PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 153: KECURIGAAN SANG ISTRI


__ADS_3

    Podin memang kaya. Podin memang banyak duit. Tentu itulah yang membuat orang-orang pada tertarik dengan Podin, yang membuat perempuan di kampungnya tergila-gila dengan Podin, yang membuat para janda ingin mendekati Podin yang membuat para gadis ingin dijadikan istrinya. Dan bahkan para karyawannya, perempuan-perempuan yang bekerja menjadi pemandu karaoke, juga ngiler kalau didekati Podin.


    Namun tentunya, bagi Cik Melan, gadis yang cerdas, gadis yang pintar, gadis yang selalu menggunakan akal dan logikanya, merasa ada sesuatu yang aneh pada suaminya. Yah, kalau usaha tempat hiburan karaoke, memang yang mengelola semua keuangannya adalah Cik Melan. Ia yang tahu persis pemasukan dan pengeluaran tempat usahanya. Bahkan dulu pernah, tempat usaha itu tidak punya uang sama sekali, bahkan juga pernah punya hutang kepada pengembang saat memperbaiki gedungnya yang kebakaran, tentunya hal itu tidak mungkin untuk memberikan keuntungan kepada Podin. Bahkan waktu itu, Cik Melan sendiri yang mendengarkan kata-kata dari Podin kalau dirinya tidak akan mengambil uang dari perusahaannya.


    Dan saat istrinya Podin yang bernama Lesti menelepon, akan meminta uang kepada Cik Melan, yang katanya disuruh oleh suaminya, itu saja dikatakan oleh Podin kalau tempat usahanya tidak ada uang lagi. Dan Podin pun melarang pengeluaran uang itu untuk keperluan istrinya. Sehingga menurut Cik Melan, ada kejanggalan, ada keanehan yang ia lihat pada suaminya. Bagaimana mungkin kalau suaminya tidak punya tempat usaha lain?


    Memang sempat terucap oleh Podin, waktu itu yang katanya ia akan pergi lama, akan membuka usaha di tempat-tempat yang lain. Namun kenyataannya, Cik Melan tidak pernah menyaksikan Podin pergi ke tempat usaha itu. Bahkan ketika Cik Melan bertanya tentang tempat usahanya itu, Podin pun mengatakan tempat usahanya yang dimiliki hanya tinggal tempat hiburan karaoke yang dikelola oleh Cik Melan itu.


    Tentunya, hal itu menimbulkan keraguan bagi Cik Melan, dari mana asal uang yang dimiliki oleh Podin? Dari mana sumber uang yang didapatkan oleh suaminya itu? Kenyataannya, suaminya sanggup membeli rumah mewah, villa besar, apartemen di Jakarta, bahkan kini, ia pun membangun rumahnya yang baru dengan harga hampir dua miliar. Itu uang yang sangat fantastis. Hanya orang kaya yang punya uang sebanyak itu. Dan bahkan untuk memenuhi kebutuhan setiap hari, Podin tidak pernah kekurangan uang.


    "Usaha Papah itu sebenarnya ada berapa banyak, sih ...?" tanya Cik Melan pada suaminya, yang tentu ia ingin tahu tempat-tempat usaha suaminya itu.


    "Cuman satu .... Ya ..., yang hanya di tempat hiburan karaoke itu saja ..., yang dikelola oleh Mamah." jawab Podin pada istrinya, yang tentu juga tidak ingin berbohong.

__ADS_1


    "Masak ..., sih, Pah ...?! Tapi uang Papah banyak banget ...?! Padahal Papah sendiri tidak pernah meminta uang dari hasil keuntungan di tempat usaha kita ...." kata Cik Melan yang tentunya ingin menyelidiki sumber keuangan suaminya.


    "Dulu memang pernah membuka usaha .... Pernah buka usaha warung makan, tetapi juga berhenti. Tidak jalan. Pernah buka usaha jualan sembako, warung kelontongan, yang waktu itu dikelola oleh istri saya, si Lesti itu .... Tetapi kenyataannya, Lesti malah ikut laki-laki lain, seperti itu .... Makanya usaha itu saya jual. Ruko dan tempat usahanya saya jual semua. Yah, karena yang disuruh mengelola, si Lesti sudah ikut laki-laki lain." begitu jawab Podin pada istrinya, yang tentu dia masih tetap berkata jujur tentang penjualan aset-asetnya itu.


    "Tapi ..., uang Papah banyak sekali ...." tanya istrinya yang masih saja penasaran dengan banyaknya uang yang dimiliki oleh suaminya.


