
"Cepat pergi dari tempat ini ...!! Kamu harus segera meninggalkan ruko ini ...!! Kamu harus segera pergi dari sini ...!! Bawa barang-barangmu ...!! Ayo cepat pergi dari sini ...!!" begitu kata Podin yang marah-marah kepada istrinya, mengusir istrinya untuk pergi meninggalkan ruko itu. Ya, ruko yang ditempati istri dan anak-anaknya itu akan dijual oleh Podin.
Benar, akhirnya Isti tidak bisa lagi menahan kemauan suaminya yang akan menjual ruko itu. Bahkan Podin yang selalu marah-marah itu sudah mengancam agar istri dan anak-anaknya harus segera pergi meninggalkan ruko itu.
Tentu hal itu akan mengakibatkan Isti menjadi bingung. Tentu karena Isti tidak lagi akan punya rumah, pasti tidak lagi akan tinggal di rumah itu, dan yang ia bingungkan adalah akan kemana ia harus pergi? Akan ke mana ia tinggal? Apalagi Isti harus dibebani oleh anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Tentu Isti bingung tidak berkesembuhan. Isti sedih yang teramat pedih. Isti menangis hatinya teriris-iris. Isti meratapi nasibnya yang sangat malang. Isti sudah mengalami nasib yang tidak menyenangkan, mengalami nasib yang selalu terlunta-lunta. Isti tidak lagi bisa berpikir akan tinggal ke mana lagi. Dia tidak punya saudara sebagai tempat untuk minta harap, supaya bisa tinggal. Tentunya Isti kebingungan, bagaimana mungkin dia akan mengajak anak-anaknya untuk bisa berteduh ataupun tidur. Dan tentunya, paling-paling Isti akan kembali ke gubugnya yang dulu pernah dibuatkan oleh warga kampung. Ia paling hanya bisa tinggal di kolong jembatan, di tempat-tempat yang tidak digunakan oleh orang, seperti pos ronda maupun gubug-gubug di sawah. Hanya itu harapan yang bisa dilakukan oleh Isti.
"Dewi ..., Asri ..., Antok ...! Ayo kemasi barang-barangmu, pakaianmu, mainanmu .... Semuanya tolong segera untuk dikemas ..., di bungkus ..., masukkan dalam tas. Jangan sampai ada yang ketinggalan .... Jangan sampai ada yang tercecer ...!" kata Isti menyuruh anak-anaknya.
"Memang kenapa, Bu ...?!" tanya anak-anaknya.
"Besok pagi kita harus pergi dari rumah ini. Kita akan meninggalkan rumah ini .... Cepat barang-barangmu dikemasi ...." jawab ibunya.
"Pergi, Buk ...?!" tanya anak-anaknya lagi.
"Iya .... Kita akan pergi meninggalkan rumah ini .... Kita harus pergi dari uko ini .... Kita harus meninggalkan rumah ini ...." kata ibunya memberi tahu anak-anaknya.
"Lhoh ..., kok ...?!" tentu anak-anaknya bingung.
"Karena ruko ini akan dijual oleh Bapak kamu ...." begitu kata Isti kepada anak-anaknya, tentu dia meminta kepada anak-anaknya agar segera mengemasi barang-barangnya, untuk mengemasi pakaian serta buku-buku dan mainan-mainannya.
"Bu ..., kita akan pergi ke mana?" begitu tanya Dewi, anak yang paling besar yang tentu dia ingn tahu pindahnya, dan ikut bingung bagaimana dia bisa pergi dari ruko itu. Sementara, mereka sudah tidak punya tempat tinggal lagi.
"Ya ..., pokoknya kita pergi dari tempat ini dulu .... Yah, yang penting dapat tempat untuk berteduh sementara." jawab Isti pada anak-anaknya.
"Bu ..., kalau kita pergi ke rumah kita yang dulu itu, bagaimana ...?" usul Dewi yang tentu dia teringat pada rumahnya yang dulu, ketika dia belum punya rumah yang bagus.
Ya, rumah gubug, di mana dulu waktu mereka belum punya apa-apa, waktu mereka masih miskin, yang kala itu hanya dibangunkan rumah sederhana oleh orang-orang di kampungnya, yang diberi kebaikan oleh Bapak Lurah untuk dibangunkan gubug di tempat yang jauh dari perkampungan.
