
Podin tidak menggubris dengan kata-kata yang diucapkan oleh bocah perempuan cilik itu, kata-kata yang seakan mengancamnya itu, kata-kata yang seolah-olah keluar dengan suara besar menggelegar, seperti halnya kata-kata dari penguasa Pulau Berhala. Sesuatu yang sangat aneh, sesuatu yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh bocah itu, sesuatu yang sulit untuk dipercayainya.
Dan kini, Podin ingin kembali mendapatkan uang yang banyak. Podin ingin mendapatkan uang dari tuyul yang dia pelihara. Podin ingin dicarikan uang dari makhluk gaib yang ada di dalam peti keramatnya itu. Ya, Podin yang sudah penasaran dengan peti yang ia bawa dari Karawang itu, peti yang sempat dibuang oleh istrinya, Rina, dan yang harus dibayar kembali oleh Podin, kepada tukang sampah yang membersihkan tempat penampungan sementara di pasar. Berkali-kali Podin mencoba untuk meminta makhluk gaib yang ada di dalam peti itu, berkali-kali Podin menyutuh bocah perempuan kecil yang keluar dari dalam peti itu, namun berkali-kali juga ia gagal. Berkali-kali Podin meminta anak itu untuk pergi mencari duit, namun kenyataannya, anak itu juga tidak mau melayang mencari uang. Bahkan anak itu tetap saja menakut-nakuti Podin. Bahkan yang terakhir kalinya, bukan suara bocah perempuan kecil yang keluar dari anak itu, tetapi justru suara besar menggelegar yang menakut-nakuti Podin.
Maka kini Podin menghentikan rasa penasarannya pada peti itu. Kini Podin mulai kembali untuk mengusap dan mengelus kepada peti yang dijadikan tempat tinggal bayinya, arwah dari bayi yang dilahirkan oleh istrinya, yaitu Maya, yang kemudian harus ia sembelih, harus ia korbankan, harus ia persembahkan untuk penguasa istana Pulau Berhala.
Tentunya, sudah berkali-kali Podin mendapatkan uang yang berlimpah dari makhluk kecil yang oleh Bang Kohar disebut sebagai tuyul itu. Ya, makhluk kecil dari bayinya sendiri. Makhluk kecil yang telanjang tanpa pakaian dan berkepala gundul itu, sudah berkali-kali mengirimkan uang kepada Podin. Tuyul yang mencarikan uang untuk Podin, dan memberikan uang berlembar-lembar hingga memenuhi dua peti keramatnya itu. Peti yang pernah dibeli oleh Bang Kohar, peti yang pernah dijual oleh istrinya, Lesti, dan peti yang pernah dicuri kembali oleh Podin, walaupun kemudian Podin mengaku dan mengganti membayar kepada Bang Kohar. Tetapi itu semua dilakukan karena Podin tertarik dengan apa yang dilakukan oleh bocah kecil itu. Podin tertarik dengan apa yang sudah dipraktekkan oleh Bang Kohar. Podin tertarik dengan tuyul yang bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang banyak, hanya dalam waktu sekejap saja.
Ya, Podin sudah kaya dengan cara mencari uang seperti itu. Podin sudah diberi uang sangat banyak oleh bocah gundul itu. Tentunya, setelah beberapa kali mencoba menggunakan peti barunya, peti yang dihuni oleh bocah perempuan itu, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Makanya, kini Podin harus kembali memanfaatkan peti lamanya. Menggunakan kembali peti yang dihuni oleh bayinya sendiri. Podin ingin kembali memperoleh uang yang banyak dan bertumpuk. Podin rindu melihat lembaran-lembaran uang yang masuk di dalam petinya. Podin rindu dengan tumpukan uang yang memenuhi peti-petinya.
