PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 120: MERAUP UANG


__ADS_3

    Podin memang sangat penasaran dengan peti harta karun miliknya yang sudah pernah dibeli oleh Bang Kohar itu. Dan saat ia ditunjukkan oleh Bang Kohar, tentang bagaimana caranya agar peti itu bisa mengeluarkan tuyul,  dan tuyul itu kemudian mau mencari uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi dua buah peti yang menjadi tempat singgah si tuyul itu, maka tak khayal kagi, kalau Podin kemudian ingin melakukan cara seperti itu, agar cepat menjadi kaya raya dengan memanfaatkan tuyul yang menghuni peti tersebut. Meskipun sebenarnya Podin tahu persis, bahwa makhluk yang disebut tuyul itu, yang tinggal di dalam peti yang kini ia itu, peti yang ia curi dam dibawa kembali dari tempat Bang Kohar itu, dan kini sudah ia simpan di dalam kamar apartemennya, disembunyikan di sana agar tidak diketahui orang.


    Podin tahu persis bahwa sebenarnya makhluk itu adalah bayinya sendiri, anaknya yang baru saja dilahirkan oleh Maya, yang pernah dia persembahkan untuk korban di atas altar, di atas batu kisaran yang ada di istana Pulau Berhala. Tuyul itu adalah bayinya sendiri yang sudah dia sembelih, yang sudah dia potong lehernya dengan menggunakan pisau belati mata berhala. Dan bayi yang dipenggal lehernya itu mengalirkan darah yang bercucuran, darah yang mengalir di batu kisaran itu, yang kemudian menetes ke dalam dua buah peti yang kini ia puja-puja itu. Darah dari leher bayinya sendiri yang mengucur, kemudian berubah menjadi harta karun, menjadi perhiasan-perhiasan emas dan intan permata, yang memenuhi dua peti yang kini justru menjadi rumah tuyul. Makanya Podin yakin, bahwa makhluk kecil yang ia sebut sebagai tuyul itu, sebenarnya adalah bayinya sendiri.


    Ya, itu semua memang dilakukan oleh Podin untuk mendapatkan harta kekayaan. Bayinya sendiri yang baru lahir, yang ia korbankan untuk tumbal pesugihannya. Dan kini, Podin tidak pernah merasa menyesal, Podin tidak bertobat. Bahkan Podin justru memanfaatkan terus bayi yang ia anggap sebagai tuyul itu. Bayi yang kini menjadi makhluk aneh itu. Podin manfaatkan kembali bayi tak berdosa tersebut, ia perintahkan lagi untuk mencari uang, untuk mengisi peti-petinya itu dengan uang yang banyak jumlahnya. Podin kembali mencari pesugihan dengan cara yang tidak wajar.


    Kini, Podin yang sudah tergiur untuk memiliki uang banyak, ingin melakukan ritual untuk memanggil tuyul yang ada di dalam peti itu. Dan pastinya, ia akan menyuruh tuyul itu untuk mencari uang, untuk menumpuk kekayaannya, seperti yang sudah diajarkan oleh Bang Kohar. Di tengah malam itu, Podin mulai duduk bersila di depan peti itu. Podin mulai melakukan ritualnya. Podin mulai mengusap peti-peti tersebut dengan minyak wangi yang sudah diberikan oleh Bang Kohar. Podin mulai merapal, membaca mantra-mantra untuk memanggil si tuyul. dan akan menyuruh tuyul itu untuk pergi mencari uang. Malam yang hening. Malam yang sunyi. Malam yang sepi. Di dalam kamar apartemen itu, Podin melakukan ritual mencari uang secara gaib.


    Memang, dasarnya Podin adalah orang serakah. Podin adalah orang yang gila harta. Podin adalah orang yang ingin mempunyai kekayaan sebanyak-banyaknya. Namun di sisi lain, Podin adalah seorang Pemalas yang tidak mau bekerja. Podin adalah laki-laki yang senangnya berlengah-lengah, tidak mau bersusah payah. Podin adalah orang yang tidak mau rekasa, tidak mau banting tulang, yang tidak mau peras keringat. Tetapi dia hanya ingin mendapatkan harta kekayaan itu secara gampang, secara mudah, secara enak tanpa harus bersusah payah.

__ADS_1


    Padahal, saat Podin meminta penjelasan dari Bang Kohar, sudah dipesan oleh Bang Kohar, bahwa cara-cara mencari harta seperti itu tidaklah baik. Bahwa cara mencari kekayaan dengan hal yang tidak wajar itu tidak dibenarkan. Bahwa orang yang mencari harta kekayaan dengan memanfaatkan barang-barang keramat, jimat, benda-benda ajaib, seperti halnya dengan peti keramat itu, bukanlah hal yang baik. Itu ada kutukannya. Dan nanti, di suatu ketika, benda-benda semacam itu pasti akan meminta tumbal. Sama seperti halnya tuyul itu. Pasti suatu saat akan meminta upah, meminta makan, meminta minum, meminta imbalan. Makhluk itu pasti akan meminta balas jasa. Setidaknya, Podin harus merawat peti itu yang menjadi tempat tinggal si tuyul itu. Bahkan juga, Podin harus menjadi bagian dan selalu menyatu dengan peti itu, agar ia bisa mendapatkan harta kekayaan yang diinginkannya.


