
"Lesti .... Kenapa kamu menata pakaian di dalam koper?" tanya ibunya Lesti kepada anaknya yang sedang menata pakaian di dalam koper.
"Ibu ..., besok rencananya, Lesti sama Akang Podin, mau ke Jakarta." jawab Lesti saat ditanya oleh ibunya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya itu.
"Heloh ...?! Memang kenapa kamu ke Jakarta? Ada apa di Jakarta?" tanya ibunya lagi, yang tentu ingin tahu kenapa Lesti bersama suaminya akan berangkat ke Jakarta.
"Ini mah, Lesti sama Akang Podin mau menengok tempat usahanya Kang Podin .... Sekalian mau jalan-jalan, mau piknik ke Jakarta ...." jawab Lesti pada ibunya.
"Lah, kenapa harus ke Jakarta lama-lama? Bukankah kalian sudah nyaman di sini? Sudah betah di sini?" tanya ibunya pada Lesti lagi, yang tentu sebenarnya ibunya tidak ingin anaknya pergi dari rumah, meninggalkan rumah, apalagi kalau anak perempuannya itu akan ikut Podin, suaminya ke Jakarta dan nantinya tidak akan pulang.
"Nggak papa, Bu .... Nanti cepetan balik, kok .... Lesti sama Kang Podin cuman beberapa hari. Kalau semuanya sudah beres, Kang Podin sudah mengurus semua pekerjaannya, kami akan segera pulang. Kami akan segera kembali ke Padalarang, Bu ...." jawab Lesti yang tentu dia juga ingin berada di kampungnya untuk mengisi masa tua hidupnya. Apalagi Lesti yang tentu sudah menjelang tua itu, demikian juga Podin, tentu ingin banyak beristirahat dan tinggal di kampung.
"Terus ..., kapan kamu nyampai di kampung lagi?" tanya ibunya yang khawatir kalau anaknya tidak mau pulang.
"Paling sekitar seminggu, Buk .... Tidak lama .... Nggak usah khawatir .... :esti sama Kang Podin pasti pulang .... Kami akan balik ke rumah ini lagi. Seperti kata Bapak sama Ibu, saya akan menempati rumah ini sama Kang Podin. Walaupun usaha Kang Podin ada di Jakarta, tidak apa-apa, Buk .... Nanti hanya sewaktu-waktu saja nengok ke Jakarta. Kang Podin juga bilang begitu, tidak akan tinggal di Jakarta .... Katanya Jakarta terlalu ramai, hidupnya tidak bisa tenang .... Itu kata Kang Podin. Enakan tinggal di kampung kita ini .... Tempatnya nyaman, tentram dan damai." kata Lesti yang tentu ingin menenangkan hati ibunya yang mungkin khawatir kalau anaknya itu akan pergi terlalu lama di Jakarta.
"Iya, Lesti .... Saya juga berharap begitu .... Kalian tidak usah tinggal di Jakarta .... Rumah ini sudah saya wariskan kepada kamu .... Nanti Ibu sama Pak bisa rindu sama kalian kalau ditinggal ke Jakarta .... Pas kami sama-sama sudah tua, sudah tidak ada yang menemani di tempat ini, kalau kalian pergi ke Jakarta, pasti di rumah ini jadi sepi. Terus yang ngurusi Bapak sama Ibu siapa?" begitu kata ibunya Lesti yang tentu sangat berharap bisa tinggal bersama anaknya.
Pagi hari, setelah sarapan, akhirnya Lesti yang sudah siap untuk berangkat ke Jakarta, membawa pakaian dan bekalnya, yang sudah dimasukkan dan ditata rapi di dalam koper, kemudian diangkat untuk dimasukkan ke mobil. Demikian juga Podin, yang sudah siap dengan pakaian rapi, dan sudah memanasi mesin mobil, kini mereka akan berangkat menuju Jakarta.
"Bu ..., Lesti pamit dulu, mau berangkat ke Jakarta .... Pak ..., Lesti berangkat dulu ...." begitu kata Lesti berpamitan kepada orang tuanya.
Demikian juga Podin, yang mengikuti istrinya ikut menyalami bapak dan ibunya Lesti. Lantas mereka pun masuk ke mobil. Podin langsung duduk di belakang stir. Sementara Lesti duduk di samping kiri Podin. Podin sudah bersiap untuk berangkat. Dan sebentar kemudian, mobil itu pun keluar dari halaman rumah, melaju di jalan, menuju jalan raya dan akan menuju Jakarta.
