
"Bang Dave," Deva membalas sapaan sang mantan dengan lirih.
Sekian lama hati mencoba untuk biasa saja, nyatanya ketika berhadapan langsung tetap saja perasaan tidak bisa memungkiri. Entah itu kenangan yang memang sulit digantikan dengan kenangan lain, ataukah segala kebaikan yang memang enggan untuk dilupakan.
"Hanya berdua saja?" Dave bertanya sambil meredam hatinya yang bergejolak tidak enak.
"Iya... Bang Dave sendiri?"
"Sama beberapa perawat dan teman dokter. Farewell party kecil-kecilan." Dave memberikan tatapan yang intens pada Deva.
"Oh... silahkan dilanjut, Bang." Deva buru-buru berbalik badan. Menyembunyikan pipinya yang mulai merona merah akibat tatapan Dave.
"Aku yang akan pindah ke daerah, Bee."
Satu kalimat yang sepertinya memang diucapkan Dave dengan sebuah tujuan, mengurungkan niat Deva untuk melangkah menuju meja yang dipesannya. Perempuan tersebut pun berbalik badan dan memberanikan diri menjatuhkan penglihatannya pada sosok yang belum beranjak dari hatinya itu.
"Aku hanya ingin mencari suasana baru. Mencoba membuat kenangan baru untuk melupakan kenangan yang lalu. Kedengarannya mudah, entah nanti kenyataannya akan seperti apa. Jaga diri baik-baik, Dev. Dewa laki-laki yang baik. Semoga kalian---,"
"Kami tidak ada hubungan apa-apa." Kata-kata sanggahan meluncur dengan cepat dari bibir Deva. Memotong kalimat Dave yang belum usai.
Tanpa disadari oleh Dave maupun Deva, sepasang mata memperhatikan interaksi keduanya sejak beberapa saat yang lalu. Sosok tersebut terus menghibur dirinya sendiri. Mencoba tetap membulatkan tekad pada apa yang sudah direncanakan.
"Mungkin sudah saatnya kita melepaskan apa yang tidak bisa untuk dimiliki. Keikhlasan itu tidak datang dengan sendirinya. Butuh dipaksa agar terbiasa. Mengenalmu dan mencintaimu, aku tidak pernah menyesal. Tapi, kita harus tahu batas antara harapan dan mimpi. Mungkin kamu ditakdirkan hanya sebagai mimpiku, Bee. Yang hanya akan aku temui dalam tidur yang lelap"
Di antara keramaian dan hilir mudik pengunjung resto yang lain, suara Dave yang sama sekali tidak keras apalagi lantang, tetap terdengar jelas di telinga Deva. Mendadak hati perempuan tersebut serasa sakit. Ucapan Dave seolah menegaskan perpisahan mereka.
__ADS_1
Menyadari Deva terlihat mulai kehilangan ketegaran, Dewa segera menghampiri dua orang berstatus mantan yang sedang terhanyut pada satu perasaan terdalam. Dewa menjadi orang ketiga di antara keduanya.
"Mau terus berdiri di sini?" tanya Dewa pada Deva. Dibuat setenang dan sebisa mungkin.
Dave tersenyum tipis. Sebagai sesama pria, dia tahu pasti apa yang dilakukan Dewa saat ini adalah untuk membuat Deva tidak terbawa perasaan semakin jauh.
"Saya duluan," ucap Deva. Buru-buru meninggalkan Dewa dan Dave.
Kedua pria itu pun saling beradu pandang. Kondisi resto yang ramai seakan tidak berpengaruh apa-apa. Acara farewell di ruang VVIP yang akan dimulai pun belum mengusik Dave untuk kembali masuk ke dalam sana.
"Semoga Deva bisa menerimamu, Wa. Suatu saat, dia pasti memberikan hatinya untuk kamu. Aku tunggu undangan dari kalian." Dave bergegas pergi setelah mengucapkan hal tersebut.
Dewa menarik napas dalam. Apa yang sudah disusunnya sedari pagi sedikit buyar. "Tidak, aku tidak boleh menyerah. Bagaimana nanti, aku tidak peduli. Aku harus membuktikan kalau aku bukan pecundang," ucapnya dalam hati.
Pria tersebut menghampiri meja di mana Deva berada. Tidak jauh berbeda dengan Dewa, Deva pun terlihat gelisah. Ucapan Dave yang mengatakan pindah ke luar kota terus terngiang. Tanya melintasi kepala Deva. Apakah harus sampai menjauh untuk melupakan? Bagaimana bisa menyamarkan rasa hanya dengan jarak? Sementara inti dari segalanya adalah di hati dan pikiran sendiri.
"Seperti biasanya saja. "
Dewa mengernyitkan kening tanda keheranan. Jawaban Deva jelas membuatnya gagal paham. Baru pertama kali dia dan Deva menginjakkan kaki di resto tersebut, jelas Dewa sama sekali tidak tahu menu apa yang menjadi kegemaran perempuan yang duduk di seberangnya tersebut.
