PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 110: SELALU KOSONG


__ADS_3

    "Cik Melan ..., kalau misalnya saya mau sewa tempat tinggal, kira kira di mana, ya?" tanya Podin pada karyawan keuangan itu, pastinya Podin ingin mencari tempat tinggal untuk bisa nyaman dan tenang.


    "Loh, kan di sini sudah enak, Pak Podin .... Di sini, Bapak berada di ruangan sendiri, tidak ada yang mengganggu, bahkan karyawan pun kalau tidak dipanggil oleh Bapak, juga tidak ada yang berani masuk ke ruangan Bapak. Dan tentunya di situ, Bapak juga bisa istirahat dengan tenang. Dan bahkan untuk makan pun, saya sudah meminta karyawan lain untuk menyediakan makan buat Bapak, walaupun itu hanya makanan sederhana." kata perempuan muda yang menjadi karyawan bagian keuangan Podin itu, kepada Podin.


    "Iya, betul, Cik .... Tetapi saya tidak enak tinggal di sini terus .... Saya juga kurang nyaman kalau dilihat para karyawan yang lain .... Kalau seperti ini, seakan-akan kerja saya cuman tidur melulu .... Kalau misalnya berada di tempat lain, berada di rumah sendiri, di kamar sendiri, itu kan saya tidak merasa malu dilihat oleh para karyawan. Dan tentu saya juga tidak memberi contoh jelek, kalau misalnya saya sering dilihat oleh para karyawan masih tidur dan tidak bangun-bangun seperti itu." kata Podin kepada karyawan yang menjadi kepercayaannya itu.


    "Bapak beli rumah sendiri .... Lebih nyaman dan tenang, Pak Podin ...." kata perempuan muda itu yang tentu memberi saran kepada Podin untuk beli rumah. Setidaknya seperti waktu tinggal bersama Maya.


    "Harganya terlalu mahal, Cik .... Sayang uangnya dihambur-hamburkan." jawab Podin beralasan.


    "Kalau begitu, mendingan Bapak kontrak rumah saja." sahut perempuan muda yang cantik itu.


    "Kontrak rumah juga terlalu besar .... Susah ngurusnya. Kalau tidak ada yang ngrawat, pasti kotor semua. Tapi kalau harus cari tukang bersih-bersih untuk ngurusi rumah, itu juga butuh uang lagi untuk bayar tenaganya." kata Podin yang masih saja kurang setuju.


    "Kalau begitu, mending kost saja, Pak Podin .... Tempatnya tidak terlalu besar dan pasti lingkungannya juga dibersihkan oleh yang punya kost." kata perempuan muda itu memberi alternatif.


    "Iya .... Sebenarnya memang enak kost .... Tetapi kalau di tempat kost yang biasa itu, saya kira masih terlalu ramai. Apalagi bercampur dengan karyawan pabrik, pasti banyak ngobrolnya." kata Podin lagi, yang tentunya kalau tinggal di tempat kost, pasti suasananya ramai, dan tentu Podin tidak bisa konsentrasi untuk melakukan ritual.


    "Kalau begitu, Pak Podin mendingan tinggal di apartemen saja ...." kata perempuan muda itu kepada Podin. Ia memberi masukan agar Podin tinggal di apartemen.


    "Apartemen ...?! Macam apa itu?" tanya Podin.


    "Itu rumah tinggal, Pak Podin .... Tapi bentuknya seperti hotel, pakai kamar-kamar begitu." jawab perempuan muda yang lebih paham tentang apartemen tersebut. Maklum, Podin memang asalnya dari desa, sehingga tidak begitu paham tentang apartemen.


    "Apakah kira-kira sewa apartemen itu mudah? Bagaimana caranya?" tanya Podin kepada Cik Melan.