Maka malam itu, Podin pun memulai ritual untuk memanggil tuyul. Ya, arwah bayinya sendiri yang menghuni di peti harta karun yang dibawanya dari Pulau Berhala, peti harta karun yang menjadi tempat untuk menampung kucuran darah bayinya yang ia sembelih. Podin kembali melakukan ritual untuk menyuruh tuyul bayinya itu, agar keluar dan mencarikan uang untuk dirinya.
Seperti malam-malam sebelumnya, Podin pun memulai acara ritual. Sejak matahari terbenam, Podin sudah mulai mengelus-elus peti keramatnya itu. Podin sudah mulai mengusap dua peti itu dengan kain kafan yang sudah diolesi minyak nyong-nyong. Bahkan Podin juga sudah menyiapkan bungkusan bunga sesaji serta kemenyan. Ya, tentunya Podin sudah mendamba, nanti di tengah malam, makhluk kecil gundul yang menghuni petu itu, akan memberikan uang yang sebanyak-banyaknya.
Malam pun terus merambat. Hingga akhirnya, tengah malam pun tiba. Podin bersila di tengah ruangan villanya. Podin langsung melakukan ritual. Podin mulai kegiatan transendental, ada kegiatan mistis dalam rangka menjalin hubungan dengan makhluk gaib, makhluk yang didamba akan memberikan uang, makhluk yang dipuja akan memberikan kekayaan. Ya, Podin melakukan kegiatan sakralnya, di tengah malam yang sepi dan sunyi. Podin akan memanggil tuyul, mengeluarkannya dari dalam peti, dan meminta tuyul itu untuk mencarikan uang sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Podin sudah membuka bungkusan bunga sesaji. Podin sudah mulai membakar kemenyan. Mulut Podin mulai komat-kamit membaca mantra gaibnya. Podin mulai menunggu kemunculan bocah cilik yang gundul tanpa pakaian itu keluar dari dalam petinya. Harum bau kemenyan pun sudah menyelubungi seluruh ruangan. Dan Podin terus menatap dua buah peti yang ada di hadapannya.
Sebentar kemudian, perlahan-lahan tutup peti itu mulai bergerak. Lantas tutup peti itu mulai terlihat membuka. Tentu mata Podin tidak mau terlepas. Ia terus mengamati tutup peti yang bergerak perlahan itu.
Hingga akhirnya, tutup peti itu pun terbuka secara penuh. Namun Podin kaget dan bingung, karena bocah bayi gundul yang diharapkan keluar dari peti itu, ternyata tidak berdiri di atas peti, meski tutupnya sudah terbuka penuh. Ya, mata Podin membelalak, mencari tuyul yang akan diperintahnya untuk mengumpulkan uang itu. Bahkan Podin juga harus menaikkan lehernya, menengok ke dalam peti itu. Pastinya, Podin ingin tahu, di mana si tuyul itu berada? Dan mengapa tuyul itu tidak mau keluar menampakkan dirinya?
Podin pun bergegas mendongakkan kepalanya. Lantas menengok peti itu, yang ternyata si tuyul bocah kecil yang gundul itu masih melungker di dalam peti itu, masih seperti bayi yang sedang tidur, masih seperti layaknya bayi yang ada dalam kandungan sedang tidur nyenyak. Tentunya Podin kaget. Tentunya Podin keheranan. Tetapi ia juga jengkel, karena sudah menghabiskan kemenyan satu gelondong dibakar untuk memberi bau harum dan wangi agar aromanya bisa memanggil bocah itu, agar bayi bangun dan bangkit untuk mencari uang. Tetapi kenyataannya, bayi gundul itu masih melungker di dalam petinya. Bayi gundul itu tidak mau keluar dari peti tempat tinggalnya.
Maka Podin pun langsung mengambil peti itu. Ia langsung menggoyang-goyang peti itu, seakan dia ingin membangunkan bocah gundul yang sedang melungker tidur nyenyak di dalam peti itu. Berkali-kali tangan Podin yang memegang peti yang ada makhluk kecil gundul, bocah bayi yang melungker di dalamnya itu. Podin goyang-goyangkan peti itu, bahkan ia tepuk-tepuk petinya. Tetapi bocah kecil gundul itu tetap saja tidak terbangun, bocah gundul itu tetap saja melungker di dalam peti itu.
