
Setelah perabotan rumah tangga tertata, setelah tempat untuk tinggal semuanya sudah diatur, dan tentunya seperti dapur dan tempat makan, serta seluruh perangkatnya sudah dipenuhi, kini Lesti mulai membicarakan masalah usaha. Ya, Lesti mulai berembuk dengan Podin tentang rencana usaha apa yang kira-kira akan dibuka di rukonya itu. Dan pastinya, itu pun dibicarakan dengan pertimbangan-pertimbangan untung rugi. Dalam bahasa bisnis, Lesti dan Podin melakukan analisa peluang bisnis.
"Akang ..., kita sebaiknya merancang usaha apa yang akan kita buka, Kang." kata Lesti pada suaminya.
"Iya, Lesti ...." kata Podin yang juga mulai berpikir.
"Kalau di tempat seperti ini, tempatnya ramai, tempatnya strategis, tentu di sini nanti akan mudah didatangi oleh para pembeli. Kira-kira, apa yang cocok, Kang?" tanya Lesti pada Podin.
"Iya, Lesti .... Sebaiknya memang kita pikirkan, kira-kira apa yang paling tepat untuk membuka usaha di sini." jawab Podin.
"Kang ..., bagaimana kalau kita jualan warung makanan? Kita buka warung makan di sini .... Lesti juga bisa masak loh, Kang ...." kata Lesti yang memberi pertimbangan pada suaminya.
Podin langsung terjingkat kaget dengan kata-kata Lesti yang ingin membuka warung makan. Tentu niatan Lesti untuk membuka usaha warung makan itu, mengingatkan dirinya seperti ketika ia bersama dengan Rina. Podin mungkin sudah trauma dengan warung makan yang dibuka oleh istrinya yang ketiga. Dia sudah diusir, bahkan tidak hanya istrinya yang mengusir, tetapi juga diusir oleh para warga di sekitar warung makan tempat istrinya berjualan. Ya, Podin tentu tidak mau membuka lagi usaha warung makan.
"Tidak, Lesti .... Saya tidak suka dengan usaha warung makan." kata Podin pada istrinya.
"Kenapa, Kang? Bukankah kalau kita buka warung makan itu, kita bisa enak, bisa makan sepuasnya sampai kenyang, kita tidak menghitungnya. Ibarat kata, kita sekalian numpang pada para pembeli, karena kita jualan untuk para pembeli, tetapi kita juga bisa ikut makan di situ." kata Lesti yang tentunya memberi gambaran-gambaran enaknya kalau membuka warung makan.
"Iya, Lesti .... Tapi saya tidak suka. Karena usaha warung makan itu kita tidak bisa tidur. Tengah malam sudah mulai masak. Selesai jualan, kita masih bersih-bersih. Kalau sisa berlimpah, masakan tidak laku, barangnya basi, baunya nggak sedap, nggak enak .... Itu mah, malah mendatangkan penyakit." kata Podin yang beralasan, padahal sebenarnya dia sudah trauma dengan kejadian waktu di tempatnya Rina.
"Kalau begitu, enaknya buka apa, Kang? Apa kita mau jualan peralatan dapur? Perkakas rumah tangga? Perkakas keluarga?" tanya Lesti pada Podin, yang tentunya ingin memnita pendapat suaminhya.
"Nah ..., itu bisa jadi .... Atau mungkin, kita juga jualan barang-barang elektronik seperti TV, kulkas, mesin cuci .... Atau mungkin juga mau jualan mebel ...." kata Podin yang juga memberi usulan pada istrinya.
__ADS_1
"Akang .... Kalau jualan mebel mah, belum tentu sehari laku .... Belum tentu seminggu laku .... Tidak semua orang butuh mebel setiap hari. Mebel itu belinya jarang-jarang. Coba lihat kita saja .... Beli lemari satu saja digunakan untuk bertahun-tahun lamanya, tidak beli lagi. Kalau kita jualan kursi tamu, kursi tamu itu cukup satu pasang .... Tidak perlu nambah-nambah lagi ...." kata Lesti yang Tentu juga memberi pendapat, kalau jualan mebel itu tidak setiap hari ada yang membeli.
