PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 52: CURIGA


__ADS_3

    Kini Podin sudah tidak lagi mau mengurusi Maya. Bahkan setiap kali ditelepon oleh Maya, Podin langsung mematikan panggilan itu. Berkali-kali Maya menghubungi Podin, tetapi Podin tidak menghiraukan telepon maupun WhatsApp dari Maya, yang tentunya meminta untuk pulang, untuk menjenguknya, untuk mengelus perutnya yang semakin buncit, untuk melihat calon bayinya. Tentu Maya juga rindu dengan Podin. Pastinya rindu dengan uangnya.


    Ya, setelah Podin menikah dengan Rina, setelah Podin hidup berumah tangga bersama dengan Rina, hidup menjadi satu di rumah kontrakan dengan Rina, tentu Podin tidak ingin masa-masa bulan madunya bersama Rini ini diganggu oleh Maya. Pastinya, saat Podin sedang menjalin kemesraan bersama Rina, janda muda yang belum punya anak itu, yang sepak terjangnya tidak kalah menggairahkan bila dibandingkan dengan Maya, mantan pemandu karaoke anak buahnya sendiri di tempat hiburan yang dimilikinya, Podin tidak bakal rela Maya mengganggu kemesraannya.


    Toh kenyataannya, Rina tidak pernah menuntut. Rina tidak pernah meminta. Dan Rina tidak pernah mengejar-ngejar harta. Bahkan saat diajak tinggal di rumah kontrakan saja, Rina tidak pernah menuntut kepada Podin untuk dibelikan rumah baru, untuk tinggal di rumah mewah. Walaupun hidup sederhana di rumah kontrakan, tetapi Podin merasa bahwa hidup bersama Rina ini lebih menyenangkan hatinya. Tidak tertekan. Dirinya tidak dikejar-kejar untuk selalu mencari harta dan uang. Podin tidak bingung untuk selalu mengadakan dan memenuhi permintaan Maya tentang harta kekayaan yang dimintanya.


    Tentu karena tabungan Podin jumlahnya masih besar, dan juga harta kekayaan yang didapatkannya dari Pulau Berhala itu masih sangat banyak, dan Podin masih bisa mencukupi semua kebutuhan yang digunakan untuk mencukupi hidupnya, maka Podin tidak memikirkan lagi tempat usahanya. Biarlah tempat hiburan itu dikelola oleh Maya, untuk memenuhi kebutuhan hidup Maya. Toh biaya operasionalnya juga cukup besar, belum lagi kalau harus dituntut oleh Maya untuk ini itu. Podin malas datang ke sana, malas untuk bertemu Maya.


    Tentu hal ini menyebabkan Maya juga jengkel, karena dalam kondisi hamil muda tetapi justri ditinggal oleh Podin. Maya yang banyak kebutuhan, tentunya banyak mengalamai kekurangan, terutama dalam masalah keuangan. Setiap kali Podin ditelepon, tidak pernah diangkat. Setiap kali di WA, jawabannya hanya sedang mencari uang. Tidak pernah ada kepastian kapan pulangnya. Demikian juga tidak mau memberi tahu di mana sekarang berada. Tidak pernah ditengok, tidak pernah diberi uang. Tentu Maya sangat jengkel.


    Maya yang menelepon terus menerus, tentu akan mengganggu kemesraan Podin dengan Rina. Hingga akhirnya, pada suatu hari, saat Maya menelepon Podin, kala itu Podin sedang mandi. HP Podin waktu itu berada di atas tempat tidur. HP milik Podin itu teris berdering. Ketika mendengar dering HP yang berbunyi terus menerus itu, Rina pun langsung mengambil HP tersebut. Sebenarnya Rina tidak ingin mengangkat atau mengurusi HP yang berdering itu. Namun karena berdering berkali-kali, maka Rina berniat memberikan kepada suaminya, Podin yang masih ada di dalam kamar mandi. Siapa tahu panggilan itu sangat penting, karena berdering terus.


    Rina yang mengambil HP itu, pasti langsung mengamati siap yang menelepon.


    "Maya." terbaca nama dalam layar HP tersebut.


    Rina yang mengamati nama pemanggil dalam HP, kini tahu bahwa yang memanggil berkali-kali itu adalah Maya. Tentu Rina hanya berani mengamati nama yang ada dalam panggilan itu saja. Tidak berani untuk mengangkat dan menjawab.


    Setelah beberapa saat diamati nama pemanggil itu, sebentar kemudian panggilan itu pun mati. Tentu karena sudah kelewat waktu.