"Bangun ...! Hei ..., bangun ...!! Bangun ...!!" teriak Podin yang tentunya menyuruh bangun si bocah gundul itu, sambil tangannya sudah menepuk-tepuk pantat si bocah gundul itu. Bahkan Podin sudah mencoba mengangkat tubuh bocah itu, untuk membangunkan. Namun rupanya bocah itu memang sedang malas untuk bangun. Rupanya si kecil gundul itu sedang tidak mau diganggu tidurnya. Bocah gundul itu hanya menggeliat sebentar, lantas bocah itu kembali melungker dan tidur lagi
Podin kembali mencoba membangunkan bocah itu. Podin kembali mencoba untuk mengangkat tubuh bocah itu. Namun seakan bocah itu terlihat seperti lemas, seperti lunglai, seperti tak berdaya. Ya, saat dilepas oleh Podin, tubuh bocah gundul itu kembali melungker di dalam petinya, kembali tidur tanpa bergerak, tanpa mau bangun kembali.
"Bangun ...!!" Podin kembali membentak bocah itu. Kali ini bentakannya lebih keras.
__ADS_1
Namun, bocah kecil yang gundul itu, hanya membuka matanya sebentar, melirik ke arah Podin, lantas melungker lagi dan menutup matanya kembali. Bayi itu kembali tidur.
Podin merasa dipermainkan oleh bayi kecil itu. Tentunya Podin menjadi jengkel dan emosi. Lantas tangannya pun tiba-tiba mengangkat peti yang di dalamnya terdapat bayi kecil gundul yang sedang tidur itu, lantas peti itu ia balik, ia jungkirkan, dan tentu bayi kecil yang ada di dalam peti itu pun langsung jatuh ke lantai.
"Wadaouw .......!!" Podin menjerit kesakitan.
Bocah gundul yang terjatuh dari dalam peti itu, karena petinya dijungkirkan oleh Podin, secara kebetulan jatuhnya berada di kaki Podin. Tentunya bocah itu juga bisa jengkel. Maka saat ia jatuh dan mengenai kaki Podin tersebut, bocah itu langsung menggigit sekuat-kuatnya jempol kaki Podin. Tentu Podin kesakitan.
"Tuyul kurang ajar ...!! Disuruh mencari uang malah tidur melulu .... Disuruh keluar, malah menggigit orang ...!! Dasar bocah pemalas ...!!" bentak Podin pada tuyul itu, yang tentunya jengkel karena jempol kakinya sudah digigit.
Tentunya, Podin yang kaget karena digigit jempolnya itu, ia langsung melepaskan peti yang dipegangnya. Dan peti itu langsung terjatuh. Dan saat peti itu terjatuh, bocah kecil gundul itu pun langsung kembali masuk ke dalam petinya. Dan pentu peti itu juga langsung menutup rapat.
Podin berusaha membuka tutup peti itu. Namun, setelah sudah dibuka tutupnya, peti itu kosong. Tidak ada apa-apanya. Tidak ada isi uangnya. Bahkan bocah bayi gundul itu juga sudah tidak ada lagi.
Tentu Podin sangat kecewa. Berhari-hari ia meminta makhluk yang dipelihara untuk mencarikan uang, namun kenyataan, tuyul-tuyulnya tidak mau mengambil uang. Tuyul kecil itu juga ikut-ikutan mogok kerja, tidak mau pergi mencari uang, malah hanya tiduran saja di dalam peti.
__ADS_1
Berhari-hari Podin gagal. Berkali-kali ia tidak mendapatkan hasil apa-apa. Bermalam-malam ia ritual, tetapi tidak ada hasilnya sama sekali.