Menyadari Dewa kebingungan, Deva pun langsung mengambil buku menu di depannya. Dia menyebut sebuah makanan dan minuman yang memang selalu dipesannya ketika datang bersama Dave. Dewa pun memilih menu yang sama untuk mempersingkat waktu.
Beberapa waktu menunggu pesanan datang. Deva dan Dewa kompak saling terdiam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Deva menundukkan kepala sembari memainkan tali pita yang menghiasi bagian pinggul dress yang dikenakannya.
"Bapak mau bicara apa?" Deva bertanya tanpa menatap wajah Dewa.
__ADS_1
"Ehm, nanti saja setelah kita makan. Kalau lapar, aku tidak bisa berpikir," kilah Dewa. Suaranya benar-benar sudah mulai bergetar. Dalam hati pria tersebut merutuki kelemahannya. Menghadapi klien tersulit sekali pun tidak membuatnya gemetaran. Dulu saat bersama Debora, juga tidak selemah ini. Sungguh malam ini Dewa merasa berada dilevel teraneh dalam hidupnya.
Setelah mendengar jawaban Dewa, Deva pun tidak lagi mengeluarkan suaranya. Sesekali mata perempuan itu melirik ke ruang VVIP yang tertutup rapat. Tentu saja tidak ada yang bisa dia lihat di sana.
Kehadiran pelayan yang mengantar pesanan memecah keheningan di antara Dewa dan Deva. Tanpa menunggu lama, keduanya pun langsung melahap makanan dan minuman di depan mereka masing-masing.
"Setelah hubunganku dan Debora berakhir, aku tidak pernah berharap akan menjalin hubungan serius lagi dengan seorang perempuan. Aku merasa, aku belum siap dan tidak terlalu suka berkomitmen." Dewa memulai pembicaraannya di sela santapan makan malam yang masih menyisakan setengah porsi di piringnya.
Deva menatap Dewa sekilas sembari terus mengunyah makanan yang masih memenuhi mulutnya. Tidak sedikit pun berniat menimpali karena menunggu Dewa sampai selesai mengeluarkan entah apa yang ingin diucapkan.
"Sampai suatu saat, aku menyadari, tidak mungkin selamanya aku begini. Tuhan menggariskan adam berpasangan dengan hawa. Begitu pun dengan anak keturunannya. Mencintai dan dicintai ternyata bukan sekedar pilihan bagi kita yang bernyawa. Sejatinya, rasa itu adalah kebutuhan. Agar hidup kita lebih memiliki tujuan."
Kali ini Deva bereaksi dengan meletakkan sendok di atas piring. Tatapannya lebih tajam mengarah pada Dewa. Ucapan pria tersebut membuat Deva tertarik untuk lebih intens menyimak. Sementara Dewa sendiri malah meneruskan makannya dengan cepat. Mengabaikan Deva yang sudah tidak sabar menunggu kalimat-kalimat lanjutan yang keluar dari mulutnya.
Setelah menghabiskan makanannya, Dewa pun meneguk segelas jus wortel dicampur tomat hingga tandas. Setelah sedikit jeda, dia pun melanjutkan apa yang ingin disampaikan pada Deva.
"Aku memang tidak bisa merangkai kata-kata indah. Sikapku pun jauh dari kata manis untuk seorang perempuan. Bahkan mungkin aku terkesan sangat Don Juan. Nyatanya, aku sulit untuk jatuh cinta, Dev. Apa lagi untuk mengucapkan cinta, jelas aku tidak sanggup."
Deva meneguk botol air mineral kecil hingga menghabiskan separuh isinya. Dia tidak tahu kemana arah pembicaraan Dewa kali ini.
"Mengenalmu beberapa bulan ini, rasanya membawa banyak perubahan dalam hidupku. Awalnya, aku merasa sedikit tertantang akan sikapmu yang tidak pernah menganggapku sama dengan cara perempuan lain memandangku." Dewa tersenyum tipis di ujung kalimat.
Deva masih terdiam. Menunggu dengan sabar sampai Dewa sampai pada akhir ceritanya nanti. Sesungguhnya Deva tidak terlalu fokus karena masih merasakan hawa keberadaan Dave di tempat yang sama.
"Dev, di usia kita saat ini. Terutama aku, hubungan sekedar berpacaran dan bersenang-senang rasanya sudah tidak pantas lagi. Aku... ehm...." Dewa kembali merasa ragu.
__ADS_1
"Iya, Pak... Bapak kenapa?" Deva bertanya dengan polosnya.
Dewa merogoh saku celananya. Lalu meletakkan kotak persegi empat berwarna blue saphire di atas meja. Pria tersebut menarik napas dalam sebelum berkata, "Dev.... "