Sisa Rasa

Sisa Rasa
Seperti Arjuna


__ADS_3

Deva mengelus dadanya sendiri. Seolah ingin mengatakan pada jiwanya agar mulai berlatih dan menyiapkan kesabaran lebih. Bukan karena takut atau keder karena mendapatkan panggilan menghadap Dewa secara khusus. Tapi lebih karena dia bukanlah tipe orang yang pandai basa basi atau mencari muka dihadapan atasan. Jika Dewa melakukan hal menyebalkan seperti saat bertemu dengannya selama ini, jelas Deva tidak bisa menahan diri untuk tetap diam.


Meski tidak bersemangat, namun karena tidak ingin mendapatkan masalah, Deva pun mempercepat langkahnya. Begitu sampai di depan pintu ruangan CEO, dia menyempatkan diri untuk merapikan rambutnya terlebih dahulu. Dengan mengucapkan Bismillah, Deva mengetuk daun pintu tiga kali. Lalu membukanya perlahan tanpa keraguan.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak." Deva bersikap seprofesional mungkin.


"Duduk." Dewa menunjuk kursi di depan meja kerjanya.


Suasana mendadak hening begitu lama. Bukannya segera memberi tahu maksud dan tujuannya memanggil Deva, Dewa malah asik dengan ponselnya sembari senyum-senyum mesuum.


Deva melirik jam digital yang ada di dinding samping kiri, sudah hampir 480 detik dia berada di sana, namun belum sepatah kata pun diucapkan oleh Dewa. Pria itu masih saja mengabaikannya.


Dewa melirik Deva sekilas. Sedikit keki, ternyata perempuan di depannya itu sedang memfokuskan pandangan ke arah bawah. Padahal, jelas-jelas wajah dan pesonanya jauh lebih layak dipandang ketimbang lantai marmer itu.


Setelah menggerakkan ujung bibirnya dengan sinis, Dewa kembali fokus pada ponselnya. Dia masih ingin berbalas pesan dengan beberapa teman wanitanya. Sebelum disibukkan dengan setumpuk pekerjaan dan juga permasalahan yang ditinggalkan Tino, tidak ada salahnya dia bersenang-senang sejenak.


"Mohon maaf, Bapak memanggil saya kemari untuk keperluan apa, ya?" tanya Deva, cukup sudah dia didiamkan seolah tidak ada pekerjaan penting lain yang harus dikerjakan.


Dewa dengan santai meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu mengambil salah satu berkas yang ada di tumpukan teratas di depannya.


"Kamu yakin dengan informasi yang kamu berikan ini? Jika tidak ada bukti kuat, sepanjang dan serapi apa pun kamu menulis laporan ini, jatuhnya hanya omong kosong dan fitnah." Dewa memberikan berkas tadi pada Deva.

__ADS_1


"Tentu saja saya punya buktinya. Saya masih menyimpan di ponsel. Apa Pak Tino tidak memberikan bukti itu pada Bapak?" Deva menatap Dewa dengan berani.


"Tidak! Tino hanya memberikan berkas ini, dan memintaku bertanya padamu kalau aku butuh data lain-lain." Dewa berdiri memutari meja kerjanya mendekati Deva. Mata elangnya mulai menelisik pandang pada sosok asisten pribadinya itu.


"Saya akan mengirimnya lewat email." Deva buru-buru meraih ponsel yang berada di pangkuannya. Berniat mengirim email pada CEO barunya tersebut.


"Kamu mengirim bukti yang belum tentu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya lewat email perusahaan? Deva... Deva... yang benar saja kamu," cebik Dewa, jelas sedang merendahkan Deva.


"Bukan email perusahaan, Pak. Tapi email pribadi. Bukankah di kartu nama yang bapak berikan kapan lalu itu ada alamat email pribadinya? Atau saya kirim melalui pesan whatsapp saja?" Deva lagi-lagi menatap Dewa tanpa ada rasa tertekan sedikit pun.


Dewa tersenyum puas. Deva yang selama ini terlihat dan selalu menampilkan sisi yang angkuh, ternyata diam-diam menyimpan kekaguman padanya. Hal itu terbukti dari kartu nama yang masih tersimpan dengan baik. Seharusnya, perempuan di depannya itu sadar, dan tidak gengsi lagi mengakui ketampanan, kekayaan, juga kedudukan yang sangat cukup membuat setiap kaum hawa terpesona. Namun itu hanya dugaan Dewa, nyatanya ....


