Sisa Rasa

Sisa Rasa
Dira


__ADS_3

Dave dengan sedikit kasar menghempaskan tangan Dira. Lalu pria tersebut menatap tajam pada perempuan yang baru saja dijatuhkan talak itu.


"Bersyukurlah Deva tidak menuntutmu ke jalur hukum, Dir. Apa yang baru saja kamu katakan, semakin menunjukkan betapa menyedihkannya dirimu. Uang bisa membuatmu mendapatkan segalanya, tapi tidak dengan hati." Dave keluar meninggalkan ruang rawat Nina dengan langkah lebar.


Dira menghentakkan kakinya dengan kesal. Dia bahkan membanting pintu dengan lumayan keras. "Papa harus kembalikan Dave pada Dira. Bagaimana pun caranya."


"Cukup Dira! Masih banyak laki-laki lain selain dia. Jangan jatuhkan harga diri keluarga kita. Dan ingat baik-baik, jangan bermain-main dengan nyawa orang. Papa tidak mau kamu berurusan dengan hukum," bentak Rudi.


Mendengar apa yang terjadi, Nina hanya bisa meratapi keadaan dan menangis dalam hati. Keutuhan keluarganya sepertinya sudah di ujung tanduk. Dan dia malah terkulai tak berdaya di atas brankar. Jangankan ikut campur mengambil alih menyelesaikan masalah seperti biasa, menggenggam gelas pun Nina tidak mampu.


"Papa yang menjadikan Dira seperti ini. Sekarang Papa juga yang harus tanggung jawab. Dira mau Dave. Bagaimana pun caranya."


Rudi membalas tatapan Dira yang begitu berani padanya. Kedua tangan pria tersebut dimasukkan ke dalam kantong celana. Sekadar ingin menahan diri agar tidak sampai tangan itu melayangkan sebuah tamparan yang sempat melintas di pikirannya saat melihat Dira begitu sulit diingatkan.


"Tenangkan dirimu, Dira. Jangan uji kesabaran Papa. Pulanglah!" Rudi sedikit menurunkan nada bicaranya dengan Susah payah. Terlihat jelas pria tersebut sedang meredam amarah. Wajahnya memerah, gigi atas dan bawah merapat hingga menimbulkan bunyi yang khas.


"Dira tidak mau tau. Pokoknya, Dave harus kembali sama Dira. Kalau Papa tidak bisa melakukannya, biar Dira memakai cara Dira sendiri."

__ADS_1


Rudi menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat melihat Dira berbalik badan dan melangkahkan kaki meninggalkan dirinya hanya bersama Nina. Terlalu memanjakan Dira tanpa batasan dan juga kontrol yang jelas, membuat kepribadian sang anak begitu susah untuk di atur.


Sementara itu, di sebuah resto yang hanya berjarak lima puluhan meter dari gedung perkantoran Diamond Corp. Di dalam ruangan VVIP, Dewa dan Desta sama-sama sibuk merapikan diri. Keduanya seperti sedang menunggu seseorang yang sangat istimewa.


"Kamu cuma mau ketemu Deva, Des. Cukup minyak nyong-nyongmu itu menusuk hidungku. Deva bisa bersin-bersin mencium wangimu yang berlebihan," dengus Dewa sambil merapikan rambut dengan jemarinya.


"Wangi yang melekat dihidung, bisa meracuni pikiran penikmatnya. Aroma maskulin ini, akan menghipnotis siapa pun. Lihat saja nanti."


Ucapan Desta semakin membuat Dewa kesal. Pria tersebut memilih diam dan tidak menimpali. Pura-pura sibuk dengan ponsel yang memang penuh dengan notifikasi pesan, email, dan telepon masuk.


Sesekali Dewa melihat ke arah pintu masuk. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit. Waktu istirahat seharusnya sudah tiba dan Deva pun semestinya sudah sampai di sana.


"Bukan grogi, Des. Kamu nggak paham apa-apa. Mending diam. Dan sebaiknya, kamu jangan sok akrab sama dia," ketus Dewa.


Disaat bersamaan, Deva dengan langkah santai memasuki ruangan. Perempuan tersebut berjalan pasti dengan raut wajah tenang menghampiri tempat di mana Dewa berada. Desta melirik ke arah Dewa, memastikan dia tidak salah menduga bahwa perempuan yang berjalan ke arahnya itu adalah Deva. Calon klien sekaligus perempuan yang membuat Dewa berubah tabiatnya.


Dewa sedikit menggeser bokong ke sisi kanan sofa, lidahnya membasahi bibirnya sendiri dengan reflek. Mendadak dia membutuhkan kaca untuk melihat kesempurnaan penampilannya. Namun terlambat, dalam hitungan tidak sampai dua menit, Deva sudah sampai di depannya. Bibir Dewa yang biasanya cukup piawai melemparkan kata-kata pedas, kini mengatup sempurna. Padahal, beberapa saat yang lalu pria tersebut ingin memberikan teguran pada Deva yang telat datang menemuinya.

__ADS_1


Desta memuji selera Dewa kali ini. Ya, Deva memang terlihat elegan. Kecantikan yang dipancarkan tidak membosankan untuk dipandang. Berkelas meski penampilannya sederhana.


"Selamat siang, Pak. Maaf saya sedikit terlambat. Saya sengaja menjalankan sholat dhuhur dulu," sapa Deva.


"Siang," Dewa menjawab singkat sambil melemparkan isyarat dengan matanya agar Deva duduk di sofa tepat di sampingnya.


"Kenalkan, aku Desta. Tidak perlu memanggilku, Pak. Aku tidak setua Dewa. Panggil Abang saja." Desta memperkenalkan diri dengan cepat. Pria tersebut mengulurkan tangan sebelum bokong Deva mendarat di sofa empuk yang dimaksud Dewa.


"Saya Deva." Perempuan tersebut membalas uluran tangan Desta dengan gayanya yang tenang.


Dewa menjatuhkan pandangan matanya pada tangan Desta yang menggenggam tangan Deva begitu lama. Ludahnya tertelan kasar disertai kekesalan tanpa disengaja.


Setelah memesan makanan, mereka langsung membicarakan langkah-langkah hukum yang akan dilakukan. Ketiganya terlibat pembicaraan yang serius. Emosi Deva beberapa kali berubah, kemarahan, kekesalan dan kesedihan yang tertahan, silih berganti dia tunjukkan saat memberikan penjelasan pada Desta.


"Saya berharap kali ini papa benar-benar mendapatkan keadilan. Tidak peduli siapa pun yang akan saya hadapi. Tidak ada maaf untuk mereka." Suara Deva bergetar dan tatapan matanya berkaca-kaca.


Dewa merengkuh pundak Deva, membawa sang asisten pribadinya itu untuk bersandar di bahunya. "Kali ini kita pasti menang. Aku janji akan membantumu sebisaku."

__ADS_1


Desta tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan Dewa. Merangkul perempuan, memang hal yang biasa. Namun, kali ini rangkulan Dewa berbeda. Sebagai pria dewasa, dia bisa memastikan, jika Dewa memang sedang jatuh cinta.


Belum terlalu lama suasana sendu itu berlangsung, tiba-tiba sosok yang tidak diharapkan dan diduga datang menghampiri Dewa, Deva dan juga Desta. Perempuan itu langsung menarik rambut Deva dengan kasar. Tentu saja Dewa langsung murka menyaksikan aksi tamu tak diundang itu.


__ADS_2