Sisa Rasa

Sisa Rasa
Dewa versus Dave


__ADS_3

Sampai pukul sepuluh, acara jamuan makan malam belum juga usai. Sepanjang acara, jelas Deva merasa tidak tenang. Memikirkan Dave yang masih ada di kamarnya, dan juga memikirkan bagaimana cara dia kembali masuk ke dalam sana tanpa card key di tangannya.


Deva kini hanya merutuki kebodohannya. "Kenapa aku teledor sekali, semoga saja Pak Dewa tidak menyadari kesalahanku kali ini. Jika dia tahu, bisa panjang sekali urusannya," batinnya.


Melihat tidak ada seorang pun yang beranjak dari tempatnya, Deva bisa memastikan kalau acara pasti masih akan berlangsung lama. Bahkan sekarang mereka malah larut dalam sajian live musik yang menghadirkan salah satu artis ternama ibu kota.


"Mades, saya ke kamar dulu, ya," pamit Deva pada Deswita. Dia berbicara tepat di samping daun telinga mama dari Dewa itu dengan pelan dan sopan.


"Baiklah, kamu hati-hati. Tolong sampai kamar, hubungi Asih, tanyakan Nyong sudah tidur belum. Mades lupa, ponsel Mades di kamar," pinta Deswita pada Deva. Jason memang sengaja tidak ikut, karena besok, Jason harus mengikuti les untuk persiapan tes masuk sebagai santri di salah satu pondok pesantren modern di daerah Jawa Timur.


Deva mengangguk mantap. Dia bergegas meninggalkan meja yang di tempatinya bersama Deswita dan empat orang yang lain. Entah siapa, sepertinya bukan saudara dekat dari Dewa juga, karena Deswita pun hanya memberikan sapaan basa basi sekedarnya. Sedangkan Dewa, sudah menghilang dan pamit terlebih dahulu sekitar empat puluh menit yang lalu. Deswita tidak heran, karena sudah hapal betul kalau Dewa tidak menyukai acara-acara seperti ini.


Dira yang melihat Deva berjalan menjauhi tempat acara yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai, segera mengejar rivalnya tersebut. Dia berteriak kencang, tentu saja agar Deva menghentikan langkahnya.


Karena tertutup suara musik dan juga ramainya keadaan sekitar, Deva pun tidak mendengar teriakan Dira. Perempuan itu terus berjalan menapaki pasir putih menuju arah pintu hotel kembali.


"Deva ...." Dira berteriak sekali lebih kencang. Napasnya sedikit tersengal karena usahanya menyamai langkah Deva yang cukup lebar.


Karena sudah mendekati area hotel, maka suasana sepi pun mendukung teriakan Dira sampai ke telinga Deva. Mantan Dave yang masih terkasih itu pun berhenti dan memutar badannya ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Akhirnya," ucap Dira dengan sumringah.


Begitu kedua perempuan yang mencintai Dave dengan versi berbeda itu saling berhadapan, Dira melemparkan senyuman yang penuh arti sembari menatap Deva dengan binar kemenangan.


"Terimakasih, Dev. Ternyata, nyalimu memang sebesar omonganmu. Menjadikanku teman, bukan sekedar buah bibir semata. Kamu membuktikan dengan kedatanganmu malam ini. Terimakasih, teman. Sampai besok di akad dan resepsi Dira-Dave," ucap Dira, begitu enteng tanpa beban.


Deva membalas tatapan dan senyuman Dira tidak kalah berani. "Tentu saja, Dir. Aku selalu menepati, apa yang aku ucapkan. Bahkan sebagai teman aku tidak keberatan untuk memberitahumu sesuatu yang penting."


"Apa?" Seperti biasa, Dira langsung menampakkan ketidak sabarannya.


"Tidakkah kamu berniat mengubah sikapmu sedikit? Tahukah apa yang kamu lakukan tidak sedikit pun mampu menggoyahkan hati Dave? Apakah memiliki, memang jauh lebih penting ketimbang mencintai? Jika iya, nikmati saja lukamu, Dir."


"Benarkah? Kita lihat saja nanti. Aku akan buktikan kalau aku bisa membuat Dave memandangku secara utuh. Anyway, terimakasih sekali lagi. Sampai ketemu besok. Jangan lupa, aku pengantinnya." Dira meninggalkan Deva dengan keangkuhan yang hakiki.


Sementara Deva masih melangkah menuju lift yang akan mengantar dirinya ke lantai di mana kamarnya berada. Perdebatan panjang antara dua pria yang dikenal Deva, baru saja usai.


