Sisa Rasa

Sisa Rasa
Teman


__ADS_3

Dewa pun menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah Deva yang jelas terlihat begitu menyedihkan di matanya. Sebagai seoang pria pemuja wanita, belum pernah sekali pun dia mengalami peristiwa yang membuat perempuan sampai menangis seperti Deva.


"Please, Bee...." Dave kembali memohon.


Deva menegarkan diri menatap Dewa dan Dave bergantian. Lengkap sudah deritanya. Harga diri dan nama baik yang selama ini dia jaga di depan Dewa, pasti hancur. Dengan adanya peristiwa malam ini, atasannya itu tentu akan semakin mudah menekan dan merendahkannya. Mungkin lebih dari yang sudah-sudah.


"Maaf, Pak. Saya harus menyelesaikan masalah saya dulu. Terimakasih atas kebaikan Pak Dewa. Sekali lagi, saya mohon maaf." Deva bergegas berjalan mendahului kedua pria yang memang sedang menunggu keputusannya.


Dave melemparkan senyuman sinis penuh kemenangan pada Dewa. "Jangan ikut campur! Kamu hanya atasan Deva," bisiknya.


Dewa mengepalkan tangan, rahangnya seketika mengeras. Akan dia ingat baik-baik wajah pria yang dengan sengaja menabuh genderang permusuhan dengannya itu.


Deva sendiri terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dave yang sudah berhasil menyamai langkahnya, diabaikan begitu saja. Keduanya kembali ke tempat parkir resto. Dari kejauhan Dewa hanya memandang sinis pada kedua makhluk yang menurutnya sama-sama aneh.


Dave membukakan pintu mobil untuk Deva. Tidak berlama-lama, Dave pun masuk ke dalam sana dan langsung mengemudikan kendaraannya dengan santai.


Beberapa menit pertama waktu berjalan, keduanya terdiam. Deva terus memalingkan wajah ke jendela kaca pintu mobil. Sedangkan Dave masih segan untuk memulai pembicaraan.


"Bee...." Dave akhirnya membuka suara.


"Bisakah berhenti memanggilku seperti itu?" Deva mengucapkannya dengan acuh tak acuh. "Kita sudah bukan siapa-siapa, Bang. Kalau pun berteman, tidak ada teman yang memanggil temannya dengan sebutan Bee," tambahnya.


Dave menggigit bibir bawahnya sendiri. Sekedar panggilan saja sepertinya dia sudah tidak berhak. Ingin rasanya dia berteriak. Jika benar cinta itu bisa tumbuh karena biasa, apakah memang itu artinya dia harus mencoba. Melepaskan Deva dan semua kenangan selama tujuh tahun begitu saja.


"Jika merubah panggilan bisa membuatmu nyaman, akan aku lakukan," putus Dave, meski sangat terpaksa,


Keduanya kembali terdiam. Dave sesekali melirik Deva dengan ekor matanya. Tidak berbalasnya rasa cinta---sakitnya tidak seberapa. Dibanding masih saling mencintai, namun tidak bisa saling memiliki.


"Belajarlah mencintai Dira, Bang. Aku tidak mengapa. Luka ini pasti hanya sementara. Seperti hubungan kita yang ternyata tidak selamanya. Semua rasa sakit dihadirkan sekedar untuk singgah. Agar kita bisa belajar, bagaimana menghargai kebahagiaan, sekecil apa pun itu." Kali ini Deva yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Aku tidak janji, Bee. Kamu tahu persis bagaimana aku ketika memegang janjiku. Aku mencintaimu, akan tetap seperti itu selamanya," janji Dave.


"Panggil aku Deva, Bang. Deva!" tegas perempuan tersebut. Penuh penekanan.


Dave mengangguk. "Maaf... Dev," lirihnya.


Keduanya terdiam hingga sampai di depan halaman rumah kontrakan Deva. Tanpa berlama-lama, Deva membuka pintu mobil Dave. Dia keluar dari sana dengan gerakan cepat.


"Dev...." Dave ikut turun dari dalam mobilnya.


"Ada apa lagi, Bang." Deva berhenti sembari menghentakkan kakinya dengan kesal. Jiwa dan raganya benar-benar sudah lelah malam ini.


"Maafkan aku, Dev. Tapi tolong jangan benci aku.... aku akan mencoba menerima keadaan. Aku tidak akan memaksamu lagi untuk memintamu bertahan dengan perasaan kita. Biarlah semua mengalir. Cinta tidak akan salah menjatuhkan rasanya. Aku yakin, kamu pun tidak akan mengingkari perasaanmu sendiri. Kita berteman, itu saja sudah sangat berarti bagiku."