    "Iya ..., lah .... Dulu saya kan pernah jual rumah yang dimiliki oleh Maya, jual mobil mewah milik Maya. Itu semua saya masukkan dalam rekening saya. Ya, setidaknya untuk biaya hidup saya, karena saya memang tidak punya tempat tinggal setelah menjual rumah dan mobil Lesti. Saya rela pakai mobil yang kuno seperti ini, mobil yang jelek seperti ini, bahkan oleh Bang John dikatakan ini mobil sudah kakek-kakek. Sementara mobil mewah yang ada malah saya jual. Harganya lumayan mahal .... Malah Bang John sendiri yang menjual. Setelah itu, saya juga menjual ruko dan tempat usaha yang dulu saya kelola bersama Lesti. Juga lumayan, uangnya bisa saya masukkan dalam rekening. Dan tentunya, itu juga untuk persiapan masa depan saya. Nah, termasuk yang digunakan untuk membeli villa itu. Dan kenyataannya, uang yang dipakai beli vila itu malah dikembalikan dan bahkan malah mendapatkan tambahan ganti rugi dari pemiliknya. Makanya ketika kita beli rumah itu, sudah mencukupi uang dari pengembalian, dari ganti rugi villa yang kita minta balik ke pemiliknya itu. Jadi kalau sekarang uang saya dikatakan banyak itu, sebenarnya tidak .... Uang saya tinggal beberapa saja .... Tabungan saya pun tidak begitu banyak. Begitu, Mah .... Mamah harus tahu .... Makanya kita harus berhemat ..., kita harus bisa mengelola keuangan dengan baik, agar hidup kita tidak kekurangan." begitu kata Podin yang tentu justru memberi nasehat kepada istrinya, untuk bisa mengelola keuangan secara baik.


    "Tapi, Mah ..., kalau misalnya ..., pemikiran Mamah itu tadi, kita buka usaha lain, malah kelihatannya itu akan baik ya, Mah ...." Podin justru tertarik dengan kata-kata istrinya, untuk membuka usaha baru.


    "Apa Papah sanggup?" tanya istrinya.


    "Ya, cari orang yang bisa dipercaya untuk mengelola." jawab Podin.

__ADS_1


    "Terserah Papah saja, deh .... Mana sekiranya yang baik." sahut Cik Melan.


Tentunya Podin lega mendengar jawaban istrinya. Tentunya Podin akan berpikir lagi, bagaimana nanti caranya ia akan membuat usaha lagi. Dan pastinya usaha itu akan bisa menutupi rahasia caranya melakukan pencarian uang dengan menggunakan pesugihan. Ya, kini Podin mulai memikirkan untuk membuka usaha lagi.


"Kira kira Usaha apa yang bisa kita kembangkan lagi atau setidaknya kita akan membuat toko. " kata Podin pada istrinya.


"kalau saya memang tidak bisa memikirkan itu, Pah.... saya itu hanya bisa menjalankan bagaimana untuk mengatur keuangan. Saya hanya bisa menghitung keluar masuknya uang. tapi kalau saya disuruh berpikir kira-kira Usaha apa yang akan dilakukan, Saya memang sudah tidak sanggup. itu bukan keahlian saya, Pah." jawab Cik Melan kepada suaminya.


"Kalau mamah seperti itu, apalagi saya.... saya ini Justru lebih tidak bisa menentukan jenis usaha setidaknya mamah kan orang pendidikan. Orang cerdas, sarjana juga .... pasti punya ilmu, punya kepandaian untuk mengembangkan usaha. Terus terang saya tidak bisa merancang sebuah usaha dan yang tentu tidak sanggup untuk membuka usaha secara sendiri. jawab Podin.


Dengan jawaban itu pasti kembali Cik Melan meragukan Podin. sebenarnya suaminya ini pernah buka usaha atau tidak? caranya berpikir dia itu bukan seorang pengusaha. Tetapi kalau dilihat dari jumlah uangnya yang banyak, pastinya dia memang seorang pengusaha yang sukses. Dia juga punya banyak usaha. tapi kenapa ketika diajak bicara tentang rencana usaha, Podin tidak bisa menjawabnya.


Cik Melan yang bisa menghitung uang, yang bisa memperkirakan keuntungan, bahkan juga bisa memperkirakan pemasukan, pasti ragu-ragu dengan keuangan yang dimiliki oleh suaminya. sebenarnya Dari mana asal uang itu. dalam hati, Cik Melan tidak percaya dengan kata-kata suaminya. dia tidak percaya kalau suaminya tidak bisa membuka peluang usaha. dalam pikiran Cik Melan, ia masih membayangkan Bagaimana sebenarnya cara mendapatkan uang yang diperoleh oleh suaminya itu, kalau dia hanya mengandalkan dari usahanya, hanyalah tempat hiburan karaoke yang dikelola oleh Cik Melan, pasti itu tidak masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2