PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 79: PERNIKAHAN KEEMPAT


__ADS_3

    Akhirnya, Podin menikah dengan Lesti. Tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan hal-hal lain, tanpa menghiraukan sejarah kelamnya masing-masing. Bahkan juga tanpa syarat apa-apa. Lesti bersedia menjadi istri Podin.


    Walau demikian, Podin tetap merahasiakan kalau dirinya sebenarnya masih punya istri yang ada di kampung. Bahkan sebenarnya tidak hanya istrinya yang ada di kampung yang tinggal bersama dengan anak-anaknya, tetapi Podin juga sudah pernah menikah siri dengan Rina, yang kini menjadi penjual warung makan di daerah Karawang. Podin hanya mengaku kalau dirinya adalah duda yang ditinggal mati oleh istrinya saat melahirkan bayinya yang juga ikut mati.


    Ya, tentu hal itu tidak dipermasalahkan oleh Lesti yang background sebenarnya lebih buruk dari Podin. Lesti adalah juru pijat jari lentik yang biasa dibawa keluar masuk hotel oleh para pasiennya. Lesti adalah perempuan yang sudah biasa meladeni dan melayani pasien-pasiennya. Tentu kalau dihitung baik buruknya, pasti Lesti bisa dikatakan lebih jelek kelakuannya bila dibandingkan dengan Podin.


    Namun bagi Lesti, ia tetap menganggap Podin adalah laki-laki baik, yang konon katanya selalu ingat dengan istrinya yang sudah meninggal itu. Menurut Lesti, Podin mempunyai cinta yang sangat mengagumkan, mempunyai kesetiaan yang sangat luar biasa terhadap wanita. Maka Lesti berharap, mungkin Podin nantinya akan bisa memberikan kebahagiaan, akan bisa diajak untuk membina rumah tangga yang baik.


    Podin sendiri juga senang, karena kenyataannya masih ada wanita yang mau menerima dirinya. Setidaknya Podin masih dianggap bisa menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Ya, semenjak Podin diusir oleh Rina, dan bahkan oleh beberapa warga kampung di sekitar warung makan Rina, Podin sangat malu, Podin sangat terpukul karena ia diusir dengan alasan memperkosa pelayan istrinya, pembantunya di warung makan istrinya. Ya, gara-gara gadis desa yang masih lugu dan masih perawan yang bernama Puput itu, tentu Podin waktu itu dihujat oleh banyak orang, ditentang oleh warga sekitarnya, dan saat itu pula Podin diusir oleh istrinya untuk pergi meninggalkan rumahnya.


    Namun kejadian menjengkelkan bertambah lagi, saat ia pulang ke Jakarta, kembali menemui Maya, lagi-lagi Maya selalu minta uang, selalu minta harta kekayaan, dan selalu menuntut untuk dipenuhi segala keingunannya. Minta ini minta itu, semuanya selalu memaksa dan menuntut untuk diberikan oleh Podin. Tentu hal itu juga membuat Podin kesal, Podin jengkel, dan tentunya Podin menyesal punya istri seperti Maya. Maka Podin juga merasa senang kalau Maya itu akhirnya ditangkap oleh para algojo di Pulau Berhala. Dan kini, ketika ia mendapatkan istri Lesti, seorang juru pijat jari lentik yang tentunya punya pengalaman untuk menyehatkan tubuh orang-orang, memberikan pijatan kepada orang-orang, maka Podin merasa senang. Podin tentunya akan selalu dipijat oleh istrinya tersebut. Dan yang pasti, Podin akan bisa melampiaskan kebutuhan biologisnya, karena ia sudah kembali beristri lagi.


    Di rumah orang tua Lesti, Podin dan Lesti dinikahkan secara agama oleh orang-orang kampung, oleh masyarakat, saudara-saudara dan tentunya orang tua Lesti, serta para pemuka agama di kampungnya, yang berada di daerah pinggiran Kota Padalarang. Ya, pernikahan Podin dan Lesti sudah sah menurut hukum agama,  yang tentunya kini Podin sudah menjadi suami dari Lesti.