"Iya ..., Dewi .... Mau tidur di mana saja, yang penting nanti pokoknya kita itu bisa punya tempat terlebih dahulu. Yang penting kita bisa berteduh. Yang penting kita bisa merebahkan diri untuk tidur." begitu kata ibunya yang tentu menenangkan hati anak-anaknya agar mereka mau segera bersiap.
"Ya sudahlah, Bu .... Kami ikut saja." jawab Dewi.
"Kenapa sih, Bu ..., Bapak mengusir kita lagi ...?!" tanya Asri.
"Dulu waktu kita berada di rumah yang bagus itu, kita juga diusir .... Katanya rumahnya mau dijual .... Dan sekarang, kita diusir lagi .... Katanya ruko ini juga mau dijual .... Memangnya Bapak kenapa sih, Bu ..., kok rumahnya dijual terus ...?!" tanya Dewi kepada ibunya, yang tentu ia ingin tahu mengapa bapaknya selalu mengusir dirinya.
"Itu nasib kita .... Itu rezeki kita .... Kalau memang kita harus tinggal di rumah kita yang dulu, kita harus tinggal di gubuk itu lagi ..., ya harus kita terima saja .... Kita pasrahkan semuanya ini kepada Yang Maha Kuasa .... Setidaknya nanti kita bisa tinggal di sana. Kita masih bisa bersama .... Yang penting kita masih punya tempat tinggal ...." begitu kata ibunya, yang tentu sangat sedih melihat anak-anaknya sangat sedih, melihat anak-anak itu tidak bisa apa-apa lagi. Tentu ia menyadari perasaan anaknya. Isti tahu bagaimana hati anaknya yang remuk redam, karena dulu sudah pernah diusir dari rumah yang mewah, dan kini ia harus pergi meninggalkan ruko sebagai tempat tinggalnya. Tentunya anak-anaknya akan menderita, merasakan penderitaan yang terus berganti. Ya, inilah kehidupan yang dialami oleh Isti dan anak-anaknya.
*******
__ADS_1
Pagi itu, Isti mengajak anak-anaknya untuk meninggalkan ruko yang sudah dia jadikan sebagai tempat usaha dan tempat tinggal. Isti menyewa mobil angkutan kota dan mobil pick up, untuk membawa barang-barangnya dan tentu untuk dirinya dan anak-anaknya. Isti memasukkan semua barang-barang itu yang akan dia bawa. Dan tenunya juga mengangkut barang-barang dagangannya. Ya, Isti harus membawa barang-barang dagangannya, rencananya untuk membuka usahanya, agar bisa menghidupi anak-anaknya. Setidaknya nanti untuk usaha dia dalam mencari nafkah, mencari rezeki untuk menghidupi anak-anaknya. Ya, Isti nantinya pasti akan berjualan lagi, akan berdagang lagi, sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari bersama anak-anaknya.
Namun ternyata, sesampai di rumahnya yang dulu, Isti yang turun dari angkot carterannya itu, ia bingung. Rumah gubug yang pernah ia tinggalkan itu, rumah gubuk yang pernah ia tempati itu, ternyata rumah itu sudah tidak ada lagi. Ya, rumah gubug yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya itu, kini sudah tidak ada lagi. Sesampai di sana, tentu Isti kecewa. Isti menjadi bingung akan tinggal di mana. Dirinya Karena sudah tidak menemukan tempat tinggal itu lagi.
"Mau apa kamu kemari lagi ...?!" tanya salah seorang tetangganya secara ketus, yang tentunya begitu melihat Isti ada di situ, dia langsung menemui Isti yang berada di sebelah angkutan itu bersama dengan anaknya, dan juga membawa barang-barang yang cukup banyak.
"Saya mau pulang ke sini lagi .... Saya mau ke rumah saya yang dulu .... Tapi kok rumah saya tidak ada lagi, ya .... Di mana rumah saya ...?" begitu kata Isti yang menjawab pertanyaan dari tetangganya yang mendekatinya. Tentu Isti ingin tahu dari para tetangganya itu, di mana rumahnya yang dulu menjadi tempat tinggalnya itu, yang kini sudah tidak ada lagi.
