PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 140: DIKEROYOK HANTU


__ADS_3

    Setelah matahari tenggelam, hari sudah masuk malam, Podin meninggalkan villa, menuju warung makan.  Tentunya ia ingin makan, karena perutnya yang sudah semakin terasa lapar. Dan Podin tidak perlu memilih tempat yang jauh untuk makan malam. Tetapi cukup masuk di warung makan yang berada di ujung jalannya. Warung makan yang kemarin siang dia sudah makan di sana. Itu merupakan warung yang terdekat dengan villanya, yang hanya tinggal jalan ke ujung gang, di pinggir jalan menuju masuk ke villanya.


    Secara kebetulan, di warung itu, Podin kembali bertemu dengan beberapa orang yang siang itu makan bersama dengannya, dan sempat ngobrol bersama dengan Podin saat makan siang. Pastinya mereka adalah warga kampung yang setidaknya mencari kopi dan camilan.


    "Ee ..., si Bapak lagi .... Bagaimana kabarnya, Pak ...?! Apa Bapak sudah ditemui hantu yang ada di villa itu?" tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang langsung menanyai Podin. Ya, laki-laki itu adalah orang yang kemarin juga menceritakan tentang kisah villa yang katanya di situ pernah terjadi pembunuhan.


    "Tidak .... Saya tidak ketemu apa-apa ...." jawab Podin yang tentu dengan wajah biasa dan seakan justru ingin tahu dengan keadaan yang terjadi di sana. Ya, Podin dalam hal ini memang pandai bersandiwara, seakan tidak tahu apa-apa.


    "Walah, si Bapak .... Tadi malam itu ada warga yang pingsan, Pak .... Di jalan dekat dengan villa yang Bapak tempati. Katanya ia melihat hantu gentayangan di dekat villa Bapak." begitu kata laki-laki itu, yang tentunya memberitahu kepada Podin, kalau semalam ada warga yang pingsan.


    Ya, tentunya kalau orang biasa, orang awam, masyarakat warga kampung, pasti begitu melihat hantu, dia akan ketakutan. Bahkan kalau saking takutnya, maka ia akan pingsan. Mungkin hal ini terjadi juga dengan orang yang diceritakan oleh laki-laki itu kepada Podin di warung makan.


    "Pingsan ...?! Bagaimana bisa ...?" tanya Podin yang tentunya ingin tahu ceritanya.


    "Tadi malam itu, Pak ..., ada perempuan yang berjalan bersama pacarnya, melintas dari seberang sana itu. Nah, saat mereka melintas di dekat jalan yang menuju ke arah villa tempat Bapak, pas dia sampai di situ, di ujung jalan itu, yang cewek melihat ada hantu yang melayang di sekitar villa Bapak .... Tentu yang cewek itu menjerit dan langsung pingsan, karena saking takutnya. Katanya, hantu itu perempuan dengan mengenakan pakaian semacam jubah atau gaun pengantin serba putih .... Ya, semacam kuntilanak." begitulah kata laki-laki itu kepada Podin yang menceritakan kisahnya.


    "Ada-ada saja .... Paling-paling dia itu hanya ketakutan dengan perasaannya saja, yang sudah mendengar cerita menakutkan di tempat itu. Makanya jadi orang itu jangan penakut .... Dan juga jangan menceritakan yang seram-seram, bikin orang jadi berpikiran takut." sahut Podin yang justru menjelaskan kepada laki-laki yang duduk di depannya itu.


    "Bener, Pak .... Itu yang melihat tidak hanya satu orang .... Yang melihat beberapa orang. Karena ada yang berteriak minta tolong itu, dan pingsan, maka beberapa warga pada berdatangan menolong orang yang pingsan itu. Nah, saat orang yang pingsan itu sudah sadar, dan bercerita tentang hantu yang dilihatnya, orang-orang mencoba mengamati apa benar .... Tetapi, Pak ..., ternyata beberapa orang memang melihat kalau di dekat villa Bapak itu ada hantu perempuan pakai gaun putih. Ya ..., di dekat villa Bapak." kata orang itu yang tentu menggebu-gebu menceritakan hantu itu kepada Podin.


