
Begitu selesai menuntaskan napsu biirahinya, Rudi duduk di tepian ranjang dengan badannya yang hanya berbalut bathrobe. Pria tersebut baru mengaktifkan kembali ponsel miliknya yang sedari malam sengaja dimatikan.
Deretan pesan dan notifikasi panggilan masuk bertubi-tubi memenuhi layar ponselnya. Pandangan mata Rudi seketika fokus pada satu nama yang mengirimkan beberapa pesan dan juga panggilan suara sebanyak lima kali.
"Dira ... tumben, apa dia bertengkar dengan Dave?" Rudi buru-buru menghubungi anak kesayangannya tersebut. Namun, suara operator langsung menyambutnya dengan jelas. Nomor Dira, sedang tidak aktif atau di luar jangkauan. Tentu saja, karena perempuan tersebut sedang dalam penerbangan menuju Pulau Lombok.
"Sayang, Papi harus pulang. Ada urusan mendadak." Rudi beranjak berdiri, mengambil pakaiannya yang tersampir rapi di atas bangku di depan nakas.
"Jangan lupa uang belanja ya, Pi." Si perempuan yang menutupi tubuh polosnya dengan selimut, berucap manja pada Rudi.
"Hmmm ...," sahut Rudi. "Dasar perempuan, semua mata duitan. Sudah dikasih enak, tetap saja minta bayaran," umpatnya sembari masuk ke dalam kamar mandi.
***
Tepat pukul delapan kurang dua menit, Deva baru menjejakkan kakinya di lantai dua puluh enam. Dengan penampilan yang sudah segar dan pakaian kerja yang elegan, perempuan tersebut melenggang santai mengumbar senyuman untuk menyapa beberapa teman lain yang satu lantai dengannya.
"Dev, ditungggu Pak Ewa. Hati-hati, sepertinya lagi PMS. Sensitif banget tuh orang," sambut Sashi begitu melihat Deva.
"Memang kapan Pak Ewa-mu itu nggak PMS? Setiap saat juga uring-uringan." Deva menanggapi dengan santai.
"Setidaknya, pernah lebih baik dari ini, Dev. Pokoknya hati-hati. Oh, ya ... sampaikan sekalian. Jadwal Pak Ewa ke Singapura adalah hari jumat di minggu ini."
"Siap," Deva menuju ruangannya terlebih dahulu untuk meletakkan tasnya terlebih dahulu. Baru kemudian dia ke ruangan Dewa.
"Ada pekerjaan penting untuk saya, Pak?" tanya Deva begitu sudah berhadapan dengan Dewa.
Pria tersebut melirik jam di pergelangan tangannya. Tidak ada alasan untuknya marah atau pun kesal. Deva datang tepat waktu saat jam kerja mulai efektif. Meski ingin tahu kemana pagi ini asisten pribadinya itu pergi, tetapi Dewa menahan diri untuk tidak menanyakan secara langsung.
"Hari ini jadwal kita padat, begitu juga beberapa hari ke depan. Pekerjaan yang bisa kita kerjakan sekarang, kita kerjakan," tutur Dewa.
"Baik, Pak. Ada pesan dari Sashi. Jadwal Bapak ke Singapura adalah hari jumat ini."
__ADS_1
"Tiga hari lagi. Baik, kamu buat skala prioritas. Yang membutuhkan disposisiku seminggu ke depan, tolong siapkan mulai sekarang. Kalau sudah siap, kirim ke email saja. Kemungkinan besar, aku akan mengajukan extend. Tolong bilang Sashi, ajukan cuti pribadiku dua hari," pinta Dewa.
Deva sebenarnya heran, untuk apa yang disampaikan Dewa barusan, biasanya selalu disampaikan sendiri oleh Dewa pada Sashi. Entah kenapa, atasannya itu kini malah menyuruh Deva yang menyampaikan.
"Ada lagi, Pak?" tanya Deva.
"Tidak ada," sahutnya cepat. "Dev, makan siang nanti, kita makan di luar ya. Sekalian ada berkas yang harus kamu tanda tangani untuk pembelian rumahmu," tambahnya.
"Astaga, saya sampai lupa. Saya belum mengajukan Loan saya ke divisi kepegawaian." Deva menepuk keningnya sendiri.
"Tidak perlu! Aku sudah mengaturnya. Kamu tinggal terima beres. Fokus saja pada pekerjaanmu. Bantu perusahaan ini memperbaiki profitnya. Kalau kinerjamu bagus, tentu akan berpengaruh juga pada performaku."
Deva memanyunkan bibirnya. Lalu menarik napas dalam. "Saya jadi merepotkan Bapak kalau begini."
"Kali ini kamu yang merepotkan aku. Suatu saat, siapa tahu aku yang bakalan merepotkan kamu," tutur Dewa.