    Podin sangat senang. Demikian juga Lesti. Apalagi orang tua Lesti, yang sangat mendambakan seorang menantu, pasti sangat gembira sekali. Karena terus terang, Lesti yang usianya sebenarnya sudah tua, sudah menginjak 40 tahun, tetapi belum juga menikah, belum dapat jodoh, tentu hal itu menjadi kesedihan bagi orang tua, jika anak perawannya tidak menikah sampai usia tua.

__ADS_1


    Walau sebenarnya, Podin sendiri usianya juga sudah tua. Setidaknya Podin sudah berusia hampir lima puluh tahun. Tetapi orang tua Lesti bisa menerima, karena pengakuan Podin sebagai seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya saat melahirkan bayinya. Dan mereka pun, kedua orang tua Lesti dan saudara-saudaranya, semuanya setuju dan tentu juga senang, karena Lesti akhirnya bisa punya suami.


    Ya, siapa lagi kalau bukan Podin yang mau menikahi Lesti. Tidak ada orang kampung yang mau menikah dengan Lesti. Setidaknya mereka tahu latar belakang Lesti itu seperti apa. Bahkan hampir semua orang kampung tahu bahwa Lesti bukanlah orang baik-baik. Ia hanyalah perempuan penjual daging bulu yang berkedok sebagai juru pijat jari lentik. Makanya, kalau tetangga sendiri tidak bakalan mau menikah dengan Lesti. Mungkin kalau dengar anaknya akan menikah dengan Lesti, pasti orang tuanya tidak setuju dan bakalan marah-marah. Tetapi kini Ketika ada seorang laki-laki yang mau menikah dengan Lesti maka orang tuanya Lesti sangat senang sangat gembira. Bahkan mereka berharap nanti rumah tangga Lesti, anaknya itu akan bahagia sampai di akhir tuanya. Dan tentunya mereka juga berharap Podin yang mau menikah dengan Lesti itu nantinya akan membina keluarga bersama dengan Lesti, dan tentunya juga bisa merubah watak dan tabiat Lesti yang selalu berganti-ganti orang meladeni laki-laki siapa saja yang mau mengajaknya berkencan.


    Ya itulah harapan dari orang tua Lesti, yang pastinya mereka ingin Lesti bisa bertobat dan akan menuju ke jalan yang benar, akan menjadi orang yang baik, akan meninggalkan kehidupannya yang kelam, dan membentuk keluarga yang sakinah, mawardah, warohmah, atau Samawa. Begitu kata para pemuka kampung di tempat Lesti yang ikut menyaksikan pernikahan Lesti dengan Podin.


    Meski pernikahan itu sederhana, tidak memakai ramai-ramai, tidak pesta besar-besaran, tetapi banyak juga para tetangganya yang berdatangan untuk ikut menjadi saksi, menyaksikan pernikahan Lesti dengan Podin. Beruntung Podin memberikan uang lumayan banyak kepada keluarga Lesti untuk melaksanakan hajatan acara pernikahan itu. Sehingga setidaknya, keluarga Lesti sudah menyediakan hidangan makanan yang cukup banyak. Bahkan juga enak-enak. Tentunya keluarga Lesti tidak malu kalau sampai kekurangan makanan. Tidak kurang. Semuanya berlebihan. Bahkan seperti menyelenggarakan pesta besar. Termasuk para tetangga yang berdatangan juga pada menyumbang.


    Dan yang paling mengesankan adalah, saat acara paling ditunggu, yaitu ijab kawin. Saat itu, Podin mengeluarkan untaian perhiasan, mulai dari anting-anting, kalung, gelang dan cincin. Perhiasan lengkap. Komplit dari atas hingga bawah. Tidak hanya perhiasan kecil-kecil. Tetapi perhiasan-perhiasan emas yang diberikan oleh Podin kepada Lesti itu perhiasan yang besar-besar dengan permata-permata yang sangat indah. Tentu para perempuan yang menyaksikan hal itu pada iri dengan Lesti, yang sebentar lagi pasti akan mengenakan perhiasan yang gemerlap dan indah.


