
Setelah menikah dengan Cik Melan, Podin harus bisa menyesuaikan diri dengan tatanan hidup bersama Cik Melan. Sebagai seorang suami, tentunya Podin juga harus mengikuti apa yang dikehendaki oleh istrinya. Dan kenyataannya, dalam kesehariannya, Cik Melan bukanlah perempuan seperti layaknya yang dilihat oleh Podin terhadap perempuan-perempuan lain. Cik Melan bukanlah orang seperti perempuan yang selama ini ia temui. Cik Melan bukanlah seperti halnya perempuan yang selama ini pernah dinikahi oleh Podin. Cik Melan tidak seperti Maya, istri siri Podin yang sudah menghancurkan keluarganya bersama Isti dan anak-anaknya yang tinggal di kampung. Tidak seperti Maya yang hanya mengumbar hawa nafsu dan hanya memenuhi hasrat kehidupan duniawinya saja. Bahkan Cik Melan juga tidak seperti Lesti, yang selalu dicoba oleh setiap laki-laki, dan selalu meladeni laki-laki lain. Bahkan sampai saat sudah menikah dengan Podin, Lesti pun masih sempat melakukan perbuatan-perbuatan yang sama dengan saat sebelum menikah dengan Podin, yaitu menjadi perempuan pemuas bagi laki-laki lain.
Tentunya, Podin yang sudah pernah mempunyai istri dengan kondisi menjengkelkan seperti itu, dan kini ketika ia menikah dengan karyawatinya yang hanya bekerja sebagai bagian keuangan di tempat usahanya, ia menemui perempuan yang tidak hanya pandai, tidak hanya cerdas, tidak hanya sanggup menyelesaikan masalah-masalah di tempat usahanya, tapi Cik Melan ternyata adalah perempuan yang benar-benar orang baik, perempuan yang berjalan dengan tata aturan agama yang sangat kuat, perempuan yang selalu melaksanakan ibadahnya dengan baik, perempuan yang takut dengan dosa, perempuan yang takut dengan kesalahan-kesalahan, perempuan yang takut akan Tuhan.
Itulah Cik Melan, walaupun kelihatannya sangat sederhana, walaupun Cik Melan itu kelihatan cantik secara fisik, tetapi kenyataannya, ia tidak hanya cantik secara badan yang terlihat, tetapi hatinya juga sangat-sangat baik. Kepribadiannya sangat kuat, orang yang lurus hidup dalam jalan Tuhan.
Namun, Podin yang menikah dengan Cik Melan ini, rupanya ia mulai bingung dengan tatanan aturan kehidupan beragama, yang selama ini Podin memang tidak pernah melakukan syariat kehidupan beragama. Podin tidak pernah melakukan aktivitas keagamaan. Bahkan Podin tidak pernah melakukan kegiatan yang berbau keagamaan. Ya, memang nilai rohani Podin sangat kurang. Sebenarnya amal keagamaan yang dianut dalam kehidupannya sejak masih kecil hingga sekarang menjadi orang dewasa, atau lebih pantas mulai tua, dalam kehidupannya yang sudah berkali-kali menikah, memang Podin tidak pernah menjalankan ibadah-ibadah keagamaan sama sekali.
Bahkan saat berkeluarga dengan Isti, istrinya yang pertama, dan sudah punya anak empat orang, Podin belum pernah menginjakkan kakinya di rumah ibadah sama sekali. Podin belum pernah masuk masjid ataupun gereja, maupun tempat-tempat ibadah lainnya. Bahkan Podin juga belum pernah membasuh kakinya dengan air wudhu, walaupun ia mengaku beragama Islam. Kala itu, Podin hanya mengenal agama di KTP saja. Bahkan berkali-kali menikah, ia juga tidak pernah memahami syariat dalam ajaran keagamaannya. Tidak ada aktivitas ritual keagamaan yang dia lakukan. Bahkan lebaran pun juga tidak melakukan sholat Id bersama-sama dengan warga yang lain.
Itulah kehidupan Podin waktu itu, yang tidak pernah melakukan syariat keagamaan dalam kehidupannya. Tetapi, kini setelah Podin menikah dengan Cik Melan, yang pernikahannya dilakukan secara gerejawi, yang juga menerima pemberkatan dari pendeta, dan juga menerima khotbah nikah dari pendetanya. Dan pastinya, Podin merasakan bahwa hatinya mulai tersentuh oleh kata-kata sang pendeta, mulai tersentuh dengan ajakan untuk melakukan kegiatan peribadatan keagamaan.
__ADS_1
"Pah, besok kita ke gereja, ya ...." begitu kata Cik Melan, istrinya Podin yang baru, yang sudah memanggil dengan sebutan papah-mamah, mengajak Podin untuk melakukan ibadah sembahyang Minggu pagi di gereja.
"Ke gereja ...? Saya tidak tahu caranya ...." jawab Podin yang tentu dia beryerus terang kalau memang dirinya itu belum tahu bagaimana tata cara untuk sembahyang ke gereja. Dan memang bagi Podin, yang namanya ke gereja itu baru kali ini dia mendengar. Bahkan sebelum-sebelumnya, jangankan ke gereja, ke masjid ataupun ke tempat ibadah lain, Podin memang belum pernah sama sekali. Memang, dari segi keimanan, dari segi keyakinan, dari segi kepercayaan, dari segi ajaran agama, Podin memang masih nol sama sekali.
