PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 94: PENCULIK LICIK


__ADS_3

    Akhirnya, setelah meninggalkan warung angkringan, di mana semalam Podin sudah tidur bersandar pada tiang telepon, dan kalau tidak dibangunkan oleh pemilik warung yang akan tutup itu, yang akan meringkasi barang-barangnya dagangannya karena takut kalau sampai diangkut Satpol PP, Podin langsung melajukan mobilnya menuju pom bensin. Ya, di sana pastinya Podin akan ke kamar kecil, kencing dan cuci muka. Setidaknya tubuhnya biar kelihatan segar.  Walaupun tidak mandi, tetapi kalau rambut dan wajahnya, serta tangan dan kakinya tersiram oleh air, maka pastinya tubuhnya akan segar kembali.


    Setelah selesai cuci muka, Podin pun masuk ke minimarket yang ada di bagian samping pompa bensin itu. Podin membeli minuman servis sendiri, tinggal ambil bahan, lantas dimasukkan ke dalam gelas sekali pakai dan diseduh dengan air panas yang tersedia di mini market itu. Podin juga mengambil makanan nasi ayam yang dibungkus dengan kemasan yang sangat bagus. Dua bungkus. Minumnya kopi susu. Tentu untuk mengganjal perutnya yang sudah lapar. Paling tidak, Podin ingin mengisi perutnya itu agar tidak sakit dan tidak keroncongan. Ia pun duduk di kursi yang disediakan di depan minimarket itu, yang sengaja dipasang buat para pembeli yang ingin minum dan makan sambil istirahat, duduk di depan minimarket tersebut.


    Podin menikmati makanan dari bungkusan dan minum kopi susu panas yang diseduh sendiri di dalam minimarket tersebut. Ia duduk di teras minimarket tersebut, sambil mengamati lingkungan yang ada di pompa bensin. Tentunya Podin menyaksikan bagaimana suasana pagi hari di sekeliling pom bensin. Tentunya suasana yang sangat ramai oleh orang-orang yang sibuk akan berangkat kerja, serta antrean pembeli bensin yang mengular sampai panjang.


    Dan saat itu pula, mata Podin melihat ada seorang bocah laki-laki kecil dengan pakaian compang-camping yang meminta-minta. Podin teringat saat ia menculik anak jalanan yang kala itu dia bawa ke Pulau Berhala, dan menjadi persembahan pertamanya. Ya, waktu itu Podin terbilang sukses dan bisa mendapatkan harta karun yang sangat berlimpah dari istana Pulau Berhala. Kembali niat Podin dalam hatinya, ia ingin membawa anak pengemis itu. Setidaknya, nanti anak pengemis itu akan ia jadikan korban persembahan di Pulau Berhala. Podin mulai tergerak hatinya, untuk mengajak anak itu, untuk merayu anak itu, dan tentunya nanti akan membawa anak itu ke tempat yang sudah menunggu kedatangannya, yaitu di pulau Berhala.


    Podin terus memandangi bocah pengemis itu. Kebetulan anak laki-laki kecil yang meminta-minta kepada para pembeli bensin itu masih seusia anaknya yang pertama, yang bernama Eko, yang sudah mati terlindas truk. Dan ternyata terlindasnya truk si Eko itu adalah sebagai tumbal dari dirinya yang mengambil harta karun di Pulau Berhala. Namun tentu beda dengan anaknya. Anak jalanan yang meminta-minta di pom bensin, yang paling baru berumur sekitar sepuluh tahun ini, pastinya tidak sekolah. Karena pada jam-jam sibuk pagi seperti ini, jam-jam anak berangkat ke sekolah, tetapi si anak laki-laki kecil ini tidak berangkat ke sekolah, tidak mengenakan pakaian seragam SD, justru malah mengemis di jalanan.


    "Hai ..., Nak .... Sini, kamu .... Kok pagi-pagi sudah nyadong di sini, apa kamu tidak sekolah?" tanya podin pada anak laki-laki kecil itu, yang tentunya setelah dipanggil langsung menuju ke arahnya. Pastinya anak itu yakin kalau laki-laki yang sedang duduk di teras minimarket itu dan memanggilnya, pastinya akan memberi uang kepadanya.


    "Tidak, Om ...." jawab anak itu dengan lugu dan tentu tanpa basa-basi.


    "Kenapa tidak sekolah?" tanya Podin lagi.


    "Tidak punya biaya, Om ...." jawaban anak itu lagi, dengan alasan klasik. Ya, anak-anak jalanan kalau ditanyai kenapa tidak sekolah, jawabnya pasti karena tidak punya biaya.


    "Sudah makan belum?" tanya Podin lagi kepada anak itu.


    "Belum, Om .... Saya belum dapat uang." jawab anak itu yang sudah diduga sebelumnya oleh Podin.


