisata, yang bisa di charter oleh siapa saja yang ingin menikmati keindahan laut selatan.


    "Pak, apakah saya boleh menyewa kapalnya ...?" begitu tanya Podin kepada salah seorang yang berada di pelabuhan wisata itu dengan kapal-kapal yang sudah disiapkan untuk disewa oleh para pengunjung.


    "Ke mana, Pak ...? tanya salah seorang yang berada di kapal itu.


    "Saya minta diantarkan ke pulau yang ada di seberang sana itu ...." kata Podin sambil menunjuk suatu pulau yang lumayan jauh tempatnya, tetapi dari tempat itu sedikit kelihatan rimbunan tanaman yang ada di pulau itu.


    "Waduh, Pak ..., itu Pulau Berhala .... Saya tidak berani mendekat, Pak .... Saya takut." begitu kata orang yang pertama kali ditemui oleh Podin.


    "Walah ..., kok takut itu loh .... Memangnya di sana ada apa? Cuman sekedar ke pulau itu saja ...." kata Podin kepada orang yang menyewakan kapal itu.


    "Pokoknya saya tidak berani, Pak .... Coba saja tanya kepada teman-teman saya yang lain itu, yang mungkin ada yang berani." kata si penyewa kapal wisata itu kepada Podin. Dan tentunya, tukang jasa penyewaan kapal itu pun tidak mau memandangi Podin lagi, karena menganggap Podin adalah orang aneh yang akan pergi ke Pulau Berhala. Orang itu justru takut melihat wajah Podin.


    Memang, bagi masyarakat daerah sekitar situ, mereka tahu bahwa Pulau Berhala itu adalah pulau yang selalu dihindari oleh para nelayan. Pulau yang selalu dihindari oleh para pengemudi kapal yang mengantarkan para wisatawan berkeliling lautan. Namun kali ini, setelah Podin itu datang ke tempat itu, dan tiba-tiba saja Podin ingin menyewa kapal dan minta diantar untuk mengunjungi Pulau Berhala yang sangat ditakuti oleh penduduk sekitar situ. Sudah barang tentu, para nelayan maupun pemilik kapal lainnya akan ketakutan mendengar kata Pulau Berhala tersebut.


    "Ya sudah kalau tidak berani .... Saya akan coba tanya sama tukang kapal yang lain." begitu kata Podin yang tentu jengkel dengan orang yang pertama kali ia temui tadi.


    "Apakah ada yang mau mengantarkan saya ke pulau itu?" kata Podin kepada orang-orang yang berada di kapal-kapal wisata untuk disewakan kepada para wisatawan itu.


    "Ke mana, Pak?" tanya salah seorang yang masih membersihkan perahunya itu.


    "Ke pulau itu. Saya mau bayar mahal." kata Podin sambil menunjukkan pulau yang kelihatan sangat jauh dari tempat objek wisata tersebut.


    "Teman-teman ..., siapa yang berani mengantarkan bapak ini menuju ke Pulau Berhala ...?" tanya orang itu kepada teman-temannya yang lain. Tentunya mereka ingin tahu kalau-kalau ada temannya yang berani mengantarkan laki-laki yang akan menyewa kapalnya.

__ADS_1


    "Ke mana ...?" tanya yang lainnya.


    "Bapak ini mau ke Pulau Berhala ...!" jawab temannya.


    "Hah ...?! Ke Pulau Berhala ...?! Terus ongkosnya berani bayar tinggi apa tidak ...?!" tanya teman-temannya yang lain. Tentu bagi para pemilik kapal sewaan yang penting adalah ongkosnya.


    "Dia mau bayar berapa?" tanya teman-teman yang lain.


    "Saya akan membayar, berapapun ongkosnya. Pokoknya jika ada yang mau mengantar saya ke pulau itu, akan saya bayar dengan harga sepuluh kali lipat." kata Podin yang tentu merasa jengkel dengan para pemilik kapal itu, dikiranya hanya akan membayar sedikit, seperti para wisatawan yang menyewa. Makanya, Podin langsung menantang akan membayar dengan harga mahal.


    Tentunya orang-orang yang bekerja di jasa penyewaan kapal itu pun justru menjadi penasaran, karena Podin mau membayar sangat mahal.


