Sisa Rasa

Sisa Rasa
Sebatas teman


__ADS_3

Dara, Diana, Hilda, dan Sashi kompak saling bertukar pandang. Sebelum Dewa dan Deva datang tadi, keempat wanita berdada penuh, padat, dan bulat itu sudah sedikit berbincang. Tidak banyak yang diinformasikan Dara dan Diana pada duo kendi. Keduanya hanya memberi tahu agar Sashi atau pun Hilda, berhenti berharap untuk mendekati Dewa sebagai pasangan. Jika pria tersebut sudah dekat dan mengajak mereka bergabung, itu artinya Dewa hanya nyaman dan menemukan kecocokan untuk menjadikan mereka sebagai "Tameng".


"Misi apa?" Dara yang tidak sabar, langsung mewakili teman yang lain untuk bertanya.


Hanya Deva yang bersikap acuh tak acuh di sana. Terlanjur terjebak berada di lingkaran Dewa---mau tidak mau, Deva harus ikut menyaksikan keabsurdan atasannya itu. Meski hanya sekedar menyimak dengan malas.


Dewa menunda memberikan jawaban. Pria tersebut membiarkan pelayan untuk meletakkan pesanannya di atas meja terlebih dahulu.


"Jadi begini, aku ingin mendekati Debora lagi. Aku ha---," tanya Dewa, begitu pelayan sudah meninggalkan mejanya.


"Hah? Nggak salah? Setelah sekian lama, apa kamu belum bisa move on juga? Ayolah, Wa. Kalian tahu persis tidak mungkin menentang prinsip masing-masing. Jangan gadaikan keyakinanmu demi cinta. Meski menikah beda agama diperbolehkan, setidaknya berusahalah dulu mendapatkan jodoh seiman. Selama ini, kamu terlalu membatasi perasaanmu. Pasti banyak perempuan yang mau menerima kamu." Belum sampai Dewa menyelesaikan ucapannya, Dara langsung menyambar ucapan teman kentalnya itu dengan ketus.


"Dara benar. Kami rela bercerai dengan suami masing-masing dan menjadi istrimu. Asal kamu tidak kembali pada Debora. Bukan hanya masalah keyakinan. Aku tidak ikhlas kamu kembali pada Debora. Ada banyak pernikahan beda agama yang berhasil. Tapi tidak sedikit juga yang gagal. Kalau kamu nekat, aku akan langsung keluar dari klub ini, dan bersiap menjadi pelakor di hubungan kalian," sambar Diana.


Secara mengejutkan, dua wanita itu menanggapi ucapan Dewa dengan begitu cepat. Padahal penjelasan belum sepenuhnya diberikan oleh Dewa.


"Kalian kenapa, sih? kebiasaan sekali. Belum juga aku selesai bicara. Dengarkan baik-baik dulu. Lagipula, aku ini masih perjaka. Kalau mau sama kalian, pasti aku mikir-mikir dulu. Mikirku panjang, lama dan berulang-ulang," ketus Dewa.

__ADS_1


Hilda dan Sashi hanya bisa menggerakkan bola matanya, mengikuti siapa yang bicara dari ketiga orang yang sedang bertikai tersebut. Sebagai pendatang baru, jelas mereka belum paham arah pembicaraan sebenarnya.


Begitu pun dengan Deva. Perempuan yang sedari tadi merasa tidak tertarik dan tidak ingin terlalu melibatkan telinga untuk fokus mendengarkan, kini mulai tergoda dengan isi pembicaraan.


"Sebentar, aku makan dulu saja. Laper banget. Aku harus cukup tenaga untuk beradu mulut dengan kalian berempat." Dewa langsung menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.


"Saya mau duluan, Pak. Kata pacar saya dulu, bibir saya manis dan legit. Bikin nagih," Hilda langsung sumringah saat mendengar kata "adu mulut".


"Sama saya saja, Pak. Pengalaman saya jauh lebih teruji.Jangankan lilitan atau pluntiran, goyang lidah pun saya ahlinya. Tester boleh tiga kali. Tidak cocok boleh dilap kembali," seloroh Sashi.


