
Deva membalas tatapan Dewa. Tidak ada sedikit pun rasa grogi dan canggung di sana. Beradu ketajaman, justru membuat Dewa agak dibuat kewalahan. Pria tersebut akhirnya berpura-pura mengalihkan perhatian dengan mengambil minuman, dan langsung meneguknya hingga hanya menyisakan separuh dari isinya.
"Tidak sekarang kan, pak? Bagaimana kalau besok saja? Saat makan siang atau jam pulang kantor. Itu pun kalau Hilda dan Sashi tidak tidur di rumah lagi," jawab Deva, akhirnya.
"Mereka bisa diatur. Percayakan saja padaku.
Deva kembali melanjutkan memilih beberapa minuman kemasan bubuk, dan beberapa cemilan ringan. Merasa sudah cukup, dia berniat mengambil alih stroler dari tangan Dewa.
"Biar aku saja, Dev."
"Saya saja, Pak... Bapak nunggu di depan saja." Deva kekeh memaksa. Hingga tanpa sadar, tangannya menggenggam tangan Dewa yang masih memegang kuat dorongan stroler.
"Lepas nggak, Dev? Atau kamu memang cuman mau modus megang-megang tanganku saja ini?"
Perkataan Dewa berhasil membuat Deva menjauhkan tangannya dengan cepat. Perempuan itu berjalan lebih dulu menuju kasir yang hanya menyisakan satu antrian.
"Dev, boleh minta tolong nggak? Ambilkan aku buah kiwi dong," pinta Dewa.
"Pak... serius memang harus ya? Kan buah-buahan letaknya di ujung sendiri," keluh Deva.
"Please, Dev. Keinginan tuan rumah sudah diberikan. Sekarang kamu muliakan tamumu dong."
Mau tidak mau, Deva menuruti saja permintaan Dewa. Tanpa berpikir panjang kalau itu hanyalah akal-akalan Dewa agar bisa membayarkan belanjaan Deva.
"Cepetan dikit ya, mbak," ucap Dewa pada perempuan penjaga kasir.
Tidak sampai Deva muncul, belanjaan pun selesai di bayar oleh Dewa. Pria itu tersenyum penuh kemenangan. Namun di luar dugaan, saat Deva muncul, hal itu malah menjadi sumber perdebatan bagi keduanya.
"Saya ganti uang, Bapak. Sekalian uang tiket Bali-Jakarta kemari." Deva membuka aplikasi mobile banking, bersiap mentransfer sejumlah uang untuk mengganti uang yang sudah dikeluarkan oleh Dewa.
__ADS_1
"Kamu perhitungan amat sih jadi orang. Sudah diam. Jangan berdebat terus. Kita sampai dilihatin orang. Nggak malu apa? Disangkain kita sedang ada masalah rumah tangga. Stop jangan berdebat dan jangan dibahas. Aku nggak mau Hilda dan Sashi sampai tahu. Bisa-bisa mereka salah sangka. Kita bahas sekalian besok. Jangan protes!"
"Saya nggak biasa dibayarin orang, apalagi sama laki-laki. Rasanya nggak enak. Bikin kepikiran saja. Saya nggak mau kebebanan hutang budi." Deva melenggang santai di depan Dewa yang masih mendorong stroler berisi tiga kantong belanja ramah lingkungan.
Deva dan Dewa menunggu mobil yang dikendarai oleh Sashi. Dewa baru saja menghubungi sekretarisnya itu agar segera mendekat ke pintu masuk. Tidak lama mobil dinas Dewa pun muncul juga.
"Kamu saja yang mengemudi, Shi.. Dan kamu pindah ke depan saja, Hil," perintah Dewa sembari memasukkan belanjaan ke bagasi mobilnya.
Hilda dan Sashi kompak mendengus kesal. Sekarang, dua-duanya merasa posisi Deva lebih menguntungkan dibanding posisi yang lain. Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Deva. Dari jauh, nampak kendaraan yang sangat familiar di mata Deva, milik siapa lagi kalau bukan milik Dave.
Pria itu ternyata masih berada di dalam mobilnya. Melihat Deva turun dari mobil, Dave baru melakukan hal yang sama. Dia keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Deva.
"Darimana, Bee?" Dave terlihat tidak senang melihat kedekatan Deva dan Dewa.
Deva tidak menjawab. Dia mengambil kantong belanjaan tadi dan membawa sebagian ke dalam. Dewa dan Dave sama-sama berebut membawakan. Hilda dan Sashi hanya bereaksi dengan cara saling bertukar pandang.
