
"Hah? Maksudnya?" Dave balik bertanya dengan rasa heran yang sangat kentara. Ditambah lagi, saat matanya memperhatikan jari telunjuk Dewa yang tepat berada di tengah-tengah bagian cekungan, antara dua selaput daging tak bertulang pada phantom miliknya tersebut.
"Ini?" Dewa masih menunjuk bagian tersebut dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.
"Kalau memang ingin tahu, cepetan nikah, Wa." Dave menggelengkan kepala sambil duduk di kursi putar kebesarannya.
"Mana ada alasan menikah cuman karena pengen tahu bentukan seperti itu. Kamu ada-ada saja. Sudahlah! Kita bahas yang lebih penting saja." Dewa menjauhkan tangannya dari benda tersebut dan duduk di kursi di depan meja kerja Dave.
"Langsung saja, Wa. Satu jam lagi, aku ada jadwal operasi." belum apa-apa, Dave sudah memperingatkan durasi pembicaraan mereka.
"Jadi begini, Pak Dermawan sudah bersedia menjadi justice collaboration dalam kasus Pak Amar. Dari pembicaraan yang aku tangkap dengan Debora tadi pagi, sepertinya dia memiliki sedikit bukti yang bisa dijadikan dasar pengaduan ke pengadilan. Paling tidak, peninjauan kembali kasus ini bisa dikabulkan. Maksud tujuanku ke sini adalah meminta bantuanmu untuk menemukan bukti-bukti yang lainnya," tegas Dewa dengan begitu lugas.
"Sebelum kamu datang, aku sudah berniat untuk mencari tahu tentang kasus Papa Amar, Wa. Karena itu, aku memutuskan untuk tinggal di rumah Dira. Dari sedikit pembicaraan bersama mamaku. Aku yakin, Pak Rudi yang menjadi otak dari kasus ini. Dia pasti memiliki titik kelemahan. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Sudah saatnya bangkai itu terendus oleh publik. Tidak peduli siapa yang aku hadapi, keadilan untuk Papa Amar, mutlak harus diperjuangkan." Dave begitu emosional saat mengucapkannya.
Bagaimana tidak? Orang-orang yang berada di pusaran kasus Amar, ternyata adalah orang-orang terdekatnya. Kemarahan dan kekecewaan Dave, jelas tertuju penuh pada sosok Agas. Perbuatan papa angkatnya tersebut, jika memang terbukti, sungguh tidak akan termaafkan. Orang yang dianggap penolong, justru ternyata yang mendorong Amar ke jurang ketidakadilan.
"Hati-hati, Wa. Aku percayakan keselamatan Deva padamu. Jika kasus ini dibuka kembali, akan banyak pihak dengan kepentingan masing-masing yang akan merasa terancam posisinya. Pastikan Deva aman. Kamu mencintainya, bukan? Deva sangat baik. Meski butuh perjuangan untuk mendapatkannya, itu akan sebanding dengan kebahagiaan yang akan kamu dapatkan nantinya."
__ADS_1
Dave dan Dewa saling berbalas pandang. Keduanya seperti sedang membaca pikiran masing-masing. Satu hal yang sama, tetapi tidak terucap, baik Dave dan Dewa kompak ingin memberikan yang terbaik untuk Deva.
"Wa, aku berharap kamu berjodoh dengan Deva. Setidaknya, aku tahu kamu akan menjaganya dengan baik. Dan yang pasti, mamamu pun sangat menyukai Deva. Tidak akan ada orang lain atau kesepakatan apa pun yang sanggup memisahkan kalian. Aku akan berdoa untuk kebersamaan kalian." Dave tampak sungguh-sungguh saat mengatakannya. Meski mata berembun dan suara sedikit bergetar, namun, tersirat jelas pria tersebut sedang berusaha ikhlas.
"Aku harus berdamai dengan keadaan, Wa. Kalau pun aku berharap bisa segera bercerai dengan Dira. Aku tidak mungkin sanggup untuk mendekati Deva lagi. Aku merasa tidak pantas untuk Deva. Kalau benar papaku terlibat, sungguh aku tidak punya keberanian lagi untuk menatapnya. Aku pasrah untuk dibenci," tambah Dave.
"Aku rasa, Deva cukup dewasa dan bijak menyikapi sesuatu. Apa yang dilakukan papamu, sama sekali bukan tanggung jawabmu. Jelas itu di luar kendalimu, Dave. Lagipula, hubungan kami tidak sedalam yang ada di pikiranmu. Aku menjaga Deva, karena mamaku. Bukan cinta, Dave ." Dewa masih saja berusaha berkilah dengan berbagai alasan.
"Jangan terlalu keras pada hatimu, Wa. Jangan sampai kamu menyesal kalau ada pria lain yang mendekati Deva. Setauku, kakak kelas Deva yang dulu pernah dekat dengan dia, baru saja pulang dari London, sekarang pria itu dinas di sini. Dia masih single dan seorang dokter." Dave tersenyum miris di ujung kalimat.
