
Dewa mengambil ponsel Debora yang tergeletak di lantai. Lalu memberikan benda tersebut pada si pemilik yang terlihat masih sangat terpukul. Tanda tanya besar melintasi pikiran Dewa. Empat tahun kebersamaannya dengan Debora, hampir seluruh keluarga dan teman mantan kekasihnya itu, dikenal dengan baik oleh Dewa. Dan Deva, bukan salah satu dari mereka.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Deva, Deb? Kenapa kamu merasa bersalah pada dia?" Dewa kembali bertanya dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.
Debora berjalan menuju sofa di ujung lobby hotel. Dewa pun mengikuti langkah pelan mantan kekasihnya itu. Sangat aneh, tingkah Dewa yang seperti ini, sungguh di luar kebiasaan. Dia yang selama ini membentengi diri untuk tidak terlibat jauh urusan perempuan, kini malah dengan sengaja melibatkan diri dengan hal-hal yang berhubungan dengan Deva. Sosok yang baru dikenal, namun mampu membuatnya sedikit terusik.
Sofa single menjadi pilihan Debora untuk mendudukkan dirinya. Sejenak dia melirik jam dinding yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Masih ada waktu lima belas menit, sebelum melanjutkan meeting bersama klien-nya. Namun Debora masih sedikit bimbang. Haruskah menceritakan semua pada Dewa? Atau tetap menyimpan rapat-rapat seperti sebelumnya.
"Aku menunggu jawabanmu, Deb. Aku tidak akan pergi sebelum kamu memberiku kejelasan. Deva sedang sangat terpukul. Bahkan menurutku, dia juga membutuhkan seorang psikiater. Jika kamu memang merasa bersalah, lakukan hal yang nyata untuk menolong Deva," tegas Dewa.
Debora menundukkan wajahnya, lalu mengambil napas dengan begitu berat. Firasat yang dia rasakan sejak pertemuan mereka di bandara sepertinya benar. Dewa menaruh hati pada Deva. Namun, perasaan itu sedang berusaha ditepis. Entah karena apa.
"Papa sudah mencurangi Pak Amar. Kebijakan licik yang dibuat papa, harus dipertanggung jawabkan oleh Pak Amar. Goresan tanda tangan di bawah tekanan. Mengantar Pak Amar pada ruang sempit, dingin, dan pengap tahanan. Semua dimanipulasi sedemikian rupa, supaya Pak Amar tidak sempat membaca berkas-berkas dengan teliti." Debora memejamkan matanya, terngiang dengan jelas ditelinganya. Bagaimana dia dan sang mama menjadi saksi bisu dari kebobrokan perilaku papanya sendiri.
"Kebijakan yang sebenarnya hanya upaya melegalkan pengeluaran uang tanpa harus melewati prosedur berlapis. Pak Amar dikorbankan dengan sengaja. Diangkat untuk menggantikan papa sebagai direktur utama, dan langsung dibuat seolah menggebrak aturan dengan mengeluarkan kebijakan siluman. Jumlah kerugiannya tidak sedikit, cukup membuat papa membuka satu pabrik baru di Kalimantan," lanjut Debora. Dia kembali menjeda penjelasannya. Melihat reaksi Dewa yang nampak serius mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Debora.
"Pak Amar yang tidak sepeser pun merasakan uang laknaat itu, malah harus mendekam di penjara bertahun-tahun. Hingga membuat seorang anak hidup berjuang sendiri untuk memenuhi biaya hidup, kuliah, dan juga obat-obatan karena sakit yang diderita papanya. Vonis tujuh tahun penjara, dan sejumlah uang yang harus dikembalikan pada negara. Tentu saja membuat siapa pun shock. Istri Pak Amar mengalami Stroke, dan akhirnya meninggal dua hari setelah vonis dijatuhkan. Rumah dan semua aset berharga mereka di jual." Debora menghela napas dalam.
__ADS_1
"Deva adalah anak dari Pak Amar. Benarkah begitu?" Dewa meyakinkan diri pada kesimpulan yang bisa dia ambil dari cerita Debora.
Perempuan tersebut mengangguk dengan lemah. "Deva baru saja menjual mobil dan semua barang-barangnya, untuk biaya tambahan operasi pengangkatan ginjal Pak Amar. Lagi-lagi, usahanya dipatahkan oleh takdir. Biaya yang sudah diusahakan, tidak sanggup menyembuhkan Pak Amar. Semoga Deva tetap kuat. Meski aku yakin akan sulit. Dia hidup sebatang kara sekarang." Debora berhenti sebentar, sekedar ingin menarik napas agar dadanya tidak merasa sesak.
"Yang baru aku ketahui, dia baru saja putus dengan kekasih yang sudah lama menemani perjalanan hidupnya. Deva yang malang. Andai bisa, aku ingin menukar sedihnya dengan kebahagiaanku. Tapi sayang, kebahagiaan yang aku rasakan hanyalah kebahagiaan semu." Tatapan Debora menerawang jauh. Tidak fokus pada satu titik.