"Aku kok merasa kita cuman dijadikan tameng ya sama Pak Dewa. Semacam dimanfaatkan secara halus. Lihat dan perhatikan baik-baik, kayaknya dia mendadak fokus banget sama Deva. Atau jangan-jangan di Bali terjadi sesuatu sama mereka?" Hilda mulai mengeluarkan dugaan liarnya.
"Tidak mungkin! One night stand, sama sekali bukan gaya Deva. Kalau yang berangkat kemarin seorang Sashi, sangat mungkin hal itu terjadi. Sudahlah! Kita masuk saja. Kita rebut perhatian dua pria tampan itu dari Deva. Kita cuman kalah wajah dan sedikit kecerdasan. Tapi kita masih punya kelebihan yang lain. Ingat! Laki-laki suka lemah kalau lihat yang mantul-mantul." Sashi menggoyangkan dadanya hingga membuat dua bagian yang sangat menonjol, bergetar hebat.
"Dasar edan," umpat Hilda sembari bergegas melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Dave terus membuntuti Deva yang sedang menata dan memilah belanjaan yang akan segera dimasak. Seperti biasa, Deva cukup cekatan dalam melakukan beberapa hal. Dia menanak nasi di magic com, lalu menyiapkan bahan yang akan dimasak, mendidihkan air untuk merebus beberapa sayuran sebentar, lalu masih sesekali memasukkan belanjaan ke lemari pendingin.
Sementara Dewa, tentu saja dia langsung menghubungi Dira. Mempertanyakan tentang keberadaan Dave yang ada di rumah Deva. Dewa merasa komitmen antara Dira dan Dave, sudah bukanlah komitmen yang main-main. Tidak seharusnya Dave masih berada di sekitaram Deva sendirian.
"Mau dibantuin apa, Dev?" tanya Sashi yang baru saja muncul di dapur.
Dave yang berdiri bersandar di depan pintu kamar sholat, sedikit terganggu dengan kehadiran Hilda dan Sashi. Dia pun memilih untuk menunggu di depan.
__ADS_1
"Dev, tuh cowok siapa sih?" tanya Hilda penasaran.
"Dave," jawab Deva dengan singkat.
"Dave? Siapa dia? Penggemar kamu?" Hilda menyatukan kedua alisnya yang berbentuk seperti lambang sebuah brand sepatu ternama.
"Mantannya Deva. Kalian berteman lama, kenapa tidak banyak tahu. Teman macam apa kalian? Kalau teman tuh harus tahu segalanya. Nanti, kalau kalian jadi masuk ke Club Dewa. Tidak boleh memendam masalah sendiri," sahut Dewa, tiba-tiba muncul di dapur.
"Jadi nggak sabar masuk ke club Pak Ewa," Sashi menepuk lengan Dewa dengan manja.
Deva tidak memedulikan yang lain, tangannya terus bergerak. Sibuk membuat waktu berlalu dengan cepat. Inilah yang paling Deva sukai. Saat hatinya sedang kacau dan sedih, bekerja seolah menjadi obat tersendiri baginya. Tenaganya malah seperti robot---tidak kenal waktu dan lelah.
Meski seperti orang asing yang tidak dianggap, Dave tidak peduli. Dia tetap bertahan di sana. Dave bersandar pada salah satu pilar beranda rumah sembari membuka galeri foto kenangannya bersama Deva.
Gelak canda di dalam rumah, sesekali tertangkap di telinga Dave. Namun tidak sekali pun suaa Deva terdengar.
Selama hampir satu jam Dave di depan sendiri. Tidak ada satu pun yang menghampirinya. Dewa memilih bercanda dengan kaum hawa, ketimbang berbasa basi dengan Dave yang memang sudah masuk ke dalam daftar teratas sebagai sosok yang tidak disukainya.
Deva yang sudah selesai menyiapkan makan pagi yang agak kesiangan, berjalan menghampiri Dave.
"Bang Dave sudah makan?" tanyanya dengan menundukkan kepalanya.
"Belum." Dave menggelengkan kepala.
"Mau makan bareng nggak?" tawar Deva.
"Apa aku boleh gabung ?" tanya sosok yang tiba-tiba muncul tidak jauh dari tempat Dave dan Deva berdiri.
Dewa yang baru keluar ingin melihat Deva, seketika tersenyum lebar melihat siapa yang datang.
__ADS_1