"Iya, Lesti aku setuju sama usul kamu .... Kita jualan perkakas, berbagai alat kebutuhan rumah tangga yang kecil-kecil, harganya murah, tapi setiap hari dibutuhkan orang. Bisa jadi nanti itu warung kelontong kamu laris, tidak hanya perkakas saja yang dijual, tapi kebutuhan-kebutuhan dapur, ada bumbu, ada kebutuhan kecap, ada saos, ada gula, mungkin sembako masuk di situ, Lesti ...." kata Podin memberi tambahan pendapat.
"Ah iya, Akang .... Bener, kita mah jualan sembako .... Nanti ditambahi perkakas rumah tangga, kebutuhan dapur." begitu kata Lesti yang langsung menyaut suaminya. Ya, mereka ingin berjualan sembako.
"Tapi, belanjanya di mana, Lesti? Saya belum tahu tempat perbelanjaan itu? Apa kita harus ke pasar?" tanya Podin yang tentu memang tidak paham tentang masalah sembako.
"Kita tidak perlu belanja ke pasar, Kang .... Coba saya akan cari di internet .... Pasti nanti ada, nanti ketemu. Kita pilih yang namanya agen sembako. Nanti kita belinya kepada agen itu, Akang .... Nah, agen itu yang nanti akan mengirim barang-barang kebutuhan kita, yang akan kita jual lagi. Dan nanti kita tinggal menjual begitu saja. Untungnya tidak usah besar-besar, untung kecil yang penting laris." kata Lesti kepada Podin yang sambil membuka HP-nya.
Bagi Podin, memang dengan masalah-masalah teknologi seperti itu, yang namanya media sosial, internet dan lain sebagainya, ia tidak paham. Makanya, dia lebih baik tidak punya HP. Apalagi saat selalu dihubungi oleh Maya, yang ujung-ujungnya minta uang. Makanya dia tidak mau menggunakan HP, karena tidak mau dihubungi oleh Maya. Tetapi setelah itu, dia tidak mau punya HP lagi, karena tidak mau berhubungan dengan siapapun.
"Mana, Lesti ...? Ada penawarannya? Sudah ketemu?" tanya Podin sambil melongok ke HP istrinya.
"Wah ..., iya, Lesti ...." sahut Podin.
"Coba saya telepon ya, Kang ...." kata Lesti yang langsung mencatat nomor HP yang ada di dalam pencariannya di internet.
"Iya, Lesti .... Coba saja ditelepon .... Siapa tahu itu benar." kata Podin yang tentu pasrah pada istrinya, karena memang Podin tidak paham dengan macam-macam pemasaran melalui internet itu, yang disebut dengan istilah jualan online.
Ya, zaman memang sudah berubah. Mau jualan apa saja, cukup diposting lewat HP, langsung terbaca banyak orang. Orang-orang sekarang menyebut dengan istilah belanja online. Podin tidak paham tentang hal itu.
"Halo .... Agen sembako Abah Cong? Saya ingin menanyakan tentang penawaran sembako yang ada di media sosial ...." kata Lesti saat menelepon tempat agen sembako yang dilihatnya dari internet.
__ADS_1
Tentunya si pemasang media, penjual akan senang dan langsung menjawab telepon Lesti itu. Dan ketika itu langsung terjadi komunikasi yang tentunya mulai transaksi dari kebutuhan Lesti untuk berbelanja memenuhi rukonya, juga mulai membahas tentang harga-harga, termasuk juga menanyakan tempat pengirimannya. Dan Lesti pun menjawab untuk tempat pengirimannya di Padalarang. Ya, tentunya Lesti menunjukkan alamat ruko yang akan dipakai untuk berjualan. Dan juga, Lesti bertanya-tanya terkait dengan ruko yang dimilikinya, besarnya seperti itu, bagaimana kira-kira jumlah yang bisa dimasukkan atau dipasok ke dalam rukonya, dan kira-kira jenis dagangan apa saja yang bisa ditawarkan di situ. Lesti juga menanyakan barang-barang yang tersedia di agennya tersebut. Lesti sambil menghadapi kertas dan memegang bolpoin, untuk mencatat apa-apa yang kira-kira dibutuhkan, apa-apa yang kira-kira bisa diperjualbelikan di rukonya, termasuk jumlah-jumlahnya serta harga-harganya.