    "Eh ..., Mang .... Jangan nakut-nakutin orang. Nggak baik ...." penjual warung makan itu yang tentunya tidak ingin pembelinya itu, para tetangganya itu, menceritakan tentang hantu yang ada di villa itu.

__ADS_1


    "Ala ..., paling itu juga mengada-ada .... Kenyataannya, saya di villa itu sendirian juga tidak pernah ketemu dengan hantu-hantu .... Aah ..., orang itu penakut saja .... Ya, maklum .... Kalau orang penakut, baru melihat bayangan kucing lewat saja, dikira hantu ...." begitu kata Podin yang berusaha menutupi cerita itu.


    "Ya sudah, kalau memang Bapak tidak percaya, tidak apa-apa .... Tapi hati-hati, Pak .... Karena memang villa yang Bapak tempati itu, tempat yang Bapak jaga itu, angker .... Berhantu .... Dulu sempat geger karena dijadikan tempat pembunuhan .... Makanya, tidak ada orang yang berani mendekat ke tempat itu, Pak." kata orang itu yang kembali mengisahkan tentang villa itu kepada Podin.


    Tentunya Podin tidak menghiraukan cerita-cerita itu. Biarlah orang-orang yang pada ketakutan. Biarlah orang-orang tidak berani masuk ke wilayahnya, tidak berani masuk ke pekarangannya. Tetapi yang penting bagi Podin, dirinya aman, dirinya tidak diusik oleh mereka. Ya, tentu Podin senang kalau para penduduk, para warga, orang-orang di sekitar situ takut untuk mendekat ke villa yang ditinggali Podin.


    Podin makan dengan lahapnya. Tentu karena saking laparnya. Bahkan ia menambah separuh piring lagi. Ya, pastinya Podin harus makan banyak dan memang butuh energi yang cukup banyak. Podin butuh asupan gizi yang cukup banyak. Dan tentunya Podin harus mengisi perutnya supaya tidak kosong lagi, supaya tidak kelaparan lagi.


    Ddan akhirnya, Podin menyelesaikan makannya itu dengan rasa yang nikmat. Bahkan ia juga bersendawa, pertanda makannya terasa enak. Setelah membayar makan malam itu, Podin pun kembali beranjak, berpamitan pulang meninggalkan warung itu. Dan yang pasti, dia akan kembali ke villa yang ia tempati.


    Melintas di jalan yang sepi dan gelap sendirian, melewati jalan sempit yang berbatu dan ditumbuhi pagar tanaman hidup yang sangat rimbun, tentunya membawa aura tersendiri bagi yang berani meningjakkan kaki di jalan itu. Namun bagi Podin, dia memang sudah menjadi orang yang pemberani, karena berkali-kali bertemu dengan hantu, berkali-kali bertemu dengan makhluk-makhluk aneh, berkali-kali bergumul dengan jasad-jasad manusia tanpa nyawa, bukanlah hal yang menakutkan. Wajar kalau kini Podin jadi pemberani, itu semua karena Podin sudah terbiasa. Kebiasaannya saat berada di Pulau Berhala, yang memang merupakan tempat singgahnya para hantu, terutama adalah tubuh-tubuh manusia tanpa kepala, maupun kepala-kepala manusia tanpa tubuh, yang banyak bergelimpangan, yang banyak berserakan di Pulau Berhala. Dan semua itu Podin saksikan, ia lihat, ia alami, dan terjadi ketika Podin masuk ke Pulau Berhala. Bahkan masuknya ke Pulau Berhala saja pasti pada malam hari. Apalagi di villanya, yang berada di perkampungan biasa, bukan Pulau Berhala. Itu kecil.


