
Deva semakin melebarkan langkahnya. Bukan takut dengan ancaman Dewa, lebih pada enggan untuk menanggapi. Hatinya sudah teruji. Jika membuatnya jatuh cinta dan terpesona semudah pikiran Dewa, berpisah dengan Dave tentu tidak akan sesakit ini.
"Pak Ewa, kenapa belum menjawab?" Sashi masih saja penasaran.
Dewa hanya terdiam. Dia membukakan pintu mobil untuk Deva sembari tersenyum nakal pada perempuan tersebut.
"Pak Ewa, saya tanya loh... kenapa dicuekin." Sashi menghentakkan kakinya dengan kesal. Pasalnya dia merasa tidak dianggap.
"Terserah apa kata Deva ajalah. Tanya dia, statusku apa." Dewa menjawab santai sambil memutari kap mobil, lalu dia pun masuk ke jok pengemudi.
Setelah memastikan semua sudah duduk di bangku masing-masing, Dewa pun segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pasar yang ingin didatangi Deva.
Sampai di sebuah pasar tradisional yang dituju, hanya Deva yang turun. Dewa dan Sashi tidak ikut turun. Keduanya memilih menunggu di parkiran. Tentu saja karena Sashi ingin digoda-goda Dewa seperti sebelum-sebelumnya. Pikiran Sashi sudah sangat liar, di dalam mobil berdua saja dalam posisi ban mobil tidak bergerak, jelas dia membayangkan tangan Dewa lincah menyentuh dirinya.
Sampai detik ini, Sashi tidak bisa menebak perasaan Dewa sebenarnya bagaimana padanya. Tertarik, cinta atau apa pun yang menunjukkan perasaan lebih dalam, sepertinya belum ada tanda-tanda pasti yang mengarah ke sana. Karena dengan Hilda pun, ternyata Dewa kadang melakukan hal yang sama. Pria itu sering kali merangkul pundak atau pinggul mereka dengan santai. Namun anehnya, Dewa tidak pernah melakukan hal lain lebih dari itu.
Sampai Hilda dan Deva kembali, apa yang diharapkan Sashi tidak terjadi. Hari ini, Dewa begitu cuek padanya. Tidak hanya Sashi yang heran, Dewa sendiri juga tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Mulutnya sedari tadi enggan mengeluarkan gombalan seperti biasa. Tangannya pun tidak bergerilya nakal. Begitu anteng di atas setir sembari memainkan ponsel.
"Pak Dewa, boleh mampir ke supermarket sebentar nggak?" Deva bertanya dengan ragu.
"Tuan rumah kali ini adalah ratu, ke bulan pun akan kami antar. Tapi bisakah kamu memberiku sesuatu dulu? Aku benar-benar lapar, Dev." Dewa sedikit manja saat mengatakannya.
"Ah, iya... sampai lupa. Bapak suka yang mana? Tadi saya dan Hilda membeli jajan pasar. Onde-onde, martabak isi ayam jamur, lapis, rosoles dan lumpia." Deva melihat kantong berisi makanan yang dia sebutkan.
__ADS_1
Menunggu jawaban Dewa yang nampaknya masih berpikir, Hilda mengambil satu onde-onde dari dalam kantong tersebut.
"Onde-onde ini sangat enak, pak. Saya jamin ini onde-onde ter-recomended. Saya sudah membuktikannya sendiri. Onde-onde dengan taburan wijen berjumlah ganjil jelas lebih enak ketimbang yang taburan wijennya genap." Hilda mulai keabsurdannya.
Sashi dan Dewa kompak mencebikkan bibirnya. Deva hanya bisa mengelus dada. Bersama mereka sehari saja, sungguh membuat dirinya merasa aneh. Dia bahkan tidak sempat merenung atau meratapi kesedihan dan kesendirian. Pikirannya dijejali dengan keabsurd'an Hilda dan Sashi secara bergantian.
"Aku pilih martabak ayam jamur saja. Tapi karena tanganku sedang memegang setir. Aku tidak bisa makan sendiri. Aku mau disuapin, dong." Dewa mengatakannya sembari melirik Deva dari spion tengah.
"Dengan senang hati, Pak Ewa. Mudah-mudahan martabak ini seenak martabak di depan taman kota. Martabak di sana sangat spesial, kulitnya dipakaikan skincare dan rajin facial ke salon sebelum masuk ke penggorengan. Glowing adalah kunci agar pembeli tertarik." Sashi membalas candaan Hilda sembari menoleh ke belakang untuk meminta martabak yang ingin di makan Dewa.
