Sisa Rasa

Sisa Rasa
Bukan Dave


__ADS_3

"Apa maksudmu, Dir?" Dave mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia berbalik badan dan memberikan tatapan tajam pada Dira.


"Tidak di sini, suamiku." Dira mensejajarkan dirinya dengan Dave.


"Jaga jarak denganku, Dir. Aku tidak pernah berbuat kasar pada perempuan, jadi jangan paksa aku melakukannya untuk yang pertama kali." Dave melanjutkan langkahnya. Dia menyusuri anak tangga dengan pikiran yang carut marut. Kata-kata Dira mengenai Papa Deva, berhasil membuatnya berpikir keras.


Dave menggeleng keras. "Tidak, jangan sampai papa terlibat dalam kasus Pak Amar. Aku tidak akan sanggup menatap Deva kalau sampai itu terjadi. Dira gila, apa yang terucap darinya, jelas tidak bisa dipercaya." Sepanjang langkah, Dave terus berbicara sendiri dalam hati.


Di sisi lain, Deva dan Dewa yang melangkah beriringan, tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bibir keduanya sama-sama mengatup rapat. Beberapa pengunjung lain yang baru datang dan bersimpangan jalan dengan mereka, seakan tidak menarik perhatian mereka sedikit pun.


"Pak Dewa ...." Deva memanggil pria di sampingnya sedikit ragu-ragu.


"Iya."


Mendengar jawaban lembut dari Dewa, membuat Deva seketika menoleh. Memastikan suara itu memang benar keluar dari orang yang tengah diajaknya bicara. "Tumben," batinnya.


"Ada apa, Dev?" Dewa menghentikan langkahnya. Kebetulan, mereka sudah berada di parkiran mobil yang mengantar mereka tadi.


"Apakah Dira memang pernah depresi separah itu? Maaf saya lancang bertanya. Kalau Pak Dewa tidak berkenan menjawab, abaikan saja pertanyaan saya." Deva membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalamnya.


Dewa pun mengikuti Deva masuk ke dalam mobil Alphard hitam itu. Dewa yang tadinya duduk di bangku belakang sendirian, sementara duduk di bangku tengah yang tadi di duduki oleh Dira. Setelah pintu mobil di tutup oleh driver, barulah Dewa berkata, "Dira terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Om Rudi dan Tante Nina memperlakukan Dira bak puteri raja. Semua tunduk pada ucapannya. Siapa yang berani membuat Dira menangis, pasti akan di damprat habis sama papa mamanya."

__ADS_1


Deva tidak melepaskan pandangan matanya pada Dewa. Perempuan tersebut begitu intens menatap atasannya itu. Mendengarkan dan mencerna setiap kata yang diucapkan Dewa dengan seksama.


"Dira memang terlahir dengan wajah yang tidak sempurna, menjelang remaja dia juga memiliki masalah jerawat. Uang tidak membuatnya lepas dari bullyan. Barang-barang bagus dan branded nyatanya hanya menghadirkan fake friend untuknya. Kami semua, berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian berlimpah, bisa dikatakan berlebihan. Mungkin itu juga yang mengakibatkan Dira menjadi seperti sekarang," tutur Dewa. Entah apa yang mendorongnya selancar ini bercerita dan terbuka pada Deva.


"Emosi Dira tidak stabil dari kecil, dia memang mudah sekali marah. Tapi jujur, aku tidak tahu kalau dia pernah nekat bunuh diri. Kami tidak berkomunikasi cukup lama, karena aku harus menyelesaikan kuliah S2 ku di luar negeri. Aku pulang, Dira sudah secantik sekarang. Dimataku, Dira dulu begitu hangat. Meskipun emosinya meluap-luap, namun tidak separah saat ini. Mungkin, Dira tidak sanggup menghadapi tekanan yang dihadapi."


Deva meredupkan tatapan matanya pada Dewa. Semua orang, masing-masing memang memiliki cerita. Dave, Dewa, Dira dan juga dirinya sendiri. Mana yang lebih berat, tentu tidak bisa dibanding-bandingkan.


"Dira sendiri yang menciptakan tekanan itu, Pak Dewa. Terlepas pria pilihan Dira adalah Bang Dave, menjalin hubungan tanpa cinta, jelas sangat berat dan menyakitkan. Akan sulit ke depannya." Deva memberikan sedikit pendapatnya.


