
Seketika Fira berdiri dan menghampiri Dira. Tangannya sudah terasa gatal ingin melayangkan sebuah tamparan pada perempuan yang pernah dianggapnya baik dan pantas bersanding dengan Dave tersebut. Namun, Fira masih menahan diri. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.
"Pergi kamu dari sini, Dira. Urusi mama dan papamu. Apa yang terjadi hari ini, jelas bukan salah suamiku semata." Suara Fira bergetar menahan amarah dan juga tangis.
Merasa tidak perlu membiarkan drama keluarga berlangsung lebih lama lagi, petugas kepolisian pun menyela pertikaian dengan segera membawa Agas bersama mereka. Ayah angkat Dave itu tampak pasrah. Tidak ada perlawanan apa pun yang diberikan. Meski langkah Agas tidak setegap biasanya, pria tersebut tidak lagi menoleh gamang ke belakang.
Fira menatap punggung Agas yang semakin berjalan menjauhinya dengan pandangan kosong. Raut wajahnya jelas menggambarkan beban yang luar biasa berat. Sementara itu, Dira menarik salah satu ujung bibirnya ke atas begitu sinis.
"Ini belum seberapa Bu Fira. Keluarga saya, jauh lebih hancur. Papa dipenjara, mama lumpuh, dan saya diceraikan oleh anak Anda. Saya akan membuat penderitaan kita setimpal. Jika saya tidak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, jangan harap kalian mendapatkan ketenangan." Dira mengatakannya dengan suara yang lantang. Lalu perempuan tersebut menghampiri Dave yang berdiri beberapa langkah saja darinya.
"Ingat baik-baik, Dave. Aku akan menghancurkan Deva jika sampai kamu mendekatinya lagi." Lagi-lagi Dira memberikan ancaman yang sangat di luar nalar.
"Siapa kamu bisa mengancam kami, Dir. Sepertinya jiwamu benar-benar sakit. Tidak cukupkah teguran yang diberikan oleh Tuhan? Kenapa kamu terus menyalahkan orang lain? Keluar dari sini, Dira." Dave mencengkeram lengan Dira dan menyeret perempuan tersebut dengan paksa ke arah pintu utama.
Dira tentu saja tidak Terima. Perempuan itu berusaha memberontak dan memaki-maki Dave. Namun, pria tersebut tetap bersikap tegas. Dia mengabaikan semua ucapan Dira. Pintu utama langsung dikunci rapat begitu Dira sudah berhasil dihempaskannya ke luar rumah.
__ADS_1
"Akan aku ingat perlakuanmu, Dave! Jangan harap kamu bisa tenang kembali pada Deva." Dira menghentakkan kakinya dan meninggalkan kediaman Agas dengan terpaksa.
Dave sendiri langsung kembali menemui Fira yang tampak belum bisa menerima keadaan sepenuhnya. Kedatangan Dira dengan segala ucapan yang terlontar dari perempuan tersebut, membuatnya benar-benar merasa menjadi satu-satunya orang bodoh di dunia ini.
"Mama bukan tidak tahu papamu mempunyai perempuan lain. Tapi mama tidak pernah menyangka, jika Nina juga salah satu perempuan yang menjalin hubungan dengan papamu. Bagaimana bisa? Mereka manusia seperti apa?" Fira menitikkan setetes bulir bening di pipinya dengan pandangan yang masih kosong.
"Mama istirahat dulu. Dave ada sedikit urusan di luar. Keadaan mama hari ini, masih lebih baik dari keadaan keluarga Deva beberapa tahun yang lalu. Tidak ada lagi yang perlu disesali, Ma. Semua sudah terlanjur terjadi. Dulu mama masih mempunyai kesempatan untuk mengubah keadaan, tapi mama malah memilih untuk mendukung papa. Sekarang apa yang kita dapat, tidak sepantasnya lagi kita pertanyakan." Dave meninggalkan Fira sendirian.
Sementara itu, dikediaman rumah Deswita. Deva tampak berpamitan pada semua penghuni rumah. Sudah terlalu lama dia menumpang hidup di sana. Kini, saat mendengar semua orang yang dianggap mengancam keselamatannya sudah dijemput paksa oleh pihak kepolisian, Deva memutuskan untuk pindah ke rumah yang dibelinya secara kredit atas bantuan Dewa.