Tentu Lesti tersenyum senang. Sudah satu bulan pernikahannya, ia hanya bepergian sama Podin di sekitar kampungnya saja. Dan kali ini, Lesti yang akan diajak ke Jakarta, untuk menyaksikan usaha suaminya, tentu ia semakin percaya dan yakin, kalau suaminya memang seorang pengusaha yang sukses di Jakarta. Dan pastinya, Lesti juga ingin tahu, usaha apa yang dikerjakan oleh suaminya itu, sehingga ia bisa punya uang banyak. Mereka menikmati perjalanan menuju Jakarta dengan saling canda tawa.
Namun, di rumah Lesti, sepeninggal Podin dan Lesti yang berangkat ke Jakarta, ada seorang laki-laki datang dengan mengendarai sepeda motor, datang ke rumah yang ditinggali oleh Lesti dan Podin, di mana di rumah itu masih ada orang tua Lesti, masih ada bapak dan ibunya Lesti. Laki-laki itu menyadarkan sepeda motornya di depan rumahm tepat di depan pintu masuk rumah. Lantas laki-laki itu pun turun dari motornya dan langsung saja masuk ke dalam rumah itu.
"Ibu .... Bapak ...!" kata laki-laki itu memanggil dua orang tua yang ada di dalam rumah itu. Dan laki-laki itu, sudah langsung duduk di kursi tamu.
Lantas ibu dan bapaknya Lesti pun keluar dari dalam dan menemui laki-laki yang sudah duduk di kursi tamu.
__ADS_1
"Ee .... Joni .... Tumben datang kemari .... Ada apa? Kemarin tetehmu menikah saja, kamu tidak mau datang. Sekarang barusan tetehmu pergi, kamu datang. Sendirian, kamu? Tidak ngajak anak? Tidak ngajak istri?" kata ibunya Lesti kepada laki-laki itu, yang kini semua sudah duduk di kursi tamu.
Dan laki-laki yang barusan datang itu, ternyata adalah anaknya. Anak bapak dan ibunya Lesti. Dia adalah Joni, adik dari Lesti yang tinggal agak jauh dari kampung tempat tinggal Lesti, meski masih di daerah Padalarang. Tentunya memang waktu pernikahan Lesti dengan Podin, Joni ini tidak mau datang. Ya, karena katanya, Joni malu menyaksikan pernikan kakaknya sendiri. Dia tidak mengakui punya seorang kakak yang kerjaannya tidak benar, tidak baik, dan mencemarkan nama keluarganya.
"Iya .... Sendiri .... Ibunya anak-anak tidak mau saya ajak ke sini .... Ngurusi rumah ...." jawab Joni.
"Istrimu sehat ...?" tanya bapaknya.
"Alhamdulillah, sehat, Pak ...." jawab Joni.
"Anak-anakmu bagaimana? Tadi kok ya tidak diajah ke tempat kakek ...." tanya ibunya.
"Tidak mau .... Katanya mending nonton TV di rumah ...." jawab si Joni.
"Syukurlah kalau pada sehat ...." sahut ibunya Joni.
"Ini ..., mana Teh Lesti ...? Kok tidak kelihatan?" kata Joni yang seakan dia mencari kakak perempuannya itu.
"Tetehmu baru saja berangkat ke Jakarta .... Ini, tadi pagi-pagi, ia ke Jakarta bersama suaminya. Katanya mau menengok tempat usaha suaminya yang ada di Jakarta ...." kata ibunya Lesti dan Joni itu.
"Jangan begitu, kalau ngomong .... Tetehmu itu juga niatannya baik .... Apalagi sekarang sudah bersuami ...." tegur ibunya yang tidak senang dengan sikap si Joni yang sok suci itu.
"Yah ..., terserahlah .... Kebetulan ini Bapak dan Ibu ada di rumah .... Terus terang saja Pak, Bu ..., saya datang kemari, mau ketemu Bapak dan Ibu .... Saya ke sini ingin menanyakan tentang rumah yang ditempati ini, yang katanya saya dengar, akan diberikan kepada Teh Lesti ...." kata si Joni yang mulai membicarakan masalah rumah.
"Iya .... Memang kenapa? Ada apa dengan rumah ini?" tanya ibunya kepada Si Joni.