"Kalian jangan bicara seperti itu jika ada orang lain, apalagi laki-laki. Ucapan kalian, menentukan seberapa tinggi harga dan kualitas diri. Kali ini, aku memaklumi. Anggaplah kita memang teman. Pria terlihat menyukai perempuan yang berpakaian terbuka dan agresif. tapi jika dihadapkan pada hubungan yang serius, jelas pria ingin mendapatkan perempuan yang bisa menjaga dirinya secara utuh," tutur Dewa, setelah dia menelan makanan di mulutnya.


Dara dan Diana yang sudah sering mendengar kata-kata tersebut hanya bisa tersenyum tipis. Mereka tahu pasti adu mulut yang dimaksud Dewa. Orang lain yang menyaksikan mereka dari kejauhan, hanya akan menilai dari tangan jahil Dewa yang sesekali merangkul pundak atau pinggul. Namun, semakin dekat mereka berada. Mungkin akan terdengar jelas bagaimana tutur kata pedas Dewa yang tertuju untuk Dara dan Diana.


"Sekarang kalian semua berteman. Tapi, jangan sampai ada lagi yang mengikuti jejak Dara dan Diana. Keduanya sudah salah jalan. Bukannya berhenti, mereka malah menginjak gas semakin dalam. Aku tidak jahat. Dara dan Diana, hanya menunggu waktu untuk kehancurannya sendiri. Saat itu terjadi, aku tidak mau ambil pusing. Dengan sepuluh kubik es balok, mungkin cukup untuk membekukan mereka beserta jejak kebodohannya."


Kata-kata Dewa bukan lagi bermakna sebuah sindiran. Jelas itu langsung tepat mengenai sasaran. Dara dan Diana bukannya tidak peduli. Namun kehidupan ekonomi yang nyaman tanpa harus berusaha keras dan terkekang, membuai mereka dengan lihainya.

__ADS_1


Beberapa saat mereka semua kompak terdiam. Dewa masih asyik menyuapkan makanan yang hanya menyisakan beberapa sendok lagi ke mulutnya. Pria itu mengunyah dengan begitu santai.


Deva melihat jam di pergelangan tangannya. Jam kerja malam yang disepakati, sebenarnya telah usai. Namun, langsung berpamitan tanpa menyapa yang lain, tentu sangatlah tidak sopan. Deva akan menunggu celah waktu yang tepat untuk itu.


Setelah menghabiskan makanan dan minumannya tidak bersisa. Dewa langsung menegakkan duduknya. Alunan live music yang cenderung romantis, sama sekali tidak terasa di meja tempat Deva berada. Bukan karena musiknya yang tidak enak, tapi karena fokus mereka yang memang tidak berada di sana.


"Aku ingin kembali dekat dengan Debora, karena ada masalah yang ingin aku selidiki. Untuk hal penyelidikan, aku tidak meminta bantuan kalian sama sekali. Biar itu menjadi urusanku dan Deva. Aku hanya butuh bantuan kalian untuk menciptakan kesan, bahwa aku ini bukanlah laki-laki idaman. Aku takut, Debora masih menaruh harapan padaku. Tatapan matanya begitu dalam. Aku tidak takut tergoda. Aku hanya takut menyakitinya. Tolong bentengi aku seperti biasa," pinta Dewa dengan panjang lebar.


"Jadi Club Dewa ini, ada karena apa sih? Apa keuntungannya?" Hilda bertanya sembari menggaruk kepalanya yang memang gatal.


"Keuntungannya banyak. Jika aku menganggap kalian teman, mau bagaimana pun, aku pasti membantu kalian. Tapi jangan pernah tersinggung jika ada kalanya aku mengingatkan sesuatu yang salah dengan sangat tajam. Jangan berharap lagi hubungan kita akan lebih dari teman. Aku pastikan tidak akan bisa," tegas Dewa.


Sashi dan Hilda, tampak masih ingin banyak bertanya. Tetapi Dara dan Diana langsung memberi isyarat keduanya untuk diam.


Dewa mencuri pandang pada Deva. Perempuan tersebut nampak asyik berbalas pesan. Entah mendapat dorongan dari mana, Dewa menyambar ponsel dari asisten pribadinya itu dengan kesal.


"Sudah aku katakan, jangan ada lagi perempuan naif di antara kita. Tidak perlu mengotori diri kalian dengan menyodorkan diri terang-terangan sebagai pelakor."

__ADS_1


__ADS_2