    Namun, ketika Podin melangkahkan kakinya masuk ke halaman villa itu, tiba-tiba saja ada beberapa bayangan yang melintas bergantian. Bayangan-bayangan yang melintas mengganggu jalannya Podin. Ada yang melintas di depan, ada yang melintas di belakang, bahkan ada juga yang melintas di atas kepalanya. Podin sadar bahwa ini adalah makhluk-makhluk gaib, ruh-ruh tak punya tempat, arwah-arwah gentayangan yang hidup di luar alam manusia. Ini adalah hantu-hantu yang tadi diceritakan oleh penduduk. Dan ini adalah makhluk-makhluk dari arwah gentayangan yang berusaha akan menemui Podin.


    Podin yang sudah siap dan waspada, yang tidak gentar dengan ditakut-takuti makhluk seperti itu, maka ia pun langsung berhenti. Podin menghentikan langkah kakinya, lantas membentak kepada makhluk yang berusaha menghalangi jalannya itu.


    "Siapa kalian ...!!" Podin menghardik makhluk-makhluk yang mengganggunya.


    "Kiqiqikqkiq ........"


    "Haooo ......"

__ADS_1


    "Hrrrrr ......"


    Makhluk-makhluk itu berusaha menakut-takuti Podin. Ada yang tertawa, ada yang meringis, ada yang menjulurkan lidahnya, bahkan ada juga yang menarik wajahnya hungga menjadi lebar. Bahkan ada juga yang hanya berupa kepala, ada juga yang hanya berupa tengkorak, ada juga yang hanya kain melayang tanpa ada isinya. Ada banyak sekali makhluk-makhluk aneh yang kini sudah mengelilingi Podin. Semua menyeramkan.


    "Siapa kalian ...!!! Mau apa kalian ...!!!" Podin kembali membentak para hantu itu.


    Dan tiba-tiba, di hadapan Podin sudah berdiri perempuan dengan gaun putih. Ya, hantu yang semalam menunjukkan tempat beradanya jasad dirinya. Tentunya, hantu itu mengambang di atas tanah.


    "Tolong kami ...." kata hantu perempuan yang bergaun putih tersebut.


    Deg. Jantung Podin terhentak. Kalau siang tadi, ia sudah berusaha mengambil koper yang berisi jasad perempuan itu, dan kini hantu itu kembali hadir menemuinya, bahkan tidak sendirian, tetapi membawa pasukan hantu yang banyak jumlahnya, pasti ada sesuatu yang tidak beres.


    "Siapa kalian ...?! Kenapa kalian ...?!" tanya Podin kepada hantu itu. Tentunya kini Podin bisa berkomunikasi, setelah semalam hantu itu diam dan membisu.


    "Tolong kami .... Jasad-jasad kami tak terurus di tempat ini .... Kami korban kebiadaban manusia ...." begitu kata hantu perempuan itu.


    Podin terdiam. Podin tidak langsung menjawab. Podin tidak menduga, dan tentunya juga tidak mengira, kalau ternyata di tempat itu, di villa yang ia beli, rupa-rupanya pernah dijadikan tempat pembantaian manusia. Dan rupanya, dunia arwah pun sama seperti dunia manusia lumrah, ia bisa bersama-sama mendatangi Podin untuk meminta tolong. Pastinya karena arwah perempuan dengan gaun pengantin itulah yang telah mengajak arwah-arwah yang lain, untuk menampakkan diri, meminta bantuan kepada Podin, orang yang telah membantunya, orang yang sudah mengangkat jasadnya dari dalam tanah, jasad yang dibungkus plastik dan dimasukkan dalam koper itu.


    Podin bingung. Podin tidak sanggup memutuskan apa yang akan dilakukannya. Tetapi para hantu itu sudah mengelilingi tubuhnya. Para hantu itu sudah mendekat kepada Podin. Yang tentunya, arwah-arwah gentayangan itu akan menunjukkan tempat persemayamannya. Dan pasti itu bukan tempat yang layak bagi orang mati.


    Dan karena dikerubut hantu dalam jumlah yang sangat banyak, Podin dikeroyok makhluk-makhluk menakutkan, tiba-tiba saja muncul bintang-bintang dalam jumlah banyak yang mengelilingi kepala Podin. Podin pun pingsan di halaman villanya.

__ADS_1


__ADS_2