Sisa Rasa

Sisa Rasa
Permintaan Debora


__ADS_3

Dengan langkah lebar, Dewa bergegas meninggalkan ruangannya. Pria tersebut sudah tidak sabar untuk menyaksikan sendiri kebenaran dari informasi yang baru saja dia dengar. Dewa pun ingin sekalian menemui perempuan yang mencari Deva di lobby.


"Di mana perempuan yang ingin menemui Deva?" tanya Dewa pada pegawai resepsionis di gedung perkantoran Diamond Corp.


"Ada di ruang tamu kaca, Pak." Perempuan berpenampilan sedikit menor itu menjawab sembari menunjuk ruangan yang sebagian besar terbuat dari partisi kaca beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Tanpa mengucapkan terimakasih, Dewa melangkahkan kaki menuju tempat yang ditunjuk oleh pegawai resepsionis. Belum sampai membuka pintu, Dewa sudah bisa mengenali dengan jelas sosok yang berada di dalam sana.


"Ada keperluan apa kamu mencari Deva?" Dewa langsung bertanya tanpa basa basi begitu dia sudah masuk ke dalam ruangan.


Perempuan yang tidak lain tidak bukan adalah Debora itu seketika beranjak dari duduknya. Dia terlihat sangat terkejut. "Di mana Deva?" tanyanya dengan raut wajah yang tampak sekali kegelisahannya.


"Tidak ada keharusan aku menjawab pertanyaanmu, Deb. Apa urusanmu mencari Deva?" tegas Dewa.


"Sama seperti jawabanmu, Wa. Tidak ada keharusan bagiku untuk menjawab pertanyaanmu," balas Debora.


"Deva tidak ada di kantor. Dia sedang berada di luar dan tentu saja tidak bisa menemuimu. Silahkan menunggu jika kamu mau." Dewa berniat meninggalkan ruangan. Dia sama sekali tidak ingin berdebat dan memaksa Debora untuk menjelaskan tujuan perempuan tersebut sampai nekat datang mencari Deva ke kantor. Dewa merasa ada urusan lain yang lebih penting.

__ADS_1


"Wa, tolong bantu aku membujuk Deva membatalkan tuntutannya. Hari ini papa resmi di tahan. Papaku sedang dalam masa pemulihan, Wa. Seharusnya papaku berada bersama kami agar obat-obatan dan makanan bisa kita jaga," ucap Debora, menahan langkah Dewa yang sudah berada tepat di ambang pintu.


Dewa membalikkan badannya. Lalu melemparkan pandangan dan senyuman yang sama sinisnya pada Debora. "Apa aku tidak salah dengar? Apa kamu mengucapkannya dengan sadar?" tanyanya.


"Tentu saja aku sadar, Wa. Mencium kaki Deva pun aku mau asal dia mau membatalkan tuntutan ini." Debora mendekati Dewa. Kedua telapak tangannya menyatu seperti orang yang benar-benar melakukan sebuah permohonan.


"Deb... di mana hati nuranimu? Sudah seharusnya papamu menerima hukuman yang pantas dari perbuatan yang memang dilakukannya. Lagipula, bukan Deva yang memberikan tuntutan pada papamu. Jika sekarang papamu sudah resmi menjadi tersangka, jelas itu karena bukti-bukti kasus Pak Amar sudah mulai terbuka secara gamblang. Bukan karena Deva yang menuntut. Kamu tahu persis, Deva tidak ada kewenangan atau kekuatan untuk itu." Dewa membalas tatapan Debora dengan tatapan yang tajam dan tegas.


Debora bergeming. Bibirnya terkatub rapat. Tidak ada lagi yang bisa dia katakan. Percuma berdebat dengan Dewa. Sedari dulu dia selalu kalah. Pria tersebut tidak terkalahkan dalam berpendapat.


Di sisi lain, tepatnya di depan gerbang rumah agas, sebuah kendaraan online berhenti tanpa dimatikan mesinnya. Sudah lima menit berlalu, belum ada keberanian dari sang penumpang untuk keluar dari mobil tersebut.


Perempuan itu adalah Fira. Setelah berpikir panjang, hari ini, mama angkat Dave itu sebenarnya memang memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Apalagi setelah mendengar sang suami beberapa kali sudah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan dengan status yang diketahuinya masih sebagai saksi pada kasus Amar yang kembali dibuka.


Di tengah kegalauannya, Tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan berhenti tepat di depan mobil yang ditumpangi Fira. Saat pintu mobil tersebut dibuka diikuti oleh sosok perempuan berwajah kesal cenderung menahan amarah, keluar dari sisi pengemudi.


"Dira," gumam Fira. Perempuan tersebut lalu bergegas memberikan sejumlah uang pada driver dan turun dari kendaraan yang dipesannya secara online itu.

__ADS_1


"Di mana Dave? Dira tidak mau cerai, Ma. Dira tidak akan pernah mau berpisah dengan Dave." Dira langsung menyambut Fira dengan serangan kepanikan.


Fira yang memang tidak pernah menjalin komunikasi dengan Dave sejak pertemuan dan pembicaraan terakhir, tampak kebingungan dengan tingkah dan ucapan Dira. Dia sama sekali tidak mengetahui sama sekali tentang perkembangan hubungan pernikahan yang seharusnya memang tidak pernah terjadi.


"Dira tidak mau tahu, Mama harus membuat Dave kembali pada Dira. Dave harus menarik kata-kata talaknya untuk Dira." Suara Dira semakin meninggi. Tangannya mencengkeram kedua lengan Fira dengan kuat.


Pintu gerbang pun terbuka, tampak mobil yang biasanya dipakai oleh Agas bersiap untuk melewati gerbang tersebut. Melihat keberadaan Fira, membuat sosok yang menumpangi mobil yang sudah bersiap untuk keluar itu memutuskan untuk menunda dulu kepergiannya.


"Lepaskan, Dira," ucap Agas sambil menurunkan tangan mantan menantunya itu dengan kasar.


"Oh, jadi kalian mendukung keputusan Dave? Kita lihat saja. Sebentar lagi, Papa pasti akan menyusul teman papa itu ke penjara," ancam Dira.


"Iya, benar ucapanmu, Dira. Yang akan segera menyusul orang yang kamu maksud adalah papamu, bukan saya. Dengarkan baik-baik! Jangan datang kemari lagi, karena sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi antara kamu dan Dave." Agas merangkul Fira dan mengajak istrinya itu berjalan menuju pintu rumah utama. Gerbang pun ditutup langsung ditutup kembali atas perintah Agas untuk mencegah langkah Dira yang masih belum puas berbicara dengan Fira.


Sementara itu, diwaktu yang sama, Dewa sudah sampai di tempat yang tadi diinformasikan oleh penelepon yang menghubungi nomor Deva. Dewa merasakan suhu tubuhnya perlahan naik. Jantungnya berdebar hebat, membayangkan sesuatu yang buruk terjadi di depan mata kepalanya sendiri.


"Aku berharap bukan kamu yang ada di dalam sana, Dev." Dewa menekan gagang pintu ke bawah sembari berdoa dalam hati dan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2