
"Saya ijin istirahat makan siang dulu, Pak." Deva mengucapkannya sembari menyambar ponselnya dengan gerakan cepat. Kakinya melangkah ke luar ruangan. Di ambang pintu terlihat jelas dia menerima sambungan telepon itu.
Raut wajah Deva sangat serius saat mendengar suara dari sosok yang menghubunginya. Sambil terus berjalan ke ruangannya untuk mengambil tas, Deva masih menempelkan benda pipih tersebut di daun telinganya.
Dewa buru-buru menyambar clutch miliknya. Dia melangkah lebar menuju lift sambil menghubungi driver kantor untuk menyiapkan mobilnya di depan lobby.
Meski pintu lift di depannya sudah terbuka. Dewa mengabaikan begitu saja. Dia tidak segera masuk ke dalamnya. Untung saja Sashi sudah tidak ada di tempat. Kalau masih berada di sana, tentu apa yang dilakukan Dewa tidak lepas dari pantauan dari sekretarisnya itu.
Melihat Deva buru-buru menghampiri lift, Dewa langsung pura-pura menempelkan telepon genggamnya di telinga. Pria tersebut tidak lupa memasang wajah yang sangat serius.
Begitu pintu lift terbuka, secara kebetulan, keduanya masuk secara bersamaan dengan lengan yang bersenggolan. Deva hanya mengusap-usap lengannya, sedangkan Dewa tetap konsisten bersikap serius dan memilih mengabaikan apa yang baru saja terjadi.
Saat di dalam lift, Dewa menyudahi drama mengangkat telepon yang sedang mati. Dilihatnya dengan seksama, wajah Deva jelas tampak diliputi kekhawatiran.
"Dev, anterin aku sebentar, yuk. Aku mau ke rumah sakit. Obat mama habis, aku harus mengambil resepnya dulu ke rumah sakit." Dewa memasang wajah memelas.
"Kenapa harus saya temani, Pak? Apa tidak bisa sendiri? Saya juga ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Saya harus ke rumah sakit juga sekarang." Deva menjawab jujur.
"Memang kamu mau ke rumah sakit mana?" tanya Dewa. Terbersit keinginan untuk bertanya siapa yang sakit, namun dia mengurungkan niat karena rasa ingin tahunya terkesan sangat berlebihan.
Deva menyebutkan nama salah satu rumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor mereka. Dewa pun tersenyum penuh kemenangan.
"Padahal aku cuman ngawur, kenapa bisa pas begini moment-nya. Allah dan alam benar-benar sedang merestuiku. Eh ... merestui untuk apa? Kok aku jadi aneh gini. Nggak-nggak, ini kan demi menjaga perasaan Dira." Dewa berdialog sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Ya sudah, kita barengan saja. Dokter mama juga ada di sana. Lagian kalau kamu berangkat sendiri, bisa-bisa kamu telat pulangnya. Kalau sama aku, biar pun telat, kan, masih aman."
Pintu lift terbuka, keduanya keluar dari dalam sana secara bersamaan. Deva belum menerima atau menolak tawaran Dewa. Dia masih menimbang-nimbang sembari terus mencari driver ojek online terdekat yang mau menerima ordernya. Namun, sudah dua kali order, tidak kunjung ada yang menerima dengan cepat.
"Baiklah, saya mau bareng sama Bapak," putus Deva akhirnya.
Dewa hanya memberikan senyuman tipis. Padahal dalam hati, dia bersorak sorai bahagia. Dewa sendiri merasa aneh dengan tingkahnya. Namun, dia terus menemukan jawaban-jawaban pembenaran dari keanehan tersebut.
Kali ini, mobil dinas dikendarai oleh driver. Dewa dan Deva duduk berdua di jok belakang. Keduanya sama-sama memalingkan muka memandang ke sisi luar. Dewa ingin memulai pembicaraan. Tapi dia masih sibuk mencari kata-kata yang kiranya tidak membuat Deva sinis padanya.
"Dev, aku menaruh harapan besar padamu. Sepertinya, mama cukup nyaman berteman dengan kamu. Aku hanya ingin mama baik-baik saja tanpa ketergantungan obat penenang." Entah mendapat dorongan dari mana. Dewa malah membuka obrolan dengan sesuatu yang seharusnya tidak dia bagi dengan orang lain. Apalagi Deva.