    Entah sudah punya uang atau belum, tetapi biasa, kalau ditanya sudah makan apa belum, maka jawabannya pasti seperti itu. Kalau ditanya sudah sarapan atau belum, pasti mengatakan belum sarapan, karena tidak punya uang.


    "Mau makan?" tanya Putin lagi kepada anak itu.


    "Mau, Om ...." jawab anak itu cepat, yang tentu dia akan senang kalau diajak makan oleh orang yang dianggapnya punya uang dan mau membelikan makan kepadanya.


    "Ayo ikut aku, kalau kamu mau makan ikut saya .... Saya akan ajak ke rumah makan, nantu menunya kamu pilih sendiri, makan sepuasnya." kata Podin kepada anak itu, yang tentu tawaran yang sangat menggiurkan.

__ADS_1


    "Tapi, Om ..., saya harus cari uang dulu .... Saya harus meminta-minta ke orang-orang itu dulu." kata anak itu yang tentunya dia beralasan karena sedang mengemis di tempat pompa bensin tersebut.


    "Lah, kamu mau makan atau mau mengemis?" tanya Podin lagi kepada anak itu, yang tentunya Podin berharap anak itu akan mau mengikuti dirinya tanpa dipaksa, tanpa diculik, tanpa ada kekerasan, tanpa ada orang yang mencurigai kalau dirinya sudah menculik anak jalanan itu.


    "Sebenarnya saya mau makan, Om .... Tapi saya harus mengemis dulu .... Ini ..., soalnya pagi seperti ini, di pompa bensin ini sedang rame, Om .... Banyak orang yang pada antre, dan dia pasti banyak yang akan memberikan uang kepada saya, dia banyak yang berbelas kasihan pada saya, pasti akan memberi sedikit rezeki untuk pengemis seperti saya ini, Om." begitu sahut anak itu, yang bahasanya sudah sangat lihai, sudah sangat pandai, seakan anak ini memang sudah lama berprofesi sebagai pengemis, yang tentunya dia pasti sudah mempelajari situasi dan kondisi dari tempat kerjanya itu.


    Podin melihat ke langit. Tentunya ia berpikir, mungkin belum saatnya Podin untuk membawa anak itu. Memang karena malam purnama masih terlalu lama menunggunya. Kalau Podin membawa anak itu sekarang, pastinya dia akan kerepotan sendiri, karena harus membawa anak itu untuk kost atau sewa kamar, seperti yang dulu pernah dilakukan waktu membawa anak perempuan kecil yang ia culik dari perempatan jalan. Atau setidaknya membawa anak itu dalam waktu lama, untuk makan, minum, tidur, kebutuhan setiap hari anak itu, harus dirawat terus-menerus. Kalau anak itu ia bawa sekarang, pastilah butuh biaya yang sangat besar. Padahal sementara ini, keuangannya sedang menipis.


    Podin juga seorang yang licik. Dia bisa memperkirakan kapan dia akan membawa anak itu, akan mengajak anak itu, dan langsung menuju tempat impiannya, tidak perlu kontrak rumah, tidak perlu kost, tidak perlu menginap di hotel, tidak perlu mengasih makan banyak-banyak, tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak. Podin akan datang kembali ke tempat itu, pada saat menjelang bulan purnama.


    "Eh ..., sini .... Ini ..., Om kasih uang ke kamu, nanti buat beli makan ya." kata Podin sambil memberikan lembaran uang sepuluh ribu.


    "Terima kasih, Om ...." kata anak itu yang bisa mengucap terima kasih.


    "Saya sering ke tempat ini .... Kamu setiap hari berada di sini apa nggak? Nanti suatu waktu, kamu akan saya ajak makan enak." tanya Podin kepada anak itu.


    "Yam sudah .... Besok beberapa hari lagi, Om akan ke sini. Pokoknya nanti kalau kamu sudah dapat uang, Om akan ajak kamu makan-makan enak, ya .... Mau, nggak?" kata Podin yang tentunya sudah memasang perangkap untuk si anak itu.


    "Mau, Om .... Siapa orangnya yang tidak mau diajak makan enak sama orang lain." jawab anak itu yang tentu tersenyum senang.


    "Nah, seperti itu .... Ini, saya baru setuju .... Silahkan kamu mencari uang lagi .... Sana meminta belas kasihan orang yang pada beli bensin .... Tetapi ingat ..., jangan nakal, jangan mencuri, jangan memaksa untuk meminta kepada orang lain yang tidak mau memberi. Kalau ada orang yang tidak memberi, biarkan saja. Bila perlu doakan agar orang itu besok mau memberi kamu." begitu kata Podin kepada anak itu sambil memberikan lagi sebungkus nasinya yang belum sempat dimakan.


