
"Pasti kamu kaget, kan? Tentu saja Dave tidak akan cerita padamu. Tidak ada yang kenal Dave sebaik kamu, bukan? Seteguh apa dia memegang janji. Pastinya kamu tahu. Mungkin sekarang Dave masih lupa. Tapi aku akan ingatkan dia, Dev. Jauh sebelum ada janji setianya pada kamu. Ada janji yang diucapkan padaku. Berhentilah berharap Dave akan tetap menjadikanmu satu-satunya ratu di hatinya. Lebih baik gunakan energimu untuk mengajariku bagaimana cara membahagiakannya." Dira mengatakannya dengan tenang. Seakan-akan, yang mempunyai perasaan hanyalah dia.
"Cintailah Dave dengan caramu sendiri. Sekalipun aku bisa mengajarimu, kita tidak akan pernah sama. Mencintai tidak sama dengan ilmu matematika. Yang bisa dengan mudah kamu pelajari rumusnya dari orang lain. Mata dan logika bisa memilih kepada siapa kita terpesona dan tertarik pada seseorang. Namun, tidak dengan cinta. Dia tidak memilih apalagi dipilih. Semoga Dave berpikir hal yang sama denganmu. Kalau tidak? Persiapkan hatimu untuk kecewa." Deva melebarkan langkahnya meninggalkan Dira yang tampak jelas belum puas dengan pembicaraan mereka.
***
Setiba di kantor, Deva langsung merapikan penampilannya di toilet. Berangkat menggunakan jasa ojek online, membuat rambut Deva sedikit berantakan. Merasa sudah rapi dan wangi, Deva segera menuju ruang kerjanya.
"Pagi, Dev. Gimana semalem? Mamanya Pak Ewa baik nggak?" Sashi begitu semangat menyambut kedatangan Deva.
"Baik." Deva menjawab dengan singkat.
"Terus gimana? Orangnya seru nggak? Kira-kira kalau sama aku begini, bisa masuk nggak? Bisa nerima nggak?" cecar Sashi.
"Aku bukan mamanya Pak Ewa-mu itu. Jadi aku nggak bisa menjawab apa yang kamu tanyakan. Sudah, ah! Aku mau kerja. Jangan ganggu kalau nggak penting-penting amat." Deva langsung meneruskan langkah menuju ruangannya.
Tidak lama dari itu, Dewa pun muncul. Seperti biasa, dia selalu menanyakan kedatangan dan keberadaan Deva pada Sashi. Entah mengapa, tidak beradu mulut dengan Deva di pagi hari, membuatnya merasa ada yang kurang.
"Pak Ewa, kalau mama Pak Ewa nggak cocok ngobrol sama Deva, saya mau kok gantiin. Saya mah nggak perlu dibayar pakai uang. Di kasih mahar bonus akadnya sekalian, saya ikhlas. Garansi seumur hidup. Kalau tidak puas, keperawanan harus kembali."
"Belum tentu juga masih perawan. Kayaknya kamu memang harus segera gabung sama Club Dewa. Nanti malam, kita ketemuan. Tapi setelah Deva selesai sama mamaku, bisa kan? Ajak Hilda sekalian." Dewa menaik turunkan satu alisnya. Membuat Sashi menjadi salah tingkah karena kegeeran.
"Memang Deva mau masuk klub juga?"
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak memenuhi syarat. Karena masuk menjadi klub Dewa, diperlukan loyalitas tanpa batas. Nanti saja aku jelaskan lebih detail. Sekarang, kita kerja dulu yang benar. Ingat! Kita bukan anak pemilik saham. Panggil Deva ke ruanganku, suruh dia bawa laptopnya sekalian." Dewa berbalik badan, hanya beberapa langkah saja dia sudah sampai di ruangannya.
Sashi bergegas menghubungi Deva melalui sambungan telepon internal. Tidak sampai satu menit, obrolan mereka selesai. Tidak lama, muncullah Deva dengan kedua tangan menopang laptop yang sudah terbuka dan menyala. Raut wajahnya terlihat tidak senang.
"Ada yang harus saya kerjakan, Pak?" tanya Deva begitu sudah berada di dalam ruangan CEO.
"Banyak. Tapi kerjakan di sini. Karena ada beberapa hal yang akan kita diskusikan."