__ADS_1


    "Mestinya gampang, Pak Podin .... Kalau di apartemen itu masih ada kamar yang kosong, masih ada ruangan yang tidak berpenghuni, ada kamar yang belum laku atau mungkin juga dijual oleh pemiliknya, Pak ..., itu gampang. Karena apartemen itu kan ibaratnya rumah milik kita sendiri, hanya bentuknya kamar-kamar seperti hotel. Mirip dengan rumah susun itum Pak Podin .... Tapi di sana nyaman, Pak. Tentu sudah ada tenaga kebersihan, sudah ada yang menata, dan bahkan kalau bapak tinggal di apartemen itu, ya rasanya seperti tinggal di hotel, walau itu mestinya di rumah pribadi. Tapi hanya satu kamar. Yah, seperti hotel begitu, Pak Podin. Tidak ada yang mengganggu, tenang dan sepi." begitu jelas Cik Melan tentang apartemen.


    "Oh ..., seperti itu, ya .... Jadi kalau misalnya saya mau sewa apartemen, bisa ya?" tanya Podin kepada karyawan keuangan itu.


    "Bisa, Pak .... Tidak masalah .... Nah, kalau memang Pak Podin mau beli atau sewa apartemen, malah ini kan di tempat dekat dengan usaha kita, ada apartemen. Coba nanti biar ditanyakan sama Bang John, siapa tahu di situ masih ada kamar apartemen yang kosong, yang bisa disewa oleh Pak Podin. Tapi maaf, Pak Podin, untuk saat ini perusahaan belum bisa mengcover biaya apartemen Bapak." kata perempuan itu lagi, yang tentu perusahaannya belum sanggup untuk membiayai.


    "Tidak apa-apa, Cik .... Nanti saya yang bayar sendiri. Itu urusan pribadi saya, bukan urusan kantor. Jadi soal sewa apartemen itu menjadi tanggung jawab saya." kata Podin kepada karyawan bagian keuangan tersebut, yang tentu mungkin juga tidak ingin membebani perusahaannya, dan tentunya Podin punya angan-angan lain, punya harapan lain, yaitu akan memperoleh uang yang banyak dari peti yang nantinya akan dia bawa ke tempat penginapannya yang aman, nyaman dan tenang.


    "Iya, Pak .... Terima kasih kalau bapak memang menghendaki untuk tinggal di apartemen." kata Cik Melan yang tentunya senang karena bosnya tidak akan mengambil uang dari perusahaan untuk menyewa apartemen.


    "Kalau begitu, segera saja minta tolong deh, Bang John disuruh menanyakan ke sana. Apakah masih bisa kalau saya mau sewa apartemen di sana." kata Podin yang tentunya langsung berminat untuk tinggal di apartemen.


    "Iya, Pak ...." kata perempuan itu yang langsung memencet HP dan memanggil Bang John agar segera masuk ke ruangan pimpinan, yang tentunya akan dimintai tolong untuk menanyakan masalah apartemen yang dekat dengan tempat usahanya tersebut, di sebrang gedung karaoke miliknya.


    "Halo, Bang John .... Naik sebentar, ke ruangan Pak Podin. Kami mau bicara dengan Bang Jhon, mau minta tolong sebentar." kata Cik Melan dalam teleponnya kepada Bang Jhon.


    "Selamat pagi menjelang siang, Pak Bos .... Ada apa sih?" kata Bang John yang baru saja masuk ke ruangan Podin.


    "Duduk sini, Bang John .... Saya mau bicara sebentar, mau minta tolong sama Bang John, menanyakan tentang aparetemen." kata Pudin pada Bang John.


    Lantas Bang Jhon pun duduk di antara mereka berdua. kemudian Bang Jhon pun bertanya, "Ada apa ya, Pak? Ada yang perlu saya tanyakan ke apartemen?" tanya Bang John, karyawan bagian keamanan yang tentu juga mengatur keadaan lalu lintas serta mobil-mobil para tamu yang parkir di halaman.


    "Begini, Bang John .... Bapak mau minta tolong pada Bang Jhon, untuk ke apartemen yang ada di seberang sana itu, yang ada di ujung jalan, untuk menanyakan apakah masih ada kamar apartemen yang kosong, yang bisa disewa atau pun dibeli oleh Pak Podin." kata Cik Melan yang menjelaskan kepada laki-laki karyawan bagian keamanan tersebut.