"Kamu benar. Tapi aku bisa apa? Sebagai kakak, aku hanya bisa memberi tahu. Pilihan sepenuhnya ada di tangan Dira. Dia yang menjalani, maka dia yang menentukan. Aku sudah lupa bagaimana rasanya mencintai. Tapi setahuku, mencintai tidak sesakit Dira. Dia melukai dirinya sedalam ini. Berdiri di tepian jurang tanpa pengaman, dia lakukan tanpa berpikir panjang. Sewaktu-waktu, dia bisa saja terjungkal ke dalam jurang itu sendirian. Apa yang membuatnya begitu yakin? Masih belum aku pahami." Pandangan Dewa tampak menerawang jauh seperti orang yang sedang melamun.


"Surat yang disimpan Dira, jelas bukan tulisan tangan Bang Dave. Sepertinya, ada orang lain yang sengaja meminjam nama Bang Dave untuk menyembunyikan kekagumannya pada Dira. Siapa pun dia ... dia lah yang harus bertanggung jawab pada kegilaan Dira," tegas Deva.


"Di mana Dira?" tanya Dewa.


"Masih di sana." Dave menjawab tanpa menoleh ke arah pria yang bertanya padanya.


Ada kekhawatiran yang tiba-tiba muncul pada diri Dewa. Emosi Dira, pasti sedang sangat tidak stabil. Namun, menyusul Dira itu berarti dia harus meninggalkan Deva dan Dave berdua saja. Karena driver tentu memilih berada di luar, sebelum seluruh tamu yang dia antar masuk ke dalam mobil.


Di sisi lain, Dira tampak melangkah gontai. Dia pun sebenarnya mulai gamang. "Benarkah bukan Dave? Lalu siapa? Apakah Hafis? Tidak ... jangan sampai dia. Aku harus mencari Hafis dan memastikan jika ini tidak benar. Pasti Dave, aku yakin surat dan hadiah itu dari Dave."

__ADS_1


Dira melebarkan langkah kakinya. Semangatnya seketika kembali berkobar. Mengalahkan Deva sejauh ini, sudah dengan susah payah. Akan menjadi sia-sia jika dia harus kembali melepas Dave karena kesalah pahamannya sendiri.


"Dave kamu milikku. Aku menaruh hati padamu dari awal pertemuan kita. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku bertemu dengan David dan membuatnya menyesal karena menyakitiku," sumpah Dira dalam hati.


Ketika Dira yang dinanti-nanti sibuk dengan pikiran culasnya, Dewa semakin tidak tenang. Sudah hampir sepuluh menit belum juga ada tanda-tanda kemunculan Dira.


Kecanggungan dan keheningan di dalam mobil mendadak buyar ketika ponsel Deva berdering lumayan nyaring. Setelah mengaktifkan kembali, dia lupa mengurangi volume dering ponselnya. Mengetahui siapa yang menghubungi, Deva pun segera menerima dan menempelkan benda pipih tersebut pada daun telinganya.


Dave seketika menegakkan duduknya. Jika ada yang menghubungi Deva saat weekend seperti ini, tentulah itu bukan masalah pekerjaan. Begitu pun dengan Dewa, sempat melirik layar ponsel Deva yang menyala, membuatnya jauh lebih penasaran ketimbang Dave.


"Halo, Kak," sapa Deva dengan ramah.


Sesaat dari itu, suasana di dalam mobil kembali hening. Saking heningnya, embusan napas Dave dan Dewa yang sama-sama berat karena menahan rasa ingin tahu pun sayup terdengar.


Deva tampak mendengarkan suara dari seberang dengan serius. Sesekali kedua alis matanya menyatu sempurna. Bibir Deva mengatup rapat. Dia tidak tahu harus berkata apa.


Dave dan Dewa dibuat semakin penasaran. Beruntung bagi Dewa yang masih bisa melihat raut wajah Deva yang sulit diartikan. Berbeda dengan Dave yang tidak mungkin menunjukkan keingin tahuannya dengan menatap Deva secara terang-terangan.


Mantan kekasih Dave tersebut menoleh ke arah luar, melihat Dira berjalan mendekati mobil, membuat Deva bergegas menyudahi sambungan ponselnya dengan seseorang yang sama sekali tidak di sebut namanya.


"Kak, nanti saya hubungi lagi ya. Kalau hari ini, sepertinya tidak bisa. Tunggu saja sampai saya kembali ke Jakarta. Saya akan hubungi kakak lagi nanti setelah ada kepastian. Maaf ya, kak. Saya tutup dulu."

__ADS_1


Bersamaan dengan Deva meletakkan kembali ponselnya di dalam tas, Dira membuka pintu mobil dengan gerakan sedikit kasar. "Urusan kita selesai, Dev. Setelah tiba di hotel, terserah kamu mau apa. Yang pasti, jangan ganggu bulan maduku dengan Dave."


Mendengar kata-kata ketus dari Dira, Deva hanya bisa mengelus dada. "Kamu memang tidak baik-baik saja, Dir," batinnya.


__ADS_2