Sisa Rasa

Sisa Rasa
CEO baru


__ADS_3

"Tepat waktu juga kamu, Wa." Tino menghampiri sosok yang membuat Deva tercengang. Kedua pria itu langsung saling berjabat tangan dan melempar senyum dengan ramah.


"Jelas, dong. Kita dari alamater yang sama. Secara garis besar, ilmunya tidak jauh beda" Dewa melirik ke arah Deva.


Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Jelas sudah kalau Dewa adalah pengganti Tino. Belum apa-apa, pikiran Deva sudah terisi dengan praduga negatif. Bayangan akan perilaku Dewa yang menyebalkan, sukses membuat Deva bergidik ngeri.


"Oh, ya ... mumpung ngumpul, nih. Kenalin, Wa, ini Sashi---sekretarisku sejak tiga bulan yang lalu. Kalau ini Deva---asisten pribadiku---sudah lebih dari empat tahun." Tino menunjuk Sashi dan Deva bergantian.


Deva mengulurkan tangan dengan malas tanpa menyebut nama. Karena dia yakin, pria itu pasti masih mengingat dengan jelas siapa namanya. Sangat berbeda dengan Sashi, yang langsung mengulurkan tangan pada Dewa dengan gayanya yang centil.


"Kamu pinter milih sekretaris, Tin. Tapi kok asis---" Dewa tidak meneruskan kata-katanya. Masih terlalu awal, dia harus menjaga wibawanya terlebih dahulu.


Deva paham betul apa yang ingin disampaikan Dewa. Dia berusaha tidak terpancing untuk menimpali. Sedikit pun Deva tidak akan gentar. Sama-sama karyawan Diamond Corp, hanya beda pada jabatan saja. Selama dia berada di jalur yang benar dan profesional, posisinya pun akan aman.


"Maaf Pak Tino, Pak Dewa, saya permisi dulu," pamit Deva, tanpa memberi alasan atau pun basa basi.


"Oke, Dev. Jangan lupa, makan siang beli kado. Kita tukeran nanti di acara farewell." Tino agak memberikan penekanan pada ucapannya. Kali ini, dia harus mengerjai Deva. Kalau tidak begitu, gadis itu pasti akan menganggap permintaannya hanya bercanda.


Deva hanya menjawab permintaan Tino dengan senyuman tipis. Lalu dia berbalik badan, dan langsung melenggangkan kaki meninggalkan ketiga orang yang lain.


Dewa tidak memedulikan Deva, dia malah melirik Sashi dengan lirikan mata yang sangat nakal. Rok mini satu jengkal lebih di atas lutut, dipadu kemeja ketat dengan kancing tiga teratas yang sengaja dibiarkan terbuka, sungguh pemandangan yang sayang dilewatkan.


"Kamu mau pamit juga? Silahkan, Beb. Tapi jangan lama-lama. Aku mendadak selalu rindu sama kamu. Mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama. Semua yang ada pada dirimu, sungguh membuatku tidak ingin berpaling. Baru kali ini, aku merasakan hal seperti ini."

__ADS_1


Mendengarkan serangkaian rayuan Dewa pada Sashi, membuat Tino mengelus dada. Tidak menyangka, di umur yang sudah matang, kelakuan dan tabiat teman satu angkatannya itu, masih saja sama seperti lima belas tahun yang lalu.


Sashi yang dari awal sudah mengagumi Dewa, kini semakin dibuat melayang. Rayuan yang sebenarnya sangat receh dan umum diucapkan oleh para kaum buaya, nyatanya tetap saja terdengar berbeda jika yang mengucapkan adalah pria yang memiliki ketampanan, kekayaan, dan juga jabatan.


"Oh, gitu ya, Pak. Saya cuman sebentar kok. Saya mau memastikan kalau semua karyawan akan berada di aula tepat pukul sembilan nanti. Setelah itu tidak banyak yang harus saya kerjakan. Saya nunggu arahan dari Pak Ewa aja." Sashi mulai memberikan panggilan kesayangan.


Dewa dan Tino kompak saling pandang. Tino jelas terlihat sedang menahan tawanya. Sementara Dewa nampak menyunggingkan bibir hingga membuat garis lengkung menandakan sebuah kebanggaan.


Begitu Sashi sudah benar-benar meninggalkan ruangan, Tino mengajak Dewa duduk di sofa.


"Eh, Wa. Ini aku sudah ambil semua barang pribadiku. Kalau kamu merasa penataan ruangan ini kurang, kamu bisa sampaikan ke Deva. Biar dia yang atur," ucap Tino sembari mengedarkan pandang pada tempat yang sebentar lagi akan ditinggalkan.