Beberapa puluh menit yang lalu, tepatnya saat Dewa meninggalkan acara jamuan makan malam, pria tersebut langsung menuju kamar Deva. Rupanya, tulisan yang dia tinggalkan, dibaca dan dipahami dengan sempurna oleh Dave. Mantan Deva itu menunggu kedatangan Dewa dengan duduk melamun di sofa yang ada di balkon.


Mendengar ketukan pintu, pria yang menemani suka duka Deva selama tujuh tahun itu, membuka pintu kamar sang mantan terkasih lebar-lebar. Sudah mengetahui siapa yang datang, membuat Dave begitu tenang menyambut Dewa.

__ADS_1


"Jika kamu mencintai Deva, kenapa kamu membuatnya nampak murahan seperti sekarang? Bersama calon suami orang di dalam satu kamar, sungguh itu sangat rendahan." Dewa langsung mengatakannya dengan sinis. Tanpa basa basi.


"Tahu apa kamu tentang kami. Hanya karena kami berada satu kamar, bukan berarti aku memperlakukan dia dengan seenaknya. Aku bukan kamu yang bisa menyentuh wanita sesuka hati. Tanganku masih tahu adab," sanggah Dave dengan tak kalah santai.


"Siapa yang bisa menjamin omonganmu benar? Dua orang yang masih saling mencintai berada di dalam kamar. Apalagi yang dilakukan? Berbagi sedih dan nelangsa? Apa memang kalian senaif itu?" Dewa mencecar tuduhan dan prasangkanya pada Dave.


"Sebentar, kamu menyuruhku menunggumu hanya untuk ini? Kamu terdengar seperti pria yang sedang cemburu, Wa. Sejauh yang aku tahu, kamu hanya atasan Deva. Kalau pun kami melakukan apa yang kamu tuduhkan, itu sama sekali bukan urusanmu." Dave melemparkan pandangan menyelidik pada Dewa.


Pria tersebut tersenyum sinis sembari berkata, "Cemburu? Yang benar saja. Aku memposisikan diriku sebagai kakak dari Dira. Jelas aku tidak terima adikku diperlakukan demikian. Jika ada hati yang harus kamu jaga, itu adalah hati Dira," tekan Dewa.


"Itu jika kami saling mencintai, Wa. Sayangnya, aku dipaksa menikahi adikmu itu. Apa salahku jika aku tidak bisa memperlakukan Dira dengan baik? Siapa yang pantas disebut perebut, seharusnya kamu sudah tahu. Kamu boleh mengataiku apa pun. Tapi jangan sampai kamu merendahkan Deva. Tahukah kamu apa yang dilewatinya tujuh tahun bersamaku?"


Dewa lagi-lagi melemparkan tatapan dan senyuman yang sama sinisnya. "Aku bukan cenayang, tapi aku pastikan, kalian memang sudah melewati semua batasan. Aku tidak peduli, dan juga tidak mau tahu. Yang aku mau, mulai sekarang, jaga jarakmu dengan Deva. Terima kenyataan, Dave. Deva bukan milikmu lagi. Jangan menjadikannya perempuan murahan hanya karena egomu. Jika kamu meyakini kalau Deva adalah perempuan baik-baik, maka jangan seret dia menjadi bayangan nyata di pernikahanmu. Deva juga berhak bahagia."


"Kamu mengancamku untuk Dira, atau untuk dirimu sendiri, Wa? Jika ada orang lain yang mendengar, ucapanmu terkesan seperti seseorang yang sedang melindungi Deva ketimbang peduli pada Dira," balas Dave.


"Terserah kamu menilaiku bagaimana. Tapi camkan baik-baik, jangan rendahkan Deva dengan membawanya masuk ke dalam pernikahanmu. Jika kamu masih melakukannya, akan selalu ada aku di antara kalian."


Ancaman Dewa itu mengakhiri perdebatan antara dua pria dengan profesi dan karakter yang jauh berbeda. Hingga salah satu dari pria tersebut, akhirnya meninggalkan kamar Deva.

__ADS_1


Tidak berselang lama dari keluarnya salah seorang pria dari kamarnya, Deva pun sampai di depan pintu kamarnya. Dengan sedikit keberanian dia mengetuk pintu tersebut. Meski sebenarnya berharap di dalam sana sudah tidak ada Dave, tapi entah mengapa, hati kecil Deva mengatakan jika Dave ada di sana. Namun, ketika papan persegi panjang di depannya terbuka, Deva tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Bagaimana bisa?" lirihnya dalam hati.


__ADS_2