"Kenapa tega kamu tinggalin Mades, Dev. Sudah tidak ada Nyong juga di rumah. Mades bisa kesepian," keluh Deswita seraya memeluk tubuh Deva.
"Kamu tahu persis apa harapan Mades. Bukannya Mades memaksa, tolong pikirkan lagi, Dev. Mau berapa lama lagi waktu yang kamu butuhkan untuk meyakinkan perasaanmu. Ada kenangan yang sampai kapan pun tidak akan bisa kita lupakan. Dan kenangan itu, hanya bisa sedikit kita geser dengan membuat kenangan-kenangan yang baru." Deswita merenggangkan pelukannya. Membelai rambut Deva dengan lembut, sembari memberikan tatapan hangat yang penuh kasih.
Dewa yang berdiri tidak jauh dari tempat kedua perempuan yang dicintainya saling berpelukan, hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sang mama. Sampai detik ini, Dewa belum menyerah membuktikan pada Deva jika dia memang bersungguh-sungguh ingin serius dengan hubungan mereka. Jika bukan karena Deva, mungkin dia juga tidak terlalu bersemangat melakukan pengobatan yang ternyata akan memakan waktu yang sangat panjang.
__ADS_1
Deva sendiri masih bertahan pada diamnya. Yang belum mengiyakan atau pun menolak permintaan Dewa. Fokusnya belum sampai untuk memikirkan kehidupan berumah tangga secara serius. Hatinya yang masih belum beranjak dari sang mantan, membuat Deva ketakutan untuk melangkah maju sekali pun dia sudah cukup merasakan kenyamanan saat bersama Dewa.
"Deva pamit, Mades. Kita hanya terpisah jarak satu jam. Deva akan sering main ke sini." Deva mengusap-usap punggung tangan Deswita.
"Hati-hati. Pikirkan baik-baik pesan Mades. Sudah saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri. Jangan memanjakan luka hatimu. Melangkahlah pelan-pelan. Setidaknya kamu jangan berdiam diri. Bisa karena biasa. Buka hatimu sedikit demi sedikit. Lihat kebaikan orang lain selain dia yang ada di hatimu. Kamu berhak bahagia, Dev. Dengan Dewa atau siapa pun nanti jodohmu."
Genggaman tangan keduanya pun terlepas. Deswita menarik napas dalam. Terselip doa suatu saat nanti, Deva benar-benar akan menjadi bagian dari dirinya dan juga Dewa. Saat Deva berbalik badan sambil menyeret salah satu kopernya, Deswita memalingkan wajahnya ke sisi lain. Beberapa bulan tinggal bersama, membuatnya semakin mengenal dan mengagumi sosok Deva.
Dewa membawa dua koper milik Deva yang lain. Berbeda halnya dengan Deswita yang tampak bersedih, tidak demikian dengan Dewa yang justru bahagia tidak berada satu atap bersama Deva. Setidaknya, dia bisa merasakan rindu dan juga berusaha lebih lagi dibanding saat mereka serumah. Di mana kadang apa yang dia lakukan harus dibatasi karena adanya Deswita yang terlampau menjaga Deva.
Mobil Dewa pun perlahan beranjak meninggalkan halaman rumah. Pria tersebut mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat rendah. Sesekali dia melirik Deva yang duduk tenang sembari melemparkan pandangan ke sisi luar kaca.
"Pak, berhenti sebentar," ucap Deva tiba-tiba. Membuat Dewa menginjak pedal rem dengan mendadak. Padahal mereka masih berada di tengah jalan perumahan yang belum terlalu jauh dari rumah Dewa.
"Itu kan mobil Bang Dave, kenapa dia berhenti di situ? Bukankah Bang Dave ada di luar kota?" Deva menunjuk sebuah mobil yang berhenti di depan pagar pintu rumah lamanya dulu.
__ADS_1
Dewa mengernyitkan keningnya. Bersamaan dengan itu, keluarlah sesosok pria yang memang sudah diduga Deva sebelumnya dari dalam mobil tersebut.
"Kenapa Bang Dave ke sana?" Deva melepas safety belt yang dikenakannya. Lalu tanpa mengucap sepatah kata pun pada Dewa, Deva turun dari mobil dan berjalan menghampiri Dave.