    Tetapi, lagi-lagi panggilan itu kembali berbunyi. Ya, yang memanggil Maya lagi.


    "Mas .... Mas Podin ...! HP-nya bunyi terus. Ada panggilan ...!" teriak Rina di depan pintu kamar mandi, memberi tahu suaminya kalau HP-nya berkali-kali bunyi.


    "Siapa yang memanggil ...?!" tanya Podin dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


    "Maya ...!" jawab Rina.


    "Hah ...?! Biarkan saja .... Nanti akan berhenti sendiri." tentu Podin langsung kaget, karena nama Maya sudah disebut oleh Rina. Podin harus merahasiakan hal ini. Makanya ia buru-buru menyelesaikan mandi. Podin tidak ingin istri barunya itu mengangkat telepon Maya. Nanti bisa jadi berabe.


    Memang, bila melihat orang yang memanggil itu namanya adalah Maya, dan dalam profil itu terlihat foto perempuan yang cantik, tentu Rina menjadi curiga, ingin tahu siapa sebenarnya Maya, wanita yang menelpon berkali-kali pada suaminya itu. Rina penasaran dengan perempuan yang menelpon Podin itu. Maka, setelah Podin selesai mandi sore itu, Rina langsung bertanya kepada Podin, tentunya menanyakan perempuan yang meneleponnya itu.


    "Mas Podin ..., tadi HP-nya bunyi terus .... Ada panggilan berkali-kali .... Yang memanggil namanya Maya. Siapa Maya itu, Mas Podin ...?" tanya Rina kepada Podin yang sedikit banyak pasti ada rasa cemburu bagi Rina, karena suaminya dihubungi oleh seorang wanita yang profilnya terlihat cantik.


    "Ooh ..., Maya .... Mana ..., mana ..., mana HP-nya?" Podin langsung meminta HP-nya. Terus Podin melihat panggilan-panggilan yang ada di dalam HP-nya itu. Dan ternyata, Maya memang sudah memanggil berkali-kali.


    Tentunya saat Rina menunjukkan HP itu, pasti Rina tahu, dan pasti Rina curiga. Karena wanita yang bernama Maya itu sudah memanggil Podin sampai berkali-kali, berarti ada sesuatu yang penting.


    "Maya itu siapa, Mas?" tanya Rina yang ingin tahu,


    "Pantesan cantik .... Mau apa dia ...?" tanya Rina dengan wajah agak cemberut.


    "Ya ..., kalau namanya pemandu karaoke, mereka kan berdandan, Rina .... Mau tidak mau, mereka harus tampil cantik .... Karena dia akan berhubungan dengan para pelanggan, orang-orang yang berdatangan mau bernyanyi, mau cari hiburan, mau karaokean. Kalau dia nggak dandan canti, ya para pelangga malas .... Akhirnya tempat karaokenya nggak laku lah, Rin ...." begitu jawab Podin kepada Rina, seakan menjelaskan keadaan pegawai pemandu karaoke.


    "Terus .... Hubungannya apa antara Maya sama Mas Podin?" tanya Rina yang masih penasaran.


    "Ya ..., namanya satu tempat kerja, Rin .... Saya menjadi teknisi di sana, saya jadi karyawan di sana, kalau Maya itu kan pemandu karaoke .... Jadi kalau ada masalah dengan alat-alat karaoke, pasti menghubungi saya, Rin .... Ya ..., setiap hari saya harus stanby, ada disaat setiap malam, ada di sana, siap untuk membantu menata peralatan yang digunakan." kata Podin yang tahu gelagat Rina, pasti akan marah kalau tahu persis siapa sebenarnya Maya itu.


    "Bener ....?! Cuman teman ...?!" begitu tanya Rina yang tentu mulai curiga.


    "Bene ..., Rin .... Banyak teman-teman perempuan saya yang ada di tempat hiburan itu .... Namanya saja tempat karaoke, namanya saja tempat hiburan .... Di sana banyak pemandu karaoke .... Masak saya harus membatasi diri untuk tidak mengenal sesama karyawan di dalam tempat yang sama ...." kata Podin yang tentu juga ingin menutupi dirinya dan berpura-pura baik kepada siapa saja, sesama karyawan di tempat kerjanya.