"Saya tidak rela kalau rumah ini diberikan sama Teh Lesti .... Ini namanya tidak adil .... Tidak sama dengan bagian saya, Pak .... Saya itu laki-laki, anak bungsu .... Sesuai hukum agama, hukum adat, anak laki-laki yang dapat bagian dua kali lipat .... Yang laki-laki itu saya, Pak, Bu .... Mestinya saya dapat bagian warisan yang lebih besar, lebih banyak .... Teh Lesti itu perempuan .... Dan teh Lesti itu sudah mencemarkan nama keluarga kita. Harusnya mah, Teh Lesti itu sudah dicoret dari daftar keluarga kita .... Kenapa malah Teh Lesti malah dapat rumah yang besar ini? Anakmu sendiri, saya, si Joni, yang laki-laki ini malah dapatnya kecil. Sudah habis itu mah, sudah aku jual untuk membangun rumah .... Dan sekarang, saya dan anak-anak tinggalnya saja di tempat warisannya istri, dari keluarga istri. Anak laki-laki malah tidak diberi warisan yang layak. Masak anak laki-laki malah disuruh ikut istrinya, disuruh ikuti mertua, ikut numpang ke pihak perempuan. Saya malu kan, Pak ..., Bu ...." kata si Joni yang mulai mengingkit warisan.
"Joni .... Kenapa kamu berkata demikian ...?! Bapak kan sudah kasih kamu warisan ...!" kata bapaknya yang tentu tidak bisa menerima kalau anak bungsunya itu minta warisan lagi.
"Iya .... Tapi itu tidak adil ...." bantah Joni.
__ADS_1
"Tidak adil bagaimana ...?! Kamu sudah dapat bagian tanah lebih luas ...." kata bapaknya lagi.
"Tapi harganya lebih sedikit, Pak ....." bantah Joni lagi.
"Harganya sedikit, karena sudah kamu jual dulu-dulu .... Sekarang, tanah bekas milikmu itu, warisanmu itu, harganya milyaran .... Sudah dibeli sama orang Cina itu ...." kata bapaknya lagi yang tentu mulai membandingkan harga.
"Itu kan sekarang ...." sahut si Joni yang tetap tidak mau kalah.
"Ya, salah kamu .... Kenapa tidak dijual sekarang ...? Kenapa jualnya dulu-dulu ...?" kata bapaknya lagi yang tentu juga kecewa dengan si Joni yang sudah menjual warisannya.
"Ya, saya butuhnya dulu .... Saya mau bangun rumah .... Dan kalau saya hanya dikasih warisan tanah itu, tidak benar .... Mestinya saya anak laki-laki, dapatnya dua bagian .... Warisan yang lebih besar, dua kali lipat punya Teh Lesti .... Saya anak laki-laki, mestinya dapat bagian yang lebih banyak .... Malah Teh Lesti yang sudah mencemarkan nama keluarga, diberi tempat, diberi warisan yang besar yang ada rumahnya ini ...." kata Joni yang tidak terima dengan pembagian warisa dari orang tuanya.
"Ya ampun ..., Joni ..... Kamu itu kenapa ...?! Bapakmu sudah adil .... Bapakmu sudah membagi rata .... Kamu itu, mah ..., sudah dikasih warisan sama bapak, dan warisannya juga cukup besar, tanah yang luas ..., kenapa dijual ...?! Sekarang ..., kamu datang-dateng marah-marah seperti itu, minta warisan lagi .... Mana warisanmu sudah kamu jual .... Ini rumah buat Lesti, bagiannya Lesti. Kalaupun Teh Lesti tinggal di sini, dapat rumah ini, ini tidak hanya untuk Teh Lesti saja .... Bapak dan ibu kamu masih tinggal di sini .... Bapak dan ibu kamu ikut bersama Teh Lesti .... Bapak dan ibu kamu minta dinafkahi Teh Lesti ..., dihidupi Teh Lesti .... Makan sama minum saya ikut Lesti .... Bukan sama kamu .... Mana pernah istrimu datang kemari ngasih makan ...?! Bapak dan ibu masuk angin saja, kamu sama istrimu juga tidak pernah nengok ..... Kok kamu datang-dateng malah mau minta warisan lagi, mau minta rumah ini .... Bagaimana kamu ini ...?! Terus Teh Lesti mau dikasih apa ...? Saya mau tidur di mana? Ibumu mau tidur di mana? Siapa yang akan memberi makan bapak dan ibumu yang sudah tua-tua ini ...?!" kata bapaknya yang tentu langsung marah, ketika mendengar si Joni akan meminta warisan rumah yang ditempati oleh bapak ibunya bersama dengan Lesti dan Podin itu.