Bukannya Deva yang menawarkan diri, tetapi Sashi yang sudah menyodorkan diri untuk menyuapi. Dewa benar-benar salah target.
"Taruh tisu saja, biar aku makan sendiri. Nggak jadi disuapin. Malu sama fansnya Jason," ucap Dewa, jelas sedang menyindir Deva.
"Shi... Hil... Dev... kalian mau tidak masuk club khusus punyaku?" Dewa menanyakan dengan serius. Tangan kirinya menerima martabak yang separuh bagiannya sudah dibalut tisu oleh Sashi.
"Club apa, Pak? Mau dong kalau gratis." belum-belum Hilda sudah membayangkan club kebugaran exclusive.
"Ini limited banget. Aku baru punya dua anggota, itu pun karena mereka sudah kenal aku sejak aku kecil. Atau sebelum memutuskan, kita kenalan dulu sama anggota lawas. Besok atau lusa deh aku bawa mereka ke rumah Deva. Gimana?" Dewa nampak bersemangat saat mengatakannya.
"Silahkan bernegoisasi dengan yang lain. Saya jelas tidak tertarik." Deva langsung memberi keputusan. Karena feelingnya mengatakan kalau ajakan Dewa pasti mengarah pada hal yang tidak lazim.
Dewa membelokkan setirnya ke arah kanan, di mana ada supermarket besar di sana. Lalu dia memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu utama.
__ADS_1
"Shi... gantian setir, bawa ke parkiran. Biar aku yang menemani Deva kali ini. Jangan nolak, ini salah satu syarat bisa masuk ke clubku." Dewa langsung menarik tuas hand rem, lalu dia turun bersamaan dengan Deva. Meski kesal, Sashi tetap menuruti perintah Dewa. Karena apapun clubnya, sebagai fans berat Dewa, tentu saja dia ingin ikut. Begitu juga dengan Hilda yang tidak diajak turun, dia pun menemani Sashi menunggu di mobil.
Sementara Dewa terus mengikuti langkah Deva menuju tempat minuman. Dewa dengan sigap langsung mengambil dan mendorong stroler untuk tempat belanjaan.
"Dev..., " panggil Dewa dengan ragu-ragu.
"Saya, Pak." Deva menjawab dengan formal.
"Bisa tidak kamu nggak kaku kayak kanebo kering gitu," protes Dewa.
"Beginilah saya. Kalau Bapak tidak berkenan, bukan tanggung jawab saya untuk membuat Bapak nyaman. Bapak baik sama saya, itu bukan saya yang maksa lho. Lagian Bapak bersikap baik seperti sekarang, pasti ada tujuan tertentu. Ingin terlihat baik dan sempurna di depan Sashi, kan? Manis sekali, tapi sayang gampang ditebak." Deva terus berjalan memilih beberapa minuman dan makanan kecil.
"Dih, nuduh terus. Aku bener-bener tulus loh. Aku mau ngomong serius, tapi jangan ada siapa pun. Harus hanya antara aku dan kamu saja."
Deva membalikkan badan hingga posisinya menjadi berhadapan dengan Dewa. Wajah pria tersebut memang terlihat jelas sedang tidak becanda.
"Sepenting apa? Dan soal apa, Pak? Saya sedang tidak punya waktu kalau sekedar bercanda. Saya juga sedang tidak ingin menerima curhatan. Kalau Bapak sedang ingin bertanya-tanya tentang Sashi, saya benar-benar tidak punya waktu," cerocos Deva.
"Bener-bener mulut nggak ada positifnya sama orang. Kalau ngomong isinya tuduhan mulu. Nggak takut itu mulut kena bungkem," umpat Dewa. Lirih namun tertangkap di indera pendengaran Deva.
"Berprasangka buruk pada bapak harus dibiasakan. Karena Bapak memang terlalu mencurigakan," tekan Deva.
"Ck... nggak segitunya juga, Dev. Kali ini aku serius. Kita harus bicara empat mata. Tentukan kapan dan di mana. Pastikan tidak ada siapa pun di antara kita. Percayalah aku tidak main-main kali ini. Aku tahu, kamu pasti tidak percaya dengan ucapan Debora tadi, kan?"
__ADS_1