    "Oh, begitu .... Pak Podin mau beli apartemen di sana?" Oke, siap .... Sekarang juga saya akan melaksanakan perintah itu. Mohon izin, permisi .... Saya akan ke apartemen itu." kata Bang John yang tentu akan selalu siap untuk membantu bosnya.

__ADS_1


    "Sebentar, Bang John .... Jangan tergesa .... Nanti di sana, kamu tanya di bagian resepsionis untuk bertemu dengan bagian pemasaran, bukan untuk menginap sehari dua hari, lho ya .... Tetapi ini untuk menyewa dalam waktu yang lama .... Bila perlu tanyakan harganya sekalian, kalau masih ada yang belum terjual, akan dibeli oleh Pak Podin. Daripada beli perumahan yang jauh dari kantor, mendingan tinggal di apartemen, lebih dekat dan lebih enak." kata Cik Melan kepada Bang John.


    "Oke ..., siap laksanakan. Saya segera berangkat." kata Bang John yang langsung melangkahkan kaki berangkat menuju ke apartemen yang ada di seberang jalan agak ke ujung dari gedung tempat kerjanya. Apartemen yang cukup besar, tinggi dan megah. Pastinya penghuninya juga banyak.


    Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar setengah jam, Bang John yang disuruh untuk menanyakan apartemen itu pun sudah datang kembali ke kantornya. Lantas Bang John menyampaikan hasilnya kepada Cik Melan dan Pak Podin, yang ternyata memang seperti yang diduga oleh Cik Melan, kalau apartemen itu pastinya masih ada kamar atau ruang apartemen yang kosong, yang belum berpenghuni atau mau dijual oleh pemilik.


    Ya, apartemen itu memang bagus. Bangunannya belum begitu lama, dan tentunya biasanya banyak penghuni yang berpindah kerja atau berpindah tugas. Jika ruang apartemen itu tidak terpakai, mereka akan menjual kembali ruang apartemennya. Dan yang pasti, apartemen itu dikembalikan kepada pihak pemasaran, yang nanti oleh pihak pemasaran, ruangan itu akan dijual kembali kepada orang lain yang butuh ataupun yang akan menyewa.


    Akhirnya Podin setelah menyaksikan apartemen yang rencananya akan di tempati itu, dia merasa senang, Podin merasa cocok, Podin bisa menerima tempat yang sangat sesuai dengan yang dibutuhkannya. Ruangan yang tenang, tempat yang sepi, tempat yang tidak ramai. Tidak seperti di ruang kerjanya yang memang bercampur dengan ruang karaoke.


    Akhirnya, Podin membeli salah satu ruang apartemen itu, dan dijadikan sebagai tempat tinggalnya. Ya, untuk sementara waktu memang Podin lebih cocok tinggal di apartemen daripada tinggal di kantornya sendiri. Bahkan Podin tidak harus kontrak rumah maupun membeli rumah di perumahan seperti dulu saat ia bersama Maya. Tetapi setelah tahu bagaimana kondisi suasana di apartemen, Podin pun mulai merasakan senang kalau tinggal di apartemen. Bahkan karena apartemen itu sangat dekat dengan tempat usahanya, Podin pun tidak perlu harus keluar masuk naik mobil. Tetapi dia bisa jalan kaki, karena memang lokasinya yang tidak terlalu jauh dan pas kalau harus jalan kaki, sambil berolahraga.


    Barang-barang Podin sudah dipindahkan ke apartemen. Terutama peti keramat yang memang sangat dirahasiakan oleh Podin itu. Ia sengaja membawa peti itu tanpa sepengetahuan karyawan-karyawan yang lain. Bahkan saat Bang John membantu bosnya pindahan dari kantornya ke apartemen, Bang John yang mengusung barang-barang, ia tidak tahu kalau bosnya sebenarnya membawa peti keramat yang tentunya sangat dirahasiakan itu.


    Hingga semua barang bawaan Podin, sudah dipindahkan di ruang apartemen. Dan tentunya, Podin merasa lega, bis tinggal di tempat yang nyaman, tenang, dan tidak terganggu oleh suara apapun. Karena memang, ruangan apartemen biasa dibangun secara kedap suara. Tidak mendengar suara dari luar.


