
"Aku sama sekali tidak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, bukan? Karena itu adalah privasiku, Dave. Lagi pula, apa pun yang berhubungan dengan Deva, bukan tanggung jawabmu lagi. Sama seperti kamu, dia juga berhak menikah dan bahagia dengan siapa pun pasangan barunya nanti," tegas Dewa.
"Aku tahu, Wa. Tidak perlu mengingatkanku akan status kami sekarang. Aku hanya ingin memastikan, Deva tidak akan merasakan luka yang sama. Jika kamu hanya ingin coba-coba, tolong jangan Deva. Seperti yang kamu katakan tadi, Deva memang pantas bahagia."
Dewa hanya tersenyum tipis. "Deva bukan perempuan bodoh, Dave. Dia sangat setia. Dia tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama. Jika dia harus terluka, dia tidak akan memilih jalan yang sama seperti saat dia menjalin hubungan denganmu. Aku yakin, begitu hatinya sudah menetapkan pilihan. Deva tidak akan membuang waktu terlalu lama untuk sekedar berpacaran."
Dave ingin menimpali, tetapi langkah Deva yang semakin mendekatinya dan dewa---mengurungkan niatnya seketika.
"Pak Dewa mau ikut?" tanya Deva tanpa berani menatap Dave.
Dewa menggelengkan kepala. "Aku menunggu di sini saja." Dewa menyandarkan punggung ke mobilnya. Tiba-tiba saja, dia merasakan pandangannya sedikit kabur. Pelan, Dewa memijat pelipis kepalanya dengan gerakan ujung jari memutar.
"Oh, baik, Pak. Saya tidak akan lama." Deva sungguh masih menjaga keformalannya ketika berhadapan dengan Dewa.
Deva berjalan terlebih dulu, baru kemudian Dave menyusulnya di belakang. Pria itu menundukkan kepala begitu dalam. Dia berusaha menghindari pandangan matanya agar tidak tertuju sepenuhnya pada sosok Deva.
"Assalamualikum, Pa ... Ma ...," Deva memilih berada di tengah-tengah. Di antara makam Amar dan Shinta. Perempuan itu bersimpuh mengusap batu nisan kedua orangtuanya secara bergantian.
Dave memilih untuk berdiri agak jauh dari makam yang memang ingin dikunjunginya itu. Dia sedang memberi ruang dan waktu kepada Deva agar bisa lebih leluasa.
__ADS_1
"Pa, Ma, Deva baru saja memutuskan untuk membeli rumah. Maafkan Deva karena belum bisa membeli rumah kenangan kita kembali. Suatu saat nanti, rumah itu pasti akan menjadi milik kita. Deva janji." jemari Deva terulur lembut mengusap batu nisan mamanya lebih lama.
Mendengar kata-kata rumah, Dave hanya bisa meremas dadanya. Rumah itu sekarang sebenarnya sudah atas nama Deva. Akan tetapi, Dave tidak mungkin memberikan begitu saja. Deva pasti menolak keras dan merasa direndahkan.
Deva menoleh ke belakang. Menyadari keberadaan Dave di sana. Dia pun buru-buru mengembalikan fokusnya pada makam Shinta dan Amar.
Setelah beberapa waktu Deva memanjatkan doa, perempuan itu pun perlahan beranjak berdiri. "Deva pulang dulu, ya, Ma ... Pa ... Maaf kalau Deva jarang datang. Bukan karena Deva lupa, tapi Deva juga sedang berjuang untuk bersahabat dengan luka. Doa Deva semoga selalu sampai pada kalian. Maaf, kalau Deva masih suka mengeluh." Deva buru-buru menyeka bulir bening yang membasahi pipinya.
"Semua orang yang berada di posisimu, pasti mengeluh, Bee. Sangat wajar. Aku mungkin tidak bisa lagi menawarkan pundakku untukmu bersandar. Aku juga tidak bisa menjanjikan akan selalu ada disetiap kamu membutuhkan. Maafkan aku, karena membuat semuanya terasa lebih berat dan sulit bagimu. Cintaku sekarang, tidak ubahnya dengan omong kosong. Apa artinya cinta jika yang aku punya hanya sekedar kata. Ada batasan yang membuatku tidak bisa membuktikan---cinta ini akan selalu sama dan tersimpan rapi untukmu." Dave segera berjongkok di antara dua makam sembari mengusap air matanya.