    "Saya mau .... Kalau bayarannya tinggi, baik Pak ... Oke, saya mau ...."


    "Saya juga mau ...."


    "Saya mau ...!"


    "Sama saya saja, Pak ...."


    Begitu kata orang-orang yang ada di sana, mereka berebut setelah tahu bahwa Podin akan membayar sewa kapal itu dengan harga yang mahal.


    "Boleh ..., boleh ..., boleh .... Mari silahkan .... Mau sama keluarga atau rombongan. Ini kapal bisa buat sekitar dua puluh orang. Cukup besar ...." begitu kata orang yang memang menawarkan jasa untuk berwisata air di laut selatan tersebut. Orang itu sudah memegang lengan Podin, untuk diajak masuk ke kapalnya.


    "Tidak ada rombongan. Saya tidak membawa rombongan. Saya hanya sendirian. Tetapi saya minta untuk diantarkan menuju ke pulau yang ada di seberang sana itu." kata Podin kepada pemilik kapal itu.


    "Wah ..., itu terlalu jauh .... Dan pulau itu jarang dilalui orang, jarang untuk dikunjungi, Pak." kata pemilik kapal itu yang tentunya dia beralasan.


    "Saya mau bayar mahal. Saya mau bayar berapapun Bapak minta. Yang penting Bapak mau mengantarkan saya. Nanti kalau memang berhasil sampai di pulau itu, bapak akan saya kasih bayarannya, berapapun yang Bapak minta. Saya akan membayarnya." begitu kata Podin kepada pemilik kapal yang sudah stand by di tempat wisata itu.


    "Tidak masalah .... Berapapun akan kami bayar." begitu kata Podin yang meyakinkan kepada laki-laki itu.


    Akhirnya, pemilik kapal itu pun setuju dengan apa yang dikehendaki oleh Podin.


    "Baiklah, Pak kalau begitu. Silahkan Bapak naik ke kapal ini. Agak ke depan, ya, Pak, biar imbang. Saya akan mengantarkan bapak menuju pulau itu." begitu yang disampaikan oleh pemilik kapal itu, yang tentunya ia langsung menghidupkan mesin perahunya, mesin tempel yang ada di belakang kapal tersebut. Orang itu pun sudah menyiapkan kapalnya untuk mengantarkan Podin menuju ke tempat pulau yang ia minta, yaitu Pulau Berhala.


    "Hati-hati, Ndan ...!" teriak temannya.


    "Ya .... Tentu ...."


    "Pelan-pelan saja ...!"


    "Siap ...!"


    Akhirnya, kapal itu pun mulai berjalan perlahan meninggalkan Pelabuhan Wisata di Cipatujah. Perlahan dan terus kapal itu melaju ke tengah laut. Dan tentu Podin akhirnya menjadi senang, karena dia akan berhasil membawa harta karun yang sudah ia harap-harapkan. Tentunya, dia pun akan mengejek tukang perahu yang selalu mengantar dan menjemputnya itu, yang dia tahu bahwa tukang perahu itu hanyalah berupa tubuh manusia saja tanpa punya kepala. Tukang perahu dengan perahu kecil yang hanya dijalankan dengan galah, yang diyakini oleh Podin bahwa tukang perahu itu adalah bagian dari berhala-berhala yang ada di pulau itu.


    Namun bagi Podin, ia tidak urusan dengan demit, tidak urusan dengan setan, tidak urusan dengan iblis, tidak urusan dengan hantu yang gentayangan, tidak urusan dengan anaknya yang hanya terlihat kepalanya saja, atau bahkan dengan tubuh-tubuh yang tertumpuk tanpa kepala. Yang penting bagi Podin adalah keinginannya untuk mengambil harta benda, harta karun yang ada di pulau itu.


    Kapal dengan motor tempel itu terus melaju ke tengah. Podin yang berada di depan, seakan memberi petunjuk kepada pemilik kapal itu, yang ada di belakang yang tentu dia memegangi mesin motornya yang ditempel di belakang perahu, untuk menjalankan perahu itu. Dia menyetir perahu itu menuju ke arah pulau yang ditunjukkan oleh Podin.