"Kenapa mencari rumahmu yang dulu ...?! Kamu sudah menjadi kere lagi ya ...?! Pantesan kamu balik ke sini .... Ya itulah orang sombong, orang tidak tahu diri, orang yang lupa dengan daratan .... Dasar orang kaya kalau dadakan ya seperti itu .... Kenapa kamu balik lagi kemari ...?! Rumahmu sudah hilang, rumahmu sudah roboh, rumahmu sudah habis .... Apa harta kekayaanmu sudah habis ...?! Katanya kamu sudah jadi orang kaya raya .... Kenapa balik ke sini lagi? Pasti kamu tidak punya tempat tinggal lagi, ya ...?! Itu pasti uang suamimu itu hasil dari pesugihan ...." begitu hujatan tetangganya, yang tentunya dulu ketika Isti kaya, kemudian berpindah menempati rumah yang megah, rumah yang mewah, tetangganya pun tidak ada yang diberitahu. Tetangganya tidak ada yang diundang untuk selamatan. Isti tidak mengadakan syukuran. Isti tidak berpamitan dengan para tetangganya. Bahkan ia lupa begitu saja dengan para tetangganya, dan rumahnya yang pemberian dari warga itu, rumah yang hanya berupa gubug itu ditinggalkan begitu saja tanpa bilang-bilang dan tanpa memberi tahu tetangga sekitarnya.
Ya, tentu tetangga-tetangganya itu jengkel dengan Podin dan Isti yang sudah sombong karena tiba-tiba menjadi kaya. Dan begitu Isti datang lagi bersama tiga orang anaknya, ingin menempati rumah itu kembali, namun rumah itu sudah tidak didapatinya lagi. Rumah itu sudah tidak ada.
Tentu tetangga-tetangganya yang merasa terhina, tetangga-tetangganya yang merasa sakit hati, maka kini mereka mengejek kembali Isti yang dulu miskin, dulu tidak punya apa-apa, dulu hanya selalu berhutang di warung-warung tetangganya, kini saat ia datang kembali, pasti dengan kemiskinannya lagi.
"Sokor kamum Is .... Rasain, kamu .... Jadi orang yang tidak bisa bersyukur ..., kamu itu orang yang tidak bisa berterima kasih ..., kamu itu kurang ajar ..., kamu itu sombong ..., kamu itu sok ...." begitu kata para tetangganya yang kembali mengejek Isti, yang kini akan datang mencari rumahnya yang sudah dibiarkan roboh oleh para tetangganya itu.
"Bu ..., maaf .... Rumah saya yang dulu di sini itu mana ya ...? Kok sudah tidak ada ...?" tanya Isti lagi, kepada tetangganya yang lain. Tentu Isti menanyakannya, karena ia ingin tinggal kagi di rumahnya yang dulu seperti gubug reot itu sudah hilang.
"Sudah roboh .... Sudah dibuang, karena ngotor-ngotori kampung. Itu menjadi sarang penyakit ..., tidak pantas ada gubug bobrok yang tidak diurusi ...!" begitu jawab tetangganya, yang tentu menyakiti hati Isti.
Memang, bagaimanapun juga Isti merasa keliru. Isti merasa bersalah, karena waktu itu dia tidak pernah berpamitan kepada tetangganya. Dia pergi begitu saja. Ya, podin waktu itu yang tiba-tiba punya uang banyak, langsung meninggalkan kampungnya tanpa berkata apa-apa kepada para tetangganya. Tentu para tetangganya sakit hati dengan perlakuan Podin dan istrinya itu.
"Bu ..., kita terus mau tinggal di mana ...? tanya anak-anak itu kepada ibunya, yang tentu dia juga kecewa karena rumahnya yang dulu ia tempati sudah tidak ada lagi.
"Maaf, Bu ..., terus ini kita mau ke mana ...? Ini kita harus menurunkan barangnya di mana ...?" tanya sopir pick up yang membawa banyak barang yang merupakan bawaan dari Isti. Tentu sopir pickup itu juga bingung karena dia harus segera menurunkan barang-barang yang ada di atas mobilnya.
"Iya ..., Bu .... Ini saya juga mau ngompreng lagi .... Terus, ini barang-barang Ibu bagaimana ...? tanya sopir angkot yang tentu juga bingung karena barang-barang bawaan dari Isti dan anak-anaknya masih banyak berada di dalam angkutan itu.