"Saya menyimpan kartu nama Bapak, karena setelah saya pikir-pikir, urusan kita mengenai mobil saya belum benar-benar selesai. Saya harus membayar resiko sendiri saat semua sudah diperbaiki bengkel. Tentu saja saya akan membebankan biaya tersebut pada Bapak. Mungkin empat ratus ribu bagi Bapak tidak berharga, tapi bagi saya, itu senilai dengan biaya makan saya satu minggu."


"Menderita? Bagaimana bisa Bapak menilai hidup saya hanya dari sebuah nominal? Sepertinya hidup Anda memang terlalu sempurna. Silahkan terus menilai saya seperti apa pun yang ada di pikiran Bapak."


"Tentu saja, aku selalu menilai orang sesuai dengan isi kepalaku. Jangan sampai aku meminjam otakmu yang aneh itu untuk berpikir. Bisa jatuh derajatku," timpal Dewa, benar-benar semakin menjadi.


Deva memilih untuk tidak menimpali ucapan bernada cemooh dari Dewa. Dia langsung mencari fitur email di layar ponselnya. Tanpa menunggu persetujuan Dewa, dia mengirim bukti yang diminta atasannya itu dengan cepat.


"Sudah saya kirimkan buktinya. Silahkan Bapak cek terlebih dahulu. Apa ada yang Bapak perlukan lagi? Kalau tidak ada, saya mau kembali menyelesaikan pekerjaan saya yang lain." Deva masih berusaha sopan. Meski dadanya sudah ingin berontak mencaci Dewa.

__ADS_1


"Masih banyak yang harus kita bicarakan. Lihat setumpuk dokumen itu, kalau aku membaca semua lembar demi lembar, sampai gajian ketiga belas juga tidak akan kelar-kelar," sahut Dewa dengan cepat.


Deva langsung mengambil bagian teratas dari tumpukan berkas. Lalu dia membuka map berwarna merah itu sembari menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan berat.


"Apa Bapak akan terus berdiri? Saya jamin ini akan lama, kalau memang kaki bapak cukup kuat, silahkan saja!"


Deva mulai menerangkan map pertama dengan detail dan runtut. Sesekali terjeda karena pertanyaan Dewa yang ternyata cukup betah berdiri menyandarkan bokong pada tepian meja.


Kali ini, keduanya kompak mengenyampingkan masalah yang terjadi di antara mereka. Deva dan Dewa nampak saling bertukar pendapat. Beberapa berkas mereka bahas dengan tuntas. Masih beberapa jam berjalan, Dewa harus mengakui, ucapan Tino akan kemampuan Deva yang tidak boleh diremehkan, memang benar adanya.


"Cukup sampai di sini dulu, Dev. Sudah waktunya makan siang dan sholat." Dewa meletakkan berkas ke atas meja.


"Terimakasih, Pak."


Kata yang terdengar sangat formal itu membuat telinga Dewa gatal. Cara bicara Deva sungguh berbeda dengan saat menerangkan beberapa berkas tadi. Kini. kesan ketus dan angkuh jelas kembali mendominasi.


"Kamu akan mencari kado untuk Tino, bukan? Kebetulan aku juga ingin mencari sesuatu. Kita pergi bersama saja, ajak Sashi sekalian. Aku tidak mau pergi berdua jika bukan urusan pekerjaan. Aku ini tampan, berharta, pintar dan memiliki jabatan. Aku takut kamu jatuh cinta dan terpesona padaku." Dewa sedang memasang strategi.


"Jangan khawatir, Pak. Saya sangat paham batasan. Lagi pula saya bukan perempuan perebut suami orang. Masih banyak pria lajang di luaran sana. Orang tampan, kaya, dan mempunyai jabatan tidak hanya Bapak. Sayangi keluarga, Pak. Jangan terlalu banyak tebar pesona. Kasihan yang nunggu di rumah," sahut Deva, penuh keyakinan.


"Hah? Perebut suami orang? Maksudnya apa? Lagi pula, siapa yang tebar pesona? Tuhan begitu baik padaku, menciptakan sosok Dewa yang benar-benar menuruni ketampanan Arjuna. Wajar perempuan menggilaiku. Apa itu salahku?" tanya Dewa, begitu santai.

__ADS_1


"Salah ... sebagai pria berisrti, seharusnya Bapak berhenti main-main dengan perempuan lain." Deva semakin gemas dengan sikap dan ucapan Dewa yang sombong.


"Beristri?"


__ADS_2