PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 124: PODIN BEBAS


__ADS_3

    Tentunya, seorang polisi dalam bekerja pasti profesional. Dia tidak gegabah dalam menetapkan seseorang ditangkap dan masukkan dalam penjara. Polisi pastinya tidak sembarangan untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka ataupun menyatakan bersalah. Seperti halnya yang dialami oleh Podin, yang walaupun sudah babak belur dihajar massa, mukanya sudah remuk dan penuh luka, pasti juga mengalami sakit yang tidak karu-karuan. Tetapi walaupun waktu itu dianggap sebagai pencuri, namun demikian polisi tetap harus mencari bukti. Ya, bukti sebagai pembenar kalau Podin itu memang bersalah.


    Pastinya polisi langsung melakukan penyelidikan, menanyai para saksi, bahkan juga menanyai para tokoh masyarakat, termasuk juga menanyai tetangga-tetangga, terkait dengan Podin, terkait tentang rumah yang akan dicuri oleh Podin. Tentu semuanya itu dalam rangka memenuhi berkas catatan di kepolisian.


    Namun kenyataan, para tetangga mengatakan bahwa rumah itu memang miliknya Podin, dan para tetangga serta warga masyarakat di sekitar situ juga meyakinkan kalau sebenarnya Podin bukan mau mencuri. Mereka juga minta maaf, karena sudah keliru, menangkap Podin yang dikiranya sebagai seorang pencuri, yang akan membobol rumah kosong. Namun kenyataannya, setelah ada yang tahu, itu adalah Podin, pemilik rumahnya sendiri.


    Tetapi apa boleh buat, waktu itu warga masyarakat yang sudah melakukan tindak kekerasan, menghakimi secara masa, sudah mengaku keliru, sudah menyatakan bersalah. Tetapi alasannya memang waktu itu Podin yang masuk rumah dengan cara mencongkel jendela dan masuk melalui jendela, tentu demi keamanan lingkungan, pasti siapapun orangnya akan menangkap gerak-gerik orang yang mencurigakan. Dan kebetulan, yang melihat Podin saat mencongkel jendela, dan masuk ke rumah dengan cara lewat jendela, menganggap bahwa itu adalah pencuri. Apalagi waktu itu, memang yang mengetahui kalau Podin akan masuk rumah melewati jendela itu adalah orang baru, yang tentunya belum kenal dengan Podin, yang belum tahu siapa pemilik rumah itu. Dan waktu itu, karena menganggap bahwa Podin itu adalah pencuri, maka serta merta orang yang melihatnya langsung berteriak maling. Dan seketika itu, orang-orang pun langsung menghakiminya sendiri. Ya, banyak orang yang langsung berdatangan dan langsung mengeroyok Podin, memukuli, menendang, bahkan juga menyeret Podin. Dan tentu, ketika wajah Podin sudah lebam-lebam, mukanya sudah tidak kelihatan kalau itu adalah Podin, maka warga yang lain pun, yang sebenarnya kenal dengan Podin, kala itu tidak mengenalinya lagi. Mereka pun percaya kalau orang yang dihakimi masa itu memang pencuri. Maka mereka pun juga ikut-ikutan memukuli tetangganya sendiri, karena kala itu tidak mengenali wajah Podin.


    Pagi itu, petugas kepolisian dari Polsek Karawang bersama dengan babinkamtibmas di desa tempat tinggal Podin, datang ke rumah Podin, rumah yang dikasuskan sebagai bukti tindak kejahatan. Tentunya, mereka akan meminta keterangan terkait dengan penangkapan orang yang dituduh sebagai pencuri, yaitu Podin.


    "Selamat pagi, Pak .... Boleh saya tanya, yang punya rumah ini sebenarnya siapa ya? Yang kasusnya kemarin akan ada pencurian di sini?" tanya petugas kepolisian yang tentunya mencari informasi kebenaran laporan.


    "Oh ..., itu rumah Pak Podin ...." jawab salah seorang warga yang kebetulan ditemui oleh petugas polisi itu.


    "Pak Podin sekarang di mana?" tanya petugas kepolisian itu.


    "Lah, yang kemarin ditangkap itu .... Yang kemarin ramai-ramai dikeroyok masa itu ...." jawab orang itu, yang tentu dia langsung mengatakan kalau Podin adalah orang yang dituduh pencuri dan ditangkap, dan sudah dibawa polisi.


    Beberapa orang, para tetangga pun yang melihat ada orang lain yang ditanyai polisi, maka mereka ikut berdatangan di jalan depan rumah Podin. Tentunya mereka juga ingin tahu apa yang dibicarakan. Setidaknya mereka ingin tahu juga tentang keadaan Podin. Maka dalam waktu sekejap, jalan di depan rumah Podin itu sudah ramai, sudah banyak orang pada mengerubung dua orang polisi yang minta keterangan di situ.


    "Kok bisa ...? Masak yang punya rumah dituduh maling ...?!" kata polisi itu.


    "Iya kemarin itu kan salah tangkap, Pak .... Pak Podin itu mau masuk rumah, tapi dengan cara melompat jendela .... Ada warga yang tahu itu, dikiranya Pak Podin itu pencuri. Makanya orang itu langsung berteriak maling-maling,  teriak pencuri-pencuri. Orang-orang pun langsung pada berdatangan, tanpa melihat siapa yang dituduh maling, siapa yang dituduh pencuri, orang-orang langsung memukuli maling itu." kata orang itu menjelaskan kasusnya yang terjadi kemarin hari.


    "Walah ..., ini bagaimana toh ...?! Bener itu ...?!" tanya polisi kepada orang itu.