    Tentunya anak itu sangat senang, karena sudah diberi uang oleh Podin cukup banyak. Uang sepuluh ribu dan masih ditambah jajanan nasi kemas dari minimarket. Bagi anak jalanan, mendapatkan uang sebanyak itu dan jajanan istimewa. tentunya dia sangat senang, karena ada orang baik yang mau memberikan uang cukup banyak kepadanya. Biasanya orang lain memberi hanya lima ratus. Paling banyak seribu. Atau juga banyak yang diam pura-pura tidak tahu kalau ada pengemis yang meminta. Tetapi kali ini, Podin memberi tidak sedikit. Podin memberi uang cukup besar bagi seorang pengemis. Apalagi anak itu juga dijanjikan akan diajak makan enak di restoran. Pasti anak itu sangat senang.


    "Yam sudah .... Saya mau berangkat cari uang dulu .... Besok saya kemari lagi, kapan-kapan kalau saya kemari, pas kamu ada di sini, temui saja. Nggak usah takut-takut sama saya .... Nanti akan saya kasih uang, dan Om akan ajak kamu untuk makan-makan. Gitu, ya .... Karena hari ini kamu masih sibuk kerja, silakan kerja dulu .... Besok kalau kamu sudah siap untuk makan-makan, saya akan ajak kamu makan-makan di restoran." begitu kata Podin yang menjanjikan kepada anak itu.


    Tentu anak pengemis itu senang dan girang karena mendengar kata-kata dari orang yang sudah memberi uang itu akan mengajaknya makan-makan di restoran. Tentu dalam angan-angan anak itu, ia ingin menikmati masakan di restoran.


    Itulah perangkap Podin, yang tentunya dia lebih lihai dibandingkan dengan anak jalanan itu, yang banyak akalnya untuk membangkang di ajak makan, dan lebih senang minta-minta pada belas kasihan orang lain.

__ADS_1


    Seminggu telah berlalu. Podin kembali ke stasiun pompa bensin, kembali menemui anak yang dulu sudah pernah diberinya uang sepuluh ribu. Dan kini, Podin akan menepati janjinya, ingin mengajak anak itu untuk makan-makan di restotan. Bahkan Podin juga sudah menyiapkan satu stel pakaian yang baru untuk anak itu. Tentunya agar pengemis cilik itu tidak terlihat compang-camping.


    "Hai ...!" teriak Podin dari teras mini market, sambil melambaikan tangan, memanggil pengemis cilik yang masih sibuk menyadongkan tangannya, meminta-minta kepada orang-orang yang beli bensin.


    Tetapi begitu mengetahui Podin datang, maka pengemis cilik itu pun langsung menghampiri orang yang memanggilnya.


    "Iya, Om .... Bagaimana, Om?" kata anak itu yang sembari mendatangi Podin.


    "Jadi ikut makan-makan, nggak?" tanya Podin terlihat santai, biar tidak kelihatan kalau memaksa anak itu.


    "Mau, Om ...." sahut anak itu yang tentu tersenyum gembira.


    "Kita berangkat sekarang?" tanya Podin pada anak itu, khawatir kalau seperti yang lalu, lebih berat minta-minta ketimbang diajak makan.


    "Iya, Om .... Tapi, pakaian saya seperti ini, Om ..., apa pantas masuk restoran?" kata anak itu.


    "Nih .... Sana ganti dulu ...." kata Podin yang langsung memberikan buntalan plastik kresek berisi pakaian.


    Anak itu menerimanya. Lantas pergi ke balik dinding kamar mandi. Ia langsung berganti pakaian, mengenakan pakaian yang baru. Kemudian langsung kembali ke tempat Podin berada.


    "Eit ..., cuci muka, lah .... Rambutnya dibasahi, biar kelihatan ganteng ...." kata Podin yang tidak setuju kalau anak itu hanya ganti pakaian saja, tanpa membersihkan tubuhnya.


    "Iya, Om .... Sebentar ...." bocah itu kembali ke kamar mandi dan mencucui muka, tangan serta kaki. Bahkan kini rambutnya sudah basah dan dirapikan menggunakan sisir yang tergantung di cermin kamar mandi.


    Akhirnya, Podin bisa mendapatkan bocah yang ia incar saat bertemu pertama di pompa bensin. Bocah pengemis yang meminta-minta di stasiun pompa bensin itu. Ya, memang Jakarta merupakan tempatnya anak-anak yang tidak diurus oleh orang tuanya, tempatnya anak jalanan yang sebenarnya sangat gampang untuk didapatkan dan diajak oleh Podin.


    "Sudah, Om ...." kata anak itu setelah siap.


    "Oke .... Ayo, kita berangkat sekarang ...." jawab Podin yang tentu tersenyum gembira. Sandiwaranya bakal terlaksana. Podin yang licik itu sudah berhasil melaksanakan perangkapnya.

__ADS_1


__ADS_2