    Ya, itulah yang dilakukan oleh Podin untuk mencari harta kekayaan yang tidak halal. Bahkan Bang Kohar juga sudah mengatakan, kalau mencari harta dengan cara-cara seperti itu, sebenarnya Podin sudah mengikat perjanjian dengan setan. Podin sudah masuk ke dalam dunia hitam, yaitu dunia yang dikuasai oleh iblis. Dan pastinya, menurut ajaran agama, hal semacam itu tidak dibenarkan. Dosa. Bahkan menurut hukum masyarakat pun itu juga tidak pantas dilakukan. Karena kelakua semacam itu akan merugikan orang lain. Ya, pastinya tuyul itu nanti akan mencuri uang-uang para tetangga. Tuyul itu akan mengambil uang milik orang lain, yang kemudian dikumpulkan ke dalam peti yang nanti akan diambil oleh Podin. Itu artinya, Podin sudah mengambil milik orang lain. Itu sama saja kalau Podin sudah mencuri harta kekayaan orang lain untuk menumpuk kekayaannya sendiri. Dan itu sama saja artinya bahwa Podin sudah melakukan perbuatan yang tidak benar.


    Tetapi, apalah arti dari semua itu. Yang penting bagi Podin, dirinya bisa kaya raya, bisa menumpuk harta kekayaan, bisa memiliki uang dalam jumlah yang banyak. Obsesi dari seorang pemalas yang pengen kaya mendadak.


    Podin terus mengamati peti itu dengan penuh harap. Menunggu keluarnya makhluk yang akan ia minta untuk mengambil uang. Ya itu bukan bayi. Tetapi itu adalah tuyul. Sebentar kemudian, secara perlahan peti yang diamati oleh Podin itu tiba-tiba saja membuka tutupnya. Terangkat secara perlahan-lahan. Tetapi terus naik. Dan tutup itu pun mulai terbuka. Dari dalam peti itu, antara dua tutup peti itu, seakan ada bocah kecil yang keluar. Ya, bayi kecil dengan kepala gundul dan tanpa pakaian itu, seakan mendorong kedua tutup peti. Dan dia keluar dari peti itu. Kemudian berdiri di tepian dua buah peti uang menempel itu, sambil mengamati orang yang merapal mantra mengeluarkan dirinya. Ya, tuyul itu sudah menatap Podin.


    Podin agak gemetar. Podin agak takut, karena menyaksikan makhluk aneh itu sendirian. Tentu berbeda dengan saat berada di tempatnya Bang Kohar. Ya, waktu itu Podin hanya mengikuti saja apa yang dilakukan Bang Kohar. Karena waktu itu yang memanggil adalah Bang Kohar. Tetapi malam ini, di tengah malam yang sunyi dan sepi itu, untuk pertama kalinya Podin melakukan ritual seperti itu. Dan tentunya, makhluk ajaib itu hanya berada berdua saja bersama dengan Podin. Tidak ada orang lain di kamarnya. Pasti Podin agak gemetar.

__ADS_1


    Lantas, Podin mengucapkan mantra lagi, memerintah tuyul itu, seperti yang dicontohkan oleh Bang Kohar, "Carilah uang sebanyak-banyaknya .... Masukkan uang-uang itu ke dalam peti ini." Begitu kata Podin, dan tahu-tahu makhluk kecil itu sudah melayang pergi entah ke mana. Tapi yang pasti dan yang diyakini oleh Podin adalah, makhluk kecil itu akan mencarikan uang untuk dirinya.


    Podin terus mengamati dua peti yang ada di depannya. Ia tetap duduk bersila, dan terus memandangi peti itu. Dan, alangkah kagetnya ia,  namun juga girang, saat Podin menyaksikan ada selembar uang yang jatuh dan masuk ke dalam peti itu. Ya, itu uang pertama kali yang masuk ke dalam petinya. Podin tersenyum gembira. Lantas uang berikutnya menyusul. Berikutnya lagi datang. Dan berikutnya lagi juga masuk ke dalam peti itu. Uang itu berdatangan terus dan terus. Terus dan terus. Uang-uang itu terus masuk ke dalam peti yang masih diamati oleh Podin tanpa mengedipkan mata itu.


    Tentu Podin girang takterbayang. Podin semakin senang. Podin semakin gembira. Dalam hatinya, ia bahagia karena benar-benar menjadi kaya raya. Pudin bener-bener menjadi orang yang mempunyai uang banyak tanpa bekerja, tanpa bersusah payah. Hanya dalam waktu sekejap saja, akhirnya dua buah peti itu sudah penuh dengan uang. Dan peti itu kembali menutup.


    Tentunya, Podin hanya bisa tersenyum gembira. Ia sudah mendapatkan uang yang banyak, uang yang berlimpah, uang yang sudah memenuhi peti itu. Ya, hanya dalam waktu sekejap, Podin sudah meraup uang yang berlimpah.


    Podin lega. Plong hatinya. Terkabul niatnya. Podin langsung tersenyum lebar. Hasratnya untuk mendapatkan harta kekayaan, kini sudah tercapai.

__ADS_1


__ADS_2