"Saya akan usahakan yang terbaik, Pak. Setiap jiwa yang terluka, memang membutuhkan obat. Sebaik-baiknya obat adalah hati yang senantiasa ikhlas dan bersyukur. Saya pernah menggantungkan semua pada seseorang, dan rasanya sakit---ketika pada akhirnya, tidak ada yang bisa kita andalkan selain diri kita sendiri." Deva menundukkan wajahnya.
"Kamu bisa ke tempat Debora kapan? Sabtu pagi bisa nggak?" Dewa bertanya dengan nada suara yang benar-benar jauh dari kesehariannya. Bahkan dia merasa geli sendiri dengan kelembutannya saat ini.
Dewa biasa bermanis-manis dengan perempuan. Akan tetapi, manisnya selalu buatan. Yang diucapkan tentu saja hanya buaian semu dan juga kata-kata pujian berlebihan. Berhadapan dengan Deva menjadikannya menjadi pria dengan berbagai tipe kepribadian. Tidak melulu tampil sebagai pria pemuja wanita.
"Boleh, Pak. Sebisanya Bapak saja. Karena saya jelas tidak ada kegiatan saat akhir pekan." Deva akhirnya menoleh juga ke arah Dewa.
Sesaat tatapan mata mereka beradu. Namun, Dewa buru-buru mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Luka di mata Deva yang begitu dalam, membuat Dewa harus bersusah payah menahan tangannya yang sudah gatal ingin merengkuh pundak perempuan cantik di depannya itu. Pelukan mungkin akan sedikit menenangkan dan memberikan kekuatan. Sungguh kisahnya yang rumit, tidak ada seujung kuku peliknya kehidupan Deva.
Mobil yang mereka tumpangi kini sudah berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit. Deva dan Dewa turun bersamaan dari sisi pintu yang berbeda.
__ADS_1
"Kamu di lantai berapa?" Dewa bertanya seolah dia memang mempunyai tujuan yang berbeda.
"Di lantai enam, Pak. Kalau Bapak lebih cepat selesainya. Saya pulang sendiri tidak papa kok. Saya janji tidak akan terlambat kembali ke kantor." Deva terus melangkahkan kaki memasuki rumah sakit.
Dewa berjalan di belakang Deva sembari berpikir keras. Menerka-nerka siapa yang sedang ingin dijenguk oleh sang asisten pribadi.
"Aku di lantai sembilan. Kita bareng saja naiknya." Dewa mensejajarkan posisinya dengan Deva.
Keduanya lalu menuju pintu lift yang akan mengantar mereka menuju lokasi masing-masing. Saat pintu lift itu terbuka, terlihatlah Dira di sana. Raut wajah petempuan tersebut nampak sangat kesal, ditambah lagi saat berpapasan dengan Deva. Emosi yang sedari tadi ditahan oleh Dira, mendadak ingin diluapkan pada Deva.
Dira menghalangi langkah kaki Deva dengan memposisikan badannya tepat di depan perempuan tersebut.
"Kenapa kamu datang? Tidak bisakah kamu membiarkan Dave memulai hidup baru denganku? Beri kesempatan padaku untuk membuktikan kalau aku layak dicintai. Jangan terus membuat Dave susah terlepas dari kamu, Dev." Dira mencengkeram lengan Deva dengan cukup erat. Suaranya yang lantang mencuri perhatian orang-orang di sekitar mereka.
"Dir ... apa-apa'an sih kamu?" Dewa menghempaskan tangan Dira dari lengan Deva.
"Tolong jangan ikut campur, Kak. Seharusnya, Kakak membela dan mendukung aku. Bukan dia!" Volume suara Dira masih saja tinggi.
"Dir, bisa pelanin suaramu tidak. Kamu seperti orangutan yang baru di lepas ke peradaban kalau seperti ini," ingat Dewa.
Deva menarik napas dalam. Bibirnya terkunci rapat. Sungguh hanya akan membuang waktu kalau dia menanggapi Dira yang sedang kalap.
"Jangan temui Dave lagi. Dia milikku, Dev, milikku!" Dira kembali berusaha menarik tangan Deva.
__ADS_1