    "Lesti .... Podin .... Sekarang kalian sudah menjadi suami istri sah .... Untuk hidup berkeluarga bersama. Dan saya, bapak dan ibumu, meminta kamu tetap tinggal di rumah ini .... Kalian hidup bersama di rumah ini, membangun keluarga di rumah ini .... Tidak usah pergi-pergi, tidak usah nyari rumah lain .... Cukup pakai rumah ini saja .... Rumah ini jadi warisan untuk kamu, ya .... Jadi nanti kamu yang tinggal di sini, menempati rumah ini. Rawat saja rumah ini. Pelihara saja rumah ini. Perbaiki saja kalau misalnya ada yang kurang, kalau misalnya ada yang perlu ditempel, kalau misalnya perlu dicat ..., kamu perbaiki saja. Bapak sama Ibu kamu tidak usah dipikirkan. Kami sudah tua, hanya nunut saja .... Nah, seluruhnya sekarang rumah ini menjadi tanggung jawab kalian. Saya minta, nanti kalian lah yang mengurusi semua urusan rumah tangga di sini." begitu pesan bapaknya Lesti kepada Podin maupun Lesti, yang tentunya rumah yang ditempatinya itu akan diberikan sebagai warisan kepada anaknya yang baru saja mau menikah.


    "Iya, Bah .... Tapi Lesti penginnya kerja .... Untuk tambah-tambah cari duit ...." kata Lesti yang sebenarnya masih ingin bekerja.


    "Eeh ..., jangan, atuh mah .... Kamu di rumah saja ...." sahut ibunya.

__ADS_1


    "Tapi ..., Lesti kalau di rumah terus ngapain ...? Kalau nganggur Lesti jadi bingung ...." jawab Lesti yang tentu nanti akan merasa tidak betah di rumah terus-terusan.


    "Kumahak, naon .... Lesti, teh perempuan .... Kalau sudah berkeluarga sebaiknya jadi ibu rumah tangga yang baik .... Masak buat suaminya, nyuci, nyetrika, sama ngurus rumah, Lesti ...." kata ibunya yang tentu mencegah anak perempuannya itu pergi lagi. Khawatir kalau nanti akan jadi juru pijat jari lentik lagi yang akan dibawa-bawa orang keluar masuk hotel lagi. Pasti ibunya khawatir hidup kelam anaknya akan terulang.


    Lesti diam. Ia hanya sanggup memandangi Podin, suaminya yang baru saja dinikahkan. Tetapi Podin juga diam. Ia menghormati orang tua Lesti. Tidak baik menantu yang baru saja masuk dalam rumah tangganya untuk memberi saran atau berpendapat. Biar saja apa yang dikatakan oleh bapak dan ibunya.


    "Akang kok diem saja ...?" tanya Lesti pada Podin yang tidak mau ikut campur itu.


    "Saya sudah menikah dengan kamu saja sudah senang .... Apalagi kalau setiap hari nanti, saya selalu bersama kamu. Pasti saya lebih bahagia." jawab Podin yang tentunya memberi pertanda kalau sebenarnya Podin mestinya tinggal di rumah saja.


    "Nah, kan .... Suami kamu saja penginnya kamu di rumah saja, Lesti .... Tidak usah kerja ...." sahut ibunya yang tentu menegaskan keinginan Podin.


    "Uuh .... Ya udah .... Ayo, masuk kamar ...." kata Lesti sambil manyun, dan langsung menyeret tangan suaminya, diajak masuk ke kamar.


    "Kamarnya ditutup yang rapat .... Ibu sama Bapak yang jaga di luar .... Biar tidak ada orang ngintip ...." begitu kata ibunya Lesti, yang tentunya menggoda anaknya.

__ADS_1


    Ya, ini adalah perkawinan keempat bagi Podin. Dan tentunya, setelah acara perkawinan itu, Podin akan melampiaskan semua emosi yang sudah akan meletus dari ubun-ubun.


__ADS_2