
Dira tidak melanjutkan ceritanya. "Tidak! Aku harus mengingatkan Dave terlebih dahulu. Kak Dewa jangan sampai tahu sebelum Dave benar-benar jadi milikku," batinnya.
"Lanjutkan, Dir! Siapa Dave? Dia laki-laki yang apa? Apa dia pernah menjahatimu? Jawab Dir!" Dewa semakin penasaran.
"Dave adalah laki-laki yang aku impikan, Kak. Tidak ada alasan lain. Aku mencintai, Dave. Aku menginginkan Dave lebih dari apa pun," kilah Dira.
Dewa tidak percaya begitu saja. Namun, dia juga tidak ingin memaksa. Sepertinya, Dewa harus mencari tahu sendiri. Pria tersebut melirik jam di pergelangan tangannya, waktu istirahat menyisakan empat puluh lima menit lagi, dia belum makan siang, Deva pun pastinya juga belum.
"Kak, aku ingin bicara dengan asisten pribadimu? Apakah boleh? Dia datang bersamamu bukan? Biar aku menunggunya." pinta Dira, suaranya sedikit landai.
Dewa tidak langsung menjawab. Dia sendiri tidak tahu harus menunggu Deva di mana. Dia menyandarkan badannya di mobil milik Dira, menengadahkan kepala menantang matahari yang bersinar malu-malu siang ini. Matanya bahkan tidak memicing sedikit pun.
"Kak ... kenapa sekarang malah Kak Dewa yang diam?" Dira melambaikan tangannya tepat di depan muka Dewa.
"Bicara baik-baik, Dir. Kalau kamu memang ingin mendapatkan Dave. tunjukkan kalau kamu lebih pantas ketimbang Deva. Aku mau membeli makanan dulu, tunggu dia di lobby. Jangan membuat keributan yang bisa mempe rmalukan diri kamu sendiri," tegas Dewa.
Dira menggelengkan kepalanya. Dia mencoba mengatur napas. "Kamu bisa, Dir. Ayo lawan sisi iblismu. Kendalikan emosimu," perempuan tersebut mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Dewa mengajak Dira kembali masuk ke dalam area rumah sakit. Pria tersebut menuju kantin yang ada di di ujung bangunan di lantai yang sama, sedangkan Dira, memilih menunggu Deva di lobby.
Di dalam gedung yang sama, namun di sisi yang berbeda, Deva kini sedang menyuapi Dave dengan makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Penyakit lambung yang dulu sempat dimiliki oleh Dave, sekarang kambuh lagi. Makan yang tidak teratur, dan pikiran stres, membuat penyakit itu terpicu datang kembali.
"Bang, setelah ini, aku pulang dulu, ya. Aku harus kembali ke kantor. Aku tidak janji kapan bisa menjenguk lagi. Sepulang dari kantor, aku mengambil kerja tambahan," ucap Deva sambil meletakkan mangkok yang sudah kosong ke atas nakas.
"Kerja tambahan? Di mana? Siapa yang memberimu pekerkjaan? Dewa?" Dave mencecar pertanyaan dengan volume suara yang sangat kecil.
Agas dan Fira saling pandang. Sekarang keduanya sudah duduk di atas sofa. Mereka menatap nanar ke arah Dave dan Deva. Seperti sedang dihujam perasaan berdosa. Melihat dua insan yang masih saling mencinta---terpisah karena sebuah keadaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Agas sendiri. Fira menarik napas begitu berat. Allah tidak memberikan kesempatan padanya untuk mengandung. Mungkin inilah alasannya. Karena dia tidak pantas menjadi seorang ibu.
Agas pun merasakan hal yang sama, ketulusan dan cinta Deva pada Dave, bahkan bisa dia rasakan. Namun, hidup adalah pilihan. Dia hanya berharap, pilihan inilah yang terbaik.
__ADS_1
Deva melempar senyuman tipis pada Dave. "Minum, Bang."
"Jawab aku, Bee. Pekerjaan apa?" Dave mendorong pelan, sedotan yang hendak dimasukkan ke mulutnya.
"Jadi guru les, bukan Pak Dewa yang memberiku pekerjaan." Entah kenapa, bibir Deva tiba-tiba memutuskan untuk berbohong. Ada dorongan di hatinya untuk menjaga perasaan Dave dari kecemburuan yang tidak perlu.
"Jaga diri baik-baik, Dev. Jangan terlalu capek. Jangan paksa dirimu dengan berusaha sekeras ini," ingat Dave.
"Iya ... aku tahu bagaimana harus menjaga diriku. Aku pulang dulu. Cepat sembuh, Bang. Suka tidak suka---kenyataan tetap harus dilalui, hidup harus tetap berjalan." Deva mengusap lengan Dave.
"Terimakasih, Bee. Titip hatiku untukmu. Simpan rapat-rapat. Jika suatu saat ada orang lain yang sanggup mencintaimu lebih dariku, buang saja hati itu. Jangan dikembalikan padaku. Sudah cukup! Aku tidak mau mencintai perempuan lain lagi."
Deva memilih untuk tidak menjawab pernyataan Dave itu dengan kata-kata. Dia tidak mau memperpanjang urusan. Senyuman saja sudah cukup. Tidak untuk mengiyakan atau pun menolak. Hanya senyuman kecil, sebagai penutup perjumpaan.
Deva berpamitan pada Fira dan Agas. Kedua orangtua tersebut mengucap maaf dan terimakasih berkali-kali. Lagi-lagi, senyuman dijadikan Deva sebuah balasan dari semua kata yang tidak ingin dijawabnya dengan ucap.