Dave mengulurkan tangannya sembari melemparkan sebuah senyuman yang dipaksakan ketulusannya. Deva menyambut uluran tangan itu. Wajahnya datar tanpa senyuman.


"Terimakasih, Bang. Berteman akan lebih baik."


Deva hanya mengangguk dan langsung pamit masuk ke dalam rumahnya. Tanpa basa-basi mengajak Dave untuk singgah terlebih dahulu. Perempuan itu menutup rapat pintu rumahnya. Seketika tangisan kembali pecah, dia menahan sebuah jeritan yang sebenarnya ingin dilepaskan untuk menghempas sesak di dada.


Dave tidak juga pulang. Dia memilih bersandar di kap mesin mobilnya. Sorot matanya memandang ke dalam rumah Deva. Rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan manis sepanjang hubungannya dengan Deva. Dave ada di saat-saat Deva terpuruk. Mulai dari Amar ditetapkan sebagai tersangka, divonis bersalah lalu dipenjara, mama Deva meninggal. Dave ada disaat hidup Deva begitu berat dijalani.


"Teman." Dave mengucapkannya dengan lirih disertai senyuman miris.


****


Pagi yang tidak bersemangat seperti biasa. Deva rasanya enggan berangkat ke kantor. Tidak hanya karena sedang merasakan badan yang remuk, tapi karena dia sedikit khawatir membayangkan sikap Dewa yang akan dia terima setelah kejadian semalam.


Namun jatah cuti bulan ini sudah habis. Jika dia tidak masuk, pastilah akan berpengaruh dengan perhitungan bonus tahunan. Padahal bonus itu sudah ditunggu-tunggu untuk mewujudkan impiannya lebih dekat.

__ADS_1


"Pagi, Dev. Lesu amat," seloroh Sashi sambil merapikan alis dengan ujung jari telunjuknya.


"Lagi gak enak badan, Shi." Deva menjawab dengan malas.


"Tumben? Kamu bisa sakit juga?" Sashi berdiri dan berjalan mendekati Deva. Tangannya terulur untuk memeriksa kening temannya tersebut.


"Nggak panas." Sashi mengernyitkan keningnya.


"Tentu saja nggak panas. Coba yang kamu pegang hatinya, bisa melepuh tanganmu." Dewa yang baru saja datang dan melewati meja Sashi, tiba-tiba ikut menyambar pembicaraan Sashi dan Deva.


"Ke ruanganku, Dev. Pagi-pagi, jangan ngajak sekretarisku ngerumpi."


Deva menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Sudah dibayangkan sebelumnya, dan benar saja, hari ini adalah harinya Dewa bisa mencelanya dengan puas.


"Sudah, cepetan sana. Jangan sampai gara-gara kamu, nilai plusku di mata Pak Ewa berkurang." Sashi mendorong Deva menjauhi mejanya.


Dengan langkah tidak terlalu bersemangat, namun juga tidak malas, Deva pun masuk ke dalam ruangan Dewa. Pria itu terlihat sudah sibuk dengan laptopnya.


"Permisi, Pak. Ehm ... saya mau minta maaf soal sema---,"


"Jumat malam, kita berangkat ke Bali. Acara Gala Dinner dengan seluruh cabang dimajukan. Karena minggu depan direksi yang dijadwalkan hadir mau liburan ke luar negeri. Kamu kumpulkan record laporan seluruh cabang tiga bulan terakhir. Pastikan ada di atas mejaku sebelum makan siang. Dan satu lagi, berikan foto dan nama semua kepala cabang. Aku belum kenal sama sekali dengan mereka, setidaknya, sebelum bertemu langsung, aku sudah ada gambaran terlebih dahulu."


Dewa memotong pembicaraan Deva, dan langsung memberikan serentetan perintah panjang pada asisten pribadinya tersebut.


"Baik, Pak, akan saya kerjakan secepatnya. Pak, Saya mint----,"


"Minta apa? Minta cium? Jangan, Dev. Aku nggak semurahan itu. Kerjakan saja apa yang aku minta. Jangan banyak tanya. Fokus sama pekerjaanmu. Aku tidak ingat apa-apa soal apa pun tentang kamu."


Deva menelan ludahnya dengan susah payah. Pikirannya tentang Dewa yang berlebihan, atau memang ada sisi baik di diri atasannya yang tersembunyi dan belum dia ketahui. Entahlah, Deva hanya merasa, Dewa sudah mengabaikan masalah semalam begitu saja.

__ADS_1


Baru saja sampai di meja kerja ruangannya sendiri, Deva harus kembali ke lobby. Karena ada seorang tamu yang menunggunya di sana.


__ADS_2