    Memang, sejak pertama kali Podin menuju ke pulau itu, sejak pertama kali Podin memasuki pulau itu, tidak ada perahu sama sekali yang melintas di sekitar pulau itu. Bahkan penduduk-penduduk yang ada di pulau itu pun tidak berani untuk datang ke pulau tersebut, yang tentunya mereka ketakutan, mereka tidak berani mendekat. Mereka tentunya ketakutan mendengarkan cerita-cerita mistis tentang Pulau Berhala itu. Tentu mereka pun sudah tidak berani lagi untuk mendekat ke pulau tersebut. Makanya, warga masyarakat di sekitar pulau itu tidak mau bersinggungan, bahkan hanya membicarakannya saja sudah ketakutan.


    Memang, di sekitar pulau itu sangat sepi. Tidak ada perahu-perahu yang mendekat. Ttidak ada kapal yang berani melintas. Bahkan tidak ada orang yang berani datang ke Pulau Berhala tersebut.


    Namun bagi Podin yang pikirannya sudah tidak bisa dipakai untuk menalar lagi, yang pikirannya hanya menghendaki dapat harta karun yang ada di pulau itu, yang pikirannya sudah menghiraukan cerita-cerita mistik tengang Pulau Berhala tersebut, tentu Podin justru bersemangat untuk bersiap menuju pulau yang sudah memberikan dua peti harta karun kepadanya itu. Kali ini, tentunya Podin ingin membawa pulang lagi peti-peti harta karun yang jumlahnya sangat banyak yang ada di tengah istana Pulau Berhala tersebut.

__ADS_1


    "Masih lama tidak, Pak?" tanya Podin kepada orang yang menjalankan kapal itu.


    "Masih lumayan jauh, Pak .... Ini paling tidak sekitar setengah jam lagi, Pak ...." kata tukang kapal itu, yang terus menjalankan kapalnya.


    Memang, Pulau Berhala itu tempatnya kalau dari tempat objek wisata Pantai Cipatujah, memang sangat jauh. Setidaknya akan memakan waktu lebih dari satu jam untuk mencapainya dengan menggunakan kapal motor. Kalau hanya menggunakan perahu yang memakai dayung, bisa seharian sampai di tempat itu. Makanya, para nelayan pun tidak mau ke tempat itu. Apalagi kalau mendengar cerita mistik yang menakutkan, pasti para pemilik kapal tidak bakalan mau melintas di tempat itu. Cari bahaya.


    "Bapak pernah ke pulau itu?" tanya Podin pada tukang kapal itu.


    "Belum pernah, Pak .... Tidak ada nelayan yang berani ke tempat itu. Tidak ada orang yang berani datang ke pulau itu. Semuanya pada takut. Tidak ada yang mau melintas di daerah sekitar pulau itu. Bahkan, saya sendiri tadi sebenarnya juga takut, Pak. Untuk mengantarkan Bapak ke tempat itu, kami ragu-ragu .... Tetapi terus terang, karena saya tertarik dengan uang yang akan Bapak bayarkan kepada saya, maka saya pun bersedia, demi mendapatkan uang sewa yang jumlahnya cukup besar." kata tukang kapal itu pada Podin.


    "Memang kenapa tidak ada nelayan yang berani ke tempat itu? Padahal airnya tenang, tidak ada gelombang besar yang menghampiri di perairan pulau itu?" tanya Podin kepada tukang kapal itu.


    "Tenang itu hanya kelihatannya, Pak .... Beberapa saat saja, nanti kalau sudah musim penghujan, kalau sudah musim badai, gelombangnya sangat besar, bahkan pulau itu seakan-akan tenggelam ditelan oleh gelombang besar yang datang dari Laut Selatan." kata tukang kapal itu kepada Podin yang tentunya memberi gambaran tentang laut yang ia lintasi.


    "Tapi apakah memang tidak ada orang yang berani datang ke situ? tanya Podin yang pura-pura belum tahu dengan keadaan Pulau Berhala tersebut.


    "Wah, Pak .... Namanya saja Pulau Berhala .... Berarti di situ itu banyak berhalanya, banyak setannya, banyak hantunya, Pak .... Tidak ada orang yang berani ke sana, Pak ...." kata  tukang kapal itu.