"Abah ..., saya minta tolong dikirimin daftar barang sama harga-harganya, biar kami tidak bingung. Ini nanti untuk jualan pertama, untuk membuka ruko pertama kali, jumlahnya kira-kira berapa? Untuk buka toko pertama, saya minta dibantu, ya .... Untuk jumlah berasnya berapa banyak, minyak gorengnya berapa banyak? Dan jenisnya apa saja? Terutama untuk kebutuhan rumah tangga yang penting dan sering dibeli masyarakat setiap hari .... Lantas kebutuhan dapur dan untuk kebutuhan konsumen yang paling laris, saya minta tolong dicatatkan, nama barang dan daftar harganya. Terus nanti fotonya kirimkan ke WA saya ini, ya ...." begitu kata Lesti yang sudah menyampaikan banyak permintaan kepada agen yang sudah memasang iklannya di internet. Tentu Lesti tersenyum girang, karena sebentar lagi usahanya akan terlaksana.
"Ctung ...." notivikasi WA Lesti berbunyi.
"Nah, betul ..., Kang .... Ini sudah dikirim daftar barang-barang dengan harga-harganya. Ini juga dikirim rincian jumlah barang untuk rencana buka usaha baru di ruko." kata Lesti yang menunjukkan foto-foto kiriman dari agen sembako yang akan menjadi mitranya.
"Ya, cepetan saja dipesan .... Biar mereka cepat mengirim kemari." sahut Podin.
"Iya, Kang ...." kata Lesti.
"Gimana, Lesti ...? Bisa ...?" tanya Podin yang dari tadi memperhatikan istrinya berembug melalui telepon.
"Bisa, Kang .... Gampang, kan .... Hari ini transaksi selesai .... Semoga saja nanti cepat dikirim. Cara kerja semacam itu gampang, Kang .... Kalau kita mengikuti teknologi, maka semuanya itu akan dimudahkan, sangat cepat, bahkan nanti kita membayarnya juga gampang. Tidak usah pakai menghitung-hitung uang di meja, tetapi langsung ditransfer melalui rekening bank. Jadi tidak ada yang sulit, Kang ...." kata Lesti yang menjelaskan kepada suaminya.
"Iya ..., betul, Lesti .... Kalau masalah seperti itu, saya pasrah sama kamu. Yang penting usaha ini nanti kamu kelola secara baik. Jangan sampai nanti kita bangkrut atau malah dagangannya tidak laku. Yang penting kita harus berani bersaing. Soal harga bisa ditekan .... Untung sedikit tidak masalah, tetapi kalau dagangan kita nanti laris, kalau toko kita laris, untungnya juga besar." begitu kata Podin yang menjelaskan juga kepada istrinya tentang bagaimana sebaiknya membuka usaha dagang.
"Iya, Akang .... Saya tahu itu .... Tapi bagaimanapun juga, Akang yang bertanggung jawab .... Nanti semua modalnya yang bayar Akang .... Hehehehe ...." begitu kata Lesti yang tentu langsung tertawa kecil, karena ingin menyerahkan semua biayanya, yang menanggung keuangannya adalah suaminya.
"Iya ..., Lesti .... Semoga saja masih ada uang yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dagangan-dagangan kita, untuk mengisi tempat usaha ruko kamu ini. Jangan lupa ..., Bapak dan Ibu diajak untuk menata barang-barangnya kelak. Setidaknya Ibu dan Bapak tahu usaha kamu, mau terlibat dan bahkan juga paham dengan harga-harganya, biar besok Ibu dan Bapak juga bisa membantu kamu berjualan. Setidaknya untuk kesibukan mereka, biar dia tidak melamun saja. Tetapi kalau nanti pas ada pembeli banyak, pas ramai, kamu sibuk, setidaknya Bapak dan Ibu juga bisa membantu melayani para pembeli-pembeli itu." begitu kata Podin yang juga memberi saran kepada istrinya.
"Iya ..., Akang Podin .... Saya tahu, Akang Podin ini pengusaha yang sukses. Makanya saya harus belajar banyak pada Akang ...." begitu kata Lesti, yang tentu juga menganggap bahwa Podin adalah seorang pengusaha yang sukses di Jakarta.
__ADS_1
Mereka berdua tersenyum senang, sebentar lagi tempat usahanya itu sudah akan dibuka.