"Ya, tidak seperti itulah Pak .... Kalau Bapak itu adil, mestinya dulu saya dikasih tanah sama rumah ini .... Malah saya dikasih tanah kosong yang tidak bisa diapa-apakan. Sekarang rumah yang besar ini, dan tanahnya yang luas ini, malah dikasihkan sama Teh Lesti .... Ngapain mikirin Teh Lesti yang gak bener itu. Anak yang sudah mencemarkan nama keluarga kita ...?! Biar saja Teh Lesti ikut suaminya ...." kata Joni yang tetap ingin meminta warisan kembali.
"Terus ..., kalau Teh Lesti ikut suaminya, bapak sama ibu kamu mau ikut siapa? Apa istrimu mau ngurusi orang tua seperti kami ...?!" kata ibunya yang tentu ingin menuntut Joni.
"Ya ..., kalau Bapak sama Ibu mau ikut kami, gak masalah ...!" Joni bersikeras.
"Yang jadi masalah itu istri kamu, Joni ...! Istrimu itu tidak bakal mau kami ikuti. Tidak bakal mau ngurusin orang tuamu ...." kata ibunya yang tetap membantah, karena menantunya perempuan itu memang tidak bisa hidup bersama mertuanya.
"Pokoknya rumah ini harus dibagi ...! Saya minta bagian lagi ..., bagian warisan saya yang ada di rumah ini!" kata si Joni yang memaksa bapak dan ibunya untuk memberikan warisan tanah dan rumah itu kepada dirinya.
"Ya ampun ..., Joni .... Kamu itu kenapa ...?! Kesurupan apa ...?! Setan mana yang kamu bawa ...?! Kalau tanah dan rumah ini kamu ambil, bapak dan ibumu mau tinggal di mana? Ini mah, tanah dan rumah, namanya masih nama bapak .... Sertifikatnya juga masih pakai nama bapak .... Bukan Teh Lesti .... PBB-nya juga nama bapak .... Ini tanah milik bapak .... Kamu sudah dikasih .... Kamu sudah dapat warisan .... Jangan minta lagi." ibunya ikut nimbrung, dan tentu memarahi anaknya, karena si Joni ini rupanya adalah anak yang serakah, anak yang tamak, anak yang akan mengoyak warisan orang tuanya.
Padahal, kalau dihitung-hitung, mestinya Joni sudah mendapatkan tanah yang sangat luas. Namun memang tanah itu sudah dijual oleh Joni, yang kemudian digunakan untuk beli motor dan untuk membangun rumah di warisan istrinya, di tempat keluarga pihak perempuan, di tempat mertuanya, yang kini rumahnya itu iya tempatp bersama istri dan anak-anaknya. Walaupun memang rumah yang dibangun oleh Joni belum selesai, tetapi rupanya Joni tidak terima kalau kakak perempuannya dapat warisan tanah beserta dengan rumah yang sudah ada dan ditinggali beserta dengan bapak dan ibunya. Sedangkan dirinya hanya dapat tanah saja. Padahal, rumah yang ditempati kakak beserta orang tuanya itu, hanyalah rumah kampung yang hanya separo bata dan atasnya terbuat dari papan kayu. Bukan gedung yang megah atau mewah.
"Pokoknya, Mak ..., Joni tetap meminta bagian lagi, dari tanah dan rumah yang ditempati ini ...!" begitu tandas Joni, yang tentu mukanya sudah merah karena marah.
"Tunggu tetehmu pulang dari Jakarta .... Besok kalau tetehmu sudah kembali, kita bicarakan bersama, biar adil ...." begitu sahut bapaknya, yang tentu tidak ingin memperpanjang pembicaraan masalah warisan itu. Tentunya bapaknya sadar, kalau si Joni itu memang anak yang serakah, tetapi sok suci, berlagak baik. Sering bawa-bawa dalil. Bahkan kata-katanya sok pintar. Aslinya, yah ..., dia itu orang tamak.
__ADS_1
"Benar, ya ...!! Awas kalau sampai saya tidak dapat bagian dari warisan ini ...!!" begitu kata-kata Joni yang mengancam orang tuanya.
Joni keluar dari rumah orang tuanya tanpa pamitan. Lantas menyetarter motornya, dan bablas melaju kencang.