Deva menggigit bibir bawahnya sendiri dengan kuat. Hingga meninggalkan bekas dan sedikit luka yang mengeluarkan darah di sana. Dia menengadahkan wajahnya, menatap langit biru yang sebagian sudah tertutup awan menggumpal. Patah hati yang sebenar-benarnya adalah yang kini tengah dia rasakan bersama Dave. Ketika hati masih saling bertaut dalam satu cinta, namun logika memaksa keduanya untuk berpisah.
Deva bergeming. Kakinya sungguh berat untuk melangkah. Bulir bening terus membasahi pipinya tanpa permisi. "Ya Allah ... kenapa aku selemah ini. Pa ... Ma ... Deva kangen. Kenapa Deva berat meninggalkan kalian seperti ini."
Pundak Deva terlihat terguncang, lirih isak tangisnya pun terdengar pilu. Dave menyudahi doanya. Andai statusnya kini bukan suami orang, pastilah dia akan memeluk tubuh Deva dari belakang.
Dave mengegelengkan kepalanya. Pria itu juga menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara tangis yang juga mendesak lolos darinya. Tangan Dave menggantung di atas pundak Deva. Terulur ragu antara ingin menyentuh atau tidak.
"Tidak, kamu terlalu berharga, Bee. Jangan sampai, apa yang aku lakukan membuatmu tampak murahan di mata orang lain. Maafkan aku. Bukannya aku tega, sungguh aku hanya bisa menjagamu dengan cara seperti ini." Dave melewati tubuh Deva begitu saja. Dia tidak lagi berani menoleh ke belakang. Air mata Dave pun mengalir deras tidak terkendali. "Maafkan aku, Bee. Maaf atas ketidak berdayaanku," lirihnya.
__ADS_1
Dewa yang masih memijat kepalanya, sedikit dibuat terkejut dengan suara kepalan tangan Dave yang menghantam kap atas mobil taksi yang masih setia menunggu pria tersebut. Tidak hanya Dewa yang terkejut, driver taksi yang ada di dalam mobil pun seketika terbangun.
"Dave ... ada apa? Di mana Deva?" Dewa mendadak panik.
Dave mencoba mengatur napasnya. "Aku titip Deva, Wa. Aku tahu kamu mencintainya. Seumur hidup, sejak mengenal dan bersamanya. Aku tidak pernah berharap mengucapkan kata-kata ini. Jangankan membiarkan pria lain mengucapkan cinta pada Deva, ada memandangnya dengan kagum saja aku tidak terima. Kamu benar, Deva bukan lagi tanggung jawabku. Tapi aku sudah terikat janji dengan Papa Amar untuk selalu menjaga Deva."
Dewa membiarkan Dave mengatur napasnya sejenak. Dia tidak berniat untuk memberikan tanggapan dengan cepat.
"Cintai Deva lebih baik dari caraku mencintainya, Wa. Dia sedang butuh sandaran. Deva seorang perempuan. Terlihat kuat dan baik-baik saja, belum tentu dengan hatinya. Dia menyimpan luka yang amat dalam. Semoga aku tidak salah menilaimu." Dave menepuk pundak Dewa. Pria tersebut bergegas masuk ke dalam taksi. Lalu memerintahkan sang driver yang masih terheran-heran di luar, untuk segera melajukan kendaraannya.
Dewa pun bergegas menyusul Deva. Hatinya seketika terenyuh. Melihat sosok perempuan yang tentu saja adalah Deva, sedang memeluk sebuah batu nisan bertuliskan Shinta.
Dewa melangkahkan kaki perlahan mendekati sosok tersebut. Kemudian dia berjongkok agar bisa menyamai posisi Deva.
"Menangislah sepuasmu, Dev. luapkan semua yang kamu rasakan. Lepas semua beban yang menghimpit dadamu. Apa yang kamu lakukan, sama sekali tidak membuatmu terlihat lemah." Dengan sedikit kenekatan yang dimiliki, Dewa menegakkan punggung Deva dengan sedikit menarik pundak perempuan tersebut secara perlahan.
"Tapi bukan di sini, papa mamamu hanya butuh doa, Dev. Mereka akan semakin sedih kalau kamu mengeluh pada mereka. Mengeluhlah padaku. Aku akan mendengarkan selama yang kamu mau."
Deva menatap Dewa dengan sendu. Namun, pria tersebut membalas tatapannya dengan tatapan yang begitu hangat dan meneduhkan.
__ADS_1