    "Oo, seperti itu ...." sahut Podin yang seakan baru tahu.


    "Saya heran, kenapa Bapak menyuruh saya untuk mengantarkan, datang ke sana? Ada apa? Bapak mau apa? Kenapa Bapak mau ke PUlau Berhala? Apa Bapak tidak takut? Apa Bapak belum pernah mendengar cerita tentang angkernya Pulau Berhala itu? tanya si tukang kapal itu kepada Podin, yang tentu dia juga penasaran karena ada orang yang berani menyewa kapal dengan harga tinggi, hanya untuk mendatangi Pulau Berhala tersebut.


    "Ya ..., saya kan penasaran, saya itu hanya ingin tahu sebenarnya di Pulau itu ada apa? Kenapa orang-orang pada takut datang ke pulau itu? Kenapa orang-orang tidak berani masuk ke pulau itu?" begitu jawab Podin yang berpura-pura tidak tahu apa yang terdapat di dalamnya. Padahal kalau ia mau jujur, sebenarnya Podin juga takut. Sebenarnya Podin juga khawatir, karena di dalam pulau itu memang benar-benar banyak berhala, banyak iblis, banyak setan, banyak kejadian-kejadian aneh yang tentunya ia sendiri merasa miris untuk melihatnya. Bahkan Podin juga sudah menyaksikan sendiri, di tempat itu banyak tubuh tanpa kepala, dan banyak kepala manusia yang bergeelindingan tanpa tubuh.


    "Wah ..., bapak ini apa seorang peneliti, ya? tanya tukang kapal itu kepada Podin yang seakan-akan penasaran dengan pekerjaan Podin.


    "Hahaha .... Ya, seperti itulah. Pekerjaan orang itu macam-macam. Ada yang ingin tahu ini, ada yang ingin tahu itu, yang tentunya saya juga penasaran, ada apa sebenarnya di dalam pulau yang menyeramkan itu? Ada apa sebenarnya di dalam pulau yang ditakuti oleh masyarakat, sehingga masyarakat tidak mau mendekat ke pulau itu?" begitu kata Podin kepada pemilik kapal itu, yang tentu bagi Podin ini adalah kata-kata yang bisa memberikan alasan kenapa datang ke pulau itu.


    "Wah .... Bapak ini hebat. Bapak itu pemberani .... Bapak itu orang yang sangat-sangat keren. Saya salut dengan Bapak. Wah ..., pekerjaan bapak ini memang sangat berbahaya, pekerjaan bapak ini membutuhkan keberanian yang tinggi, pekerjaan bapak ini benar-benar luar biasa. Wah .... Ini kalau boleh saya tahu, Bapak itu Profesor sejarah atau Profesor purbakala?" tanya tukang kapal itu yang seakan-akan ingin tahu tentang jabatan Podin. Bahkan ia pun sudah mengira kalau Podin ini pastilah seorang Profesor dari perguruan tinggi yang akan mengadakan penelitian di sebuah pulau terpencil yang tidak dihuni oleh manusia sama sekali. Bahkan tidak ada orang yang berani mendekat ke pulau itu.


    "Ya ..., seperti itulah .... Pokoknya saya itu hanya ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pulau itu, saya ingin menyibak, mencari tahu, kenapa masyarakat di sekitar Pulau Berhala takut masuk ke pulau itu." begitu jawab Podin yang tentunya memberi kata-kata seakan-akan Podin ini memang seorang ahli, seorang Profesor, seorang yang ditugaskan oleh perguruan tingginya di dalam menjalankan misi untuk meneliti Pulau Berhala itu.


    "Terus terang, Pak .... Saya kagum dengan Bapak yang ingin mencoba untuk melihat isi dari pulau itu. Saya berharap nanti bapak akan tahu apa yang sebenarnya terdapat di dalam Pulau Berhala itu. Sehingga kami bisa bicara yang sebenarnya, tidak hanya ditakut-takuti oleh cerita-serita mistis saja." begitu kata si tukang kapal itu yang tentunya juga ingin tahu apa sebenarnya isi di dalam Pulau Berhala tersebut.


    "Apa kamu nanti mau ikut masuk ke dalam pulau itu?" tanya Podin kepada tukang kapal itu.