    Dan seperti yang sudah direncanakan oleh Podin, malam itu Podin yang sangat berharap bisa mengeluarkan tuyul dari dalam petinya, ia kembali menatap peti yang oleh Bang Kohar dianggap sebagai jimat yang dikeramatkan, menganggap peti itu sebagai benda yang sangat berharga, menganggap peti itu sebagai barang yang dicari oleh orang-orang yang haus dengan harta benda serta kekayaan. Peti yang konon bisa menghasilkan uang dari hasil kerja yang dilakukan oleh tuyul yang menghuni peti tersebut.


    Mata Podin terus mengamati benda yang kini berada di atas lantai ruangan, di tengah kamar apartemennya. Ruangan yang khusus hanya dia yang bisa masuk ke kamar apartemen yang sunyi dan sepi, serta tidak terganggu oleh orang-orang lain. Dan malam itu, Podin tentu berhasrat, berkeinginan, berniat untuk memanggil tuyul dari dalam peti yang dikeramatkan itu. Podin ingin kembali menyaksikan tuyul itu mendatangkan uang,  memasukkan lembaran-lembaran uang ke dalam peti itu.


    Ya, Podin yang gila harta, Podin yang selalu ingin mendapatkan uang dan kekayaan secara gampang, Podin yang sudah terbius dengan harta kekayaan yang diperoleh tanpa harus bekerja, ia pun ingin mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tanpa harus bersusah payah, yaitu dengan memanfaatkan dua buah peti yang di dalamnya ada tuyulnya, yang akan memberikan uang kepada pemiliknya. Malam itu, Podin menaruh dua buah peti, tepat di tengah ruang apartemennya. Ia menaruhnya di lantai, selanjutnya Podin bersila menghadapi dua peti yang sudah ia tata. Kemudian Podin mulai menenangkan diri, mulai bermeditasi, dan mulut Podin mulai komat-kamit membaca mantra. Ya, mantra yang ia dengar dari Bang Kohar, mantra yang meminta agar tuyul itu keluar dari dalam peti, mantra yang meminta agar tuyul itu mau mengambilkan uang-uang yang banyak dan memasukkan uang-uang yang diperolehnya ke dalam peti itu.


    Berkali-kali Podin membaca mantra. Berkali-kali Podin memanggil tuyul. Namun setelah beberapa waktu lamanya Podin berkonsentrasi di depan peti-peti itu, hampir satu jam lamanya, dan setelah Podin sangat capek untuk mengucapkan kata-kata keramat, yang mengundang tuyul itu berkali-kali, ia memohon agar tuyul itu mau keluar. Berkali-kali Podin meminta agar tuyul itu mau mengambilkan uang-uang yang banyak dan menaruh ke dalam peti itu. Tetapi, peti yang tertutup itu tidak juga mau terbuka. Tutup peti itu tidak mau terangkat, dan tuyul itu juga tidak mau keluar dari dalam peti tersebut.


    Tentu Podin merasa ada sesuatu yang kurang dalam meditasinya. Tentu Podin agak kecewa dengan apa yang ia lakukan. Berlama ia duduk bersila, menghadapi dua peti itu dengan sikap khusuk, tetapi Podin gagal.

__ADS_1


    Podin kecewa karena tuyul yang ada di dalam peti itu tidak mau keluar. Podin  putus asa. Lantas Podin berusaha untuk membuka tutup peti itu, ia ingin tahu apakah peti itu ada isinya, apakah peti itu di dalamnya ada uangnya.


    Namun setelah perlahan dan penuh harap Podin membuka tutup peti itu, kenyataannya peti itu tetap kosong. Peti itu tidak berisi apa-apa. Di dalam peti itu tidak ada uang sepeserpun. Podin lemas. Podin kecewa. Podin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tahu bahwa dirinya sudah gagal untuk yang kedua kalinya. Setelah melakukan ritual meminta uang dari tuyul itu, namun hasilnya adalah peti yang kosong belaka.


__ADS_2