"Akhir-akhir ini, kenapa Bapak begitu baik dan bijak?" Pertanyaan tidak terduga lolos begitu saja dari bibir Deva.
"Andai saya bisa ge-er, tentu akan lebih baik. Tandanya hati saya sudah pulih. Saya pengen kayak Sashi atau Hilda yang memandang Bapak dengan cara berbeda. Sayangnya saya tidak bisa."
Halus, tapi terdengar sangat menusuk bagi Dewa. Entah kenapa, dada pria itu mendadak merasa nyeri. Begitu susahnya terlihat istimewa di depan asisten pribadinya itu.
"Mau sampai kapan kamu memikirkan suami orang, Dev? Berhenti berharap pada Dave. Dia bukan jodohmu. Jangan merendahkan dirimu seolah tidak akan ada pria lain yang bisa mencintaimu dengan lebih baik. Biarkan Dave membangun keluarganya."
"Siapa bilang saya akan menggangu keluarga Bang Dave? Saya tidak bisa melupakan, bukan berarti saya mengharapkan rumah tangganya dengan Dira hancur," sanggah Deva.
"Kalau begitu, buka hatimu. Cukup sedihnya. Bergaul dan nikmati hari-harimu. Kamu masih muda, manjakan dirimu sendiri."
Deva menatap Dewa sembari tersenyum tipis. "Kalau nggak manjain diri sendiri, masak iya minta dimanjain sama Bapak. Bahaya ...."
Dewa buru-buru mengalihkan pandangan matanya. Candaan Deva, malah membuatnya tidak nyaman. "Keluar dari ruanganku, Dev. Makin lama kamu di sini, makin pusing kepalaku. Jangan sampai aku manjain kamu beneran," batinnya.
__ADS_1
"Sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, kan, Pak? Saya kembali ke ruangan saya kalau begitu." Deva lalu berbalik badan dan melangkah santai keluar meninggalkan Dewa yang sedang berusaha keras menyelaraskan hati dan pikirannya.
***
Tidak di sangka, Dira dan Agas ternyata berada dalam pesawat yang sama. Hal itu baru disadari ketika keduanya tiba di bandara internasional Lombok.
"Loh, Papa ...," sapa Dira tidak bisa menutupi keterkejutannya saat dia dan Agas sama-sama keluar dari pintu kedatangan menuju lobby penjemputan.
"Dira ...." Agas seketika menjadi salah tingkah. Berbeda dengan Dira yang tidak mengerti tujuan Agas datang ke Lombok, Papa angkat Dave itu jelas tahu pasti apa yang menyebabkan Dira sampai di pulau tersebut.
"Papa ada dinas di sini?" tanya Dira.
"Iya, ada sedikit urusan. Kalau kamu? Dave mana? Kok sendirian?" Agas begitu pintar memainkan perannya dalam berbasa basi.
Dira melanjutkan langkahnya bersama Agas. "Mama mengalami kecelakaan, Pa. Ada operasi besar yang harus dilakukan. Dira tidak tahu kronologi pastinya. Karena yang menghubungi Dira, hanya pihak rumah sakit saja."
Seperti mendapatkan angin segar. Mendengar jawaban Dira yang apa adanya, membuat Agas melihat celah yang bisa mengantarnya dengan mudah untuk melihat kondisi Nina lebih dekat tanpa harus merasa cemas.
"Kecelakaan? Kok bisa?" Agas terus melanjutkan kepura-puraannya.
"Dira tidak bisa menjawab, Pa. Karena memang belum tahu pasti. Semoga mama bisa melewati masa kritis dan tidak ada sesuatu yang serius."
"Sabar, Dira. Kalau tidak keberatan, biar papa temani kamu ke rumah sakit." Agas merangkul pundak Dira.
"Tentu saja boleh, Pa." Dira mengatakannya sembari membalas tatapan mata Agas.
"Kenapa kamu tidak mengajak Dave. Dia itu suamimu, dalam keadaan seperti ini, sudah sepantasnya dia menemani. Biar nanti Papa menghubungi dia.
Kata-kata Agas membuat Dira semakin merasa tersanjung. Perempuan tersebut menjadi semakin besar kepala. Semakin bertambah orang yang berpihak kepadanya. Menantu dan mertua itu memasuki taksi yang sama untuk menuju rumah sakit di mana Nina dirawat.
Sesampainya di sana, Dira dan Agas langsung disambut oleh dua orang anggota kepolisian yang menangani kasus kecelakaan Nina. Kedua petugas itu berjaga di sekitaran ruangan yang digunakan tim dokter untuk menegakkan diagnosis mereka pada kondisi mama dari Dira itu.
__ADS_1
"Jadi begini, Pak ... Bu ...," Salah satu anggota SATLANTAS langsung berupaya menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa Nina.