Dewa menggeleng-gelengkan kepala, ujung bibirnya menarik garis senyuman miris. "Orang yang tidak bersalah, meninggal dalam status terpidana. Tega sekali kalian!"
Debora lagi-lagi menundukkan wajahnya. Ucapan Dewa barusan mengingatkan betapa jahat dan kejamnya sang papa. Merengut keutuhan dan kedamaian sebuah keluarga, dan menyumbangkan duka luar biasa pada seorang anak yang bahkan tidak tahu apa-apa. Semua beban itu kini diletakkan di pundak seorang Deva.
Penuturan Debora bagaikan sebuah pil pahit yang tertelan utuh tanpa dorongan segelas air. Menyadari betapa jahatnya Dewa selama ini. Tuduhan dan pikiran buruk pada Deva, sering kali lolos tanpa kontrol dari bibirnya.
Di sisi lain, Deva, Dave dan Dira, sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. Menunggu sampai suara petugas memanggil penumpang dengan rute Bali-Jakarta untuk menaiki pesawat Boeing 737-300NG.
Deva terus terdiam. Kedua tangannya saling menangkup seperti orang yang sedang berdoa. Ya... kali ini diamnya Deva sedikit berbeda. Serentetan kata-kata doa dan surah pendek, dia lafalkan dalam hati. Tidak sekedar mengalihkan lamunan, namun juga sebagai penguat diri dan pelipur lara yang tidak bertepi.
"Minum, Dev." Dira menyodorkan sebotol air mineral kecil pada Deva.
__ADS_1
"Aku nggak haus," tolak Deva sembari mendorong botol tersebut dengan gerakan pelan.
Dave mengusap-usap punggung Deva. Hal yang dulu kerap kali dia lakukan setiap kali Deva sedang sedih. Tanpa ada kata yang terucap, seolah apa yang dilakukan sudah cukup untuk menyalurkan kekuatan sekaligus ketenangan.
"Dir, setiba di Jakarta kamu pulang dulu ke rumahmu. Biar aku temani Deva sampai semua selesai. Kalau kamu tidak keberatan, malam kamu bisa kan temani Deva di rumahnya. Aku sebenarnya tidak keberatan jika harus di sana sendiri. Tapi tentu tidak enak kalau kami hanya berdua," pinta Dave dengan suara setengah berbisik.
Dira menarik napas berat. Begitu pedulinya Dave pada Deva. Hingga pria itu, tidak sungkan untuk melibatkannya.
Deva tiba-tiba berdiri, berjalan mendekati bangku yang dekat dengan dinding kaca yang memperlihatkan sisi luar ruang tunggu bandara. Dave dan Dira sengaja tidak mengikuti perempuan tersebut.
Tangan Deva dengan cekatan membersihkan bagian kaca yang terkena goresan tangan jahil yang menuliskan sebuah inisial di sana. Hal yang pernah dia lakukan saat dia masih kecil. Meniupkan udara ke kaca hingga menciptakan embun, lalu menarikan jemari di sana untuk membuat sebuah tulisan. Hanya sekali, dan dia mendapatkan teguran dari sang papa. Sejak saat itu, Deva tidak pernah melakukan lagi. Bahkan setiap kali ada kaca yang menunjukkan jejak seperti itu, Deva buru-buru membersihkan.
"Pa, apakah papa sudah bertemu mama di surga? Kalian sudah dekat dengan Tuhan, bukan? Tolong tanyakan padaNya, kapan giliran Deva menyusul kalian. Deva lelah," lirih Deva, sembari terus mengusap kaca dengan tisu yang ada di genggaman tangannya.
"Kematian itu tidak bisa diminta, Nak. Andai bisa, Bapak sudah memintanya bertahun-tahun yang lalu. Bapak pernah berada di titik lelah menjalani hidup. Tidak ada satu hal pun yang membuat Bapak semangat. Orangtua tidak ada, istri dan anak tidak punya. Benar-benar sendiri. Tapi kematian tidak bisa ditawar dan dijemput. Percayalah, bapak sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali, nyatanya, Bapak masih bernapas sampai sekarang. Kematian sepenuhnya wewenang Gusti Allah. Jangan memikirkan kapan kamu mati, pikirkan saja, bagaimana sisa waktumu di dunia ini tidak menjadi sia-sia."
Deva menoleh pada sosok pria tua yang tiba-tiba berada di sampingnya. Memberi petuah seolah pria tersebut sudah mengenalnya lama. Dia hanya tersenyum tipis. Pria tua itu pun membalas dengan senyuman yang sama. Keduanya lalu terdiam. Tidak ada kata yang diucapkan. Deva kembali larut dalam lantunan doa dari hati yang dijadikannya senandung tanpa suara.
__ADS_1
Dira terus memperhatikan Deva dengan seksama. Setiap gerak, dan bahasa tubuh rivalnya, tidak ada yang luput dari penglihatannya.
"Dave, apa yang membuatmu jatuh cinta pada Deva?" tanyanya.