Dave merasa dirinya begitu munafik. Bagaimana tidak? Disaat hatinya masih utuh mencintai Deva, Dave malah mendukung orang lain untuk menjalin hubungan dengan perempuan terkasihnya tersebut. Namun, entah mengapa dia merasa lebih rela jika Dewa yang berada di samping Deva dibanding sosok lain.
Di sisi lain, Rudi kini sudah bersama Dira untuk menemui dokter spesialis mata yang sudah memeriksa kondisi Nina secara intensif. Jantung bapak dan anak itu sama-sama berdebar kencang menanti informasi dari sang dokter. Karena hingga saat ini, Nina tidak bisa melihat apa pun yang ada di sekitarnya, semua yang terlihat di depannya hanyalah gumpalan awan abu-abu yang begitu pekat. Bahkan sekedar untuk menerima rangsangan cahaya pun perempuan tersebut tidak kuasa.
"Jadi begini, Pak ... Bu ... Kondisi kornea mata pasien, mengalami kerusakan yang cukup parah. Serpihan kaca yang sempat mengenai bagian dalam mata, rupanya menyebabkan kerusakan saraf yang sangat fatal. Menurut hasil pemeriksaan kami, bisa dikatakan, Bu Nina akan mengalami kebutaan permanen. Itu artinya, tidak ada kemungkinan dari sisi medis untuk memulihkan fungsi mata pasien agar kembali normal. Beliau hanya bisa melihat, jika ada donor kornea mata untuk beliau," jelas dokter bernama Prayoga itu dengan jelas dan lugas.
"Tidak mungkin! Lakukan pemeriksaan sekali lagi. Pakai alat yang lebih canggih atau apa pun untuk memastikan apa yang dokter sampaikan sudah benar adanya," tekan Rudi.
__ADS_1
"Buat apa, Pa? Kita bawa saja mama ke rumah sakit di Luar negeri. Dokter di sini jelas salah. Mereka hanya malas mencari lebih detail kemungkinan yang lain. Vonis buta permanen terlalu dini. Diagnosis ini, butuh diyakinkan dengan pandangan beberapa dokter lain yang lebih hebat. Kalau perlu kita cari profesor terbaik. Dira sama sekali tidak percaya dengan kredibilitas dokter di sini." Dira merendahkan dokter yang ada di depannya, tanpa beban sedikit pun.
"Silahkan saja, Pak ... Bu ... Sangat wajar jika keluarga pasien ingin melakukan pemeriksaan ulang. Kami tidak keberatan sama sekali. Insya Allah, hasil pemeriksaan kami sangat akurat. Keprofesionalan kami tidak perlu diragukan. Sesuai sumpah dokter, keselamatan dan kesembuhan pasien adalah yang utama. Jika kredibilitas kami di mata Anda masih kurang, maka silahkan saja melakukan pemeriksaan di rumah sakit lain." Kalimat tegas sang dokter mengakhiri pembicaraan mereka siang itu.
Dira dan Rudi meninggalkan ruangan dokter dengan raut wajah penuh kekesalan. Dua orang tersebut, memang tidak biasa melibatkan campur tangan Tuhan di setiap perkara. Ketika sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan terjadi, hanya umpatan dan kutukan kasar yang terucap.
****
Di waktu yang sama, di sebuah food court di salah satu pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari kantor Diamond Corp berada. Deva beserta Sashi dan Hilda, sedang menyantap sepiring makan siang mereka. Seperti biasa, ketika dua perempuan dari club Dewa yang sudah tidak jelas nasibnya itu bergabung dengan Deva, tidak ada obrolan lain yang menarik bagi keduanya selain bertanya-tanya perihal ketua club yang tidak pernah lagi mengganggu mereka itu.
"Dev, Pak Ewa kenapa sih? Kok dia jarang ngajak kumpul lagi." Sashi bertanya sambil mengunyah sedikit makanan yang ada di mulutnya. Sehingga suara yang terdengar menjadi tidak terlalu jelas.
"Iya nih. Pasti ada sesuatu. Diana sama Dara juga sudah jarang chat sama Pak Ewa,"" timpal Sashi.
"Eh ngomong-ngomong soal Diana. Aku kasihan sama dia. Akhir-akhir ini, dia diabaikan sama eyang sugar-nya. Kemarin, dia bahkan jual tas branded buat biaya hidup sehari-hari." Hilda menanggapi Sashi.
Deva memilih untuk menjadi pendengar yang baik. Dia juga mengabaikan pertanyaan Sashi yang tentu sangat penasaran dengan Pak Ewa-nya.
__ADS_1
"Eh, aku ke toilet sebentar," pamit Deva pada kedua temannya.
Perempuan tersebut langsung berjalan ke arah toilet yang ada di lantai tersebut. Memasuki lorong yang agak sepi, Deva merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Sepertinya, ada orang lain yang mengikuti langkah kakinya.