Deva meletakkan laptopnya di sisi kosong meja kerja Dewa. Dia lalu duduk di bangku putar dengan gerakan sedikit menghentak. Bisa dipastikan, kalau sudah begini, Deva akan kesulitan mencari alasan untuk keluar.
"Ini kamu selesaikan lebih dulu. Aku sudah urus tender yang di Probolinggo. Setelah semua selesai, kamu berikan ke aku dulu. Biar aku periksa. Setelah itu tolong kamu periksa laporan dari divisi keuangan. Lusa SK pemutusan hubungan kerja untuk Edward akan turun. Pastikan kamu cukup waktu untuk mengambil semua data yang ada di laptopnya. Aku tidak mau, di ujung keberadaannya di sini, dia masih leluasa mencurangi perusahaan," tegas Dewa, begitu panjang.
Deva tidak menjawab. Bukannya tidak mendengar, dia sedang menyelesaikan pekerjaan sebelumnya dengan cepat. Barulah dia akan mengerjakan tugas baru yang diberikan Dewa barusan.
"Saya mengerti, Pak," sahut Deva dengan cepat.
"Makanya jawab kalau ada orang ngajak ngomong. Jangan diem aja."
"Sebentar Bapak Dewa, saya harus fokus. Saya tidak ingin sampai ada yang salah dan mengulang dari awal." Deva menoleh sekilas pada Dewa yang kini berdiri dan menyandarkan bokongnya pada sisi meja tidak jauh dari tempatnya berada.
Ruangan kembali hening. Deva benar-benar memfokuskan diri dengan data-data yang sedang diolahnya di laptop. Dewa bukannya bekerja dengan bagiannya sendiri, malah sibuk mengamati Deva.
"Jadi apa yang akan kita diskusikan? Kalau tidak ada yang penting, saya kembali ke ruangan saya sendiri saja." Deva mengucapkannya tanpa melihat wajah Dewa.
__ADS_1
"Jadi, semalam mama cerita apa saja ke kamu?"
Pertanyaan Dewa seketika membuat jemari Deva berhenti menari di atas keyboard laptop. Matanya membulat sempurna menatap Dewa dengan tatapan keheranan.
"Bapak nyuruh saya kerja di sini, cuman buat menanyakan hal ini? Saya rasa bukan waktunya. Lagi pula, apa yang kami obrolkan, sama sekali bukan di bawah wewenang dan tanggung jawab Bapak. Jelas saya juga tidak perlu memberi laporan pada Bapak." Deva cukup berani mengatakan hal tersebut pada Dewa.
"Siapa bilang? Kan yang gaji kamu---aku---bukan mama. Jadi, segala sesuatunya, harus sepengetahuanku," kilah Dewa.
"Kenapa tidak tanya langsung sama mamanya Pak Dewa saja. Sudahlah, Pak. Ini di luar pekerjaan resmi. Kita tidak bisa membahasnya sekarang. Lain waktu saja." Deva kembali memfokuskan diri pada tugasnya.
"Jadi ini secara tidak langsung, kamu ngajak aku ngobrol di luar jam kerja? Seperti misalnya pas makan siang nanti?"
Deva menarik napas dengan berat. "Kenapa jadi kesannya saya yang ngajak, ya? Lagi pula makan siang ini, saya tidak bisa. Saya ada urusan."
"Urusanmu banyak sekali sih? Memang ada apa lagi?" Rasa ingin tahu Dewa mulai muncul.
"Saya masih punya privasi, kan? Seharusnya sih masih. Atasan bukan pacar, apalagi suami. Yang apa-apa kita harus pamit. Selama tugas saya selesai dengan baik, dan bukan waktu di jam kerja yang saya gunakan---itu masih area privasi saya."
Dewa seketika terdiam. Seperti biasa, untuk menutupi kekalahan bicara dalam berdebat, dia kembali ke kursi kebesarannya. Memeriksa beberapa tumpukan dokumen di atas meja dengan memasanguka serius.
Tidak terasa, waktu makan siang pun tiba. Deva menyudahi pekerjaannya dengan cepat. Bertepatan dengan itu, ponsel Deva terus mengeluarkan getaran yang membuat Dewa risih. Posisi ponsel yang tergeletak di samping laptop, membuat Dewa bisa membaca jelas siapa yang menghubungi Deva, hanya dengan sekali lirikan.
"Dasar! Kita lihat apa yang akan aku lakukan," batin Dewa sembari menyunggingkan senyuman licik.
__ADS_1