Dira duduk di deretan bangku besi berwarna hitam di area lobby. Matanya fokus menatap ke arah pintu lift. Sedikit pun dia tidak ingin melewatkan kemunculan Deva dari sana.
Tidak sampai menunggu lama, sosok yang dinanti Dira akhirnya muncul juga. Dia bergegas menghampiri. Kali ini, sudah dengan emosi yang sudah landai.
"Dev, aku ingin bicara sebentar," pinta Dira.
"Aku juga. Ada yang ingin aku bicarakan. Tapi aku hanya punya waktu sepuluh menit." Deva menunjuk sebuah bangku panjang yang kosong di sisi kanan lobby yang lumayan sepi.
"Apakah kita harus bicara di sini?" tanya Dira.
"Waktuku tidak banyak. Bicara di tempat lain, akan membuang waktu sia-sia," tegas Deva seraya berjalan menuju bangku yang ditunjuknya tadi. Mau tidak mau, Dira pun mengikutinya dari belakang.
"Kamu duluan," ucap Deva dengan singkat dan tegas.
__ADS_1
"Kalau Dave sudah sembuh, aku ingin kamu mengajaknya ke sebuah tempat. Temui aku di sana. Karena aku yakin, kalau aku yang mengajaknya, Dave tidak akan mau," ucap Dira sangat to the point.
"Kemana?" tanya Deva.
Dira menyebutkan sebuah nama tempat yang letaknya berada di kota lain. Tempat di mana kenangan Dira akan Dave bermula. Deva tidak langsung mengiyakan, karena tempat itu lumayan jauh dari ibu kota. Jarak tempuhnya lebih dari tujuh jam jika melewati darat.
"Jangan menolak, Dev. Tunjukkan pengorbananmu sedikit jika menginginkan Dave bahagia."
Deva seketika menatap Dira dengan tajam. "Tahu apa kamu tentang pengorbanan, Dir? Kata-katamu lebih tepat kamu tujukan untuk dirimu sendiri. Jika kamu mencintai Dave, maka berkorbanlah. Cinta itu tidak menyiksa, apalagi memaksa," tukas Deva, begitu lugas dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku sudah selesai bicara. Sekarang giliranmu." Dira mengatakannya dengan acuh tak acuh. Mengabaikan ucapan Deva yang baru saja dia dengar.
"Aku ingin menjadi temanmu. Bukan karena aku benar-benar peduli denganmu. Aku hanya ingin menjagamu lebih dekat. Silahkan ambil Dave. Ikatlah dia seerat yang kamu bisa. Tapi, perlakukan dia sebagai manusia. Dave punya hati, perasaannya tidak bisa ditukar hanya dengan sebuah perjanjian." Deva terdiam sesaat, sekedar ingin mengambil napas dan menenangkan emosinya sendiri.
"Kamu mungkin sudah memperhitungkan dan memikirkan semua langkahmu masak-masak. Memasrahkan diri untuk terikat dalam tali pernikahan pada pria yang sama sekali tidak mencintaimu, tentu membutuhkan tekad yang tidak main-main. Tapi jangan lupa menyisipkan rasa disetiap langkah dan logikamu. Bukan kata-kata dan fisikmu yang bisa membuat Dave luluh. Tanpa ketulusan, yang kamu dapatkan hanyalah sakit hati," tambah Deva
Deva berdiri, dia melangkahkan kaki meninggalkan Dira yang masih meresapi kata-katanya yang cukup panjang. Entah keputusannya benar atau salah. Namun, hati kecil Deva berkata, melupakan orang yang dicintai dalam keadaan bahagia, sepertinya akan jauh lebih mudah.
"Dev ...." Dewa bergegas menyusul langkah Deva. Tangan kirinya membawa kantong plastik transparan berisi dua kotak makanan. Pria tersebut sebenarnya sudah kembali ke lobby beberapa saat yang lalu. Namun, mendengar samar pembicaraan Dira dan Deva yang cukup serius, dia enggan untuk menengahi.
"Kamu sudah selesai? Aku juga sudah selesai. Kita balik kantor, yuk! Kalau kamu nolak, kamu bakalan terlambat minimal sepuluh menit." Tanpa menunggu jawaban, Dewa langsung menarik tangan Deva agar mengikuti langkahnya.
Mobil dinas Dewa sudah menunggu tepat di depan lobby. Keduanya pun langsung masuk ke sana.
"Nih, makan. Kalau kita makan di kantor, akan menyita waktu kerja kita. Jangan mencurangi perusahaan dengan korupsi waktu. Lagipula, ngapain juga kamu masih melibatkan diri dengan urusan mantan. Bikin kamu kelihatan bodoh dan lemah. Nggak ada yang namanya mantan terindah. Kalau indah, ngapain coba jadi mantan? Sudahlah! Kembali pada kenyataan. Jangan jalan di tempat. Meski kaum adam lebih sedikit jumlahnya daripada kaum hawa, berharaplah Tuhan masih memberikan satu yang tepat untukmu. Jangan sampai jodohmu, juga menjadi jodoh orang lain," cerocos Dewa sembari mengulurkan satu kotak makanan pada Deva.
"Terimakasih." Deva menjawab hanya dengan satu kata.
"Singkat banget, tumben? Kamu kesambet mantan?" Punggung tangan Dewa reflek menyentuh kening Deva.
__ADS_1