"Kenapa dia? Sashi juga bisa kan pastinya. Aku kayaknya lebih cocok sama Sashi."


"Jangan lihat dari ukuran dada, Wa. Jangan menilai seseorang dari penampilan. Deva tidak hanya pintar, dia gadis yang sangat tangguh," puji Tino.


"Kamu menilai terlalu cepat. Dia tidak pernah seburuk itu," bela Tino.


"Ckk... jangan-jangan kalian ada hubungan spesial," tuduh Dewa.


"Kamu benar. Kami memiliki hubungan spesial. Jadi jangan macam-macam sama dia, Wa." Tino tidak mau memperpanjang perdebatan. Dia mengiyakan tuduhan temannya itu begitu saja. Dengan harapan, Dewa tidak mempersulit Deva dengan sifat dan sikapnya.


Setelah itu, Tino mengalihkan topik pembicaraan pada masalah pekerjaan. Dewa menanggapi dan mendengarkan beberapa hal yang dijelaskan Tino dengan sangat detail. Keduanya benar-benar serius membahas masalah perusahaan. Segala informasi yang diketahui Tino mengenai kemunduran perusahaan selama satu bulan terakhir, diceritakan semua tanpa ada yang ditutup-tutupi.

__ADS_1


"Kamu bisa diskusi sama Deva perihal masalah ini. Dia tahu persis semua masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Dan Deva sedang mencari tahu sendiri tentang dugaan-dugaanku. Bagaimana perkembangan penyelidikannya, kamu bisa tanyakan langsung padanya."


Dewa mengumpat dalam hati. Sepertinya, dia akan sering sekali berkomunikasi dengan Deva. Seumur hidup, dia baru menemui perempuan seperti itu. Dewa lebih sering menjumpai kaum hawa dengan tipikal seperti Sashi. Yang memandangnya penuh kekaguman sekaligus menggoda, bukan perempuan ketus dan seenaknya seperti Deva.


***


Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, tepat pukul sembilan pagi, seluruh karyawan Diamond Corp berkumpul di Aula untuk berkenalan dengan CEO baru mereka. Meskipun nanti malam ada acara pisah sambut, namun perkenalan secara umum tetap harus dilakukan. Karena untuk acara pisah sambut, hanya akan dihadiri jajaran Managerial beserta staf khusus saja.


Sudah terlintas dibayangan Dewa sebelumnya, begitu dia menampakkan diri, hampir seluruh karyawan berjenis kelammin perempuan, begitu semangat menyambutnya. Tidak sedikit dari mereka, mencoba menarik perhatian Dewa.


"Ah... ternyata pesonaku memang tidak pernah pudar." Dewa mengagumi dirinya sendiri dalam hati sembari tersenyum bangga. Namun, perlahan senyum itu memudar. Begitu tatapan matanya tidak sengaja beradu dengan Deva. Bukannya tersenyum, perempuan tersebut malah langsung memalingkan muka begitu saja.


Tiba waktunya Dewa memberikan sambutan dan mengucapkan salam perkenalan. Bisik-bisik antar karyawati pun dimulai.


"Cakepnya nggak ada lawan. Diajak meeting lama-lama, gak bakalan ngantuk kalau begini," bisik salah satu karyawan dari Divisi Teknik.


"Bener banget. Lihat tatapan matanya, dong! Berwibawa, tapi menggoda banget," sahut teman di sebelahnya.


Deva yang duduk di deretan terdepan bersama dua orang staf direktur keuangan, tidak banyak memperhatikan Dewa. Dia lebih memilih berselancar dengan sosial medianya.


"Dev, kamu beruntung banget. Tiap hari, bakalan cuci mata terus. Bisa pergi berduaan. Duh ... mendadak aku iri sama kamu," bisik Clara---sekretaris Direktur Keuangan.


Deva hanya mengedikkan bahunya dengan malas. Sebaliknya, Deva malah berpikir bahwa dirinya sedang dan akan tertimpa kesialan. Deva masih menyimpan keyakinan, di balik ketampanan serta wibawa yang ditampilkan, tersimpan keangkuhan dan sikap semena-mena yang kentara.

__ADS_1


Waktu berlalu lumayan lebih cepat. Acara perkenalan singkat secara semi formal pun berakhir. Seluruh karyawan diminta untuk kembali menyelesaikan pekerjaan masing-masing.


"Dev, tolong ke ruangan saya sekarang!" perintah Dewa yang tiba-tiba sudah berada selangkah di depan Deva. Suara dan tatapannya sedikit agak sopan karena menjaga wibawa di depan karyawan lain yang sedang bersama Deva.


__ADS_2