Benar, kali ini, Isti benar-benar bingung. Ia tidak tahu lagi mau tinggal di mana. Ia tidak tahu Iagi mau tidur di mana. Tidak ada tempat lagi bagi Isti dan anak-anaknya. Bahkan akhirnya, para sopir itu pun karena sudah semakin lama menunggu dan tidak tahu barang-barang itu akan diturunkan di mana, dua orang sopir itu pun langsung menurunkan barang-barangnya di tempat di mana Isti dan anak-anaknya berhenti. Ya, para sopir itu menurunkan barang-barang itu di pinggir jalan begitu saja. Bahkan kini para tetangganya pun tidak ada yang mendekat, hanya mengintip dari balik jendela rumahnya, karena mereka tidak bakal mau jika nanti dekat-dekat dengan Isti, maka paling tidak mereka akan dimintai tolong oleh Isti. Paling-paling hanya akan merepotkan para tetangganya. Dan Isti pasti akan nunut tinggal di rumah tetangga-tetangganya.
Makanya, para tetangga itu langsung masuk ke rumah menutup pintu rumahnya dan mereka hanya mengintip dari jendela saja, melihat apa yang akan dilakukan oleh Isti dengan tiga orang anaknya itu.
Anak-anak Isti mulai menangis. Terutama Antok, anak yang paling kecil itu. Dia sudah menangis duluan. Ya, tentu karena anak-anak itu mulai kepanasan, dan tentu karena dia bingung mau ke mana, hanya berdiri saja di pinggir jalan. Kemudian Asri juga menangis. Begitu juga Dewi, yang tentu dia juga bingung karena dia tidak tahu akan tinggal di mana. Dia tidak tahu akan diajak oleh ibunya pergi ke mana. Bahkan hari itu saja, Dewi sudah tidak berangkat sekolah.
Tentu melihat anak-anaknya yang sudah pada menangis itu, Isti semakin bingung. Isti semakin khawatir. Isti semakin tidak tahu bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa diam, agar anak-anaknya bisa paham dengan keadaannya. Tetapi lebih dari itu, Isti juga bingung dia akan tinggal di mana, dia akan mengajak anak-anaknya tidur di mana, dan tentunya, bagaimana dengan barang-barang yang dibawanya, yang sangat banyak tersebut.
Hingga akhirnya, beberapa saat lamanya Isti yang kebingungan, serta anak-anaknya yang sudah pada menangis, dan tentu Isti juga sudah menangis meski tidak seperti anak-anaknya. Mereka yang berada di pinggir jalan sambil menunggu barang-barangnya yang cukup banyak itu, tidak hanya jajanan-jajanan saja, tidak hanya pakaian anak-anaknya saja, tidak hanya pakaian dirinya, tetapi juga barang dagangan yang cukup banyak. Dan disaat Isti dan anak-anaknya itu kebingungan untuk menjaga barang-barangnya itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki tua datang menghampirinya. Laki-laki dengan pakaian compang-camping serta mengenakan caping kropak.
"Kakek ....?!" Dewi tidak lupa dengan wajah laki-laki tua yang menghampirinya itu. Demikian juga Asri dan Antok. Begitu mereka melihat orang tua tersebut, maka mereka bertiga langsung berteriak.
__ADS_1
Laki-laki tua dengan pakaian compang-camping dan mengenakan caping keropak itu berhenti dihadapannya.
"Kalian ini pada mau ke mana ...?" begitu tanya si kakek tua yang sudah berada di depan empat orang yang berdiri di pinggir jalan dan sedang kebingungan itu.
"Maaf ..., Kek .... Kami diusir oleh bapaknya anak-anak ini .... Kami sebenarnya ingin pulang ke kampung, tetapi ternyata rumah kami sudah tidak ada, rumah kami sudah roboh, dan kami tidak bisa tinggal di tempat ini lagi." begitu jawab Isti kepada orang tua yang ada di hadapannya itu.
"Memangnya kenapa kok harus pergi dari rumah ...?" tanya si kakek itu.
"Kami diusir oleh bapaknya anak-anak .... Ruko yang kami tempati itu akan dijual ...." jawab Isti yang sambil memeluk anak-anaknya.
"Suamimu memang keterlaluan .... Suamimu memang serakah .... Suamimu memang jahat .... Suamimu memang tega kepada dirimu dan kepada anak-anakmu ...." kata laki-laki tua itu yang tentunya ia tahu persis bagaimana perlakuan Podin terhadap istri dan anak-anaknya. Yang pasti laki-laki tua itu tahu persis kalau Podin sudah menjual rumah mewahnya, mengusir istri dan anak-anaknya untuk tinggal di ruko. Lantas sekarang, Podin pun tega mengusir kembali istri dan anaknya dari ruko itu karena tentu ruko itu akan dijual dan uangnya ganti berikan kepada istri muda.