    "Wah, Pak .... Kalau saya tidak berani, Pak .... Mending Bapak saja yang masuk ke pulau itu. Saya menunggu saja di tepiannya, Pak .... Saya takut, Pak .... Terus terang saya tidak berani untuk menginjakkan kaki di pulau itu. Bahkan ini saja sebenarnya saya juga khawatir, Pak .... Saya takut melintas di perairan untuk mendekati Pulau Berhala tersebut." begitu kata tukang kapal itu yang sebenarnya dia juga was-was, dia juga khawatir, dan dia tentunya juga takut untuk mendatangi pulau yang oleh masyarakat dilarang untuk mendekatinya itu.


    Kapal itu pun terus melaju menuju ke Pulau Berhala. Tentunya Pudin merasa senang. Podin merasa gembira. Dalam angan-angannya, Podin nanti akan membawa banyak peti-peti harta karun yang akan ia ambil dari istana Pulau Berhala. Dan tentunya kapal yang besar itu, nantinya akan mampu memuat banyak peti harta karun. Bahkan Podin pun sudah bisa memperkirakan, berapa banyak peti yang akan ia seret. Apalagi ketika dia ingat, bahwa dulu, dia juga sudah menyeret dua peti yang ia tinggalkan di tepi pantai pulau itu. Tentu, nanti peti-peti itu akan langsung dia angkat kembali, dan langsung ia masukkan ke dalam kapal. Apalagi melihat tukang kapal itu bertubuh gemuk, pasti sangat kuat untuk membantu mengangkat peti-peti yang nanti akan diseretnya.


    Namun saat kapal itu sudah mendekat ke Pulau Berhala, tiba-tiba tukang perahu itu merasakan ada keanehan di kapalnya. Ia merasakan ada sesuatu yang menahan laju kapalnya. Bahkan ia juga merasakan ada yang menyeret kapal itu. Dan sesaat kemudian, mesin motor yang ditempelkan pada bagian belakang kapal miliknya itu tiba-tiba saja mati. Mesinnya tidak bisa dijalankan. Mesinnya tidak mengeluarkan suara. Mesin itu benar-benar tidak bisa digunakan untuk menjalankan kapalnya. Akibatnya kapal itu pun berhenti di tengah lautan.


    "Waduh ..., Pak, mesin kapalnya mati." begitu kata si tukang kapal itu kepada penyewanya.


    "Loh, kok bisa? Mungkin bensinnya habis? Tadi tidak kamu lihat bensinnya?" begitu sahut Podin yang tentu agak sedikit kecewa, karena kapal itu berhenti di tengah-tengah lautan.


    Lantas si tukang kapal itu pun mengecek, melihat keadaan mesin kapalnya. Tentu melihat bahan bakarnya.


    "Tidak, Pak .... Bensinnya masih penuh .... Ini tadi baru saya isi." jawab si tukang kapal itu.


    Namun tiba-tiba, dari pinggir-pinggir kapal itu, muncul tangan-tangan manusia, yang memegangi pinggiran kapal itu. Tidak hanya satu, tetapi ada puluhan tangan yang tidak terlihat badannya. Hanya tangan-tangan yang keluar dari dalam air, dan menjulur menempel di badan kapal itu. Tentu peristiwa itu menakutkan si tukang kapal. Termasuk juga Podin.


    "Pak ...!! Pak ...!!! Lihat, Pak ...!!! Ada tangan-tangan memegangi kapal kita, Pak ...!! Saya takut, Pak ...!!" begitu kata si tukang kapal yang sangat ketakutan. Tkang kapal itu benar-benar mulai ketakutan. Akankah ini menjadi petaka bagi dirinya yang berani melanggar aturan masyarakat di situ? Akankah ini akan menjadi hukuman bagi dirinya yang berani mendekat ke Pulau Berhala itu?


    Tidak berselang lama, tangan-tangan yang sudah memegangi kapal itu, tiba-tiba mengangkat badan kapal dari dalam air. Lantas, kapal itu seakan dilemparkan oleh puluhan tangan yang mengangkatnya, hingga kapal itu melayang, seperti terbang di udara dan jatuh ke tengah Pulau Berhala.

__ADS_1


__ADS_2