"Iya, Pah .... Kita sembahyang di gereja. Kita beribadat mengikuti doa Minggu pagi. Tidak usah khawatir .... Pokoknya datang saja, nanti ikuti saja semua yang ada di sana. Gampang, kok ...." kata Cik Melan kepada Podin, yang tentu dengan suara yang lembut, ajakan yang manis, ajakan yang tidak memaksa. Tetapi tentunya ajakan langsung menusuk ke dalam jantung Podin.
"Tapi, Mah .... Saya belum pernah tahu bagaimana caranya? Saya belum tahu sama sekali. Nanti kalau saya keliru, bagaimana?" kata Podin yang tentunya beralasan kalau dirinya tidak bisa melakukan, karena dia belum tahu sama sekali.
"Tetapi, saya .... Waduh ..., bagaimana, ya ...? Saya tidak tahu sama sekali, Mah ...." Podin masih saja beralasan, tentu memang berat bagi Podin untuk melakukan ibadah keagamaan. Karena memang selama ini hati Podin belum terbuka. Selama ini hati Podin masih diselimuti oleh kegelapan.
Dan tentunya, saat ia sudah menikah dengan Cik Melan, yang kenyataannya istrinya itu adalah perempuan yang taat dengan agama, perempuan yang patuh dengan ajaran-ajaran kerohanian, perempuan yang sangat takut akan Tuhan, makanya kalaupun dia sekarang sudah menikah dengan Podin yang belum mengenal agama sama sekali itu, Cik Melan berusaha untuk mengajak suaminya. Cik Melan berusaha untuk menyadarkan suaminya. Cik Melan berusaha untuk memberikan keselamatan bagi suaminya.
__ADS_1
Tentu hal itu itu tidak gampang. Dan tentu mengajak suaminya yang sudah bergelimang harta itu lebih sulit bagi Cik Melan, karena memang Podin sudah merasa berkecukupan. Biasanya orang yang kaya sering lupa dengan Tuhan. Tetapi saat susah, dia akan mendekat dan minta tolong kepada Tuhan. Itulah manusia. Dan pastinya, Podin memang sama sekali belum mengenal yang namanya Tuhan.
"Hidup itu hanya sebentar, Pah .... Kita ini makhluk ciptaan Tuhan. Kita diciptakan oleh Tuhan, hendaknya kita itu patuh kepada sang pencipta. Kita patuh kepada Tuhan. Kewajiban kita di dunia ini hanya memuji dan membesarkan nama Tuhan. Sehingga nanti, kelak di akhir zaman, kita akan diselamatkan-Nya. Penyelamatan itu tidak segampang yang dibicarakan orang. Kita hanya boleh diselamatkan, kalau kita percaya kepada Dia. Tetapi kalau hati kita tertutup, hati kita tidak mau percaya, maka kita nanti akan mendapat celaka, kita tidak bisa diselamatkan, kita akan masuk ke dalam api neraka." begitu kata Cik Melan, yang tentu mulai menasehati Podin, agar suaminya itu mau diajak berbakti di gereja.
Memang, meskipun Podin tidak pernah masuk rumah ibadah, setidaknya ia sudah mendengar bagaimana nanti di akhir zaman, di hari kiamat. Tentunya Podin tahu tentang surga dan neraka. Jika berdosa, maka ia akan masuk neraka, dan jika rajin beribadah, maka ia akan masuk surga. Dan kini, istrinya pun mulai berbicara tentang neraka. Pasti hal itu juga sudah menusuk hati Podin. Dan tentunya, Podin mulai berfikir tentang ajakan ibadah oleh istrinya tersebut.
"Iya, Mah .... Tapi nanti jangan diejek, ya .... Nanti kalau saya tidak bisa, jangan dihina." kata Podin yang tentunya masih ragu-ragu untuk berangkat mengikuti istrinya.
"Tidak ada yang salah, Papah .... Dalam beribadat itu tidak ada yang keliru .... Tidak ada orang yang tidak bisa beribadat. Semuanya sangat gampang .... Cobalah .... Papah belum pernah mencoba, sih .... Nanti kalau Papah sudah masuk gereja, pasti tidak ada yang akan dikatakan oleh Papah, ini sulit .... Papah justru akan bilang, oh, ternyata gampang ...." begitu kata Cik Melan yang lagi-lagi memberikan motivasi kepada suaminya agar mau melaksanakan ibadah di gereja bersamanya.
Akhirnya, Podin tidak bisa mengelak. Podin yang memang jatuh cinta kepada Cik Melan itu, Podin yang benar-benar sangat mendambakan punya istri seperti Cik Melan, perempuan yang cantik, cerdas, dan mampu menyelesaikan semua masalah perusahaannya, perempuan yang tulus dan ikhlas, perempuan yang tidak matre, perempuan yang bekerja secara sungguh-sungguh itu, sudah meluluhkan hati Podin. Kini, Podin pun beranjak berangkat pergi ke gereja bersama istrinya. Tentunya, hari itu adalah hari pertama kali Podin mengenal Tuhan. Hari pertama kali Podin masuk ke rumah ibadah. Hari pertama kali Podin beribadah. Hari pertama kali Podin menyembah Tuhan.
__ADS_1