"Terus ..., ini kalian mau tinggal di mana?" tanya si kakek tua itu kepada Isti dan anak-anaknya.
"Tidak tahu, Kek ...., kami akan tinggal di mana .... Terus terang rumah yang kami tuju itu sudah tidak ada lagi. Bahkan bekasnya saja sudah tidak ada. Kami tidak tahu kemana harus melangkah. Mungkin kami akan tidur di kolong jembatan saja." begitu kata istri yang tentu bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Saya tidak mau kalau tidur di kolong jembatan ...." kata Dewi yang tentu merasa sangat sedih dan tidak mau kalau diajak tidur di bawah kolong jembatan.
Pastinya kehidupannya memang sangat menderita, tetapi anak-anak ini tentu kasihan kalau harus diajak tidur di bawah kolong jembatan.
"Kalau misalnya kamu tinggal di gubug Kakek, bagaimana ...?" tiba-tiba saja kakek tua itu menawarkan kepada empat orang itu. Tentunya Si Kakek tua itu menawarkan kepada mereka untuk tinggal di rumahnya.
Pasti Isti membayangkan kalau rumah si kakek tua itu hanyalah rumah kecil yang sempit, dan mungkin juga seperti gubug reyot. Ya tentunya mereka hanya melihat dari pakaian yang dikenakan oleh kakek tua itu yang memang layaknya seperti pengemis. Tetapi walau hanya sekedar gubug misalnya, bagi Isti dan anak-anaknya saat ini adalah bisa berteduh saja.
"Kalau kami mau ikut tinggal di gubugnya Kakek, nanti Kakek bagaimana? Kakek tidur di mana?" tanya Isti kepada kakek itu, yang tentu juga khawatir kalau dirinya harus tidur bersama laki-laki tua itu. Bahaya.
"Tidak usah khawatir .... Nanti kalian saja yang tidur di sana .... Kakek bisa tidur di sembarang tempat. Bisa tidur di luar. Bahkan juga bisa tidur di mana-mana. Tidak usah khawatir. Kalau memang kalian mau, mari ikut kakek. Nanti kalian bisa tidur di sana." begitu kata si kakek tua itu, yang kembali menawarkan kepada mereka.
"Iya, Kek .... Kasihan anak-anak kalau harus tidur di kolong jembatan." kata Isti kepada si kakek itu.
Akhirnya Isti dan anak-anaknya pun mengatakan "Mau". Mengatakan sanggup dan mengatakan bersedia. Namun tentunya mereka masih bingung untuk membawa barang-barangnya yang cukup banyak. Ya, karena tadi kendaraan yang disewanya sudah meninggalkan dirinya, meninggalkan barang-barangnya. Dan barang-barang itu hanya ditaruh saja di pinggir jalan.
"Tidak usah khawatir .... Saya akan mencoba untuk mencari truk yang bisa mengangkut barang-barang ini, untuk dibawa ke tempatku." kata si kakek yang selanjutnya dia berdiri di pinggir jalan. Tentunya dia akan menghadang truk yang lewat untuk dimintai tolong mengantarkan.
Namun, tentu ada yang aneh dari si Kakek itu. Ya, dia hanya berdiri sebentar di pinggir jalan, tiba-tiba saja ada truk yang datang dan langsung berhenti di dekatnya. Bahkan tanpa diperintah atau bicara lebih dahulu, sopir dan kernet truk itu langsung turun dan mengangkut barang-barang milik Isti yang berada di pinggir jalan itu. Lantas dua orang itu pun langsung menaikkan barang-barang ke atas bak truk.
Dalam waktu sekejap pun semua barang milik Isti sudah terangkut di atas truk.
"Ayo ..., semuanya naik truk ...." kata si kakek itu yang menyuruh Isti dan anak-anaknya naik truk.
__ADS_1
Akhirnya, truk itu pun berjalan seperti yang ditunjukkan oleh si kakek tua tersebut. Isti dan tiga orang anaknya duduk di depan, di dekat sang sopir. Sedangkan kakek tua ikut berada di belakang bersama kernetnya. Truk terus melaju di jalan raya, yang tentunya akan menuju ke rumah si kakek.