__ADS_1


    "Ya, udah .... Hati-hati kalau kenal sama cewek .... Jangan mudah dipengaruhi oleh cewek .... Jangan mudah tergoda sama pemandu karaoke .... Katanya PK itu sukanya menggoda laki-laki .... Katanya orang-orang itu pada bercerita kalau PK suka pergi-pergi sama laki-laki ...." kata Rina yang tentu tidak senang kalau suaminya terlalu dekat dengan para pemandu karaoke yang ada di tempat kerjanya.


    "Iya ..., Rina .... Saya tahu diri .... Bayaran saya itu berapa .... Tidak banyak, tidak sanggup membelikan bedak sama lipstiknya .... Toh sekarang saya sudah punya istri kamu, Rina yang saya sayangi ...." kata Podin yang tentu memberikan kemesraan kepada Rina.


    "Kok gak ditelpon balik?" kata Rina yang mengingatkan suaminya. Dan tentunya amarahnya sudah luluh saat pipinya dicium oleh Podin.


    "Ini ..., nanti sebentar .... Paling saya ditunggu, disuruh cepat-cepat datang ke tempat karaoke. Pastinya disuruh membenahi atau mengatur tempat karaoke. Karena saya kan teknisi di sana. Saya kan harus siap sedia kapan saja kalau ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Saya harus segera datang ke tempat itu." kata Podin pada istrinya, sambil sudah berganti pakaian untuk pergi.


    "Iya, Mas .... Cuman pesen saya, Mas Podin hati-hati .... Sekali lagi ..., jangan terlalu dekat dengan para pemandu karaoke itu .... Bahaya, Mas .... Perempuan-perempuan kayak gitu itu mau sama siapa saja." kata Rina yang terus mengingatkan suaminya.


    Benar juga kata-kata Rina itu. Memang terlalu dekat dengan perumpuan seperti Maya itu sangat berbahaya. Podin sudah mengalaminya sendiri. Bahkan Podin sudah menjadi korban. Tentu kata-kata Rina itu memberi motivasi bagi dirinya untuk meninggalkan Maya. Apalah artinya Maya, dia hanya perempuan tamak. Yang selalu minta ini minta itu. Memaksa orang untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Tetapi nanti dihabiskan oleh Maya, tanpa mengerti bagaimana susahnya orang mencari uang. Tuntutannya macam-macam. Yang semuanya itu sebenarnya tidak ada manfaatnya. Podin baru menyadari kalau dirinya sebenarnya sudah diperdaya oleh Maya. Dan setelah ia menikah dengan Rina, barulah terasa perbedaan yang sangat menyolok. Antara perempuan yang mau menerima apa adanya, dan perempuan yang hanya mengejar hartanya.


    "Rina .... Saya berangkat ke tempat kerja dulu ...." kata Podin yang berpamitan kepada istrinya.


    "Iya, Mas .... Hati-hati .... Ingat pesan saya ..., jangan dekat-dekat dengan pemandu karaoke." kata Rina melepas kepergian suaminya.


    "Jangan khawatir, Sayang ...." sahut Podin sambil tersenyum, dan tidak lupa mencolek dagu Rina.


    "Pulangnya jam berapa nanti, Mas ...?" tanya Rina lagi. Maklum pengantin baru.


    "Nanti sebisa mungkin saya akan cepat pulang." jawab Podin yang sudah masuk ke mobilnya, dan siap untuk berjalan. Sebutannya berangkat kerja.


    Padahal, kalau tahu yang sebenarnya, Podin tidaklah akan berangkat kerja ke tempat karaoke. Tetapi ia hanya keluar dari rumah, entah mutar ke mana, yang penting sudah dianggap berangkat kerja. Dan nanti kalau sudah larut malam, baru pulang ke rumah, dengan mengatakan kalau dirinya pulang kerja. Kerja apa? Orang Podin itu tidak punya keahlian apa-apa. Paling-paling nongkrong di warung kopi. Tetapi memang seperti itulah, ketika orang ingin disebut bekerja, sering saja pergi ke luar rumah.


    Dan lebih dari itu, Podin sebenarnya ingin menjawab telepon Maya. Setidaknya, kalau nanti Maya menelepon lagi, Rina tidak tahu. Ini masih rahasia buat Podin. Tentu Podin harus bisa bersandiwara. Setidaknya, Rina jangan sampai tahu, siapa sebenarnya Maya itu. Selebihnya, Podin yang ingin lari dari cengkeraman Maya, harus berpikir bagaimana caranya. Mungkin, di tempat tongkrongan itulah, Podin nanti akan mendapat ide-ide dari obrolan orang-orang yang juga nongkrong di sana.

__ADS_1


__ADS_2