    "Benar, Pak .... Saya tahu sendiri, karena sebelumnya, Bang Podin itu sudah ngobrol dengan saya .... Setelah saya tinggal pergi ke pasar, malah Bang Podin sudah diangkut mobil polisi." sahut perempuan yang tahu persis kalau korbannya itu adalah Podin.


    "Itu, loh .... Mobilnya saja masih terparkir di situ."


    "Iya, betul .... Itu mobilnya Pak Podin."


    "Kok tidak ada yang menahan?" tanya petugas kepolisian.


    "Kemarin kami sudah bereteriak .... Tetapi mobil yang membawa Pak Podin langsung bablas .... Ya udah ...." sahut laki-laki yang ada di situ. Tentunya kemarin juga ikut mengeroyok Podin.


    "Iya ..., betul ...!!"

__ADS_1


    "Bener, Pak ..."


    "Iya ..., bener, Pak. Betul itu ..., memang itu  Pak Podin ..."


    Beberapa orang pun yang mengerubung di situ, yang pada berdatangan ke depan rumah itu, yang tentunya juga ingin tahu tentang kedatangan dua polisi itu.


    "Lah, kenapa kemarin digebuki ...?" tanya polisi itu lagi.


    "Ya ..., biasa, Pak .... Begitu ada teriakan maling, tentu orang-orang langsung mengamuk .... Emosi, Pak ...." jawab orang-orang.


    "Iya, Pak .... Kemarin itu, kita tanyakan, pada tidak mengenal wajah Pak Pudin .... Yah, karena wajahnya sudah berubah, sudah pada bonyok .... Sudah pada memar, gosong-gosong dan biru-biru .... Sehingga kami tidak mengenali lagi. Dikiranya itu memang pencuri beneran." jelas yang lainnya.


    "Dikira orang lain, Pak .... Bener itu ...."


    "Bener, Pak .... Kalau ndak percaya, tanya sama warga-warga di sini. Kami kemarin juga menyesal setelah ada yang tahu kalau yang di bawa itu Pak Podin." kata yang lainnya.


    "Berarti benar, itu yang ditangkap memang yang punya rumah ini?" tanya petugas polisi itu.


    "Iya, Pak .... Lepaskan saja ...!" teriak orang-orang yang ada di situ.


    "Tapi harus ada yang menanda tangani berkas pelepasannya. Siapa yang bertanda tangan?" kata petugas kepolisian.


    "Siap ...." sahut ketua RT dan RW yang ada di situ juga.


    Akhirnya, siang itu, beberapa orang kampung, bersama dengan Pak RT dan Pak RW, datang ke kantor polisi. Mereka akan memberikan tanda tangan, berita acara untuk pelepasan Podin dari dakwaan pencurian, pembebasan Podin dari dalam tahanan Polsek.


    "Mana Bang Podin ...?" tanya orang-orang yang ikut berdatangan ke kantor polisi.


    "Ada di dalam penjara ...." jawab salah seorang petugas kepolisian.


    "Waduh .... Kasihan Pak Podin ...."


    "Iya .... Bang Podin jadi tahanan."


    "Nanti kita mesti minta maaf ...."


    "Iya .... Ini kesalahan kita."

__ADS_1


    "Bang Podin juga salah .... Ngapain mesti lompat jendela ...."


    "Pak .... Kapan Pak Podin dikeluarkan?" tanya salah seorang warga yang ikutm bertanya pada petugas kepolisian.


    "Iya, sebentar .... Biar Pak RT dan Pak RW menanda tangani berita acara pembebasan dahulu ...." jawab petugas.


    "Kasihan Pak Podin, Pak ...."


    "Pasti di dalam penjara, Bang Podin dipermak sama napi lain."


    "Iya .... Padahal Pak Podin orangnya pendiam. Kasihan dia."


    "Cepat dikeluarin, Pak .... Kasihan Bang Podin." teriak orang-orang yang tentunya tidak sabar untuk melihat Podin.


    "Ya ...." petugas polisi itu pun mengambil kunci dan ke belakang, menuju ke ruang penjara.


    "Ayo ikut .... Kita jemput Pak Podin." kata salah seorang tetangganya.


    "Ya .... Kita jemput ke dalam penjara ...."


    "Tidak usah .... Tunggu saja di sini .... Nanti Pak Podin akan saya bawa kemari." kata petugas polisi yang berusaha menenangkan para tetangga Podin.


    Tetapi tentunya, orang-orang yang ikut menjemput Podin, tidak sabar untuk menemui Podin. Ingin tahu keadaan Podin. Dan pastinya, mereka langsung ikut masuk, mengikuti polisi yang akan membuka pintu penjara itu. Meski dicoba untuk ditahan oleh petugas yang lain, namun karena jumlahnya banyak, tentu petugas itu tidak sanggup untuk mencegahnya.


    Dan mereka, menyaksikan Podin sangat terlihat menderita di balik jeruji penjara.


    "Bang Podin ...."


    "Pak Podin ...."


    "Waduh, Pak Podin .... Kami minta maaf ...."


    "Iya, Pak Podin .... Kami salah sangka ...."


    "Maafkan kami, Pak Podin ...."


    Petugas polisi itu akhirnya mengeluarkan Podin dari dalam penjara. Dan pasti orang-orang yang menjemputnya langsung menyalami. Bahkan ada juga yang memeluk. Dan pastinya pada meminta maaf. Mereka membawa Podin keluar penjara.

__ADS_1


    Selanjutnya, Podin dibawa ke Puskesmas, untuk pengobatan.


__ADS_2